Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Belanja


__ADS_3

Rihan dan Neo kini sedang duduk di bangku taman sambil menatap apa saja yang dilakukan para pengunjung di sana.


"Sudah lama aku tidak datang ke tempat seperti ini," Gumam Rihan dalam hati.


Rihan kembali mengingat keinginannya saat kecil yang suka keliling dunia hanya untuk jalan-jalan dan menikmati pemandangan indah. Entah kenapa Rihan sangat menginginkan itu.


Sampai akhirnya masa lalu itu terjadi. Pembullyan terhadapnya yang meninggalkan luka yang cukup membuat seorang Rihhane Senora Lesfingtone berubah seperti sekarang. Rihan hanya bisa menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Kenapa?" Tanya Neo yang sedari tadi memperhatikan Rihan.


"Tidak ada."


"Tunggu aku sebentar," Neo berdiri dan pergi entah kemana. Rihan hanya menatap kepergian pria itu dalam diam. Setelah itu, Rihan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo Nona, bagaimana kabar anda? Sudah lama anda pergi,"


"Aku baik, Len. Mungkin besok atau lusa aku pulang. Bagaimana keadaan di sana?"


"Kami di sini juga baik, Nona. Tadi ada insiden kecil di kantin kampus. Videonya akan saya kirim setelah panggilan ini berakhir,"


"Hm... aku menunggunya. Bagaimana kabar Brand?"


"Pria itu cukup diam sampai saat ini. Entah apa yang sedang dia rencanakan. Orang-orang kita masih mengawasinya, Nona."


"Bagus. Perketat penjagaan di apartemen Beatrix. Rubah itu pasti tidak akan tinggal diam."


"Saya mengerti, Nona."


"Hmm. Aku tutup teleponnya,"


Panggilan berakhir.


Selang beberapa menit, notifikasi masuk ke ponsel Rihan yang berisi video insiden kecil yang Alen maksud. Rihan lalu membukanya. Ternyata isinya adalah Ariana yang ingin menyiram Beatrix. Rihan hanya menggeleng kepala menonton video itu. Tidak lama kemudian Neo muncul dengan dua es krim di masing-masing tangannya. Rihan yang tahu kedatangan Neo, segera mematikan ponselnya.


"Mau?" Tawar Neo sambil menyodorkan satu es krim pada Rihan.


Rihan menatap es krim itu ragu. Padahal sebenarnya Rihan sangat menyukai es krim. Sayangnya karena kondisi tubuhnya, sehingga dia harus menahan diri.


"Tenang. Ini es krim khusus. Aman untuk dikonsumsi. Aku cukup lama karena memesannya. Aku jamin, ini aman untukmu." Neo menjelaskan setelah melihat keraguan di mata Rihan.


Neo sudah tahu jika Rihan tidak bisa mengkonsumsi sembarangan makanan mengingat kondisi tubuhnya. Akan tetapi sampai saat ini Neo belum menemukan alasan sebenarnya dengan kondisi tubuh Rihan. Neo sudah berusaha mencari tetapi tidak menemukan fakta apapun. Semua akses pencariannya selalu ditutup. Di saat Neo hampir menemukannya, komputernya pasti akan error.


"Terima kasih," Ujar Rihan setelah mengambil es krim di tangan Neo. Rihan percaya pada pria itu sehingga keraguannya tidak lagi terlihat.


Neo hanya tersenyum dan mengangguk. Pria itu kemudian mengambil posisi duduk di sebelah Rihan.


"Aku penasaran dengan jawabanmu pada papi,"


"Jawaban apa?" Tanya Rihan setelah memakan sedikit es krimnya.


"Tentang perjodohanmu dengan adikku," Jawab Neo yang melakukan hal yang sama dengan Rihan. Memakan es krim coklat miliknya.


"Menurut kak Neo, apa jawabanku?" Tanya balik Rihan datar.


"Menerimanya?"


"Yakin itu menurut kak Neo?"


