Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Konferensi Pers


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rihan membuka suara setelah mereka terdiam cukup lama di taman belakang mansion.


Keduanya sedang duduk di bangku taman sambil menatap kolam air terjun buatan yang sekelilingnya terdapat lampu hias.


30 menit lalu, acara pertunangan Rihan dan Zant baru saja selesai. Pertunangan ini juga hanya dihadiri oleh keluarga dan beberapa kerabat dekat Rihan dan Zant.


Rihan tidak ingin ada acara mewah yang melibatkan banyak orang, karena akan mengundang perhatian musuh. Para orang tua sedang berbincang, Zant malah menyeret gadis kecilnya ke sini.


Awalnya orang tua angkat Zant, atau presiden dan ibu negara Jerman terkejut karena anak laki-laki mereka meminta untuk datang ke New York dan melamar Rihan.


Mommy Lily sempat marah karena berpikir, kekasih Zant yang adalah Tuan Muda Rehhand baru meninggal 2 tahun yang lalu, dan Zant sudah mencari penggantinya secepat ini.


Zant hanya tertawa dan menjelaskan semuanya tentang identitas asli gadis kecilnya, sehingga kedua orang tuanya itu begitu senang. Dengan semangat, kedua paru baya itu melakukan penerbangan kemari untuk melamar calon menantu mereka.


"Mungkin kamu harus melihatnya sendiri," Jawab Zant pelan.


Tangan zant sudah beralih melingkar di pinggang Rihan yang duduk di sebelahnya. Pria itu juga menarik pelan kepala Rihan untuk bersandar di bahunya.


"Tidak. Aku dan dia sudah menjadi orang asing." Balas Rihan datar.


Rihan sedikit menengok ke atas menatap wajah tenang Zant.


"Sebagai seorang dokter, aku prihatin padanya. Dia mungkin akan sembuh lebih cepat jika dia bertemu denganmu," Ucap Zant dan menatap ke depan sana.


"Entahlah," Gumam Rihan hampir tidak terdengar.


"Oh, iya. Bagaimana pendapatmu tentang My Albany?" Tanya Zant mengubah topik pembicaraan.


"Lumayan," Jawab Rihan santai.


"Sangat sulit membuatnya kesal." Gumam Zant dalam hati menghela nafas pelan.


"Kamu tidak marah?" Tanya Zant lagi.


"Hm. Jika jelek pun, aku harus menghargai usaha seseorang." Rihan menjawab dengan santai, membuat Zant harus menahan diri untuk tidak menggigit gadis kecil di sampingnya ini.


"Sudahlah. Kalau begitu, katakan padaku kenapa dulu kamu memanggilku Albany?" Tanya Zant.


"Hanya ingin. Jika kak Zant ingin alasan, maka tidak ada alasan apapun." Jawab Rihan pelan lalu kembali melirik ke arah Zant.


"Aku tidak percaya! Katakan padaku alasannya." Desak Zant yang kini sudah mengubah posisi Rihan menghadap ke arahnya.


"Tidak." Jawab Rihan dan menggeleng.


"Sangat sulit menaklukkanmu, ternyata. Tapi itu yang membuatku tidak bisa berhenti memikirkanmu." Balas Zant lalu menarik Rihan ke dalam pelukannya.


"Jadi, setelah konferensi pers, kamu akan pergi ke Indonesia?" Sambung Zant lagi.


"Hm."


"Bagaimana dengankku?"


"Huh?"


"Kamu akan membiarkan calon suamimu ini digoda oleh gadis-gadis diluar sana?" Kesal Zant sambil menangkup wajah Rihan dan menatapnya intens.


"Jika kak Zant tergoda, aku bisa mencari pengganti. Itu bukan hal yang sulit. Indonesia juga penghasil pria tampan." Sahut Rihan dan mengangkat bahunya tidak peduli, padahal sebenarnya dia sedang menggoda Zant.


"Jangan harap! Akan kupatahkan kaki dan tangan mereka. Terlebih mata mereka, karena sudah berani menatapmu." Balas Zant semakin kesal.

__ADS_1


"Aku hanya bercanda. Tapi, sedikit melirik tidak apa, 'kan?" Pancing Rihan lagi.


