
Semua tamu undangan dari negara lain sudah hadir memenuhi tempat duduk masing-masing. Para tamu bisa membawa maksimal empat orang bersamanya.
Dalam perjalanan turun ke lantai satu, tepatnya ruangan untuk pelelangan malam ini, Rihan terus berpikir, apa yang akan Elle lakukan malam ini. Rihan terus melamun, membuat Zant di sampingnya harus menyentil dahinya untuk menyadarkannya.
"Jangan terlalu dipikirkan. Siapkan saja dirimu untuk menghadapi mereka," Ujar Zant pelan lalu tersenyum tipis pada Rihan yang juga menatapnya sambil mengusap pelan dahinya.
Sampai di depan pintu, sudah ada presiden dan ibu negara Jerman yang menunggu mereka. Mommy Lily dengan senyum senang menyambut Rihan dan Zant.
"Kita akan masuk setelah ada pemberitahuan dari dalam." Mommy Lily memberitahu. Rihan dan Zant hanya membalas dengan anggukan.
Di dalam ruang pelelangan, pembawa acara malam ini sudah menginstruksi para tamu untuk duduk di tempat masing-masing agar acara pelelangan segera dimulai.
Di meja barisan pertama dan kedua dari depan adalah tempat duduk untuk para CEO perusahaan besar yang menduduki peringkat 10 besar beserta para presiden dan keluarga masing-masing. Di barisan ketiga hingga terakhir, adalah pengusaha lainnya. Semua pengaturan itu sengaja direncanakan oleh Zant.
Dari semua meja, hanya satu meja yang masih kosong, dan itu untuk tuan rumah pelelangan ini. Di sebelah meja untuk tuan rumah, atau presiden Jerman bersama keluarga, ada meja dimana Neo, Elle, Logan dan Phiranita berada.
Jelas sekali semua direncanakan. Di sebelah meja Neo, ada meja untuk Daddy Jhack, Mommy Rosse, Papa Jhon, Mama Shintia dan Avhin. Di sebelahnya lagi, meja Mentra, Beatrix, Alex dan Alen. Sisanya pengusaha yang lain.
Dalam ruangan, hanya ada suara pembawa acara yang sedang membuka acara pelelangan malam ini. Pembawa acara kemudian mengundang tuan rumah untuk hadir terlebih dahulu.
Setelah suara pembawa acara, pintu bagian depan khusus tuan rumah terbuka. Presiden Jerman kemudian masuk bersama keluarganya. Ekspresi presiden jerman terlihat sangat berwibawa dengan senyum tipisnya menatap para tamu. Berbeda dengan obu negara Jerman, Rihan dan Zant, ketiga manusia itu hanya berwajah datar berjalan masuk dengan tenang.
Posisi mereka, yaitu presiden Jerman bersama sang istri yang menggandeng lengannya berjalan di bagian depan, sedangkan di bagian belakang ada Rihan dan Zant. Pemandangan ini terlihat sangat manis.
"Kamu harus berterima kasih padaku untuk pengaturan meja para tamu, gadis kecil," Bisik Zant pada Rihan. Rihan hanya menatap datar Zant.
Semua tamu yang melihat tuan rumah acara pelelangan ini begitu terpesona. Tepatnya terpesona karena dua pria tampan di belakang presiden dan ibu negara Jerman. Rihan semakin tampan dan cantik, apalagi rambutnya yang biasanya menutupi dahinya, kini diangkat memperlihatkan sedikit dahi mulusnya.
Semua anak gadis para tamu maupun para pria yang hadir sekalipun, jatuh hati hanya dengan melihat pesona seorang Tuan Muda Rehhand.
Neo yang melihat Rihan, jantungnya berdetak kencang. Mata pria itu bahkan berkaca-kaca. Betapa dia sangat merindukan teman tidurnya itu. Bukan hanya Neo, ada Alex, Alen, Mentra dan Beatrix, ketiga orang kepercayaan Rihan itu sangat senang melihat majikan mereka baik-baik saja.
