Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
CEO Misterius


__ADS_3

Saat ini Rihan sedang duduk di ruang tamu bersama David, Dian dan Albert. Sedangkan Phiranita, gadis itu sudah lebih dulu beristirahat setelah melakukan terapi.


Karena trauma Phiranita tergolong parah, maka Dokter Damar melakukan psikoterapi dan juga obat-obatan secara langsung untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.


Setelah proses terapi selesai dilakukan, Dokter Damar bersama duq orang suster kemudian pamit pulang menyisahkan Rihan bersama ketiga teman kelompoknya yang akan mengisi lebih lanjut laporan mereka tentang perkembangan Phiranita.


"Silahkan diminum tehnya Tuan, Nona." Ucap seorang pelayan setelah meletakkan minuman dan cemilan di meja ruang tamu mansion.


"Iya, Bi. Terima kasih." Balas Dian tersenyum ramah.


"Biar aku saja yang menulis laporan hari ini." Tawar Albert sambil membuka laptop di pangkuannya.


"Itu lebih bagus," Balas David santai.


"Ck..." Decak Albert lalu menatap malas David.


"Maaf Tuan..." Suara Alex yang baru saja datang entah dari mana, membuat mereka yang ada di ruang tamu menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" Tanya Rihan menatap datar sang asisten.


"Ada hal penting yang harus saya sampaikan, Tuan." Jawab Alex tenang.


"Kalian lanjutkan menulis laporannya, aku ada urusan sebentar. Jika ada apa-apa hubungi, Alex." Ucap Rihan, lalu berdiri dan menuju ruang kerjanya diikuti oleh Alex dari belakang.


"Ya."


"Siap."


...


"Apa yang kamu dapatkan?" Tanya Rihan setelah duduk di kursi kebesarannya.


"Sepertinya penculik itu sudah mulai bergerak, Tuan." Jawab Alex tenang.


"Jelaskan!" Nada suara Rihan semakin datar.


"Menurut orang-orang kita yang ditempatkan di rumah sakit, ada orang asing yang mencari keberadaan nona Phi. Untung saja kita sudah mengantisipasinya dengan menghilangkan kepulangan nona Phi ke mansion, sehingga mereka hanya tahu jika nona Phi dirawat di sana." Jelas Alex tenang.


"Bagus. Awasi terus mereka." Rihan kembali tenang dan bersandar di kursi kebesarannya.


"Baik, Tuan. Dan juga, sistem kita menangkap masuknya jet pribadi dari luar negeri tengah malam tadi." Lapor Alex sambil menatap sang majikan.


"Ada hubungan apa dengan jet pribadi itu?" Tanya Rihan mengerutkan keningnya.


"Saya hanya menaruh kecurigaan pada jet pribadi itu, yang datang di indonesia tengah malam. Jika ada urusan bisnis, tidak mungkin mereka mendarat di tempat tersembunyi dengan pengawasan yang ketat.


Dan juga, sepertinya mereka tahu jika sedang diawasi, sehingga mereka memasang alat pemutus sinyal. Untungnya sistem kita lebih canggih, sehingga bisa mendeteksi keberadaan mereka." Jawab Alex selalu tenang seperti biasa.


"Hmm. Sudah kalian lacak pemilik jet pribadi itu?" Tanya Rihan sambil menatap sang asisten.


"Sudah, Tuan. Hanya saja sistem kita kali ini tidak bisa mendapatkan profil lengkap pemilik jet itu. Orang kita juga tidak sempat melihat wajah orang yang turun dari jet pribadi itu. Kita tidak bisa mencari asal pembuatan jet itu, karena jet itu diproduksi entah dimana, dan hanya satu macam yang dihasilkan." Jawab Alex dengan ekspresi merasa bersalah, karena lagi-lagi majikannya tidak puas dengan hasil kerja mereka.


"Ya, sudah. Pastikan mansion ini selalu dijaga ketat. Ingat untuk menjaga Tata dari jarak jauh." Putus Rihan setelah menghela nafasnya pelan.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya juga minta maaf karena kami gagal lagi untuk kedua kalinya." Alex kini menundukkan kepalanya meminta maaf.


"Hmm. Bagaimana dengan tempat tinggal mereka?" Tanya Rihan memijit pelipisnya pelan.


"Mereka menginap di hotel keluarga Alexander."


"Kirimkan orang-orang kita untuk mengawasi hotel itu." Rihan mengangguk lalu menatap datar Alex.


"Siap, Tuan."


***


"Kami pamit pulang, Rei." Pamit Albert setelah Rihan turun dan duduk bersama mereka di ruang tamu.


"Ya. Kami pamit Rei, sampai jumpa lagi." Sambung Dian lalu tersenyum. Sedangkan David hanya menganggukkan kepalanya kemudian tersenyum tipis.


"Ya."


