
Pukul 9 pagi, Rihan sudah siap di atas motor sportnya. Dia akan ke kampus hari ini. Padahal tidak ada kelas, tapi Rihan sedang malas tinggal di mansion. Lagipula, Elle terlihat belum melakukan pergerakan apapun, jadi Rihan bisa bersantai.
Melajukan motor sportnya dengan kecepatan sedang, Rihan tiba-tiba menyeringai dan menepikan motornya tepat di bangunan besar dan bertingkat yang bercat biru putih dengan papan nama besar bertuliskan nama bangunan itu.
Antarik Hospital. Nama yang tertulis di beton berukuran 2x5 meter yang berjarak kira-kira 10 meter dari gedung itu sendiri.
Rihan mengurungkan niatnya ke kampus setelah melihat Antarik Hospital di seberang jalan raya. Menjenguk teman lama sekedar melepas penat cukup bagus, pikirnya.
Melepas helm dan turun dari motor, Rihan dengan tenang masuk ke dalam rumah sakit milik Julian Antarik yang saat ini dipimpin oleh anak tunggalnya. Hayudia Maudy Antarik.
Tempat pertama yang Rihan tuju adalah bagian administrasi untuk menanyakan ruangan mana teman lamanya dirawat. Tanpa bernegosiasi dengan para perawat di bagian administrasi, Rihan segera diberitahu dimana ruang rawat yang ingin dikunjungi.
Padahal aturan sebenarnya Antarik Hospital, untuk tidak memberitahukan identitas pasien. Apalagi itu pasien VIP. Akan tetapi, pesona seorang Tuan Muda Rehhand mampu meluluhkan dua suster itu sehingga Rihan dengan muda mendapat informasi yang dia inginkan.
Jika mereka tidak memberitahupun, Rihan bisa bertanya pada Alex. Sayangnya Rihan hanya ingin melihat bagaimana cara kerja pegawai Antarik Hospital.
Setelah mendapat informasi ruang rawat teman lamanya, Rihan dengan tenang menuju lift untuk mengantarnya ke ruangan teman lama yang dimaksud.
Sampai di lantai 3 khusus ruang VIP, ternyata koridor itu kosong. Rihan dengan tenang berjalan menelusuri koridor lantai 3 sambil membaca nomor kamar yang dia cari. Mendapati nomor kamar VIP 4, Rihan berhenti di depannya.
Bergeser sedikit ke samping untuk melihat ke dalam lewat kaca kecil yang dipasang di bagian pintu, ternyata tidak ada orang yang menjaga di dalam. Hanya terlihat seseorang yang tertidur di ranjang.
Menampilkan seringainya, Rihan lalu menggeser pintu agar terbuka. Dengan langkah pelan dan tenang, Rihan kemudian masuk dan menghampiri seseorang yang terlihat terlelap di ranjangnya.
Rihan berdiri tepat di samping tempat tidur pasien. Rihan mengalihkan pandangannya ke arah kaki orang yang dia maksud teman lamanya itu. Di sana terpasang gips dari area lutut hingga pergelangan kakinya.
"Pemandangan yang indah," Gumam Rihan dalam hati sambil berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Seharusnya sebentar lagi waktunya pemeriksaan kesehatan. Mari menunggu," Gumam Rihan kenudian menarik pelan kursi di sampingnya dan duduk dengan tenang di sana.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat terlihat masuk ke dalam dan seketika syok karena melihat keberadaan Rihan di sana.
"Tu...Tuan muda Rehhand, sedang apa anda di sini?" Tanya perawat itu gugup dengan pipi terlihat merona.
"Menjenguk teman lama. Jangan hiraukan aku, lakukan saja tugasmu." Balas Rihan datar.
"Ba...baik Tuan Muda."
Perawat itu lalu memeriksa infus, dan alat medis lainnya kemudian mencatatnya di buku kecil yang dibawa bersamanya.
"Kemana orang tuanya?" Rihan bertanya berusaha mengorek informasi.
"Mungkin sebentar lagi keluarga pasien akan datang, Tuan."
"Hm. Jam berapa dia akan bangun?" Tanya Rihan menatap jam tangannya sekilas.
"Sebentar lagi, Tuan. Saya akan membangunkan pasien setelah saya menulis ini, karena sudah waktunya untuk pasien minum obat."
"Hm."