Di saat orang lain senang karena Rihan baik-baik saja, berbeda dengan Elle. Wanita itu mengepalkan tangannya menahan emosi. Wajah wanita itu bahkan memerah melebihi rona merah di pipinya. Nafasnya juga naik turun karena emosi yang memuncak. Elle yang menahan emosi, tidak sadar jika di meja Alex dan yang lainnya sedang menatapnya dan menyadari kemarahannya.
"Bagaimana mungkin bajingan itu masih hidup? Dia bahkan bersama..." Kesal Elle dalam hati.
"Aku sangat merindukanmu, Rei." Gumam Neo dalam hati. Pria itu tersenyum tipis menatap Rihan yang baru saja duduk.
Rihan yang sejak masuk sudah menyadari tatapan semua orang padanya. Rihan juga dapat merasakan tatapan rindu maupun benci yang ditujukan padanya. Sayangnya, semua itu dia abaikan. Dia hanya acuh dengan keadaan dan pura-pura tidak tahu.
Rihan juga tidak menatap ke meja Neo dan Alex sama sekali. Rihan hanya menatap ke meja orang tuanya dan mengangguk sedikit.
Orang tuanya tidak tahu jika Rihan mengalami kecelakaan dan untuk sementara menumpang dengan keluarga presiden Jerman. Rihan hanya mengatakan bahwa dia sedang berlibur bersama keluarga temannya, yaitu Zant.
"Kamu tidak ingin menyapa orang-orang di meja sebelahmu?" Tanya Zant pada Rihan. Jarak meja mereka sekitar dua meter.
"Tidak perlu." Balas Rihan tidak peduli.
Pelelangan dimulai.
Sepanjang acara, Rihan hanya menatap malas pelelangan di depannya, sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya yang bertumpu di atas meja.
Rihan juga menyadari banyak tatapan ditujukan padanya. Ada Zant yang menatapnya intens dengan kedua tangan saling bertautan menopang dagunya, ada Neo yang menatap penuh kerinduan pada Rihan, Elle dengan tatapan benci, Alex dan yang lainnya tatapan menunggu perintah, dan banyak tatapan terpesona lainnya.
Pletak!
"Sudah cukup pose itu. Kamu terlalu memikat," Zant sudah tidak tahan dengan banyaknya tatapan terpesona pada Rihan.
"Berhenti menyakiti dahiku. Ck..." Kesal Rihan sambil mengusap pelan dahinya.
__ADS_1
"Maaf. Biarkan aku melihatnya," Zant tersenyum tipis kemudian sedikit memajukan wajahnya untuk meniup dahi Rihan. Rihan hanya biasanya saja.
Berbeda dengan Neo, pria itu merasa saingannya bertambah. Dia belum pernah melakukan hal itu pada Rihan, tetapi anak presiden itu sudah berani melakukannya.
Neo semakin kesal karena Rihan tidak menolak apa yang dilakukan Zant padanya. Biasanya Rihan akan menolak Neo jika pria itu melakukan kontak fisik berlebihan, atau kadang kesal padanya. Sedangkan Zant, Rihan hanya diam menerima semua yang dilakukan Zant.
"Apa aku harus menciummu di sini, agar pertunjukannya semakin menarik?" Bisik Zant di telinga Rihan.
"Memangnya kak Zant berani? Aku rasa tidak." Jawab Rihan santai.
Mendengar penuturan Rihan, telinga Zant tiba-tiba memerah. Jelas sekali perkataannya tadi hanya godaan. Mana mungkin dia berani mencium Rihan. Jujur saja, dia sedang menahan diri agar kegugupannya tidak terlihat jelas oleh Rihan.
"Kamu ingin mencobanya?" Tantang Zant.
"Hm."
"Lupakan saja. Mari fokus dengan pelelangannya." Zant kembali bersandar pada kursinya dan menatap pelelangan di depannya.
Rihan hanya tersenyum tipis melihat telinga Zant yang semakin memerah. Ingin sekali dia menyentuh telinga itu lagi, tapi karena mereka sedang di tempat umum, dia menahan diri. Rihan tidak ingin membuat tuan rumah pelelangan ini malu.
