Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Sialnya Zant (Extra Part 2)


__ADS_3

"Ada apa dengan nafas tersengalmu itu, Baby?" Tanya Zant yang melihat anak bungsunya melewati ruang tamu dengan nafas tersengal.


"Aku lelah menjadi cantik, Dad."


"Huh? Maksud kamu?" Zant mengerutkan kening heran.


Di saat semua gadis belomba-lomba menghabiskan uang untuk menjadi cantik, kenapa anak gadisnya ini tidak ingin menjadi cantik? Aneh bukan?


"Hidupku tidak tenang, Dad! Aku selalu dikejar kemana-mana. Aku pusing, Dad." Rhiana menjawab kemudian menghembuskan nafas lelah.


Gadis berusia 10 tahun itu kemudian mengambil posisi duduk di sebelah sang daddy, kemudian dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Zant.


"Hahaha... Daddy mengerti! Tapi, bukankah mereka keterlaluan? Bagaimana kalau mulai besok, kamu ke sekolah dengan beberapa pengawal bayangan? Mereka akan melindungimu dari orang-orang itu," Zant memberi saran sambil mengusap sayang pucuk kepala Rhiana.


"Tidak! Aku merasa tertekan karena dijaga seperti itu. Aku punya cara sendiri," Rhiana menolak dengan gelengan kepala.


"Cara sendiri? Hohoho... daddy ingin mendengarnya,"


"Aku pernah membaca novel tentang seorang tuan puteri yang menyamar menjadi jelek karena tidak ingin identitasnya diketahui. Jadi..."


"Hmm... sepertinya daddy tahu rencanamu. Tapi, bukankah itu sama saja kamu akan dibully nanti?" Potong Zant lembut.


"Aku tahu, Dad. Tapi daddy tenang saja! Rhiana, arti namaku adalah ratu yang hebat. Tidak ada yang bisa menindas ratu ini." Rhiana berbicara dengan nada sombong membuat Zant terkekeh.


"Dari mana kamu belajar kalimat sombong itu, Baby?" Zant kaget dengan kesombongan anak gadisnya ini. Dia dan istrinya tidak pernah mengajarkan anak-anak mereka untuk sombong.


"Dari ayah Neo. Kata ayah Neo, jangan pernah takut dengan siapapun. Buat masalah saja sebanyak mungkin. Jika ada yang menindas anak ayah, ayah sendiri yang akan menghajarnya. Jangan lupa jika ayahmu ini adalah seorang penguasa." Rhiana bahkan meniru gaya bicara Neo yang sombong.


"Pria bodoh itu sudah mengajarkan hal buruk pada anak kesayanganku. Dia harus diberi pelajaran," Zant bergumam dalam hati kesal.


"Kamu seharusnya tidak lupa dengan ajaran daddy dan mommy, 'kan?" Rhiana mengangguk mengerti.


"Kami tidak pernah mengajarkan kalian bertiga menjadi sombong. Kalian boleh sombong jika itu hasil kerja keras kalian sendiri, dan bukan karena orang tua kalian. Jangan pernah meniru anak-anak diluar sana, yang selalu menyombongkan diri karena kekayaan orang tua mereka. Jangan!


Kami tidak ingin kalian seperti itu. Karena apa? Karena daddy dan mommy membangun semua yang kalian nikmati ini dengan kerja keras kami sendiri. Meski kami memiliki keluarga yang kaya, tapi kami tidak pernah sombong. Kami justru menjadikan orang tua kami, kakek dan nenek kalian sebagai panutan untuk membangun usaha kami sendiri dari nol.


Kalian sesekali boleh sombong jika ada yang menindas kalian. Jangan biarkan seekor semutpun berani menggigit kalian. Daddy dan mommy tidak ingin kalian ditindas hanya karena kalian menyembunyikan identitas." Zant berbicara panjang lebar pada Rhiana.


"Aku mengerti, Dad." Rhiana mengangguk mengerti.


"Baguslah. Jadi... mau didampingi pengawal bayangan mulai besok, atau mau menyamarkan identitas? Semua terserah kamu, Baby."


"Aku akan menyamar saja, Dad. Sepertinya akan seru."


"Oke. Terserah kamu."


"Di mana mommy, Dad?"


"Itu dia! Dua iblis itu berani menculik istriku di saat aku sedang mandi. Mereka sepertinya ingin mencari masalah denganku," Zant tiba-tiba kesal karena mengingat kejadian satu jam lalu.