"Nyonya Veenick! Ingat jika kesabaranku sangat sedikit. Aku sudah menahan diri sangat lama." Ucap Zant pelan. Zant kemudian memberi kecupan singkat pada dahi Rihan.


"Aku tahu." Balas Rihan datar.


***


Tiga hari berlalu.


Hari ini akan diadakan konferensi pers, sehingga kediaman Jhack Lesfingtone kembali sibuk sejak dini hari karena konferensi akan dimulai pukul 10 pagi.


Banyak media terkenal datang hanya untuk meliput wajah anak gadis seorang Jhack yang selama ini disembunyikan. Mereka penasaran seperti apa rupa anak pengusaha terkenal ini.


Si bintang utama konferensi hari ini, justru sedang dibuat pusing oleh sang mommy karena harus mencoba semua gaun desainer terkenal yang dipesan beberapa hari lalu.


Rihan hanya memasang wajah datar ketika menunjukan gaun yang dia pakai pada sang mommy dan seorang desainer terkenal yang datang.


Rihan kembali mengingat beberapa hari lalu, tepatnya acara pertunangannya, dimana tubuhnya tiba-tiba kaku saat menggunakan gaun dan high heels. Rihan bahkan tidak tahu bagaimana harus melangkah hanya karena sepatu berhak tinggi itu. Akan tetapi, hanya dua kali percobaan, Rihan sudah bisa berjalan dengan seimbang bak model.


Maklum saja, karena pertama kali Rihan menggunakan gaun dan high heels, di saat dia sekolah menengah pertama dulu karena acara pentas sekolah. Setelah itu dia tidak lagi memakainya hingga sekarang.


"Saya rasa gaun yang kesekian ini cocok dengan tubuh Nona muda, Nyonya. Gaun ini tidak terlalu terbuka, dan tidak terlalu seksi. Sangat pas dengan nona." Komentar sang desainer.


"Saya juga setuju, Nyonya." Balas asisten desainer.


"Bisakah saya mengambil gambar anda dengan gaun ini untuk dijadikan koleksi di butik saya, Nona Muda?" Pintah sang desainer malu-malu.


Sangat sulit menemukan model yang sempurna dengan gaun buatannya, sehingga dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Hm. Cukup sekali." Jawab Rihan datar.


"Anak mommy benar-benar cantik. Setelah ini, mommy akan menambahkan lemari di kamarmu dan mengisinya dengan gaun-gaun model terbaru. Sudah lama mommy menahan diri untuk ini," Mommy Rosse begitu bersemangat membahas ini.


Rihan hanya menghembuskan nafas pelan, sedangkan desainer muda dan asistennya menahan tawa melihat ekspresi Rihan.


***


"Terima kasih semuanya karena sudah hadir dalam konferensi pers ini. Seperti yang sudah beredar, tujuan konferensi pers ini untuk memperkenalkan pada publik, anak gadis kami yang selama ini disembunyikan." Daddy Jhack membuka suara, sekaligus memulai konferensi pers ini. Daddy Rihan itu beralih menatap pintu utama ruangan yang mereka tempati sekarang.


Semua wartawan yang ada dalam ruangan itu, lalu menyorotkan kamera ke arah pintu masuk menunggu kemunculan sang bintang. Bukan hanya orang-orang di sini yang penasaran, orang diluar sana yang menonton siaran langsung ini juga penasaran.


Kriekk


Pintu terbuka.


Derap langkah kaki seorang gadis cantik bergaun simpel dan elegan, berwarna hitam panjang dengan lengan sebatas sikut. Bahu kiri gaun itu sedikit terbuka, sedangkan bahu kanannya tidak.


Rambut coklat panjangnya sebagian dikepang lalu dijepit, sisanya dibiarkan tergerai. Dengan tubuh ideal, ditambah wajah cantik bak seorang dewi yang membuat orang iri. Kesan pertama ketika melihatnya.


...Sangat sempurna!...


Di belakang Rihan ada Alex, Alen dan Gledy.


Rihan dengan wajah datar berjalan dengan aura kecantikan dan intimidasinya, membuatnya kamera di tangan para wartawan sedikit bergetar karena auranya yang sangat kuat.


Sampai di depan, dan berdiri di antara kedua orang tuanya, Rihan mengambil alih mikrofon. Pandangan mata birunya menyapu semua orang dalam ruangan ini. Tatapan matanya begitu tajam.