Ketiganya lalu pergi meninggalkan mansion Rihan.


"Maaf, Tuan. Antarik Hospital baru saja mengirim proposal kerja sama dengan rumah sakit Setia." Alex kembali melapor setelah mendapat telepon dari pihak rumah sakit.


"Itu tugasmu, Lex. Aku akan istirahat sebentar." Rihan beranjak pergi menuju kamarnya. Dia percaya Alex bisa mengatasi hal-hal itu.


"Baik, Tuan. Selamat beristirahat." Balas Alex menundukkan sedikit kepalanya.


***


"Bagaimana pencarian kalian?" Tanya seorang pria yang diduga pemilik jet pribadi yang tidak diketahui identitasnya oleh Rihan.


BRAK


"Apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini? Hanya seorang gadis, dan kalian tidak bisa menemukannya?" Marah pria itu setelah menggebrak meja di depannya.


Pria berstatus bos itu yang biasanya tenang kini menampilkan emosinya juga, karena anak buahnya yang bertugas mencari sandera sampai sekarang tidak menemukan apapun.


"Maafkan kami, Tuan. Kami siap dihukum mati." Seorang pria mewakili dua pria berbadan kekar lainnya kemudian berlutut meminta maaf.


"Bereskan mereka, Dom. Aku tidak suka dengan orang yang kerjanya tidak becus." Perintah penuh penekanan dari si bos pada orang kepercayaannya.


Tanpa menjawab sang tuan, pria yang dipanggil Dom itu dengan sigap mengambil pistol dibalik jassnya kemudian,


Dor


Dor


Dor


Tiga tembakan tepat di kepala tiga pria yang sedang berlutut itu.


"Segera ke ruangan, Bos." Perintah Dom pada orang di seberang teleponnya.


"Saya sendiri yang akan mencari gadis itu, Tuan." Tawar Dom setelah memutuskan panggilan telepon dengan orang yang akan membersihkan kekacauan di ruangan sang bos.

__ADS_1


"Hmm. Aku percayakan padamu Dom." Balas si bos kembali tenang.


Tok


Tok


Tok


"Masuk." Dom mempersilahkan orang yang mengetuk pintu.


"Maaf, Tuan, R.A. Grup dua hari yang lalu mengirim kembali persetujuan kerja sama yang kita ajuhkan atas nama Miara Grup." Lapor seorang gadis cantik yang tadi mengetuk pintu.


"Berikan pada, Dom." Balas pria itu yang merupakan CEO Miara Grup yang misterius.


"Baik Tuan." Gadis cantik itu mengangguk lalu memberikan berkas yang dibawanya pada Dom.


"Saya pamit, Tuan." gadis cantik itu kemudian keluar dari ruangan sang bos tanpa menunggu jawaban.


***


"Tolong, jangan sentuh aku! aku mohon. Jangan sentuh aku. Akhhhhhhh..."


Rihan yang sedang terlelap seketika membuka matanya setelah mendengar teriakan histeris sahabatnya dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Rihan.


Dengan tenang, Rihan bangun dan menghela nafasnya pelan kemudian turun dari tempat tidur dan keluar kamar menuju kamar Phiranita.


Setelah menekan akses masuk, pintu kamar lalu terbuka sehingga Rihan dengan cepat masuk dan menghampiri ranjang Phiranita yang sedang menarik rambutnya dengan kuat.


"Hentikan Tata! Kamu menyakiti diri sendiri." Teriak Rihan datar berusaha melepas tangan Phiranita dari rambutnya.


"JANGAN SENTUH AKU!"


"Ini aku Rehhand. Tenanglah! Aku ada disini untukmu." Rihan lalu menarik Phiranita ke dalam pelukannya.


"Hiks... Han... Mereka jahat sekali. Mereka menyiksaku Han... Aku takut." Ujar Phiranita dengan derai air mata di pelukan Rihan.


"Aku tahu, Tenanglah, itu cuma mimpi, jangan takut. Aku akan menjagamu. Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku." Rihan menenangkan sang sahabat sambil mengelus pelan punggung gadis itu.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Han. Aku takut sendiri." Phiranita masih memeluk erat Rihan.


"Aku akan selalu ada untukmu. Tenanglah!" Rihan semakin mengeratkan pelukannya dan terus membelai lembut punggung Phiranita.


"Apa saja yang sudah mereka lakukan padamu, Tata. Tenang saja! mereka akan aku balas lebih dari ini." Batin Rihan sambil mengepalkan tangannya yang di belakang Phiranita.


"Tidur lagi, aku akan menemanimu di sini." Rihan lalu melepas pelukannya dan membaringkan Phiranita kemudian menyelimutinya.


"Tidur yang nyenyak, jangan ingat kenangan buruk itu lagi." Ucap Rihan sambil membelai lembut pucuk kepala sahabatnya itu.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2