Setelah perawat itu memeriksa dan menulis hasil pengamatannya, wanita muda itu lalu membangunkan pasien dengan pelan.
"Nona. Sudah waktunya minum obat." Suara perawat itu pelan.
"Ya, aku akan bangun. Cerewet sekali." Kesal si pasien dan membuka matanya kemudian bangun lalu mengambil obat di tangan perawat itu dan meminumnya. Dia belum sadar akan kehadiran Rihan di sampingnya.
"Ada yang menjenguk anda, Nona. Di sebelah anda." Perawat itu memberitahu dengan pelan sambil menatap ke arah Rihan.
"Siap... akhhhh... Tu...Tuan muda Rehhand?" Syok pasien wanita itu.
"Halo, Nona Samantha. Bagaimana keadaanmu?" Tanya Rihan dan menyeringai. Teman lama yang Rihan maksud adalah Ariana, si rubah betina.
"Kenapa anda ada di sini?" Tanya Ariana gugup bercampur takut.
__ADS_1
"Bisakah anda keluar sebentar? Ada yang harus saya bicarakan dengan Nona Samantha." Ucap Rihan berusaha lembut.
"Baik, Tuan Muda. Saya pamit,"
Setelah kepergian perawat itu, Rihan kembali menatap datar Ariana.
"Aku hanya ingin melihat keadaan orang yang sudah membuat temanku terluka. Apa itu salah?" Ucap Rihan santai.
"Anda tidak berniat melakukan sesuatu pada saya 'kan? Ada cctv di sini. Jika anda melakukan hal buruk pada saya, pihak rumah sakit tidak akan tinggal diam." Ucap Ariana sambil meremas kuat selimut di sampingnya. Ariana saat ini begitu takut.
"Kamu yakin cctv itu menyala? Aku rasa tidak." Rihan menggertak lalu melirik cctv di sudut ruangan bagian atas.
"Jika anda macam-macam, saya akan menekan tombol ini, dan para dokter akan datang di ruangan ini sekarang." Ucap Ariana dengan tangannya sudah siap menekan tombol di samping tempat tidurnya.
"Kemana perginya sifat percaya dirimu selama ini nona Samantha? Aku hanya ingin tahu keadaanmu, bukan melakukan macam-macam seperti yang kamu pikirkan." Rihan menggeleng tidak habis pikir.
"Aku..."
"Sudah ada dokter yang bisa menyembuhkan kakimu? Jika kamu mau, aku bisa menyarankan seorang ahli untuk kakimu. Hanya dia satu-satunya dokter yang bisa menyembuhkanmu. Bagaimana menurutmu?" Tanya Rihan diakhir kalimatnya.
"Ada orang yang bisa menyembuhkan kakiku? Katakan di siapa, Tuan Muda. Aku akan meminta papa mencarinya. Apapun yang anda inginkan, akan saya turuti, asalkan kaki saya sembuh." Ucap Ariana antusias.
"Sayangnya dia tidak mendengar perintah dari orang lain, meski ditawari harga tinggi sekalipun. Karena dia orangku. Dia hanya akan mendengarkan perintahku," Balas Rihan santai.
"Bisakah anda memintanya menyembuhkanku? Apapun yang anda mau, akan saya turuti."
"Apapun?" Tanya Rihan.
"Ya. Apapun." Balas Ariana dan mengangguk.
"Kamu hanya perlu meminta maaf pada Rihan, mengakui semua kesalahanmu di masa lalu maupun di masa sekarang, kemudian dengan suka rela menyerahkan diri ke polisi. Jika semua itu kamu lakukan, maka kakimu akan sembuh hanya dalam beberapa minggu. Bagaimana?"
"Sampai matipun, aku tidak akan minta maaf pada j****g itu! Biarkan aku lumpuh seumur hidup, asalkan j****g itu menderita." Balas Ariana dengan nafas naik turun karena emosi.
Ketika akan membuka pintu, Rihan menoleh sebentar pada Ariana tanpa berbalik.
"Sepertinya kamu lupa dengan pesanku sebelumnya, Nona Samantha. Yang kamu alami saat ini hanyalah peringatan kecil." Setelah mengatakan itu, Rihan benar-benar pergi dari sana.
Setelah kepergian Rihan, Ariana menggila di dalam sana dengan berteriak histeris dan membanting apa saja di sampingnya. Untungnya orang tuanya datang beberapa menit setelah kepergian Rihan, sehingga gadis itu bisa ditenangkan.