Ruangan yang tadinya seperti sarang nyamuk, kini sangat hening. Mereka semua menunggu setiap kata yang akan dikeluarkan Rihan.

__ADS_1


"Perkenalkan, saya Rihhane Senora Lesfingtone."


Hanya beberapa kata dengan wajah datar, mampu menghipnotis mereka yang mendengar dan melihatnya. Mereka sangat berharap mungkin ada senyum tipis yang ditunjukkan, maka semua akan lengkap.


"Saya punya pertanyaan, Nona!" Teriak seorang wartawan setelah mengangkat tangannya.


"Silahkan!" Ujar Rihan datar.


"Kenapa anda menyembunyikan diri selama ini? Kenapa wajah anda begitu mirip dengan almarhum Tuan Muda Rehhand, dan seorang gadis yang juga sudah meninggal?"


"Hidup dalam keluarga yang memiliki segalanya, mungkin sangat diimpian semua orang. Sayangnya, tidak semudah itu! Selalu ada orang yang iri dan ingin menjatuhkan kita hingga titik terendah, dimana kita tidak bisa lagi bangun.


Sebagai orang tua, tentunya mereka tidak ingin anak mereka ikut terlibat dengan urusan mereka. Apalagi itu berkaitan dengan nyawa. Ada juga alasan lain, kenapa aku harus bersembunyi hingga sekarang.


Mereka yang melihat wajah ini, tentu mengenalku dengan sangat baik. Aku menunggu untuk bertemu dengan mereka. Tunggu kedatanganku!


Terakhir anda bertanya kenapa wajahku mirip dengan Tuan Muda Rehhand? Kami masih keluarga, jelas akan terlihat sama." Jelas Rihan panjang lebar. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.


"Kami ingin mendengar lebih jelas tentang alasan kedua anda, Nona. Apa ini semacam balas dendam?" Tanya seorang wartawan lagi setelah mengangkat tangannya.


Sebelum menjawab, Rihan menatap tajam wartawan wanita itu dan menyeringai.


"Balas dendam? Entah bagaimana aku harus menjawabnya. Aku hanya ingin bertemu dan menyapa mereka. Mengingatkan kembali awal pertemuan dan perpisahan di masa lalu. Intinya hanya ingin menyapa," Jawab Rihan santai. Mereka yang paham perkataan itu, tahu jawaban Rihan tidak sesederhana itu.


"Apa anda akan langsung mengambil alih perusahaan Tuan Jhack?" Tanya wartawan lain.


"Bukan hanya aku pewarisnya. Aku juga punya seorang kakak. Dia sudah terdaftar dalam kartu keluarga. Biar kuperkenalkan. Kharalex Warrynthon Lesfingtone. Dia juga pewaris. Jadi, bukan hanya aku."


"Bukankah dia adalah asisten pribadi, Tuan Muda Rehhand?"


"Apa seorang pewaris tidak boleh menjadi asisten, atau seorang asisten tidak boleh menjadi pewaris?" Tanya Rihan penuh penekanan, membuat wartawan yang bertanya tadi meneguk ludahnya susah paya.


"Pertanyaan sisanya akan dijawab oleh yang lain." Sambung Rihan lalu bergegas pergi dari sana. Cukup beberapa kata darinya. Dia tidak suka basah basi busuk.


***


Di salah kamar, terlihat seorang pria dengan penampilan acak-acakan terduduk di lantai kamar sambil bersandar pada tempat tidurnya. Tidak jauh dari pria itu duduk, ada pria lain dengan setelan jas formal berdiri dan memegang remote dan mulai menyalakan TV di kamar itu.


Deg


Deg


Deg


"Suara itu, nada bicara itu..." Gumam pria dengan penampilan acak-acakan itu.


"Itu kamu, aku tidak mungkin salah." Sambung pria itu lalu berusaha berdiri dan menuju TV, kemudian mengangkat tangannya dan menyentuh pelan wajah cantik yang memenuhi layar TV. Air matanya kembali menetes.


...


Di tempat lain.


Brakk


Srekk


Prang


Prang

__ADS_1


"Sialan... j****g itu! Ingin sekali aku membunuhnya. Kenapa dia memiliki semuanya? Dia memiliki semua yang aku inginkan. Dia... harus MATI!"


__ADS_2