
"Aku melihat jelas tingkah laku kak Alex," Bisik Alen pada Alex lalu tersenyum tipis.
"Kamu..." Alex tidak tahu harus berkata apa. Jujur dia benar-benar malu. Untungnya dia dapat menutupinya dengan memasang wajah datarnya.
"Nona ingin membersihkan diri lebih dulu atau melakukan sesuatu seperti berolahraga, mungkin?" Tanya Alen menatap Rihan yang sibuk menatap langit di pagi hari.
"Apa jadwalku hari ini, Lex?" Tanya Rihan dengan posisi tangan terulur untuk merasakan rintik hujan di pagi hari.
"Nona memiliki jadwal memotong rambut jam 9 pagi, memeriksa berkas yang dikirim Mentra dari perusahaan pusat jam 11 siang, jam 1 hingga 3 sore nona ada kelas khusus. Setelah itu, joging jam 5 sore." Jawab Alex sambil melihat pada layar iPad yang baru dipakai, karena iPad yang biasanya dia pakai masih ada pada Rihan.
"Hmm. Bantu aku bersiap, Len." Rihan lalu mengambil handuk kecil yang diberikan oleh Alen untuk mengeringkan tangannya yang basah.
"Baik, Nona."
"Saya juga pamit, Nona."
"Hm."
***
Sarapan pagi dilakukan seperti biasa bersama Phiranita dan Max. Setelah itu, Rihan sedikit bersantai di ruang tamu ditemani oleh kedua asistennya karena Max ada kelas pagi jam 8, sedangkan Phiranita juga belajar bersama guru privatnya di jam yang sama.
"Saya sudah menelpon orang kita yang bertugas mengurus dana beasiswa untuk sekolah Axen, sedangkan untuk bagian keuangan Miara Group datanya akan sampai jam 10 nanti, Tuan." Lapor Alex memecah keheningan di ruang tamu.
"Kerja bagus!" Balas Rihan sambil menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 07.35.
"Terima kasih, Tuan."
"Hmm. Bagaimana dengan Brand?" Tanya Rihan melirik sekilas Alex yang berdiri tegap di sampingnya kanan, sedangkan Alen di samping kiri.
"Pengawal yang berjaga di bagian gerbang mansion kemarin menangkap seorang pemulung yang terlihat seperti mengamati mansion ini. Awalnya mereka hanya menganggap itu sebagai hal biasa. Akan tetapi, setelah 3 hari pemulung itu melewati mansion, tiba-tiba dia mengeluarkan ponsel yang terlihat mahal untuk memotret mansion. Akhirnya dia ditangkap dan diintrogasi. Ternyata dia dibayar oleh seseorang yang memiliki ciri-ciri mirip dengan asisten Tuan Brand untuk memotret setiap kegiatan di mansion ini, Tuan." Jawab Alex tenang seperti biasa.
"Bagaimana keadaan pemulung itu?" Tanya Rihan sambil menatap Alex.
"Bisa-bisa nona memikirkan keadaan si pemulung. Sungguh hati yang baik." Gumam Alex dalam hati kagum.
"Untungnya pengawal gerbang tidak memberinya banyak pelajaran karena dia cepat membuka suara, sehingga setelah dia mengaku, dia langsung dikembalikan dengan sejumlah uang untuk mengobati luka-lukanya."
"Aku bangga akan kerja keras mereka. Naikkan gaji pengawal gerbang bulan ini." Rihan mengangguk senang dengan kinerja orang-orangnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan. Mereka pasti akan sangat senang." Ucap Alex dan disambut anggukan oleh Alen yang hanya menyimak.
"Sudah hampir waktunya, ayo berangkat!" Rihan lalu berdiri dan berjalan keluar, padahal waktu masih menunjukan pukul 8 tepat. Mereka harus berangkat lebih awal karena mengingat jalanan kota Jakarta yang akan macet di saat seperti ini.
"Baik Tuan."
***
Seperti yang sudah diprediksi, jalanan benar-benar padat sehingga terjadi kemacetan. Untungnya mereka berangkat lebih awal sehingga mereka juga tiba kurang 10 menit sebelum salon tempat Rihan memotong rambut melayani pelanggan.
