Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Dia Kembali?


__ADS_3

"Aktingmu tenyata tidak buruk, Kak." Suara datar Rihan terdengar setelah membuka lembar selanjutnya buku yang dia baca.


Neo sudah meninggalkan ruang tamu karena kesal.


"Huh? Oh... aku memang sengaja membuatnya kesal. Kapan lagi bisa melihat ekspresinya itu. Sungguh menyenangkan." Balas Brand sambil menggaruk kepalanya dan tersenyum.


"Sebenarnya kalimat itu keluar begitu saja, bukan akting." Sambung Brand dalam hati.


Tanpa merespon Brand, Rihan menutup buku yang dia baca kemudian meletakkannya di atas meja dan berdiri hendak keluar mansion.


"Mau kemana?" Tanya Brand ikut berdiri.


"Jalan-jalan." Rihan menjawab datar tanpa berbalik menatap Brand.


"Aku ikut..."


Brand dengan senyum senang menghampiri Rihan dan tanpa permisi meletakkan tangan kirinya di bahu Rihan, merangkul gadis itu. Rihan tidak menolak apa yang Brand lakukan dan hanya menatap pria itu sekilas.


"Kamu belum mandi, Kak."


"Hehehe... maaf. Tapi ini kesempatan langkah, jadi nikmati saja." Brand terkekeh kikuk. Keduanya kini sudah di luar mansion.


"Kamu bisa lepas, Kak. Tidak ada lagi yang melihatnya," Rihan menepis pelan tangan Brand di bahunya.


"Aku pikir cuma aku yang tahu jika Neo melihat kita, ternyata kamu juga." Brand mendengus pelan kemudian melepas rangkulannya.


Brand memang sengaja merangkul Rihan karena dia sadar jika Neo melihat mereka dari lantai atas. Pria itu tampaknya sangat kesal.


"Jadi, kita mau kemana?" Tanya Brand setelah memasukkan satu tangannya ke saku celana kain yang dipakai. Keduanya saat ini berjalan beriringan di halaman mansion. Entah kemana Rihan akan membawanya.


"Entahlah. Hanya tidak ingin melihatnya," Balas Rihan datar.


"Kenapa kamu tidak ingin melihatnya? Beberapa waktu lalu hingga sekarang, aku lihat kamu terus menghindarinya. Apa terjadi sesuatu?" Tanya Brand sedikit menunduk karena perbedaan tinggi badan mereka.


Tinggi badan Brand tidak berbeda jauh dengan Neo. Brand 185 cm, sedangkan Neo 188 cm. Rihan sendiri 170 cm.


"Entahlah. Hanya tidak ingin terlalu dekat dengannya,"


"Kamu takut menyukainya karena dia sudah memiliki kekasih?" Tebak Brand dan tersenyum.


"Tidak."


"Lalu?"


"Privasi."


"Ini memang sifatmu. Tidak heran lagi." Brand menghela nafas sebentar kemudian melanjutkan.


"Jika kamu seorang gadis, aku setuju kamu bersanding dengannya, karena penyihir itu sangat tidak cocok dengan Neo. Sayangnya jenis kelamin kalian sama,"


"Jika aku seorang gadis, kenapa kak Brand tidak menyukaiku, justru ingin aku bersama kak Neo?" Tanya Rihan dan menatap Brand.


"Aku mungkin orang pertama yang jatuh cinta padamu jika itu benar. Kamu yang seperti ini saja sudah membuatku tertarik. Akan tetapi, aku tidak ingin hal yang sama terulang lagi. Sudah cukup kami bertengkar di masa lalu karena penyihir itu. Aku tidak ingin persahabatan kita hancur hanya karena menyukai orang yang sama. Biarkan aku kembali merelakan untuknya,"


"Jika dia menyukaiku yang sekarang bagaimana?"


"Menyukaimu yang berjenis kelamin sama dengannya?" Tanya Brand, dan Rihan mengangguk.


"Tidak mungkin! Aku sudah mengenal Neo bertahun-tahun. Pria itu adalah pasangan yang setia. Jika dia sudah memberikan kepercayaannya pada pasangannya, sebanyak apapun bukti, tanpa dia melihat sendiri, dia tidak akan percaya.


Dia begitu mencintai Elle, dan tidak akan menghianati gadis itu. Kecuali dia melihat dan mendengar sendiri jika gadis itu berpaling darinya. So... aku yakin, dia tidak mungkin menyukaimu."


"Aku mengerti." Balas Rihan datar.


"Jangan bilang kamu menyukai pria bodoh itu." Tebak Brand dan menatap Rihan serius.


"Tidak."

__ADS_1


"Baguslah. Tapi... aku serius dengan perkataanku tadi jika aku tertarik padamu. Meski kamu seorang pria. Apa karena efek sudah 24 tahun sendiri?"


