
"Selamat pagi sahabatku! Terima kasih sudah menjagaku semalaman. Tidurku begitu nyenyak," Phiranita membuka suara dengan semangat setelah bangun dari tidurnya dan menatap Rihan yang sedang duduk di sampingnya dengan senyum pepsodentnya.
Memang Rihan dan Alex menginap di ruang rawat Phiranita. Lebih tepatnya Alex yang tidur, sedangkan Rihan tetap terjaga karena sahabatnya itu selalu mengigau membuatnya tidak bisa memejamkan matanya.
Rihan tetap terjaga hingga pagi menjelang. Rihan yang tidak bisa tidur lagi, kemudian membangunkan sang asisten yang hanya tidur dalam keadaan duduk di sofa ruangan itu.
Alex yang dibangunkan oleh sang majikan hampir saja meninju wajah Rihan, karena kaget ada yang membangunkannya. Akan tetapi, Alex mengurungkan niatnya setelah samar-samar melihat orang yang membangunkannya adalah Rihan.
Dengan kantuk yang masih bersemayam, Alex segera bangun dan menanyakan keperluan sang majikan. Rihan hanya mengatakan untuk Alex kembali ke mansion dan menyiapkan pakaian Rihan, juga sarapan paginya sebelum sahabatnya terbangun dari tidurnya.
Alex yang mendengar perintah itu, segera mencuci wajahnya dan pamit pada Rihan untuk kembali ke mansion. Setelah kepergian Alex, selang beberapa menit kemudian Phiranita juga bangun dari tidurnya.
...
"Hmm." Deheman Rihan membalas sapaan Phiranita.
"Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan?" Tanya Rihan datar. Tangannya terulur merasakan suhu tubuh Phiranita.
"Aku baik karena kamu menjagaku semalaman," Jawab Phiranita lalu tersenyum manis.
"Baguslah. Sebentar lagi Dokter Damar akan datang memeriksa keadaanmu," Rihan kemudian melirik ke arah pintu merasakan kehadiran orang lain. Pintu kemudian terbuka menampilkan sosok yang baru saja dibicarakan oleh Rihan bersama dua suster yang mengekori di belakangnya.
"Selamat pagi, Presdir. Selamat pagi, Nona." Sapa Dokter Damar bersama dua suster, setelah menutup pintu dan berjalan ke arah Rihan dan Piranita.
"Pagi juga Dok, Sus." Balas Phiranita masih dengan senyum manisnya, sedangkan Rihan hanya berdehem sekaligus menganggukkan kepalanya tanda membalas sapaan sang dokter.
"Waktunya memeriksa kondisi tubuh anda, Nona. Anda ingin berjalan ke sana, atau didorong menggunakan kursi roda?" Tanya Dokter Damar ramah.
"Aku ingin berjalan ke sana, Dok." Jawab Phiranita kemudian menatap Rihan meminta persetujuan.
"Dimana kursi rodannya?" Tanya Rihan tanpa menatap wajah sang sahabat yang terlihat memelas. Rihan tidak ingin melihatnya, karena takut menuruti keinginan sahabatnya itu.
"Akan saya ambilkan, Presdir." Jawab seorang Suster lalu berjalan cepat keluar untuk mengambil kursi roda.
"Aku hanya ingin berjalan ke sana," Phiranita membalas dengan wajah cemberut. Sayangnya, Rihan tidak peduli. Kesehatan sang sahabat lebih penting saat ini.
Tak lama kemudian, suster sebelumnya kembali dengan mendorong kursi roda di depannya dan menuju ke arah empat orang yang sedang menunggunya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? Jangan sentuh aku!" Teriak Phiranita kencang karena melihat Dokter Damar yang sedang bersiap menggendongnya.
"Anda amnesia, Dok?" Nada suara Rihan sangat mencekam bagi Dokter Damar.
Bisa-bisanya dia ingin menggendong sahabatnya yang jelas-jelas memiliki trauma akan sentuhan pria.
"Hehehe... maafkan saya presdir, saya refleks." Balas Dokter Damar dengan cengengesan. Maklumlah, dia semakin menua.
Rihan hanya menggelengkan kepalanya kemudian menatap Phiranita yang saat ini sedang berusaha mengatur nafasnya yang memburu sehabis berteriak syok. Untung saja traumanya tidak kambuh.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Rihan lembut lalu mengelus pelan kepala Phiranita guna menenangkannya. Phiranita hanya menganggukkan kepalanya.
"Sini, aku gendong!" Rihan lalu mendekati Phiranita lalu menggendongnya dan mendudukkannya pada kursi roda yang masih dipegangi oleh seorang suster sebelumnya.
Perlakuan lembut Rihan pada sang sahabat membuat kedua suster yang melihatnya merona malu. Orang lain yang digendong, orang lain yang malu. Aneh.