"Yakin tidak yakin. Tapi aku berharap jawabanmu tidak,"

__ADS_1


"Maka sesuai harapan kak Neo." Balas Rihan santai lalu menikmati es krimnya sambil menatap ke depan.


"Serius? Aku tidak yakin. Bukankah kamu sangat menyayangi Ira? Aku sebagai kakaknya justru cemburu melihat bagaimana kamu memperlakukannya. Kata orang, jika ada pria yang memperlakukan seorang gadis istimewa selain ibu dan saudari perempuannya, maka hanya ada satu jawaban. Pria itu menyukai gadis itu,"


"Hmm."


"Hanya itu tanggapanmu? Ayolah, berikan aku jawaban yang pasti." Desak Neo sangat ingin tahu.


"Kenapa kak Neo begitu penasaran dengan jawabanku? Sudah jelas itu sesuai harapan kak Neo. Tata adalah sahabatku yang sudah aku anggap saudari sendiri, jadi aku tidak mungkin menerima perjodohan itu."


"Lagipula aku seorang perempuan. Jikapun aku seorang pria, Tata tetap aku anggap saudari perempuanku." Sambung Rihan dalam hati.


"Kata orang juga, tidak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan, karena pasti mereka akan saling menyukai, atau hanya salah satu yang menyukai. Jadi, jika dikaitkan dengan kamu dan Ira, maka..."


"Kenapa harus mendengarkan kata orang? Tidak semua persahabatan dua orang berbeda jenis kelamin seperti itu. Sudahlah, aku sedang malas bicara panjang lebar." Rihan kembali menikmati es krimnya.


"Tapi..."


"Diam, atau kita pulang sekarang!" Ancaman sangat ampuh membuat seseorang diam.


"Aku diam."


"Tapi benar, kamu akan menolaknya?" Tanya Neo setelah hening beberapa saat. Neo bahkan mendekatkan wajahnya pada Rihan.


"Ayo kita pulang!"


"Baik. Kali ini aku diam."


10 menit kemudian, Neo kembali menatap Rihan.


"Rei..."


"Aku tidak ingin membahas itu. Masih ada waktu, ayo ke tempat lain." Neo kemudian berdiri dan mengulurkan tangan pada Rihan.


"Tapi aku tidak butuh gandengan," Balas Rihan lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Neo.


Neo hanya menatap tangannya yang tidak direspon Rihan tadi tanpa ekspresi. Neo menatap punggung Rihan kemudian menghela nafas sebentar dan mengikuti Rihan.


...


Rihan dan Neo kini sudah sampai di Bahnhofstrasse, yang merupakan salah satu kawasan pertokoan paling mahal di dunia karena menyediakan barang-barang eksklusif dan bermerk terkenal di dunia. Untuk kalian yang suka berbelanja, bisa datang ke Bahnhofstrasse, yang terletak di kota Zurich, Swiss.


Rihan Hanya mengerutkan kening karena Neo membawanya kesini.


"Kak Neo ingin belanja?" Tanya Rihan menatap Neo yang sedang mengendalikan mobil untuk diparkir.


"Tidak."


"Lalu?"


"Siapa tahu kamu ingin membeli sesuatu," Jawab Neo setelah mematikan mesin mobil dan membuka seat belt.


"Tidak ada." Rihan menggeleng dan ikut membuka seat beltnya.


"Aku rasa ada," Neo menatap Rihan lembut. Keduanya belum turun dari mobil.


"Apa?"


"Pakaianmu hanya beberapa pasang di mansion. Jadi, ayo belanja! Aku yang bayar. Jangan membantah," Suara Neo tegas kemudian turun dari mobil.

__ADS_1


"Itu sudah cukup, Kak. Besok atau lusa aku sudah pulang. Untuk apa membeli lagi?" Perkataan Rihan berhasil menghentikan langkah Neo di depannya.


"Tidak bisakah kamu lebih lama di sini?" Suara Neo pelan tanpa berbalik menatap Rihan di belakangnya.