"Kak Brand belum pernah menjalin hubungan dengan gadis manapun selain menyukai Elle?" Tanya Rihan sedikit mengerutkan kening.


"Ya. Bagaimana denganmu?" Tanya balik Brand.


"Sama sepertimu."


"Kamu juga pernah menyukai seseorang?"


"Tidak. Eum... hampir,"


"Hampir menyukai seseorang? Wah... siapa gadis beruntung itu?" Tanya Brand senang.


"Privasi."


"Kamu mirip dengan Player itu Rei... suka sekali bikin orang kesal," Brand meremas belakang lehernya frustasi.


"Sudahlah. Berarti kita sama-sama belum pernah menjalin hubungan. Bedanya, kamu belum pernah menyukai seseorang." Brand lalu mengangguk.


"Sudah diputuskan," Sambung Brand membuat Rihan menatapnya dengan sebelah alis terangkat.


"Kamu harus belajar menyukaiku mulai sekarang, karena aku sepertinya mulai menyukaimu. Aku tidak ingin mendengar penolakanmu." Brand meletakkan jari telunjuknya pada bibir Rihan tidak ingin mendengar penolakan gadis itu.


Rihan melirik jari Brand sekilas kemudian menepis tangan pria itu, lalu pergi meninggalkannya.


"Hei... tunggu!" Teriak Brand lalu menahan bahu Rihan agar berhenti berjalan. Pria itu memposisikan Rihan menghadap ke arahnya.


"Aku serius dengan perkataanku sebelumnya. Belajarlah menyukaiku mulai sekarang. Jangan pernah berharap pada Neo. Meski nantinya dia berpisah dengan Elle, dia tidak mungkin membalas perasaanmu, karena prinsip seorang Neo, sampai kapanpun dia tidak akan menjalin hubungan dengan seorang pria.


Dia satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga Chi. Dia juga membutuhkan pewaris untuk Chi Corporation nanti. Jika dibandingkan denganku, saudara laki-lakiku banyak, jadi tidak masalah aku menjalin hubungan dengan seorang pria." Jelas Brand panjang lebar.


"Bukan karena kamu tidak mau menjalin hubungan dengan seorang gadis, mengingat Elle yang menjebakmu dulu?"


"Sama sekali tidak! Aku sudah berhenti berpikiran sempit. Aku tidak mau tahu... mulai sekarang kamu harus menyukaiku!"


"Pikiranmu benar-benar, Kak. Tapi kakak harus tahu. Waktu-waktu yang datang, kakak akan bertemu dan jatuh cinta lagi dengan seorang gadis yang juga tulus mencintaimu. Semua orang akan menemukan kebahagiaannya." Rihan menatap Brand serius.


"Entahlah."


"Dasar bocah. Sini aku beri pelajaran..." Kesal Brand dan merangkul Rihan dengan kuat, membuat gadis itu berontak karena rangkulan Brand di area lehernya.


Keduanya terlihat sangat akrab dengan posisi seperti itu. Mereka tidak menyadari jika ada Neo yang menatap keduanya tanpa ekspresi dari balkon kamar Rihan.


"Apa yang sudah bajingan itu bicarakan? Dia pasti yang menghasut Rei untuk menghindariku," Gumam Neo dan menggenggam kuat pagar pembatas balkon.


***


Sudah beberapa hari berlalu, Rihan dan Brand semakin dekat. Lebih tepatnya, Brand yang selalu menempel seperti lem pada Rihan. Rihan hanya bisa membiarkan Brand bertingkah.


Lagipula, pria 24 tahun itu tidak melakukan kontak fisik berlebihan, hanya sebatas merangkul. Selebihnya Brand selalu mengikuti Rihan ketika di mansion.


Brand juga mulai membawa pulang pekerjaannya untuk dikerjakan di ruang kerja Rihan. Akhirnya, Brand dan Neo menumpang di ruang kerja Rihan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Padahal Alex sudah menyiapkan ruangan khusus untuk dua pengusaha itu, tetapi ruangan itu tidak terpakai sama sekali.


Beberapa hari ini Rihan dibuat pusing dengan dua pria itu yang bertengkar setiap saat ketika mereka bersama. Mereka akan diam jika diberi ancaman.


Jika Rihan sudah tidak tahan dengan keributan itu, Rihan akan meminta Lulu, si robot pelayan di kamarnya untuk mengangkut dua pria bertubuh bongsor itu keluar dari ruang kerjanya dan menguncinya.


Seperti hari ini, setelah sarapan pukul 7, seharusnya Neo dan Brand berangkat untuk bekerja. Rihan sendiri tidak ada kelas hari ini jadi dia akan di mansion dan memeriksa ulang beberapa berkas perusahaan cabangnya di negara lain.


