Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kekasih?


__ADS_3

Pagi ini Rihan sudah siap pergi ke kampus menggunakan motor. Dan seperti yang sudah disepakati, Rihan akan pergi sendiri. Alex hanya akan mengawasi dari jauh. Sedangkan Max tidak ikut karena kelasnya akan dimulai siang hari.


"Hati-hati di jalan, Tuan." Alen membungkukkan sedikit badannya memberi hormat.


"Saya akan ikut setelah tugas saya selesai, Tuan."


"Kita akan bertemu nanti siang. Tunggu aku ya, Rei." Max juga tidak ketinggalan mengantar Rihan di depan pintu mansion.


"Hm."


Rihan hanya berdehem sebelum memakai helm dan menyalakan mesin motor lalu berangkat setelah membunyikan klakson tiga kali.


Memacu motornya dengan kecepatan normal, Rihan akhirnya sampai di Antarik Universitas dengan selamat. Kedatangan Rihan kembali menghebohkan kampus karena kepergiannya yang cukup lama. Semua orang mulai menantikan pertemuan Rihan dan Beatrix, juga reaksi Ariana nanti.


Setelah memarkir motornya, dua mobil terlihat memasuki gedung parkiran. Melirik dengan ekor matanya, ternyata Rihan mengenali pemilik dua mobil itu. Siapa lagi kalau bukan David dan Albert.


"Hai, Rei. selamat datang! Kedatanganmu sangat tiba-tiba." Sambut Albert setelah keluar dari mobil bersama Dian dan menghampiri Rihan yang sedang melepas helm dan turun dari motor.


"Hai, Rei. Kapan kamu datang?" Tanya David tersenyum tipis.


"Kemarin," Balas Rihan datar lalu berjalan menuju kelasnya diikuti oleh ketiga temannya itu.


"Ada oleh-oleh untuk kami bertiga?" Canda Albert berhasil mendapat pukulan di belakang kepala oleh Dian.


"Kamu seperti orang susah saja, Al." Cibir David menggeleng kepala. David tidak terkejut lagi dengan sikap teman satunya ini.


"Alex sudah menyiapkannya," Rihan menjawab sambil melirik Albert sebentar di sampingnya.


"Benarkah? Wow! Kapan kita bisa mengambilnya?" Tanya Albert bersemangat.


"Terserah."


"Setelah pulang dari sini kita akan ke sana. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Albert pada David dan Dian.


"Terserah." Jawab David.


"Aku juga terserah." Dian juga menjawab sambil tersenyum.


"Ck..." Kesal Albert karena jawaban ketiga manusia didekatnya ini.


Sesampainya di kelas, mereka duduk di tempat masing-masing dan menunggu dosen mata kuliah masuk. Perkuliahan berjalan dengan lancar hingga sekitar 3 jam, kelas berakhir bertepatan dengan jam makan siang. Rihan dan ketiga temannya itu segera menuju kantin untuk makan siang. Lebih tepatnya menunggu kedatangan Alen membawa makan siang.


Kedatangan Rihan pagi tadi sudah cukup menghebohkan, kini lebih heboh lagi karena banyaknya mahasiswa yang makan di kantin. Rihan sendiri hanya acuh dengan keadaan dan memilih menuju meja yang sudah menjadi tempat mereka ketika di kantin. Entah kenapa tidak ada yang duduk di sana selain kelompok Rihan.


Menatap jam tangannya sebentar, ternyata sudah pukul 11.30. Masih ada waktu sebelum Alen datang. Rihan mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Beatrix untuk menemuinya di kantin. Rihan juga sedang menunggu Ariana yang mungkin sedang bersiap karena kelasnya juga berakhir di jam makan siang.


Hanya butuh 5 menit, Beatrix sudah terlihat di pintu masuk kantin. Hampir semua mata menatap wajah cantik Beatrix. Lebih tepatnya topeng kulit yang gadis itu pakai. Dengan tenang, Beatrix berjalan melewati setiap orang yang sedang melihatnya dengan bermacam ekspresi.


Beatrix berpura-pura menatap ke sana kemari mencari tempat duduk. Melihat ke satu tempat, gadis itu lalu tersenyum manis. Dia dengan langkah tenang menuju ke sana.


"Hai, boleh aku bergabung?" Basa-basi Beatrix masih dengan senyum manisnya.


"Hai Ri, silahkan duduk!" Sambut David dengan senang hati. Albert dan Dian hanya membalas dengan anggukan dan memasang senyum ramah.