"Tuan majikan terlihat senang dengan anak presiden itu." Komentar Beatrix yang melihat interaksi Rihan dan Zant.
"Sepertinya begitu," Balas Alen dan mengangguk.
"Syukurlah Tuan baik-baik saja. Tuan juga bertemu teman yang baik yang membuatnya senang. Sangat langka melihat pemandangan seperti itu." Sahut Mentra.
"Hm."
"Aku yakin, wanita penyihir itu akan melakukan sesuatu. Lihatlah ekspresinya sedari tadi yang menatap tidak suka pada Tuan." Alex berbicara sambil menatap Elle sekilas kemudian menatap sang majikan.
"Aku setuju. Kita hanya perlu mempersiapkan diri untuk rencana ke depannya." Balas Alen, dan diangguki oleh yang lainnya.
"Aku keluar sebentar. Ada yang harus aku lakukan," Pamit Rihan lalu berdiri bersiap keluar.
"Aku keluar sebentar Mom, Dad." Sambung Rihan pada dua paru baya di depannya.
"Iya, Sayang."
"Aku akan menyusul, biar seru." Zant berbisik setelah menahan Rihan sebentar.
Rihan tidak mengatakan apa-apa. Rihan hanya menatap Zant sebentar kemudian berbalik dan keluar dari ruangan itu.
Hanya beberapa menit, Rihan sudah sampai di taman kediaman presiden Jerman. Jarak Rihan berdiri saat ini cukup jauh dengan tempat pelelangan.
Rihan hanya berdiri dan menghirup udara malam ini, meski ada kursi panjang yang berjarak beberapa meter dengannya. Rihan menengadah menatap langit malam penuh bintang. Rihan menghembuskan nafas pelan kemudian mengerutkan kening dan sedikit melirik ke samping.
Grep!
Seseorang memeluknya sangat erat dari belakang. Tanpa melihat orangnya, Rihan tahu dia siapa hanya dari bau orang itu, juga pelukannya.
"Aku sangat merindukanmu, Rei. Bagaimana kabar mu? Kamu tidak apa-apa, 'kan? Bagaimana keadaanmu selama ini? Aku sangat mencemaskanmu," Suara Neo terdengar lirih, dan semakin mengerat pelukannya. Kepala pria itu diletakkan di bahu kanan Rihan.
"Aku baik. Tolong lepaskan pelukanmu, Kak. Aku sesak." Rihan menjawab dengan datar. Pandangannya tertuju pada air terjun buatan di depannya.
"Tidak! Biarkan seperti ini sebentar saja. Aku sangat merindukanmu, Rei. Kamu tahu, betapa tersiksanya aku tanpamu?" Suara Neo terdengar pelan.
"Itu bukan urusanku. Kak Neo punya kekasih yang bisa diajak berbagi keluh kesah."
"Dia tidak sepertimu. Kamu berbeda. Aku hanya bisa menemukan kenyamanan itu ketika bersamamu. Aku benar-benar menyayangimu, Rei. Kembalilah bersamaku besok. Hm?" Neo semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Aku senang di sini. Aku akan kembali ketika bosan," Balas Rihan dan mengangkat tangannya ingin melepas kedua tangan Neo yang berada di atas dadanya.
"Tidak! Kamu harus kembali bersamaku. Malam ini!" Desak Neo dan mengerat pelukannya. Pria itu tidak ingin Rihan melepaskan tangannya.
"Tindakan anda seperti ini hanya akan menimbulkan kesalah pahaman Tuan Neo yang terhormat." Suara Zant yang baru muncul dari belakang.
Zant menghampiri Rihan dan dengan satu tangan melepas pelukan Neo, kemudian menarik Rihan kedalam pelukannya.
"Tindakan anda akan membuat kekasih anda salah paham, Tuan Neo. Seharusnya anda sadar dengan tindakan itu." Ujar Zant datar.
"Dia tidak melakukan hal buruk padamu, 'kan?" Sambung Zant bertanya pada Rihan yang menengadah menatap tajam dirinya.
