
Setelah melihat-lihat koleksi mobil Rihan, hingga Brand tiba di depan salah satu mobil yang terlihat terpisah dan tidak ada merek di sana. tapi posisi mobil itu sepertinya sangat dijaga.
Semua orang pasti berpikir seperti itu, karena mobil dengan warna silver itu sepertinya baru dibuat dan hampir mirip seperti ferrari, akan tetapi jika dilihat dari dekat sangat berbeda.
Brand semakin dekat dengan mobil itu dan mulai menyentuhnya.
...*Terdeteksi sentuhan asing.*...
"Astaga!" Kaget Brand mundur satu langkah mendengar suara tiba-tiba itu.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Tanya Dom yang menghampiri sang Tuan karena khawatir mendengar teriakan Brand.
"Ya." Jawab Brand setelah kembali ke dirinya yang biasanya yaitu tenang.
"Maaf Tuan Alex, kenapa mobil ini tidak ada mereknya? Setahu saya, setiap mobil yang diproduksi, selalu memiliki merek." Tanya Dom penasaran dengan mobil di depannya, sekaligus bertanya apa yang sangat ingin ditanyakan oleh sang Tuan. Akan tetapi karena menjaga wibawanya, maka Brand hanya diam saja.
"Mobil ini memang tidak diproduksi oleh perusahaan manapun, karena Tuan Muda sendiri yang mendesainnya sehingga tidak ada merek apapun di sana." Jawab Alex bangga, lalu melirik sang majikan yang sedang sibuk mengetik sesuatu di layar komputer di depannya.
"Benarkah? Anda sangat hebat Tuan muda." Ucap Dom menganggukkan kepalanya menatap kagum akan kecerdasan seorang Rihan.
"Saya tadi sempat mendengar mobil ini berbicara. Dan ini pertama kalinya saya menemukan ada mobil seperti ini. Bolehkah saya tahu alasan sekaligus nama sistem yang terpasang di sana?" Tanya Dom.
Dom sebenarnya malu sendiri untuk bertanya pada lawan sang Tuan. Akan tetapi, melihat kode dari Brand yang penasaran, maka Dom terpaksa harus bertanya. Kebetulan dia juga sangat penasaran dengan mobil berwarna silver di depannya ini.
"Itu merupakan sistem hologram yang diciptakan oleh Tuan Muda sendiri dengan kecerdasan maksimal. Sistem itu diberi nama Gledy. Untuk alasan, saya rasa anda tidak perlu tahu." Jawab Alex. Dia tidak sebodoh itu untuk menjelaskan alasan kenapa Gledy dipasang di sana.
"Baiklah." Balas Dom singkat sekaligus mendesah kecewa.
"Apa yang sebenarnya ada di kepalamu itu, Tuan Muda?" Batin Brand terus menatap kagum Rihan yang sibuk dengan dunianya sendiri. Brand kini memiliki rencana jahat di kepalanya. Semakin memikirkannya, Brand lalu tersenyum sinis.
Rihan memang membiarkan lawannya untuk tahu salah satu senjatanya, agar mereka harus berpikir lagi sebelum menyerang ke mansionnya. Rihan sedang tidak ingin menguras otaknya untuk menyingkirkan lawannya secepat itu. Cukup bermain-main dengan mereka dan ketika bosan, langsung disingkirkan saja.
"Boleh kami melihat Gledy?" Tanya Dom ragu-ragu.
__ADS_1
Ting
...*Ada yang bisa saya bantu, Tuan Alex?*...
Tanya Gledy yang muncul seperti bayangan ketika Alex menekan salah satu keyboard komputer di samping mobil berwarna silver itu.
Kemunculan Gledy yang hanya setengah badan di atas kap mobil membuat Dom takjub.
Gledy Rihan rancang dengan rupa seperti pria dewasa. Wajah di sana adalah wajah campuran sang daddy dan mommynya. Rihan sangat ingin mempunyai saudara laki-laki. Sayangnya, Tuhan tidak mengijinkan lagi sang mommy untuk mengandung akibat rahimnya yang sudah diangkat setelah Rihan dilahirkan ke dunia.
Untuk itu, Rihan sengaja membuat Gledy. Rihan memang sedang membuat proyek pembuatan robot pria dewasa, yang akan dijadikan sebagai pusat atau inti dari sistem hologram yang dia ciptakan. Akan tetapi, pembuatannya masih dalam tahap pembentukan fisik oleh para ilmuwannya.