Zant dibuat kesal karena ketika keluar dari kamar mandi, dia tidak lagi melihat keberadaan istrinya. Hanya ada sepucuk memo yang bertuliskan


...'Jangan mencari mommy. Kami sedang jalan-jalan. Bye-bye di rumah, Pria tua!'...


Membaca kalimat itu, Zant sudah tahu siapa yang menulisnya. Jelas sekali, itu ulah anak keduanya, Dalfi. Padahal Zant berencana sehabis mandi, dia ingin mengisi dayanya, tetapi istrinya sudah dibawa pergi. Benar-benar membuat Zant kesal.


"Hahaha... Daddy memang sudah tua." Rhiana ikut menyindir Zant.


"Oh... jadi, kamu mulai membela dua iblis itu? Mau daddy hukum? Sini... Daddy gelitik..."


"Hahaha... Aku mengaku salah... Hahaha... berhenti, Dad, itu geli.... Hahaha..."


...


"Lihatlah, Pria tua itu! Dia tidak takut tulang tuanya patah?" Sindir Dalfa yang baru datang bersama Rihan dan Dalfi. Ketiganya menghampiri Rhiana dan Zant.


Dalfa menggeleng kepala melihat Zant yang sedang menggendong Rhiana di punggungnya. Sepasang ayah dan anak itu sedang berada di halaman depan mansion. Tepatnya taman mansion.


"Mommy..." Heboh Rhiana melihat kemunculan Rihan dan kedua saudara kembarnya.


Zant yang mendengarnya segera berbalik dan tersenyum lebar melihat kesayangannya. Zant lalu menurunkan Rhiana dan segera menghampiri Rihan.


"Kamu berkeringat, Pria tua! Jangan mendekati mommy kami!" Dalfi mencegah Zant yang ingin menghampiri Rihan.


"Anak durhaka! Dia istriku. Biarkan aku memeluk istriku!" Zant menatap kesal dua bocah iblis di depannya ini.


Beginilah mereka. Tiga pria itu akan selalu bertengkar karena tidak ingin jauh dari Rihan. Rhiana hanya geleng kepala karena sudah terbiasa dengan pemandangan ini.


"Kalian ini... ayo kita masuk! Berhenti berdebat. Hari ini mommy tidak ingin mendengar keributan. Jika ada yang membuat keributan, bersiap-siap diberi hukuman. Kebetulan Bibi Su sudah berbelanja di pasar. Stok buah pare dan mengkudu banyak di kulkas."


Zant, Dalfa dan Dalfi meneguk ludah susah paya. Mereka masih mengingat jelas bagaimana rasa jus dua buah itu. Rihan akan memberi hukuman pada mereka dengan meminum jus pare dan mengkudu selama 24 jam, tanpa air putih setetespun. Zant yang paling parah, karena sudah sejak dulu pria itu selalu diberi hukuman yang sama.

__ADS_1


"Mommy tahukan, kami suka sekali bercanda dengan daddy. Kami hanya bercanda, Mom. Ayo kita masuk, Mom." Dalfa segera mengelak dan memberi isyarat pada Dalfi untuk membawa Rihan masuk.


Rihan hanya menatap tajam tiga pria kesayangannya ini, tetapi membiarkan lengannya digandeng oleh Dalfa dan Dalfi.


"Jangan lupa memanggil paman Alan untuk memeriksa pria tua itu, Rhi. Takutnya pinggang tuanya itu patah karena menggendongmu tadi." Dalfi kembali mencibir sebelum meninggalkan Zant dan Rhiana di belakang.


"Anak durhaka! Aku masih 36 tahun. Aku belum setua itu." Teriak Zant dengan kesal.


"Mommy kami masih 30 tahun. Bukankah anda sudah tua, Pak?" Dalfa ikut menyindir membuat Zant harus ekstra sabar jika berhadapan dengan mulut pedas dua iblis berusia 10 tahun ini. Entah dari mana sifat kedua iblis ini muncul.


"Bibi Su... siapkan jus special untuk ketiga pria ini." Teriak Rihan yang sudah jengah dengan tingkah suami dan dua anaknya ini.


"Jangan Mom/Istriku!" Teriak Zant, Dalfa dan Dalfi secara serempak.