Brand yang tahu Rihan tidak keluar hari ini, memutuskan untuk bekerja saja di mansion. Brand tahu Rihan bukan orang yang suka berdiam diri tanpa melakukan sesuatu. Brand juga sudah tahu bahwa Rihan adalah CEO misterius R.A.Group beberapa hari lalu karena tanpa sengaja mendengar Neo yang sedang mengeluarkan kekesalannya pada Rihan tentang beberapa persyaratan tambahan dari R.A. Group untuk pembangunan resort.


Neo kesal karena dia berpikir Rihan sengaja menambah pekerjaan mereka agar Neo selalu sibuk dan tidak bertemu dengannya. Padahal pembangunan resort bisa ditangani oleh perwakilan seperti proyek lainnya, tetapi Rihan sengaja memberi persyaratan untuk tidak menggunakan perwakilan.


Neo yang tahu Brand akan berkerja di ruang kerja Rihan memutuskan untuk bekerja juga di sana. Akhirnya Logan dan Dom hanya bisa mengeluh dalam hati karena tingkah bos mereka.


"Bawa bosmu ini pergi bekerja, Gan. Jangan menganggu aku dan Rei." Kesal Brand.

__ADS_1


"Kamu tidak punya hak memerintah orangku. Dan juga, sudah aku katakan sejak awal untuk menjauh darinya, 'kan?" Balas Neo ikut kesal.


"Apa dua pria itu suka pada Tuan Muda Rehhand?" Bisik Dom pada Logan di sampingnya.


"Sepertinya, tapi tidak mungkin." Balas Logan ikut berbisik.


"Jawaban yang aneh." Gumam Dom lalu menggeleng.


Rihan yang kembali melihat keributan Neo dan Brand, segera meninggalkan semua orang dan menuju ruang kerjanya. Alex yang melihat itu, hanya bisa menatap biang keributan di sana, dan ikut menyusul Rihan.


"Kalian berdua sudah dewasa. Bertingkahlah sesuai usia. Rei saja yang masih belasan tahun sudah berpikir dewasa. Tapi kalian, ckckckk... Jika aku jadi Rei, kalian sudah aku masukan ke penjara karena membuat tuan rumah tidak nyaman." Logan kesal ketika melihat kepergian Rihan.


"DIAM!" Neo dan Brand dengan serempak berteriak pada Logan.


"Baik, Aku diam."


"Kamu selalu saja membuat Rei kesal." Marah Brand pada Neo.


"Kamu tidak berkaca?" Neo juga ikut kesal.


"Aku akan mengikutinya, sebaiknya kamu diam di sini, atau mati dimana, aku tidak peduli." Brand pergi dari sana berniat menyusul Rihan.


"Dia pikir, dia siapa?" Gumam Neo dan menyusul Brand.


Hanya tersisa Logan dan Dom yang saling menatap satu sama lain dan menggeleng.


Neo ketika memasuki ruang kerja Rihan, sudah ada Brand yang berdiri di depan Rihan yang hanya terhalang meja kerja. Tanpa permisi, Neo segera menghampiri keduanya dan menarik Rihan keluar dari sana. Tidak lupa juga Neo mengunci pintu agar Brand tidak mengikuti mereka.


Bruk


"Ada apa? Aku sibuk." Tanya Rihan datar setelah Neo menyudutkannya di tembok kamar Rihan.


"Bisakah kamu jujur padaku, alasan kamu selalu menghindariku?" Suara Neo terdengar putus asa.


Rihan sebelum menjawab, menghela nafasnya sebentar.


"Sebelum mendengar jawabanku, aku ingin mendengar alasan kak Neo terlebih dahulu."


"Alasan apa?"


"Kenapa aku tidak boleh menghindari kak Neo dan kenapa aku harus selalu didekatmu?"


"Baik, aku akan jujur! Aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa aku selalu merasa ada yang hilang jika kamu menjauh dariku. Belum lagi, melihat kedekatanmu dengan Brand, sangat membuatku tidak suka. Aku terus memikirkan hal itu. Aku akhirnya menyadari satu hal. Aku sepertinya..."


Drrrttt


Drrrttt


"Angkat teleponmu, Kak." Rihan mendorong Neo sedikit menjauh darinya.


"Tidak. Biarkan aku bicara."


"Angkat itu!"


Neo menghela nafas kasar kemudian merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya dengan kesal. Seketika pria itu terdiam beberapa detik kemudian menjawab panggilan masuk tanpa menjauh dari Rihan.


"Tunggu aku! Aku akan menjemputmu. Ya. Aku pergi sekarang... Aku juga." Neo berbicara dengan orang di seberang telepon


"Maaf, aku harus pergi Rei." Pamit Neo setelah panggilan berakhir. Pria itu bergegas pergi dengan berlari kecil. Rihan hanya menatap datar kepergian pria itu. Hanya dua menit Neo hilang dari pandangan Rihan, Alex muncul di depan Rihan.


"Tuan, wanita itu..."


"Aku tahu!"


.


.

__ADS_1


.


Mari menebak apa yang terjadi selanjutnya.


__ADS_2