"Kak Neo tahu aku tidak bisa," Rihan sudah berdiri di samping Neo dan menatap sekilas pria itu.


"Terserah. Setidaknya hanya untuk stok di kamarmu. Atau beli oleh-oleh untuk teman-temanmu. Ayo!" Neo menatap Rihan kemudian menarik pergelangan tangan Rihan menuju ke sebuah toko pakaian. Rihan hanya menatap punggung Neo sambil terus mengikuti langkah pria itu.


Memasuki toko pakaian bermerek itu, Rihan tiba-tiba sakit kepala karena melihat banyak pakaian disusun rapi di dalam toko. Entah pakaian apa yang harus dia pilih, karena semua yang dia pakai selalu disiapkan oleh Alex dan Alen.


"Ini sepertinya cocok untukmu. Ayo kita coba!" Neo mengambil sepasang pakaian yang dirasa cocok untuk Rihan.


"Maksud kak Neo?" Tanya ulang Rihan.


"Aku akan membantumu mengganti pakaian," Jawab Neo ingin menarik lagi tangan rihan.


"Aku bisa sendiri. Kak Neo tunggu saja di sini. Bantu aku mencari pakaian lainnya." Cegah Rihan cepat. Bisa ketahuan penyamarannya nanti.


"Eum... baiklah." Neo lalu memberikan pakaian di tangannya pada Rihan.


Rihan mengambilnya dan segera masuk ke ruang ganti dan mencoba pakaian itu. Sedangkan Neo, pria itu kembali mencari pakaian lainnya. Neo bisa saja meminta pegawai toko untuk membantunya, tetapi dia hanya ingin memilih sendiri pakaian untuk Rihan.


Sudah lima pasang pakaian Rihan coba dan itu semua cocok untuknya membuat Neo sangat senang. Neo ingin menambah lagi, tetapi Rihan menghentikannya. Lima pasang sudah lebih dari cukup untuknya.


"Kak Neo tidak membeli untuk diri sendiri?" Tanya Rihan.


"Bagaimana kalau kamu yang pilih?" Neo tersenyum senang. Suasana hatinya sedang bagus sekarang.


"Semua pakaianku Alex dan Alen yang selalu menyiapkannya. Aku tidak mau pilihanku tidak sesuai dengan kak Neo." Rihan menggaruk pelipisnya pelan karena malu.


"Hahaha... dasar tuan muda. Aku akan memakai apapun yang kamu pilih. Pergilah, aku tunggu di sini." Neo tertawa sebentar kemudian mendorong pelan Rihan untuk pergi.


"Eum... pakaian apa yang ingin kak Neo pakai? Formal atau kasual?" Tanya Rihan sebelum memilih pakaian untuk Neo.


"Dua-duanya juga boleh," Jawab Neo dan tersenyum.


"Oke."


Hanya butuh beberapa menit, Rihan sudah kembali dengan dua sepasang pakaian di tangannya. Satu untuk formal dan satu untuk kasual.


"Semoga sesuai dengan kak Neo." Rihan menyodorkan pakaian di tangannya pada Neo.


Lima menit Neo keluar dengan penampilan kasualnya.


"Tidak buruk. Aku suka. Aku akan mencoba yang formal," Neo tersenyum menatap Rihan yang ikut menatap pantulannya di cermin.


"Sangat pas. Terima kasih. Ini akan menjadi pakaian favoritku,"


"Sama-sama, Kak. Bagus kalau kak Neo suka."


"Tunggu disini, aku akan membayar di kasir." Ujar Neo setelah keluar dari ruang ganti. Rihan membalas dengan anggukan.


"Maaf, Tuan. Boleh saya bertanya?" Tanya kasir wanita dengan senyum ramah setelah memberikan kartu hitam milik Neo.


"Silahkan,"


"Apa dia kekasih anda?"


...

__ADS_1


Ayo tebak... apa jawaban Neo?


__ADS_2