"Aku akan bantu Bibi Su menyiapkan jus specialnya. Bye-bye." Rhiana dengan semangat berlari masuk ke dalam mansion. Tujuannya adalah dapur.


"Istriku, My Queen... ayolah, jangan menghukum kami, Hmm? Janji, tidak akan begini lagi. Kalian harus membuat janji dengan mommy kalian. Sekarang!" Zant memelas menatap Rihan.


"Iya, Mom. Kami janji tidak mengulanginya lagi. Serius." Dalfa menjawab. Dalfi mengangguk setuju.


"Kalian sudah berjanji berulang kali. Tapi tetap saja, kalian mengulanginya lagi." Rihan menggeleng tidak setuju.


"Apa aku melewatkan sesuatu?" Suara Neo mengalihkan perhatian empat manusia di depan pintu masuk mansion.


"Tidak ada!" Zant dan kedua anaknya menjawab dengan serempak. Tatapan ketiga pria itu begitu tajam pada Neo.


"Ada apa, Kak?" Tanya Rihan dengan senyum tipis pada Neo tanpa mempedulikan ketiga pria di sampingnya.


"Aku punya sesuatu yang ingin dibicarakan denganmu." Neo menjawab dengan tenang. Pria itu tidak mempedulikan tatapan tajam yang diarahkan padanya.


"Ayo, ikut ke ruanganku, Kak." Rihan beranjak pergi meninggalkan keempat pria itu.


"Mari berhenti berselisih hari ini. Kita singkirkan pria itu dulu," Zant membuka suara dengan berbisik pada Dalfa dan Dalfi setelah Neo sudah mengikuti Rihan.


"Oke. Hari ini kita gencatan senjata. Setelah pria itu disingkirkan, kita mulai perang. Deal?" Dalfa segera mengulurkan tangannya ke depan.


"Deal!" Zant dan Dalfi ikut mengulurkan tangan. Ketiganya saling berjabat tangan setuju.


***


"Jadi, ada masalah apa, Kak?" Tanya Rihan setelah dia dan Neo sudah duduk di sofa ruang kerjanya.


"Gadis yang cantik. Kamu menyukainya, Kak?" Rihan bertanya sambil menatap dengan senyum tipis foto di tangannya.


"Jangan lupa jika kamu satu-satu yang selalu di hatiku. Aku hanya ingin tahu kehidupan pribadi gadis ini. Sepertinya Brand menyukainya."


"Benarkah? Baguslah, jika pria tengil itu sudah menemukan seseorang yang dia sukai." Rihan mengangguk dengan masih senyum tipis.


"Aku tidak yakin dia menyukai gadis itu. Hanya saja, Brand selalu ada di saat gadis itu dalam bahaya. Brand juga selalu lembut padanya. Seharusnya kamu tahu seperti apa sifat Brand. Dia tidak pernah lembut pada gadis manapun selain kamu."


"Hmm... aku mengerti. Sepertinya gadis ini masih sangat muda." Komentar Rihan setelah mengangguk membenarkan perkataan Neo.


"Ya. Dia SMA sekarang."


"Pesona anak SMA benar-benar tidak bisa dibantah. Sepertinya kak Brand memang menyukai gadis ini."


...


Diluar ruang kerja Rihan, Zant dan kedua anaknya sedang berusaha memasang telinga untuk mendengar apa yang sedang dibicarakan Rihan dan Neo di dalam sana.


"Aku tidak mendengar apapun, Dad." Dalfa mengerutkan kening karena tidak mendengar apapun dibalik pintu.


"Daddy juga. Bagaimana denganmu, Dalfi?"


"Sama."


"Sudahlah. Itu tidak penting. Sekarang, ayo mulai rencananya." Dalfa menyeringai menatap Dalfi.


"Ke kamarmu sekarang, Dalfi." Pintah Zant dan hanya dibalas anggukan oleh Dalfi. Anak kedua Rihan dan Zant itu segera menuju kamarnya.


"Mari berakting!" Serempak Zant dan Dalfa.


Bug


Bug


Bug


"Mom! Dalfi sakit, Mom... dia butuh mommy sekarang!" Teriak Dalfa dengan panik sambil mengedor pintu ruang kerja Rihan.


"Bukannya dia masih baik-baik saja tadi?" Rihan bertanya dengan khawatir setelah pintu dibuka.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu, Mom. Tiba-tiba saja Dalfi kesakitan."


"Mommy akan melihatnya sebentar." Rihan dengan khawatir menuju kamar Dalfi.


