
Seperti biasa, kantin Antarik Universitas selalu ramai karena banyaknya mahasiswa maupun dosen akan datang untuk mengisi perut mereka. Dan seperti hari-hari sebelumnya, David, Dian dan Albert akan ikut makan bersama Rihan di sana.
Tidak ketinggalan juga ada Max yang lebih dulu datang di kantin karena bosan membaca buku di perpustakaan. Akan tetapi, ada yang berbeda karena Ayu dan Ariana tidak ada di sana. Entah apa yang sedang mereka lakukan.
"Sepertinya ada yang kurang," Komentar Albert berusaha mengingat apa yang dia lupakan.
"Aku juga merasa begitu. Tapi apa?" Sahut Max ikut berpikir.
"Kehadiran Ayu dan Ariana." Jawab David malas.
"Kalau itu aku tahu, dan malahan aku sangat senang karena ketidakadaan mereka. Tapi bukan itu!" Balas Albert menggelengkan kepalanya.
"Budak Max selama sebulan?" Jawab Dian tersenyum tipis.
"Itu dia yang aku lupakan. Kemana anak itu, Max?" Albert menjentikkan jarinya karena senang.
"Entahlah! Aku tidak melihatnya di jurusan. Aku akan menghubunginya. Enak saja mau lari dari tugas." Max mengambil ponselnya dan mulai menelpon Gibran.
Sedangkan Rihan, dia hanya diam dan memperhatikan tingkah laku teman-temannya. Mereka sedang menunggu kedatangan Alen. Kebetulan waktu juga masih ada beberapa menit sebelum jam makan siang.
"Sudah?" Tanya Albert ketika melihat Max memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Kamu tahu, Al. Saat Gibran mengangkat panggilanku, dia marah-marah. Tapi ketika mendengar namaku, dia diam. Hahaha... aku jadi penasaran, seperti apa wajahnya jika sedang marah." Max bercerita dengan semangat.
"Aku juga penasaran. Dimana Gibran sekarang?" Tanya Albert ikut bersemangat.
"Biasa, lapangan basket. Sebentar lagi dia ke sini."
"Okelah. Kita hanya perlu menunggunya. Kira-kira pekerjaan yang cocok untuknya?" Tanya Albert sambil berlagak berpikir.
"Aku ke toilet sebentar, sebelum kedatangan Gibran." Pamit Max.
"Oke."
Beberapa menit kemudian, Max terlihat berjalan kembali setelah menyelesaikan urusannya di toilet.
BRUK
"Maafkan saya, Kak. Saya tidak sengaja." Seorang gadis merasa bersalah karena tidak sengaja menyenggol bahu Max.
Gadis itu terlihat sedang terburu-buru sehingga akhirnya menyenggol bahu Max dan minuman yang diaq pesan tumpah sedikit mengenai baju kaos yang Max pakai.
"Tidak apa-apa. Lain kali perhatikan jalanmu. Sepenting apapun urusanmu, selalu perhatikan jalanmu. Untung di sini kantin. Bagaimana kalau di Jalan tol? Keselamatanmu lebih penting," Balas Max lalu tersenyum tipis pada gadis itu.
"Iya, Kak. Sekali lagi maafkan aku. Mari aku bantu membersihkan baju kakak yang tersiram minumanku."
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Sepertinya kamu sedang terburu-buru." Max kemudian meninggalkan gadis itu menuju tempat Rihan dan yang lain. Lagi-lagi Max tersenyum pada gadis itu sebelum benar-benar meninggalkannya.
Semua yang terjadi dilihat oleh hampir semua yang ada di sana, dan itu cukup membuat mereka heran dengan tingkah tidak biasa seorang Max yang dikenal anti sosial.
Max sendiri tidak menyadari perhatian orang-orang padanya dan terus berjalan menuju tempat Rihan. Setelah sampai, Max dengan tenang duduk di tempatnya.
"Tunggu..." Suara David mengalihkan perhatian mereka.
"Kenapa?"
"Ada yang berbeda denganmu, Max." Jawab David menatap Max sekilas lalu mengerutkan keningnya.
"Aku? Dimana perbedaannya?" Tanya Max penasaran.