"Biar aku yang mendorongnya," Ucap Rihan pada suster yang hendak mendorong kursi roda Phiranita.
"Silahkan, Presdir." Balas suster itu memberi ruang dengan bergeser ke samping agar Rihan menggantikan tempatnya.
Rihan kemudian mendorong kursi roda Phiranita mengikuti Dokter Damar di depannya, sedangkan kedua suster tetap berada di belakangnya.
***
"Apa yang anda rasakan, Nona? Sedikit pusing mungkin? Katakan saja apa yang anda rasakan saat ini." Tanya Dokter Damar basa-basi sambil terus menatap alat dengan sinar laser hijau yang sedang memindai seluruh tubuh Phiranita. Sesekali iDokter Damar akan menatap iPad di tangannya yang menampilkan hasil scan kondisi tubuh Phiranita.
Alat dengan nama Laser body scanner merupakan peralatan medis yang dibuat oleh Rihan beberapa hari yang lalu. Lebih tepatnya Rihan yang mendesainnya, dan ilmuwan miliknya yang membuatnya. Jangan heran jika pembuatan alat canggih itu hanya membutuhkan beberapa hari oleh orang-orang milik Rihan.
Mereka merupakan orang-orang terpilih. Lebih tepatnya, aset negara yang sudah tidak dibutuhkan lagi, sehingga Rihan merekrut mereka untuk bekerja dengannya. Mereka yang terdiri dari 3 orang beserta asisten masing-masing sehingga total 6 orang, Rihan pekerjakan di mansionnya. Keenam orang itu ditempatkan Rihan dalam mansionnya di tempat rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Rihan sendiri heran dengan pemerintah Amerika yang membebas tugaskan ketiga orang jenius seperti mereka. Entah apa yang merasuki para petinggi negara itu.
Rihan sengaja membuat alat itu khusus untuk sang sahabat yang mengalami trauma akan sentuhan pria. Rihan merancang alat itu hampir lima jam waktu terlamanya dalam merancang sesuatu.
Bisa saja dokter wanita yang memeriksa sang sahabat, akan tetapi dokter yang ada hanya dokter pria di bidang itu, sedangkan dokter wanita menggeluti bidang yang lain. Untuk mencari juga, tidak ada yang sehebat Dokter Damar, sehingga Rihan harus membuat alat itu.
Alat yang dirancang khusus oleh Rihan yang bekerja dengan hanya memindai seluruh tubuh pasien dan langsung menampilkan hasilnya melalui iPad yang sudah terhubung dengan alat tersebut.
__ADS_1
Jadi, pasien hanya perlu berbaring dan alat itu yang akan bekerja.
Alat dengan ukuran berbentuk segitiga, memiliki berat seperempat kilogram berwarna perak. Alat itu hanya perlu ditekan tombol di sisi sampingnya, sehingga on kemudian diatur melalui iPad dan akan melayang beberapa sentimeter di atas pasien sesuai dengan keinginan orang yang mengontrolnya.
...
"Saya baik, Dok." Jawab Phiranita, tetapi percayalah, dia sedang gugup sekaligus takut entah kenapa. Mungkin karena Rihan di sampingnya, atau karena baru pertama kali melihat alat yang memeriksa tubuhnya ini.
Huffff.... Helaan nafas legah Phiranita keluarkan, karena alat itu sudah berhenti bekerja, dilihat dari Dokter Damar yang mengambil alat itu yang hanya 20 cm di atas tubuhnya, dan kembali memasukannya ke dalam kotak khusus. Phiranita sendiri tidak tahu.
"Apa nama alat itu? Aku baru tahu ada alat seperti itu." Tanya Phiranita penasaran pada Rihan.
"Laser body scanner." Jawab Rihan sambil membantu sang sahabat untuk bangun dari brankar.
"Dimana kamu mendapatkannya?" Tanya Phiranita setelah bangun dan duduk.
"Investasi dari seorang pengusaha." Jawab Rihan lalu menggendong Phiranita dan mendudukkannya di kursi roda.
"Hebat sekali pengusaha itu. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin bertanya, dimana dia membeli alat canggih itu. Kamu bisa menghubunginya untukku?" Phiranita memegang tangan Rihan yang berada di dekat bahunya. Tatapannya sangat ingin tahu.
"Pengusaha itu orang misterius, dia berinvestasi hanya melalui panggilan telepon. Itupun panggilan resmi. Sangat sulit untuk bertemu dengannya," Balas Rihan setelah mendorong kursi roda Phiranita keluar dari ruang perawatan itu.
"Begitu, ya. Sayang sekali,"Phiranita lalu memejamkan matanya menikmati angin kecil yang menerpa wajahnya karena didorong oleh Rihan dengan kursi roda.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
Yang paling penting,
Selamat Natal untuk yang merayakan.
Semoga damai natal selalu membawa berkat untuk kita semua.
See You.
__ADS_1