Zant dan Dalfa saling melirik dan menyeringai. Rencana mereka untuk menjauhkan Rihan dan Neo ternyata berhasil. Keduanya lalu bertos ria.


...


"Beraninya kalian!" Kesal Rihan setelah memeriksa Dalfi dan ternyata tidak ada masalah apapun.


Meski tidak menyelesaikan gelar dokternya, pengetahuannya tentang medis sangatlah tinggi. Jadi, jangan heran jika Rihan akan tahu dengan mudah bahwa anaknya sedang berakting sakit.


"Ta...tadi Dalfi benar-benar sakit, Mom. Sekarang sudah tidak sakit lagi. Serius, Mom!" Dalfi membuka suara berusaha tenang.


"Rencana siapa ini? Aku ingin jawaban jujur!" Nada suara Rihan berubah datar dan dingin membuat keringat dingin mulai bermunculan di dahi ketiga pria di depannya ini.


Rihan saat ini sedang duduk di ranjang Dalfi dengan tangan terlipat di dada, sedangkan Zant, Dalfa dan Dalfi berdiri di depan Rihan dengan ketakutan.


"Tiga..." Rihan mulai menghitung karena tidak ada yang berani menjawab.


Zant melirik kedua anaknya bergantian.


"Dua..."


Glup


Ketiganya menelan ludah takut.


"Rencana daddy, Mom!" Seru Dalfa dan Dalfi bersamaan. Zant tercengang mendengar jawaban kedua anaknya yang mengkambing hitamkan dirinya.


"Baiklah. Ikut denganku, My King!" Rihan mengajak Zant pergi bersamanya dengan datar.


"Bye-bye, Pria tua..." Ejek Dalfi tanpa suara pada Zant yang menatap ke arahnya.


Selalu seperti ini. Zant akan selalu menjadi kambing hitam jika bersekutu dengan dua iblis itu. Dia akan selalu diberi hukuman oleh istri tercintanya dengan tidur di kamar tamu selama tiga hari. Benar-benar sial!


...


Grep!


Zant dengan cepat memeluk Rihan dari belakang setelah keduanya masuk ke dalam kamar mereka.


"My Queen. Maafkan aku, hm?"


"Bukankah kamu terlalu memanjakan mereka?" Rihan membuka suara tanpa melepas pelukan Zant.


"Maksudnya?" Zant bertanya dengan bingung.


"Itu pasti rencana Dalfi, kenapa masih saja tidak bisa melawan kedua anak itu?"


"Entahlah. Dua iblis itu sepertinya sudah memperdayaku sehingga tidak bisa melawan." Zant menjawab dengan lembut. Pria itu sibuk menghirup aroma menenangkan Rihan yang sudah menjadi candunya.


Meski Zant menjawab seperti itu, tapi Rihan tahu, suami posesifnya ini sangat menyayangi ketiga anak mereka. Zant akan selalu mengalah dan berpura-pura menjadi bodoh dan mudah ditindas oleh Dalfa dan Dalfi.


Pria itu selalu marah pada Neo karena memanjakan Rhiana, padahal sebenarnya dia cemburu anak-anaknya dimanjakan oleh orang lain. Zant hanya ingin dia sendiri yang memanjakan keluarga kecilnya.


"Terima kasih." Rihan berbalik dan memeluk erat Zant.


"Sepertinya kamu lupa sesuatu, My Queen. Terima kasihmu harus di sini." Zant bergumam pelan dan menyeringai. Tidak lupa juga, dia menepuk pelan bibirnya memberi isyarat.


"Aku tidak lupa. Tapi, suamiku sepertinya melupakan sesuatu," Rihan menjawab dengan tenang. Zant menatap Rihan bingung.


"Kamu sedang dalam masa hukuman, My King. Masa hukumannya dimulai dari sekarang!" Rihan melepaskan pelukannya membuat Zant merana.


"Tidak bisakah aku diberi ciuman dulu sebelum dihukum? Please, My Queen!" Zant memelas pada Rihan bak anak kucing.


"Tidak!"


***


Halo, semuanya!


Aku kembali lagi, setelah bertapa cukup lama.😁


Maafkan aku, ya.


Aku skalian mau promosi novel baruku.


Jangan lupa baca, ya. Ceritanya nggak kalah seru dengan cerita Rihan.


__ADS_1


__ADS_2