
Setelah kepergian Logan, Neo termenung dengan pikirannya menyalahkan betapa bodohnya dia. Betapa bodoh dirinya dan tanpa memikirkan apapun, dia bahkan memutuskan hubungan dengan Rihan. Sekarang dia menyesalinya.
Terus menyalahkan dirinya sendiri, Neo disadarkan dengan dering ponsel di atas meja. Pria itu mengerutkan kening berpikir Logan melupakan ponselnya. Neo mengambil ponsel itu dan berniat menyusul Logan yang sudah keluar sejak 10 menit lalu.
Ketika ponsel sudah digenggamannya, Neo bekedip beberapa kali karena nama orang yang menelpon adalah Logan. Neo jelas mengingat nomor ponsel teman baiknya itu. Dia lalu mengangkat panggilan itu.
"Itu ponsel untukmu. Simpan baik-baik, jangan sampai hilang lagi. Aku akan menghubungimu jika ada sesuatu yang penting. Aku tahu, kamu pasti menyesal sekarang. Sayangnya, semua sudah terjadi. Keputusan bodohmu membuatmu menyesalinya hingga seumur hidupmu. Aku tidak tahu apakah mereka akan memaafkanmu atau tidak. Semua tergantung bagaimana penderitaanmu dan bagaimana usahamu. Aku tutup teleponnya!"
Tut
Logan segera memutuskan sambungan tanpa menunggu balasan dari Neo.
Neo tidak mempermasalahkan itu. Pria itu yakin, teman baiknya yang merangkap asisten pribadinya itu pasti kecewa padanya. Neo hanya bisa menghela napas dan menghembuskannya pelan. Neo kemudian menuju mobilnya dan pergi dari sana. Entah kemana pria itu akan pergi. Saat ini, dia hanya tidak ingin kembali ke apartemennya.
Sepanjang jalan, Neo terus melamun. Dadanya terasa sesak ketika mengingat bagaimana perkataan pedasnya pada Rihan. Neo masih mengingat jelas perkataannya waktu itu yang mengatakan Rihan munafik, menyesal mengenalnya, dan kalimat keramat terakhirnya yaitu memutuskan semua hubungan dengan Rihan.
Belum lagi, dia dengan tanpa perasaan menusuk tepat di jantung orang yang banyak berkorban untuknya dan keluarganya.
Krek
Ckitt
Neo menginjak pedal rem secara mendadak karena hampir saja dia menabrak mobil di depannya yang baru saja berhenti karena lampu lalu lintas. Neo menunduk dengan kepala bersandar di setir mobil.
"Kesalahanku sangat fatal. Maafkan pria bodoh ini, Rei. Aku menyesalinya sekarang. Aku menyesal mengatakan itu padamu. Aku sungguh menyesal. Aku... aku..." Gumam Neo sambil meremas dadanya yang berdenyut sakit. Tanpa terasa air mata pria itu mengalir membasahi setir mobilnya.
"Ya. Aku begitu bodoh sehingga tidak menyadari semua itu. Betapa bodohnya aku karena menyukai orang munafik sepertimu. Aku sungguh menyesal!"
"Mulai sekarang, aku... Neondra Jacon Chixeon memutuskan semua hubungan denganmu. Chi Corporation juga akan menarik seluruh saham di R.A Group. Ingat satu hal Rei! Jika kita bertemu lagi, anggap saja kita tidak saling mengenal."
Neo kembali mengingat perkataan menyakitkan yang dia keluarkan pada Rihan waktu itu.
"Aku tahu kamu pasti tidak akan memafkanku, Rei. Aku sungguh minta maaf! Kesalahanku sungguh tidak bisa dimaafkan," Gumam Neo lagi.
Pria itu masih terisak dengan kepala menunduk di setir mobil, hingga dia tersadar dan menjalankan mobilnya ketika mobil di belakangnya membunyikan klakson.