"Kamu pikir aku gadis polos atau apa?" Balas Rihan datar.
"Jangan lupa jika kamu kekasihku, gadis kecil. Kamu tidak diizinkan terlalu dekat dengan pria lain, bahkan gadis lain." Bisik Zant di telinga Rihan.
"Aku belum setuju soal itu." Balas Rihan datar, dan berusaha melepas pelukan Zant. Sayangnya pelukan pria tidak mau terlepas, padahal Zant hanya menggunakan satu tangan.
Neo yang melihat pemandangan di depannya menjadi kesal. Kedua tangannya terkepal erat menahan emosi.
"Anda mengganggu kami, Tuan." Ucap Neo datar berusaha terlihat tenang.
"Mengganggu? Saya rasa anda yang menjadi pengganggu, karena memeluk milik orang lain tanpa izin. Seharusnya anda sadar, jika anda sudah memiliki kekasih." Zant menatap remeh pada Neo.
"Milik orang lain? Apa maksudmu?" Tanya Neo mengerutkan kening.
"Seharusnya IQ anda cukup untuk mengerti tiga kata itu."
"Bagaimana bisa Rei menjadi milikmu?" Tanya Neo kesal.
"Tentu saja bisa. Seharusnya hari ini kami mengumumkan pada publik bahwa Rei akan menjadi menantu keluarga Veenick. Sayangnya, waktu ini bukan waktu yang tepat. Kami akan menunggu hingga ulang tahun Rei tiba." Zant menatap sekilas Rihan yang tatap tenang dalam dekapannya.
"Katakan bahwa ini salah, Rei! Tidak mungkin kamu menjadi menantu keluarga Veenick. Belum lagi dia seorang laki-laki." Suara Neo terdengar serak. Nafasnya mulai naik turun.
"Jangan lupa jika ini di Jerman, Tuan Neo. Hubungan sesama pria tidak di larang di sini. Kami juga saling menyayangi. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah dirimu sendiri, yang menginginkan dua orang menjadi kekasihmu sekaligus. Bukankah anda sangat naif? Ckckckk...
Aku baru saja mengenal Rei, tetapi tahu dengan jelas seperti apa dia. Sedangkan anda? Cukup lama kalian bersama, bahkan tidur bersama, tapi anda tidak pernah tahu Rei ini siapa.
Bagaimana anda bisa tahu Rei ini siapa, sedangkan anda sendiri tidak tahu seperti apa perasaan anda sendiri. Benar-benar sulit dipercaya, seorang pengusaha sukses yang dikenal banyak orang, ternyata sebodoh ini." Zant berbicara panjang lebar.
Rihan yang mendengarnya menengadah menatap Zant dengan kening berkerut karena sepertinya pria ini sangat mengenalnya.
Cup
"Untuk percobaan awal, ciuman kening aku rasa cukup." Ujar Zant pelan lalu tersenyum tipis pada Rihan yang mematung.
"Kau..." Rihan tersadar dan menatap tajam Zant.
"Aku hanya melakukan itu di saat Rei tidur, tetapi pria itu..." Gumam Neo dalam hati. Wajah pria itu mulai memerah karena marah.
"Kenalilah dirimu sendiri, sebelum mengenal Rei lebih jauh." Zant lalu melepas pelukannya pada Rihan, kemudian beralih menggenggam tangan Rihan dan beranjak dari sana.
"Satu lagi yang paling penting. Apa anda benar-benar mencintai kekasihmu itu? Apa anda tahu siapa dia sebenarnya?" Ujar Zant lagi sebelum benar-benar pergi dari sana.
Setelah kepergian Rihan dan Zant, Neo tidak tahu harus melampiaskan kemarahannya pada siapa. Pria itu hanya bisa menghela nafas dan menghembuskan dengan kasar.
"Sayang... Aku mencarimu sedari tadi, ternyata kamu di sini." Suara Elle yang baru datang dan memeluk Neo dari belakang.
"Ada apa?" Tanya Neo berusaha tenang.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku katakan padamu. Ini penting!"