
Setelah menjaga Phiranita hingga tertidur, Rihan segera berdiri dan hendak keluar diikuti oleh Alex.
"Mau kemana?" Tanya Neo mengerutkan kening.
"Pulang." Singkat Rihan yang hendak membuka pintu kamar.
"Secepat itu?"
"Aku datang hanya untuk menjenguk Tata." Ucap Rihan lalu menatap Neo.
"Ini sudah hampir jam makan siang, sebaiknya kita makan siang bersama." Neo menatap jam tangannya yang menunjukan pukul 11.15. Sedikit lagi makan siang.
"Aku masih punya waktu beberapa menit untuk pulang, jadi tidak usah."
"Aku tidak menyiapkan apapun untuk kalian tadi, jadi sebaiknya tinggal dan makan bersama. Aku tidak ingin kamu menolaknya." Nada suara Neo penuh penekanan.
"Tapi Tuan..." Cegah Alex.
Menghela nafasnya sebentar, Rihan segera menatap Alex menggeleng kepalanya kemudian menatap Neo.
"Baiklah."
"Ayo kita turun." Neo tersenyum senang karena berhasil mengajak Rihan makan bersama.
"Seperti bukan Neo yang aku kenal," Monolog Logan dalqm hati heran dengan sikap Neo. Logan sudah cukup lama mengenal Neo, sehingga dia tahu jelas seperti apa sifat Neo.
Sampai di meja makan, sudah ada bermacam-macam makanan yang tersaji di sana. Meja panjang berukuran 2×1 meter itu penuh dengan banyaknya makanan padahal hanya ada 4 orang yang akan makan, tetapi terlihat seperti menu untuk 10 orang.
"Sejak kapan ada makanan sebanyak ini?" Tanya Logan dalam hati. Dia sejak tadi bersama Neo tetapi kenapa dia tidak tahu jika Neo menyiapkan semua ini. Bosnya ini benar-benar sesuatu.
"Sungguh orang kaya yang boros," Cibir Rihan datar lalu menarik salah satu kursi dan duduk terlebih dahulu tanpa menunggu tuan rumah.
Neo hanya tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Neo menarik kursi juga untuk dirinya sendiri lalu mengambil posisi duduk di depan Rihan.
"Sejak kapan semua ini tersaji?" Tanya Logan berbisik pada Neo yang duduk di sebelahnya.
"Sejak kita di atas tadi. Aku menyuruh orang menyiapkan semuanya," Balas Neo ikut berbisik.
"Tuan," Panggil Alex pelan. Ini pertama kalinya Rihan akan memakan makanan yang disiapkan orang lain. Alex hanya takut dengan kondisi tubuh majikannya.
"Ada apa?" Tanya Logan penasaran.
"Tidak ada." Jawab Rihan datar.
"Tenanglah, tidak ada racun di sana." Neo seakan tahu kekhawatiran Alex. Padahal sebenarnya bukan itu yang Alex takutkan.
"Silahkan dimakan. Anggap saja rumah sendiri." Logan mempersilahkan kemudian mengisi piringnya.
Rihan dengan tenang mengisi piringnya juga. Dia percaya pada Neo sehingga tidak ada kekhawatiran sama sekali.
Neo dan Logan mulai menikmati makanan mereka. Begitu juga dengan Rihan. Sedangkan Alex, asisten Rihan itu hanya menatap majikannya tanpa menyentuh makanannya. Dia tidak akan makan sebelum melihat majikannya baik-baik saja.
Rihan yang merasa diperhatikan, segera menatap datar Alex seakan mengatakan 'makanlah'. Alex segera memutuskan pandangannya dan mulai memasukan satu suapan ke dalam mulutnya.
Ketika suapan ketiga, Rihan tiba-tiba berhenti dan menaruh sendok di atas piring.
"Kamu sangat tidak teliti," Ujar Rihan datar dan menatap Neo yang juga menatapnya. Rihan segera membuang daging yang hampir saja dia telan ke dalam tisu.
"Maksudnya?" Tanya Neo mengambil semangkuk sup yang dilihat Rihan.
"Kamu baik-baik saja? Kamu sudah menelannya tadi." Neo panik ketika menyadari jika itu sup daging sapi bukan ayam.
Ya, Rihan alergi terhadap daging sapi. Rihan juga berpikir itu daging ayam karena tidak ada perbedaan sama sekali. Daging sapi itu entah seperti apa caranya dimasak, sehingga sama persis dengan sup ayam.
Rihan juga sudah lebih dulu meminum kuahnya dan rasanya tidak jauh berbeda dengan sup ayam yang biasanya dia makan. Rupanya orang yang memasak benar-benar sudah memperhitungkan semuanya. Ketika mengunyah dagingnya, disitulah Rihan sadar jika itu daging sapi.
"Kamu sengaja?" Tanya Alex dengan marah. Asisten Rihan itu menatap tajam Neo.