...
Rihan setelah keluar dari Antarik Hospital, suasana hatinya sangat baik. Mendengar teriakan histeris Ariana tadi, membuatnya sangat senang. Rihan kemudian dengan tenang naik ke motornya dan melanjutkan perjalanan ke kampus.
Ketika sampai di tengah jalan, mata Rihan tidak sengaja melihat mobil Neo yang melintasinya. Di dalam mobil bukan hanya ada Neo, tetapi ada Elle juga. Entah kemana dua orang itu akan pergi. Rihan sendiri tidak peduli. Dia tiba-tiba teringat kejadian beberapa jam lalu di ruang kerjanya.
...Flashback...
"Sepertinya kita harus meluruskan pembicaraan waktu itu yang tertunda," Ucap Neo datar lalu beranjak ke samping Rihan, kemudian menarik berkas di tangan Rihan dan membuangnya sembarangan.
Pria itu lalu menekan Rihan di tempat duduknya. Posisi mereka saat ini, Rihan yang duduk di kursi, Neo yang berdiri di depan Rihan dengan kedua tangan berpegangan pada pegangan kursi kebesaran milik Rihan dengan wajahnya berada beberapa senti dengan wajah Rihan. Keduanya saling menatap lekat satu sama lain.
Sekitar 2 menit Rihan dan Neo saling menatap satu sama lain. Rihan hanya menampilkan ekspresi daftarnya seperti biasa, sedangkan Neo, pria itu entah tatapan apa yang dia tunjukan pada Rihan.
"Sudah cukup! Apa yang ingin kak Neo luruskan?"
"Aku sudah memikirkan ini cukup lama, dan aku sadar, ternyata aku menyukaimu." Nada suara Neo penuh penekanan sambil terus menatap lekat bola mata coklat milik Rihan.
"Lalu?" Tanya Rihan mengerutkan kening.
"Respon macam apa ini?"
"Aku tahu kak Neo menyukaiku. Jika membenciku, tidak mungkin kak Neo mau tinggal di sini 'kan?"
__ADS_1
"Maksudku bukan itu, astaga..." Neo frustasi. Dia sudah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal ini tapi respons Rihan membuatnya frustasi.
"Lalu?" Tanya Rihan mengerutkan kening menatap Neo. Keduanya masih dalam posisi yang sama.
"Aku menyukaimu sebagai seorang pria," Jelas Neo pelan.
"Aku tahu. Tapi aku bukan seorang gadis," Balas Rihan santai. Dia sangat senang membuat orang lain kesal.
"Ya, ampun, Rei. Kamu sengaja membuatku kesal? Maksudku, aku ingin kamu menjadi kekasihku. Selalu ada di sampingku, menemaniku. Kali ini aku harus melanggar prinsipku sendiri, karena aku tidak bisa lagi menahan diri untuk mengatakan ini. Aku tidak ingin kamu selalu menghindariku. Itu membuatku sakit, Rei. Aku..." Neo lalu menghela nafas dalam-dalam.
Pria itu melepas tangannya pada pegangan kursi Rihan dan merosot berlutut di depan Rihan dengan kepalanya berada di salah satu lutut Rihan. Kedua tangan Neo tetap di kedua lututnya.
Mendengar pernyataan Neo, Rihan tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Rihan hanya bisa berekspresi datar dan menatap rambut hitam Neo.
"Awalnya aku berpikir tidak mungkin aku menyukaimu, karena itu akan melanggar prinsipku sendiri. Tapi, sejak kamu menghindariku setiap hari, aku merasa kehilangan, Rei. Meski kita tidur bersama, itu tidak mengubah apapun. Kamu tetap saja menghindariku. Aku tidak suka itu," Ucap Neo pelan dengan kepala masih terbenam di lutut Rihan.
"Melihat kedekatanmu dengan Brand, aku merasa ada yang sakit di sini, Rei." Sambung Neo lalu mendongak menatap Rihan sambil memegang dadanya yang katanya sakit itu.
"Kini aku sadar, aku menyukaimu." Ucap Neo lagi dengan kedua tangan kini memegang tangan Rihan yang sedari tadi menganggur.
"Aku tidak tahu harus meresponmu seperti apa, tapi Kak, sudah ada Elle sebagai kekasihmu. Dan aku... Aku bukan orang yang suka mengambil miliki orang lain. Belum lagi apa kata orang-orang nanti dengan hubungan dua orang pria?" Balas Rihan setelah menarik tangannya dari Neo.
