Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pagi Yang Tidak Menyenangkan


__ADS_3

Pagi ini Rihan bangun sedikit terlambat. Banyak yang dia pikirkan semalaman sehingga tidurnya juga terlambat. Niat awalnya hanya ingin membalas dendam pada Ariana, setelah itu dia bisa hidup normal seperti biasa. Sayangnya harus ada masalah-masalah kecil seperti kehadiran Rine yang membuatnya harus mengurus gadis itu lebih dulu.


Semalam Rihan sudah mengirim pesan pada Alen jika dia akan bangun terlambat sehingga asisten pribadinya itu tidak khawatir. Rihan hanya mengatakan bahwa Alen boleh datang ke kamarnya pukul 5.30 pagi sehingga asistennya itu datang di waktu yang dijanjikan.


"Selamat pagi, Nona."


"Pagi."


"Saya akan membantu anda bersiap."


"Aku akan Gym hari ini. Bantu aku bersiap, Len."


"Baik, Nona."


"Dimana Alex?" Tanya Rihan setelah turun dari tempat tidur.


"Kak Alex sedang membantu yang lainnya meretas cctv di sekitar orang yang mengganti makanan anda, Nona."


"Hmm."


Hanya butuh beberapa menit, Rihan kini sudah siap dengan pakaian olahraganya.


"Sebaiknya ganti bajumu, kita gym bersama."


"Baik, Tuan."


Setelah Alen mengganti pakaiannya, keduanya lalu menuju ruang Gym. Karena Rihan dalam penyamaran sehingga dia menggunakan jaket hoodie zipper berbahan fleece yang lumayan tebal dan dapat menyerap keringat. Meski tebal, tetapi nyaman untuk digunakan. Dipadukan dengan celana track pant atau celana training berbahan spandex yang nyaman digunakan. Jangan lupakan juga sepatu senada juga dipakai.


Alen sendiri menggunakan sport bra berwarna putih dengan atasannya tank top hitam karena tidak ingin perutnya terlihat dan dipadukan dengan leging hitam. Penampilan keduanya terlihat sangat sporty.


Karena ruang Gym hanya satu lantai dengan kamar Rihan sehingga tidak butuh waktu lama keduanya sudah sampai di sana.


Rihan hari ini hanya akan melakukan olahraga ringan sehingga dia menuju sebuah alat dengan nama cross trainer yaitu alat untuk melatih otot kaki. Rihan dengan tenang menambah tekanannya agar lebih dari jalan biasa yang dilakukan. Sedangkan Alen, gadis itu lebih memilih menuju Treadmill untuk membakar lemak dalam tubuh.


Keduanya menikmati kegiatan masing-masing hingga kedatangan seseorang merusak suasana tenang mereka. Siapa lagi kalau bukan Rine.


"Selamat pagi, Qdik ipar." Sapa Rine dengan senang dan menuju ke arah Alen karena dia juga akan menggunakan alat yang sama. Alen dan Rine bersebelahan tetapi Alen hanya mengacuhkannya.


Rihan yang hanya berjarak sekitar 3 meter dengan Alen dan Rine, hanya menatap datar keduanya. Ketiganya menikmati kegiatan masing-masing hingga 20 menit, Rihan beralih ke Abs Crunch Machine. Dari namanya saja jelas itu adalah alat untuk melatih otot perut. Rine yang melihat Rihan melakukan gerakan pada alat itu menatap Rihan dengan berbinar.


"Aku penasaran seperti apa abs di perutnya," Batin Rine yang masih terus menatap Rihan.


Tanpa penundaan, Rine turun dari Treadmill dan mengambil sebuah Gym Ball atau Swiss Ball yang biasanya digunakan untuk melatih keseimbangan tubuh.

__ADS_1


Rine meletakkannya tepat di depan Rihan dengan jarak hanya 2 meter. Rine kemudian meletakkan kedua kakinya di Gym Ball, dengan kedua tangan menopang tubuh atasnya. Dengan menggunakan sport bra yang memperlihatkan perutnya, dipadukan dengan leging elastis dan sepatu kets senada, Rine memamerkan bentuk tubuhnya yang seksi.


Rine sengaja berhadapan langsung dengan Rihan agar dia bisa memperlihatkan bagian dadanya yang terekspos. Jangan lupakan gerakan-gerakan aneh yang membuat Rihan jijik melihatnya. Alen yang melihat tingkah Rine hanya memutar bola matanya malas.


"Dia pikir sedang berhadapan dengan siapa? Benar-benar menjijikan," Kesal Alen dalam hati. Alen kemudian turun dari Treadmill dan menuju chest press karena Alen akan melatih otot dadanya. Alat yang akan Alen gunakan tepat bersebelahan dengan alat yang Rihan gunakan.


Rihan hanya mengabaikan Rine yang sedang berusaha menggodanya dengan melakukan bermacam gaya hanya dengan bantuan Gym Ball. Rine sendiri tidak putus asa. Dengan Rihan yang mengabaikannya, wanita itu justru semakin bersemangat.


Rihan tadinya ingin berolahraga dengan tenang tanpa ada gangguan, kini harus berhenti padahal baru dua alat yang dicoba. Melihat majikannya berhenti, Alen tahu sang majikan pasti tidak senang dengan kehadiran Rine sehingga belum apa-apa dia sudah berhenti. Alen mendengus menatap Rine si biang masalah, kemudian beralih menatap Rihan.


"Saya akan mengambil minum sebentar, Tuan."