Mobil Neo sudah melewati apartemennya. Mobilnya terus melaju hingga berhenti di salah satu minimarket, yang lumayan jauh dengan apartemennya. Pria itu setelah menangis, tiba-tiba merasa haus. Dia turun berniat membeli minum.
Setelah membayar, Neo keluar dan masuk ke mobil kemudian melanjutkan perjalanannya entah kemana. Baru lima menit meninggalkan minimarket, mobil Neo kembali berhenti, karena melihat seseorang yang dia kenal di seberang jalan. Lebih tepatnya kekasihnya yang sedang makan dengan seorang pria di salah satu restaurant pinggir jalan.
Neo sama sekali tidak mengenal pria itu. Ketika Neo ingin turun dan menghampiri Elle dan pria itu, dia terpaksa mengurungkan niatnya melihat bagaimana pria itu memperlakukan sang kekasih. Pria itu terlihat membersihkan sesuatu di bibir Elle dengan ibu jarinya, kemudian menjilat ibu jarinya sendiri.
Tidak sampai di situ. Pria itu sedikit berdiri dan memajukan tubuhnya pada Elle kemudian mengetuk pelan bibirnya pada Elle. Neo hanya mengerutkan kening tidak mengerti dengan apa yang dilakukan pria itu. Sedetik kemudian, Neo dibuat melotot karena Elle dengan senyum senang ikut memajukan tubuhnya dan mengecup singkat bibir pria itu.
__ADS_1
"Aku adalah pria terbodoh di dunia ini, yang tidak tahu bahwa sedang dimanfaatkan. Betapa bodohnya aku mencintai wanita seperti itu," Gumam Neo pelan lalu bersandar kursi mobil dan memejamkan matanya.
Air mata Neo kembali menetes. Neo sudah seperti seorang gadis yang mudah sekali menangis. Neo tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Dia hanya bisa menangis dan menyesali kebodohan. Setelah cukup lama termenung, Neo akhirnya membuka mata dan mengambil ponsel yang diberikan Logan padanya.
Neo kemudian mengetik nomor ponsel seseorang dan mulai menelpon.
"Aku pikir kamu sudah melupakanku, Sobat." Suara di seberang telepon berbicara lalu terkekeh.
"Aku butuh bantuanmu," Jawab Neo datar.
"Kamu tahu, berurusan denganku itu tidak gratis."
"Aku tahu!"
"Jadi siapa yang harus aku cari?"
"Elleanor Choi Thelessya. Aku ingin identitas lengkapnya, dan apa yang dia lakukan selama ini. Secepatnya!"
"Beres! Berikan aku 10 menit."
"Hm."
Panggilan berakhir.
...'Rei divonis hidup tidak lama lagi.'...
Neo kembali mengingat kalimat Logan tadi. Pria itu kembali meremas dadanya yang semakin sesak.
"Ya ,Tuhan. Apa yang sudah aku lakukan? Maafkan aku, Rei." Gumam Neo dalam hati.
***
Di laboratorium pribadi Rihan, Zant saat ini sedang mempelajari beberapa program dalam laptop milik Rihan. Pria itu begitu kagum dengan otak jenius gadis kecilnya. Sesekali dia akan tersenyum memikirkan masa kecil mereka, dimana tingkah gadis kecilnya sangat menggemaskan. Dokter Galant yang duduk di depannya merinding karena melihat senyum Zant yang tiba-tiba.
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak! Pelajari semua itu, karena aku akan mengujimu lusa." Zant seakan menebak isi kepala Dokter Galant.
Zant menyuruh Dokter Galant untuk mengambil beberapa buku kedokteran di perpustakaan mini miliknya di rumah pribadinya dan dibawa ke laboratorium ini. Dokter Galant awalnya berpikir Zant ingin membaca buku-buku itu. Ternyata, Zant ingin Dokter Galant mempelajari semua itu, dan akan dia uji lusa nanti.