"Aku tidak peduli apa kata orang. Yang aku inginkan kamu selalu di sampingku. Itu saja! Jika kamu memikirkan Elle, kita bisa merahasiakan hubungan ini darinya." Neo menjawab sambil menatap Rihan dengan wajah memelas. Perkataan terakhir Neo berhasil membuat Rihan mengepalkan tangannya.
"Heh...! Kak Neo sebenarnya tidak menyukaiku sama sekali. Pernyataanmu barusan hanya alasan agar aku tidak menghindarimu. Lagipula, ada banyak gadis-gadis cantik di luar sana yang bisa aku jadikan kekasih, kenapa harus menjalin hubungan dengan seorang pria? Itu jelas-jelas bukan aku!" Ucap Rihan dan menggeleng.
"Kamu salah! Aku benar-benar menyukaimu. Jangan coba-coba menjalin hubungan dengan siapapun. Entah dia seorang perempuan atau laki-laki. Aku tidak akan setuju!" Suara Neo tegas. Sorot matanya menatap penuh ancaman pada Rihan.
"Kamu tidak punya hak melarangku, Kak. Jika kak Neo punya prinsip, maka aku juga punya prinsip. Aku tidak akan pernah mengambil milik orang lain, meski aku menyukainya sekalipun. Dan jika kak Neo melanggar prinsip sendiri, maka tidak denganku. Jangan pernah mencoba berdebat denganku!" Suara Rihan sangat dingin. Tidak lupa juga dia membalas tatapan Neo padanya.
"Kamu tidak mengerti maksudku, Rei." Neo menggeleng kepalanya.
"Aku mengerti. Sangat mengerti! Aku sarankan, benahi dulu dirimu, Kak. Pikirkan perkataanmu barusan. Kak Neo juga harus ingat! Aku tidak seperti yang kakak pikirkan."
"Aku sudah memikirkan pernyataanku sebelumnya padamu. Aku yakin dengan itu semua. Aku memang menyukaimu. Itu bukan sebuah alasan seperti yang kamu pikirkan, Rei. Tolong... beri aku kesempatan untuk membuktikan ucapanku, hm?"
"Apapaan pria ini. Jika aku benar-benar seorang pria, sudah aku jadikan samsak tinju." Batin Rihan kesal.
"Jika kak Neo memutuskan hubungan dengan Elle, maka aku akan memberimu kesempatan." Ucap Rihan dan sebelah alis terangkat seakan menantang.
"Tidak semudah itu kamu akan melepas cinta pertamamu, Kak." Batin Rihan dan menyeringai pada Neo.
"Aku..." Neo tidak tahu harus berkata apa.
"Tidak bisa 'kan? jadi, berdirilah karena aku masih banyak pekerjaan."
Neo dengan pelan berdiri tetapi tidak berpindah dari depan Rihan.
"Ada apa lagi?" Tanya Rihan mengerutkan kening menatap tubuh bongsor di depannya ini.
"Kamu harus ingat ini, Rei! Aku akan membuatmu membalas perasaanku. Jangan pernah mencoba menjalin hubungan dengan siapapun. Jika aku tahu itu, maka orang itu harus siap berperang denganku. Tidak peduli dia mampu atau tidak!"
"Itu urusan pribadiku. Sebaiknya kak Neo pergi." Usir Rihan lalu memutar kursinya sedikit agar menghadap ke arah meja kerjanya.
Cup
"Itu hukuman untukmu karena mengusirku. Aku pergi!" Ucap Neo setelah mencium pipi Rihan cepat dan beranjak pergi dari sana dengan senyum lebar.
"Sepertinya aku harus membuka babak sparing berikutnya lagi. Pria gila itu membuatku kesal." Gumam Rihan dan berusaha fokus dengan berkas di depannya. Sebelum itu, Rihan sempat menatap malas berkas yang sebelumnya dibuang oleh Neo. Tidak ada niat untuk mengambilnya, padahal itu proposal kerja sama dari Miara Group.
"Tidak masalah, pria itu marah karena aku membuang proposalnya. Aku sedang ingin memukul orang sekarang." Kesal Rihan dalam hati lalu membuka kasar berkas di depannya.
***
__ADS_1
Tolong berikan komentar kalian tentang Neo.😁