"Hmm."


Melihat Alen yang keluar dari sana, Rine segera tersenyum licik. Wanita itu turun dan Gym Ball kemudian menuju Rihan yang saat ini sedang duduk di salah satu bangku yang disediakan di sana sambil mengelap keringatnya.


Bruk!


"Akhhh... sakit..." Ringis Rine yang tiba-tiba jatuh telungkup dengan jarak satu meter di depan Rihan. Rihan hanya menatap datar Rine.


"Apalagi yang wanita ini rencanakan?" Tanya Rihan dalam hati.


Rihan hanya menatap datar Rine yang sudah mengubah posisinya dengan duduk dan menatap sedih lututnya yang terbentur lantai tadi.


"Mari lihat sejauh mana wanita ini berulah." Rihan berusaha sabar lalu segera menuju Rine.


"Kenapa kamu selalu saja mengabaikanku? Bermacam cara aku gunakan hanya untuk menarik perhatianmu, sayangnya itu tidak berhasil. Kamu mau apa sebenarnya?" Tanya Rine kesal sambil melihat Rihan yang menggulung celana leging elastis yang dia gunakan.


"Kamu itu kekasih kakakku, kenapa kamu selalu mencoba menarik perhatianku? Tidak cukup perhatian yang kak Avhin berikan? Perlu kamu ingat! Kamu tidak sebanding denganku." Rihan menjawab dengan datar dan menatap Rine kemudian beralih menatap lutut Rine yang memerah.


"Dia rela melukai tubuhnya sendiri hanya demi menarik simpati orang." Rihan tidak habis pikir.


"Jangan munafik! Semua laki-laki itu sama. Mereka pasti akan tergoda dengan umpan yang ada depan matanya," Rine semakin kesal pada Rihan.


"Aku bukan mereka!" Balas Rihan datar.


"Karena aku seorang gadis. Dan aku tidak sepertimu." Sambung Rihan dalam hati.


"Jangan berbohong!" Bantah Rine tidak percaya.


"Kamu harus tahu, kak Avhin tulus padamu. Tapi kamu... Kamu hanya memanfaatkannya." Nada suara Rihan masih sama lalu berdiri.


Bruk!

__ADS_1


"Karena kamu selalu menolakku, maka hanya ini yang harus aku lakukan," Ucap Rine ketika berhasil menubruk tubuh Rihan sehingga keduanya dalam posisi berbaring dengan Rine di bagian atas.


"Jika kamu tidak membalas perasaanku, maka aku akan membuat hubunganmu dan kakakmu renggang," Sambung Rine lagi. Wajah keduanya hanya beberapa senti.


"Kamu pikir aku takut dengan ancaman itu?" Balas Rihan datar.


"Jadi ini rencananya?" Sambung Rihan dalam hati. Rihan tetap bersikap tenang. Rihan ingin melihat apa yang akan Rine lakukan.


"Kamu harus tahu, aku sudah memasang kamera tersembunyi di ruangan ini yang merekam adegan kita." Rine memasang tersenyum licik pada Rihan. Dia jelas yakin rencananya akan berhasil.


"Kamu ingin adegan seperti ini?" Balas Rihan lalu berbalik dan kini posisi berubah. Rihan yang ada di bagian atas.


"Atau adegan ciuman?" Sambung Rihan dan mulai mendekatkan wajahnya pada Rine. Hidung mereka hampir bersentuhan. Rine sendiri sudah memejamkan matanya.


"Ayo... sedikit lagi," Gumam Rine dalam hati sangat berharap.


"Sekali lagi aku ingatkan padamu! Kamu tidak sebanding denganku. Kak Avhin mungkin sedang sakit mata ketika melihatmu," Rihan dengan cepat bangun dan pergi dari sana.


"Sial..." Teriak Rine dalam hati kesal kemudian bangun dan duduk.


"Kamu tidak takut aku mengirim rekaman ini pada kakakmu?" Ancam Rine ketika Rihan akan membuka pintu.


"Silahkan! Mari kita lihat siapa yang akan dipercayai kak Avhin." Balas Rihan tenang lalu benar-benar pergi dari sana.


"Aku jamin, setelah melihat rekaman ini, Avhin akan membencimu." Gumam Rine lalu berdiri dan menuju kamera yang dia pasang di sudut ruang Gym. Entah sejak kapan kamera itu ada di sana.


...


"Anda sungguh hebat, Tuan." Puji Alen menyambut Rihan di luar pintu.


"Dia benar-benar gadis yang gila." Rihan menggeleng lalu mengambil air mineral di tangan Alen dan meminumnya hingga habis.


"Anda akan membiarkan rekaman itu sampai ke tangan kak Avhin?" Tanya Alen saat dia dan Rihan sedang menuju kamar Rihan.


"Sebelum rekamannya sampai, rekaman kita harus sampai lebih dulu. Dia pasti membutuhkan banyak waktu untuk mengedit bagian-bagian yang menampilkan adegan yang membuat orang salah paham." Balas Rihan setelah membuka pintu kamarnya.


"Berarti kita harus mengirim rekaman asli tanpa editan pada kak Avhin?" Tanya Alen.


"Ya. Jangan lupa untuk menyertakan rekaman lainnya sebagai pendukung."


"Siap, Tuan."


Rekaman pendukung yang Rihan maksud adalah rekaman Rine yang sedang menelpon waktu itu dan tingkah lakunya yang menggoda Rihan.

__ADS_1


__ADS_2