David bahkan berdiri dan hendak menyiapkan kursi di sampingnya untuk Beatrix, tapi sayangnya Beatrix tanpa permisi sudah duduk di sebelah Rihan.


"Tidak apa-apa aku duduk di sebelah anda?" Tanya Beatrix setelah duduk. Rihan hanya menatap datar Beatrix tanpa ada niat membalas gadis itu.

__ADS_1


Fans Rihan dan Beatrix berteriak heboh karena senang melihat pemandangan ini. Belum lagi wajah keduanya sangat mirip hanya dalam versi berbeda. David yang melihat Beatrix duduk di sebelah Rihan hanya bisa menghela nafas kecewa. Tapi kemudian dia mengerutkan kening dan tampak berpikir.


"Ini aneh! Cara Rihan yang sekarang menatapku sangat berbeda dengan Rihan yang aku kenal dulu. Jantungku bahkan tidak berdebar sama sekali. Berbeda dengan Rei. Tatapannya sama persis dengan Rihan di masa lalu, meski warna matanya berbeda. Jantungku bahkan berdetak kencang hanya karena dia menatapku. Ada apa sebenarnya ini? Apa yang sudah terjadi padaku?" Monolog David dalam hati menatap bergantian dua manusia berwajah sama dengan versi berbeda di depannya ini.


"Ada denganmu, Dev? Kamu terlihat berpikir keras. Ada sesuatu?" Tanya Albert penasaran. Albert sudah bisa membaca setiap ekspresi yang David tunjukan.


"Eum... tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir, kenapa Rei dan Rihan memiliki wajah yang sama persis tetapi bukan saudara. Aneh 'kan?" Elak David berbisik pada Albert.


"Aku juga merasa aneh. Tapi jelas-jelas hasil konferensi pers ayah Rei, mereka bukan saudara kandung. Tapi... bisa jadi mereka jodoh," Ucap Albert tanpa memikirkan perasaan David.


"Tapi Rihan sudah memiliki kekasih." Balas Dian seadanya.


"Siapa tahu, dia hanya menjaga kekasih orang. Hahaha..." Albert tertawa tanpa beban.


"Albertus!" Panggil David menatap tajam Albert.


"Buset! Nama jelek dari mana itu? Jangan membuat telingaku sakit, Dev." Ucap Albert sambil menyentuh telinganya dan berlaga seperti sakit.


"Maka diamlah."  alas David.


Ketika Albert akan membalas lagi, Alen tiba-tiba muncul bersama Max, diikuti oleh beberapa pelayan.


"Akhirnya aku bisa diam," Ucap Albert senang.


"Ada sedikit kendala di jalan menuju kesini, Tuan. Maafkan kami!" Alen menunjukan wajah bersalahnya merasa tidak enak datang terlambat.


"Hmm."


Mendapat jawaban singkat itu, Alen mulai menata makanan di meja yang cukup panjang itu untuk porsi yang cukup banyak. Maklumlah jika teman-teman majikannya ikut makan.


"Selamat makan semuanya..."


"Selamat makan."


"Maaf mengganggu, boleh aku ikut bergabung?" Suara lembut seseorang berhasil membuat mereka di meja makan itu berhenti dan menatap ke sumber suara terkecuali Rihan karena dia sudah menebak kedatangan orang itu.


"Aku rasa selera makanku akan hilang ketika melihatnya lama-lama," Bisik Albert pada David.


"Maka jangan dilihat." Balas David ikut berbisik.


"Silahkan duduk nona Samantha. Tapi maaf, tidak ada lagi piring kosong untuk anda. Saya juga merasa makanan ini tidak cukup jika anda ikut makan bersama kami." Suara Alen membuat Beatrix menahan tawa, sedangkan Ariana mengepalkan tangannya.


Jelas Ariana kesal, karena di meja makan banyak sekali lauk pauk yang diyakini akan tersisa banyak. Mana mungkin tidak cukup jika dia ikut makan?


"Makanan sebanyak ini pasti habis karena ada orang yang akan menghabiskannya. Sebaiknya pesan saja untuk dirimu sendiri," Alen melirik pada Albert ketika dia mengatakan ada orang yang akan menghabiskannya.


"Ekhem... aku rasa begitu," Gumam Albert pelan.


Albert jelas akan menghabiskan semua ini tanpa disisakan untuk Ariana. Jika orang lain, Albert akan berpikir dua kali. Tetapi tidak untuk seorang Ariana. Albert terlanjur kesal padanya.