Ini sudah kedua kalinya Rihan datang ke sini untuk memotong rambutnya. Rihan sebenarnya bisa membuka salon sendiri di mansion, tetapi menurutnya tidak terlalu penting dan juga itu bukan gayanya, sehingga Rihan meminta Alex mengatur jadwal potong rambut 2 minggu sekali.
"Selamat datang, Tuan Muda. Silahkan masuk!" Manajer salon keluar dengan tergesa-gesa karena melihat kedatangan pelanggan terhormatnya yang datang lebih awal dari biasanya.
Alex dan Alen sedikit menunduk kepala sekedar menghormati, sedangkan Rihan hanya menatap datar dan mengikuti Manajer salon itu masuk ke dalam.
"Bantu potongkan rambut, Tuan Muda Rei." Perintah Manajer itu pada seorang pria muda yang dua minggu lalu memotong rambut Rihan.
"Mari Tuan, silahkan duduk." Pria itu mempersilahkan Rihan duduk dengan seulas senyum tipis.
Rihan dengan tenang duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan sebuah cermin besar yang dapat memperlihatkan kegiatan pegawai dan pelanggannya.
"Kamu bisa sepertiku jika berusaha. Semua usaha tidak selamanya berjalan mulus." Datar Rihan mengalihkan dunia pemuda itu. Pemuda itu seketika salah tingkah dan menggaruk kepalanya kemudian berkata dengan gugup.
"Potongan rambut seperti apa yang anda inginkan, Tuan?"
"Seperti sebelumnya."
"Baik Tuan. Sebelumnya maafkan saya."
"Hmm."
Pemuda itu kemudian tersenyum senang dan mulai memotong rambut Rihan sesuai potongan rambut sebelumnya. Baru beberapa menit pemuda itu memotong rambut Rihan, tiba-tiba dia berhenti karena melihat teman sekerjanya yang tidak mendapat pelanggan berjalan cepat menuju pintu utama seperti ingin menantikan sesuatu.
"Maaf Tuan Muda, saya tinggal sebentar untuk menyambut pemilik saham terbesar salon kami." Manajer salon pamit pada Rihan.
"Ya."
"Terima kasih Tuan Muda, saya pamit."
__ADS_1
"Siapa pemilik saham terbesar salon ini?" Tanya Rihan mengorek informasi pada pemuda yang sedang asik memotong rambutnya.
"Pengusaha muda nomor satu, Tuan."
"Hmm."
Setelah deheman, Rihan memejamkan matanya sekaligus menghindar dari bertatapan langsung dengan pemilik saham terbesar yang dimaksud yang terlihat bayangan kemunculannya di cermin di depannya.
Tidak lama kemudian Rihan menyadari ada yang duduk di kursi di sampingnya yang hanya berjarak satu meter dengannya. Dapat Rihan tebak jika itu adalah pemilik saham yang dimaksud.
"Kamu juga di sini rupanya. Semoga pelayanan kami memuaskan." Orang yang duduk di samping Rihan membuka suara. Orang itu ternyata adalah Neo.
Rihan hanya diam dengan keadaan masih memejamkan mata. Baginya basa-basi itu adalah salah satu cara mengorek informasi dari seseorang, dan Rihan tidak ingin itu terjadi.
"Potongan rambut seperti apa yang anda inginkan, Tuan?" Tanya pemuda lain yang akan memotong rambut Neo.
"Yang sedang trend." Jawab Neo melirik Rihan dengan kening berkerut. Dia diabaikan.
"Baik, Tuan."
"Bisa-bisanya dia mengabaikanku." Batin Neo tiba-tiba kesal.
"Manajer Lukas!" Panggil Neo agak keras.
"Ada apa, Tuan?"
"Biarkan tagihan Tuan Muda Rehhand saya yang bayar." Ucap Neo menatap Rihan menantikan ekspresi Rihan. Sayangnya tidak ada ekspresi apapun. Neo pikir, dia akan mendapat kata terima kasih, nyatanya tidak.
"Baik, Tuan."
"Tidak mempan?" Batin Neo berusaha bersabar.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan Lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1