"Maaf. Aku tahu kamu alergi terhadap daging sapi. Tapi aku juga heran kenapa bisa ada daging sapi di sini bukannya ayam seperti yang sudah aku pesan? Aku benar-benar minta maaf."Neo merasa bersalah.
"Anda baik-baik saja, Tuan? Saya akan menelpon Dokter Galant." Panik Alex dan hendak mengambil ponselnya.
"Tidak perlu! Kamu akan membuat seisi mansion khawatir. Ak...aku baik-baik saja." Rihan berbicara dengan pelan. Dia mulai memukul dadanya yang terasa sesak.
"Kalau begitu aku akan menelpon dokter pribadiku saja." Usul Neo tegas.
"Kamu hanya akan mengundang para hama itu ke sini," Rihan menggeleng dan masih saja memukul dadanya. Wajah Rihan juga sudah mulai pucat.
__ADS_1
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Neo semakin panik. Tiba-tiba saja otaknya blang. Dia tidak tahu harus melakukan apa.
"Sebaiknya bawa Rei kamarmu saja, biarkan dia beristirahat. Nanti kita pikirkan cara mengatasi alerginya," Sahut Logan. Sepertinya hanya dia yang masih berpikir jernih.
"Ayo! Kamu masih kuat jalan? Atau mau aku gendong?" Tawar Neo yang mulai menghampiri Rihan.
"Anak ini... dia sadar dengan ucapannya itu?" Ujar Logan dalam hati lalu menatap aneh pada Neo.
"Dia seorang pria dan kamu ingin menggendongnya? Kamu sadar ucapanmu itu?" Bisik Logan setelah menarik lengan Neo yang hendak menghampiri Rihan.
"Memangnya kenapa? Lagipula dia sedang sakit."
"Terserah padamu. Padahal kamu bisa memapahnya, kenapa malah gendong yang kau pilih, ck..."
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Alex tampaknya paling khawatir.
"Antarkan saja aku ke kamar," Rihan berusaha menahan sakitnya. Alex dengan sigap memapah Rihan menuju kamar Neo.
"Di mana kamar anda?" Tanya Alex.
"Ayo ikut aku!"
Sesampainya di kamar Neo, Alex kemudian membantu membaringkan Rihan setelah melepas sepatu yang Rihan pakai lalu menyelimutinya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Tanya Neo cemas.
"Ini pasti rencanamu, 'kan? Jangan pura-pura cemas." Marah Alex lalu menarik kerah kemeja Neo. Alex sudah siap memukul Neo jika saja Logan tidak menahannya.
"Lex..." Panggil Rihan pelan tetapi masih bisa didengar oleh ketiga pria itu.
"Anda butuh sesuatu, Tuan?" Tanya Alex sambil mengelap keringat di dahi Rihan dengan sapu tangannya.
Meski Rihan sudah disuntikkan serum untuk metabolisme tubuhnya, tetapi alergi tetaplah alergi.
Rihan terlihat semakin melemah. Wajahnya semakin pucat dengan bibir mulai membiru. Alex semakin panik dibuatnya.
"Cari tahu siapa yang membocorkan alergiku." Pintah Rihan lirih. Nafasnya mulai naik turun.
"Lalu siapa yang akan menjaga anda? Saya tidak akan meninggalkan anda dengan dua manusia itu. Saya sangat tidak mempercayai mereka." Bantah Alex masih menyeka keringat Rihan.
"Aku baik-baik saja. Ini hanya orang lain yang sengaja melakukannya. Cari mereka untukku. Sebelum itu, berikan obat di tasku."
"Hanya pereda sakit. Pergilah!" Ujar Rihan setelah meminum obatnya.
"Baik, Tuan."Alex berdiri dengan terpaksa.
"Jika terjadi sesuatu dengan majikan saya, nyawa kalian taruhannya." Ancam Alex lalu pergi dari sana.
"Kamu tenang saja."
"Kamu juga cari tahu siapa yang mengantar makanan-makanan itu. Cari sampai ke akar-akarnya." Perintah Neo dingin pada Logan.
"Oke. Serahkan padaku."
Logan bergegas pergi meninggalkan Neo dan Rihan.
"Apa yang kamu rasakan?" Tanya Neo yang kini duduk di kursi dekat tempat tidur Rihan.
"Lapar." Singkat Rihan.
"Eh..."
"Kamu tidak lihat aku sedang sakit?" Rihan menatap Neo malas. Meski sakit, Rihan berusaha menahannya.
"Maaf... kamu butuh sesuatu?" Tanya Neo pelan.
"Tidak."
"Baiklah. Lalu apa yang harus aku lakukan untukmu?"
"Diam di tempatmu. Aku akan baik-baik saja beberapa jam ke depan." Rihan lalu memejamkan matanya. Dia tidak kuat untuk bergerak. Dia hanya berharap obat yang diminum cepat bereaksi.
"Kamu tidak mati, 'kan?" Suara Neo membuat Rihan menghela nafas pelan dan membuka matanya.
"Sepertinya sakitku akan segera sembuh karena tingkahmu."
"Itu bagus."