"Kamu terlihat tidak sakit lagi." David menjawab sambil menatap Max yang kebingungan.
"Dari perlakuanmu pada gadis tadi, bisa disimpulkan kamu sudah mulai bisa menerima orang lain di sisimu. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" Albert tersenyum lebar ikut senang.
"Menyadari apa?" Tanya Max bingung.
__ADS_1
"Awalnya kamu hanya ingin berinteraksi dengan Rei. Tapi, lama kelamaan kamu sudah mulai berinteraksi dengan kami. Dan kejadian tadi juga. Aku sarankan untuk memeriksa kondisimu, Max." Albert lalu menepuk pelan bahu Max yang duduk didekatnya.
"Ya."
"Jika aku sudah sembuh, berarti aku tidak bisa bersama Rei lagi. Ini tidak boleh terjadi." Batin Max lalu menggeleng kepalanya kemudian menatap Rihan yang juga menatapnya.
"Kamu kenapa, Max?" Tanya Albert heran.
"Kamu bisa tinggal sesuka hatimu di sana meski sudah sembuh, karena kamu adalah temanku." Rihan seakan tahu apa yang Max pikirkan.
"Benarkah?" Balas Max senang.
"Hmm."
"Terima kasih, Rei."
"Jadi, kamu kenapa Max?" Ulang Albert.
"Tidak ada. Gibran belum datang?" Max mengalih pembicaraan. Selain Rihan, yang lain tidak boleh tahu.
"Sebentar lagi... itu dia orangnya."
Mereka kemudian menatap kedatangan Gibran seorang diri berjalan masuk. Dapat mereka lihat wajah kesal Gibran sepanjang jalan hingga tiba di meja mereka.
"Ada apa memanggilku?" Tanya Gibran sambil melipat tangannya lalu menatap kesal pada Max.
"Wow... budak tidak berakhlak! Setahuku, dimana-mana kedatangan budak itu, selamat siang Tuan, Nona, Bos, Nyonya, dan lain-lain. Ini... sangat tidak sopan. Ck..." Cibir Albert menatap sinis Gibran.
"Ada apa Tuan memanggil saya?" Gibran terpaksa mengalah.
"Hanya ingin melihat wajah kesalmu." Jujur Max membuat urat di leher Gibran terlihat jika diperhatikan baik-baik.
"Baj..."
"Duduklah!" Rihan memotong apa yang hendak Gibran katakan.
"Duduk kalau kamu tuli." Ujar Albert membuat Gibran menatapnya malas tetapi duduk juga di sebelah Dian.
...
"Sepertinya kak Alen lama," Gumam Albert memecah keheningan di meja mereka.
"Bilang saja kau lapar." Sindir Max.
"Ekhem... maklum sudah hampir jam makan siang." Balas Albert malu.
"Kak Alen tidak pernah terlambat." David merasa lucu dengan tingkah Albert. Meski sudah tahu tingkah luar biasa Albert, David akan selalu merasa lucu.
Setelah David berbicara, Alen muncul di pintu masuk kantin membuat Albert yang melihatnya senang bukan main.
"Akhirnya." Gumam Albert pelan.
"Selamat siang Tuan, sebentar saya siapkan." Alen kemudian dibantu oleh beberapa pelayan menyiapkan makanan di sana.
"Wah... banyak sekali lauk kali ini." Albert menelan ludahnya melihat banyaknya makanan lezat di depannya. Setiap mereka makan, semua makanan selalu berbeda setiap harinya. Albert tentu saja sangat senang
"Mungkin karena bertambahnya personil di sini. Sayangnya, kedua betina itu tidak ada." Balas Max menopang dagunya dengan kedua tangan melihat para pelayan menata makanan.
Setelah Alen menata semuanya di meja, Alen lalu menatap sekilas sang kakak kemudian mereka sama-sama mengambil posisi duduk di kiri dan kanan sang majikan. Alen juga melakukan tugasnya seperti biasa yaitu mengambil makanan Rihan.
"Silahkan..." Alen mempersilahkan yang lainnya mengisi piring mereka setelah dia mengisi milik Rihan, miliknya dan Alex.