Banyak yang Rihan rencanakan di kepalanya untuk masa depan sekaligus untuk para musuhnya di luar sana. Yang paling penting adalah untuk membalaskan dendamnya.
"Wah keren! Tapi, kenapa wajahnya tidak asing?" Gumam Dom yang juga bisa didengar oleh Alex dan Brand.
"Aku seperti pernah melihat wajah ini. Tapi di mana?" Tanya Brand dalam hatinya sambil menatap penuh selidik pada sosok transparan di depannya.
"Aku harap mereka tidak menyadarinya." Batin Alex menatap ekspresi Brand dan Dom.
...*Dominic Georgyus. 24 tahun, pria asal Jepang. Hobby, memasak dan bermain wanita. Memiliki cita-cita menjadi seorang koki. Phobia pada badut. Mempunyai masa lalu memalukan dengan...*...
"Stop Geldy! Jangan kau sebarkan aibku." Potong Dom cepat karena tidak ingin orang lain mengetahui masa lalu memalukannya. Cukup dia dan Tuhan yang tahu, jangan orang lain yang nanti menambah malunya saja.
Gledy diam. Robot buatan Rihan kemudian menoleh ke arah Brand.
...*Chaudone Brandon Lexiusys. Psikopat kaya 24 tahun asal Thailand, dengan nama samaran Charmos Shortune. Hobby, one night stand dengan banyak wanita. Memiliki segudang usaha legal maupun ilegal dimana-mana. CEO misterius Miara Group. Mempunyai sebuah rahasia kelam tentang...*...
"Cukup Gledy. Kembali ke tempatmu!" Potong Rihan datar, karena tidak ingin suasana yang tadinya tenang, tiba-tiba mencekam karena Gledy ingin membongkar identitas Brand yang saat ini sudah menampilkan urat-urat lehernya. Rihan tahu, semua orang pasti akan marah jika rahasia mereka yang kelam akan dibongkar.
...*Baik, Tuan Muda.*...
Ting
__ADS_1
Gledy lalu menghilang tanpa dikontrol.
"Aku tidak menyangkah tuan juga memiliki rahasia kelam. Tapi apa?" Tanya Dom dalam hatinya penasaran.
"Saya tidak seperti yang anda pikirkan, Tuan Brand." Ucap Rihan datar. Rihan seakan membaca apa yang dipikirkan oleh Brand tentangnya.
"Saya harap juga begitu." Balas Brand kembali mengontrol emosinya ketika kalimat Rihan diucapkan. Brand lalu berdiri dan hendak keluar dari sana.
"Apa yang anda cari tidak ada di sini, Tuan Brand. Jikapun ada, saya tidak akan menyimpannya di sini. Anda tidak lagi memiliki kesempatan. Ingat itu!" Perkataan Rihan sukses membuat Brand menghentikan langkahnya. Rihan sengaja mengatakannya agar mengecoh Brand dan asistennya.
"Aku mengerti." Balas Brand lalu keluar diikuti oleh Dom setelah pintu otomatis terbuka.
***
"Kak Alen, dimana Ehan?" Tanya Phiranita setelah merenggangkan otot tangannya karena baru bangun tidur.
"Tuan sedang sibuk, Nona. Tuan berpesan agar nona tidak keluar kamar sampai tuan sendiri yang datang ke sini." Jawab Alen datar lalu membantu merapikan tempat tidur Phiranita, karena sang empunya baru saja turun dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela kamarnya.
"Kenapa Ehan tidak ingin aku keluar kamar?" Tanya Phiranita hendak membuka kain penutup jendelanya.
"Ada yang sedang tuan kerjakan, sehingga nona tidak di ijinkan untuk keluar." Jawab Alen yang kini sudah berdiri di belakang Phiranita.
"Begitu ya. Ka..." Suara Phiranita terpotong. Gadis itu kini membeku di tempatnya setelah membuka jendela kamarnya. Nafasnya mulai naik turun.
"Anda baik-baik saja, Nona?" Tanya Alen khawatir dengan kondisi Phiranita yang tiba-tiba drop.
Alen dengan sigap menutup kembali kain jendela kamar Phiranita. Alen lalu menuntun Phiranita untuk beristirahat di tempat tidurnya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
__ADS_1
See You.