__ADS_1
"Sudahlah. Jangan menggangguku!" Rihan kembali memejamkan matanya lagi.
"Maaf. Kamu terluka lagi karena aku. Hutangku semakin menumpuk padamu. Aku semakin merasa bersalah." Ujar Neo pelan tidak ingin menggangu Rihan yang sepertinya sudah tertidur. Sayangnya Rihan tidak tidur. Dia masih mendengar jelas perkataan Neo.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu," Neo berbicara sambil membersihkan dahi Rihan yang mengeluarkan keringat dengan telapak tangannya.
Hingga hampir setengah jam, Rihan akhirnya tertidur lelap. Sakitnya juga sedikit berkurang karena efek obat yang dia minum tadi.
"Syukurlah, kamu sudah baik-baik saja." Legah Neo ketika Rihan tidak lagi mengeluarkan keringat. Wajahnya tidak terlalu pucat, begitu juga dengan bibirnya.
Baru beberapa menit legah, Neo kembali mengerutkan keningnya karena Rihan tiba-tiba meremas erat seprai.
"Ada apa denganmu?" Tanya Neo lalu mulai melepas pelan tangan Rihan yang meremas seprai.
"Aku penasaran seperti apa masa lalumu," Gumam Neo sambil menggenggam erat tangan kanan Rihan dengan kedua tangannya.
"Hentikan... Ini sakit..." Lirih Rihan dalam tidurnya. Rihan kini menggenggam erat tangan Neo.
"Rei... tenanglah! ada aku di sini," Ucap Neo sambil membelai lembut pucuk kepala Rihan.
"Demam?" Gumam Neo ketika merasakan panas pada dahi Rihan.
"Di...ngin..." Rihan mulai menggigil.
Neo lalu membenarkan selimut Rihan yang semakin mengigil. Pegangan tangan keduanya sudah terlepas.
"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa masih dingin?" Gumam Neo ketika selimut tebal yang menutup tubuh Rihan tidak membuatnya hangat. Rihan terus saja bergumam dingin.
"Tidak ada cara lain,"
Neo kemudian naik ke tempat tidur, masuk ke dalam selimut dan memeluk erat Rihan yang semakin mengigil. Keduanya kini ada dalam satu selimut. Rihan juga sudah mulai sedikit tenang. Gumaman dinginnya perlahan hilang.
"Sepertinya berhasil. Tapi... jantungku kenapa tiba-tiba aneh?" Batin Neo karena detak jantungnya begitu cepat.
"Mungkin aku belum terbiasa memeluk orang lain." Sambung Neo dalam hati, lalu menatap Rihan yang sepertinya mulai tenang meski demamnya belum hilang. Neo hanya menatap Rihan yang sudah terlelap. Pelukannya juga tidak terlepas.
"Dilihat dari dekat, dia sangat cantik. Wajar saja mereka memanggilnya pria cantik." Neo terus berbicara dalam hati.
Deg
Deg
Deg
Jantung Neo semakin berdetak hebat. Bagaimana tidak, jika wajah Rihan kini hanya beberapa senti dengan wajahnya. Deru nafas keduanya terasa karena Rihan tiba-tiba bergerak dan tidur menyamping ke arah Neo.
"Aku tidak tahan lagi," Neo segera tidur terlentang. Jika dia terus menatap Rihan, jantungnya akan semakin berdebar kencang.
Menetralkan debaran jantungnya, hingga tanpa terasa Neo juga ikut tertidur.
**,
Alex masuk bersama Logan ke apartemen Neo karena dia tidak membawa kunci dan juga tidak tahu pinnya sehingga Logan memintanya menunggu.
Meski sudah berusaha menekan bel, nyatanya tidak ada yang membuka pintu karena Neo lupa mematikan kedap suara di setiap kamar dalam apartemennya.
Keduanya lalu menuju kamar Neo. Ketika Logan membuka pintu, keduanya kaget dengan apa yang mereka lihat.
"Pemandangan apa ini?" Komentar Logan dalam hati.
Keduanya dapat melihat Neo yang memeluk pinggang Rihan yang tertidur membelakangi Neo. Selimut yang tadinya menutup hingga leher keduanya, kini hanya sebatas pinggang. Keduanya terlihat sangat nyenyak dan nyaman dengan posisi masing-masing.
"Nona tidak terganggu sama sekali." Ucap Alex dalam hati.
Alex tahu majikannya akan cepat terusik atau tidak akan bisa tidur nyenyak jika ada orang asing tidur di sampingnya. Nyatanya, majikannya benar-benar nyenyak sekarang.
"Momen yang langkah. Ini bisa jadi senjata ampuh untuk mengancam bos tiran itu," Gumam Logan dan tersenyum licik. Logan kemudian mengambil ponselnya hendak mengabadikan momen dua manusia yang tertidur itu.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Alex menatap gelagat Logan.
"Menyiapkan senjata untuk masa depan." Logan menjawab dan mulai mengambil gambar Rihan dan Neo. Alex hanya membalas dengan gelengan kepala.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1
😊😊😊