"Kenapa kamu diam saja?" Tanya Alen lalu memberikan piring kosong pada Gibran yang sedari tadi melihat tingkah laku mereka yang satu meja dengannya.
"Ak..."
__ADS_1
"Makanlah!" Suara datar Rihan membuat Gibran gugup. Dia lalu mengambil piring di tangan Alen kemudian mengisinya secukupnya saja.
"Budak juga butuh makan," Ujar Max membuat Gibran tiba-tiba merasa aneh dengan dirinya karena ucapan Max.
"Selamat makan, Tuan."
"Selamat makan Rei, selamat makan semuanya..."
Setelah saling mempersilahkan makan, masing-masing menikmati makannya dengan tenang. Gibran yang melihatnya tiba-tiba merasa miris dengan dirinya. Bagaimana tidak miris, ketika orang yang sudah kamu anggap sahabat dan meminta untuk membantumu ternyata membuat alasan sibuk untuk menghindar.
Gibran setelah menerima telepon dari Max, dia meminta teman-temannya ikut dengannya untuk mengantisipasi jika nanti ada tugas yang diberikan oleh Max yang tidak bisa dia kerjakan sendiri. Akan tetapi, respon teman-temannya di luar dugaan. Masing-masing membuat alasan untuk menghindarinya.
Gibran akhirnya sadar jika selama ini teman-temannya hanya peduli padanya di saat dia dalam keadaan senang. Saat dia membutuhkan bantuan mereka, mereka justru membuat alasan untuk menghindar.
Rihan yang menyadari diamnya Gibran menghentikan makannya dan menatap Gibran yang sepertinya sedang melamun. Alex dan Alen ikut berhenti ketika melihat majikan mereka berhenti makan. Yang lain juga begitu. Mereka semua kini menatap Gibran yang sedang melamun dan tidak menyadari perhatian yang tertuju padanya.
"Gi..." Panggil Dian yang duduk di sebelah Gibran.
"Ah... ya... ada apa?" Kaget Gibran kebingungan.
"Makanlah." Ucap Dian lalu tersenyum tipis.
"Maafkan aku yang mengganggu kalian. Silahkan lanjutkan."
"Kami makan jika kamu juga makan." Max membuat Gibran merasa bersalah dengan tindakannya selama ini pada Max.
"Ak... aku akan makan. Terima kasih." Gumam Gibran pelan lalu tersenyum tulus dan mulai mengambil sendok dan garpu untuk makan. Rihan hanya menatap Gibran datar kemudian melanjutkan makannya diikuti yang lainnya.
***
"Miara Group akan bekerja sama dengan cabang R.A Group." Lapor Logan pada Neo yang sedang duduk di balkon apartemen mereka sambil melihat pemandangan lalu lintas jalan raya.
"Apa kita ada kerja sama dengan R.A. Group?" Tanya Neo setelah menyeruput kopi yang dibuat Logan untuknya.
"Sepertinya, iya. Memangnya kenapa?" Tanya Logan penasaran.
"Tidak ada. Sepertinya Brand sangat pintar dalam mencari backingannya." Gumam Neo sambil memainkan mulut gelas minumannya.
"Begitulah, Brand." Balas Logan.
"Cari tahu kerja sama apa yang Brand tawarkan."
"Oke."
"Bagaimana hubungannya dengan bocah itu?" Tanya Neo masih dengan kegiatan yang sama.
"Bocah? Siapa itu?" Tanya Logan bingung.
"Tuan Muda itu."
"Kenapa jadi bocah?"
"Bukannya dia masih bocah?"
"Benar juga! Belum ada kejelasan apapun. Menurut orang-orang kita, mereka beberapa kali bertemu. Brand juga sempat bertamu ke tempat Rehhand. Aku rasa mereka bekerja sama. Entah kerja sama apa."
"Tugasmu yang paling penting adalah mencari tahu semua aktivitas Brand selama dia ada di sini. Jika ada waktu, cari juga aktivitas bocah itu untuk dibandingkan seperti apa hubungan keduanya." Ucap Neo lalu berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Siap, Bos."
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa untuk memberi komentar kalian yang membangun untuk cerita ini. Jangan lupa juga untuk menekan like, ya.
__ADS_1
See You.