"See? Albert akan menghabiskan semua ini," Ucap Alen.


"Mari kita berusaha menghabiskan semua ini." Batin Albert memberi semangat pada dirinya sendiri sambil menatap makanan di depannya.


Ariana kini menahan kekesalannya dan mulai memanggil pelayan untuk memesan makan siangnya.


Ditengah makan siang mereka, Rihan melirik pada Beatrix di sampingnya. Mengerti dengan lirikan itu, Beatrix mengangguk pelan tanpa ada yang tahu.

__ADS_1


"Huek..." Beatrix mulai berakting mual dan berhenti makan.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Rihan sedikit memberi nada khawatir di sana.


"Sepertinya aku alergi. Aku..." Perkataan Beatrix terpotong karena gadis itu sudah berpura-pura pingsan dan jatuh di pundak Rihan.


Kantin seketika heboh dan mulai berdiri menatap ke arah meja Rihan dan yang lainnya. Ada yang mulai mengambil foto dan video.


"Hei... Ri... Rihan?" Panggil Rihan pelan sambil menepuk pelan pipi Beatrix. Karena tidak ada respon, Rihan segera berdiri dan menggendong Beatrix ala bride style.


"Aku akan mengantarnya ke rumah sakit. Urus semuanya, Len. Berikan kunci mobilmu,"


"Ini, Tuan." Alen lalu menyisipkan kunci mobil di sela tangan Rihan yang menggendong Beatrix. Rihan hanya membalas dengan anggukan dan segera pergi dari sana.


"Ini pertama kalinya aku melihat tuan muda menyentuh gadis lain selain nona Phi. Bahkan Tuan muda terlihat khawatir. Padahal keduanya baru beberapa kali bertemu," Komentar Alen berusaha memanas-manasi suasana. Lebih tepatnya memanasi Ariana. Terbukti, ekspresi wajah gadis itu yang mulai memerah menahan marah dan mengepal tangannya.


"Sebaiknya kita susul Rei dan Rihan." David baru tersadar dari loadingnya karena melihat Beatrix yang pingsan.


"Ayo.. Maaf, Kak. Kami pamit menyusul Rei. makanannya simpan saja untuk nanti," Albert kemudian menyusul David sambil menarik tangan Dian.


"Anda tidak ingin menyusul mereka nona Samantha? Oh tidak... dari ekspresi anda, sepertinya anda terlihat cem-bu-ru." Ucap Alen lalu menyeringai membuat Ariana semakin kesal.


"Diam kamu!" Marah Ariana lalu pergi dari sana. Alen hanya menggeleng kepala dan mulai menata kembali makanan di tempatnya.


***


"Akting yang buruk," Komentar Rihan datar. Mereka dalam mobil dengan Rihan menyetir menuju RS Setia.


"Anda tahu, saya tidak punya bakat akting. Tapi setidaknya rubah itu terlihat kesal. Dan juga... Saya kasihan melihat David. Dia terlihat sangat tulus pada anda." Jawab Beatrix yang duduk di samping Rihan.


"Hmm."


"Apa maksud deheman itu? Dia juga tidak buruk menurutku. Oh, aku tahu... apa karena pengusaha muda itu?" Beatrix terkekeh pelan teringat Neo yang dekat dengan Rihan.


"Maksudmu?" Tanya Rihan tidak mengerti.


"Aku tahu, anda tahu maksudku." Ucap Beatrix malas.


"Entahlah. Sebaiknya kembali berakting. Ada David dan Albert di belakang," Rihan bisa melihat mobil David dan Albert melalui kaca spion.


Sampai di rumah sakit, Rihan tetap menggendong Beatrix menuju ruang rawat.


"Ingat untuk menurunkan sedikit berat badanmu." Gumam Rihan pelan saat menggendong Beatrix.


"Jangan membuatku menangis, Tuan majikan. Badan saya sudah termasuk ideal." Balas Beatrix ikut berbisik.


...


Setelah menempatkan Beatrix di brankar dan meminta seorang dokter yang merupakan bawahan Rihan untuk memeriksanya, Rihan keluar dan menunggu di kursi tunggu. Rihan ingin memejamkan mata dan mulai berakting khawatir karena melihat kedatangan ketiga temannya, ponselnya bergetar tanda panggilan masuk.


"Kak Neo?" Batin Rihan lalu menjawab panggilan.


"Ada apa, Kak?" Tanya Rihan pelan.


"Aku kaget ternyata kamu punya kekasih,"


"Huh?"

__ADS_1


__ADS_2