Dengan hanya memakai nama Rihan sebagai ancaman, Dokter Galant akhirnya menurut dan mempelajari semua itu. Maksud Zant sebenarnya agar dokter pribadi Rihan itu bisa memanfaatkan waktu menjaga Rihan dengan baik. Dan juga, Zant punya alasan lain, agar ketika dia ada kesibukan operasi dan gadis kecilnya membutuhkan, dokter pribadi Rihan itu bisa diandalkan.
Awalnya Zant menguji Dokter Galant, dan ternyata ada beberapa kasus pasien yang tidak dipahami dengan baik, sehingga Zant meminta Dokter Galant untuk mempelajari semua buku kedokteran milik Zant yang tidak bisa didapatkan di perpustakaan medis manapun.
Laboratorium itu kembali hening, hingga beberapa menit kemudian terdengar getaran tanda pesan masuk di ponsel Zant. Pria itu lalu membuka ponselnya dan menyeringai ketika membaca isi pesan itu.
__ADS_1
"Neo mulai bergerak mencari tahu sifat asli kekasihnya." Gumam Zant lalu meletakkan kembali ponselnya.
"Huh?"
"Sudahlah! Lanjutkan saja tugasmu." Zant kembali fokus ke layar laptop.
Lima menit kemudian, Zant mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Persiapkan semuanya! Jika waktunya tiba, aku ingin menjinakkan semua peliharaan liar itu."
Hanya mengatakan kalimat itu, Zant memutuskan Sambungan telepon. Lagi-lagi Dokter Galant menatap tidak mengerti pada pria di depannya. Zant hanya mengabaikan pria yang satu tahun lebih muda darinya itu.
***
Pukul 7 malam, Neo baru pulang ke apartemennya. Masuk ke dalam, Neo disuguhkan dengan pemandangan Elle yang sedang menata makan malam di meja.
"Pas sekali. Ayo bersihkan dirimu dan kita makan bersama." Sambut Elle dengan senyum manis pada Neo.
"Aku lelah! Maaf, aku akan istirahat lebih dulu." Balas Neo datar dan bergegas masuk ke kamarnya. Tidak lupa, pria itu mengunci pintu takut Elle mengganggunya.
"Ada apa dengannya?" Tanya Elle dalam hati.
Neo sebenarnya tidak ingin pulang, dan berencana menginap di hotel. Akan tetapi, tidak ingin membuat Elle curiga karena dia yang berusaha menghindar. Neo akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen.
"Apa ini maksudmu dulu, jika aku dimanfaatkan?" Gumam Neo pelan.
Pria itu teringat perkataan Rihan dulu padanya. Lebih tepatnya dia bertanya, alasan kenapa Rihan tidak ingin orang lain tahu bahwa dia CEO misterius R.A Group. Bahkan orang tua Rihan sendiri tidak ada yang tahu. Dan jawaban Rihan adalah karena dia tidak ingin dimanfaatkan.
Neo meletakkan lengan kananya di atas dahinya sambil mengingat kembali kenangannya dengan Rihan dulu.
"Kamu yang selalu membantuku dan keluargaku tanpa meminta imbalan apapun, dan aku... aku selalu saja merepotkanmu. Aku yang selalu menyusahkanmu. Aku tidak pernah memikirkan apa yang sudah kamu lakukan untukku.
Aku bahkan mengatakan kalimat pedas untukmu, hanya karena percaya pada kekasihku yang ternyata hanya memanfaatkanku. Pada akhirnya, kalimat itu menjadi boomerang untukku sendiri." Gumam Neo sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Masih adakah satu kesempatan untukku, Rei?" Sambung Neo lalu memejamkan matanya, bertepatan dengan air matanya yang lolos begitu saja.
...
Alex saat ini ada ruang kerja Rihan di markas utama organisasi milik Rihan. Pria itu sedang sibuk membaca beberapa berkas yang belum Rihan sentuh sama sekali sejak dia menghilang dari Indonesia dan berakhir koma di Jerman dan dirawat di laboratorium miliknya.
Asik membaca berkas di depannya, hingga fokus Alex teralihkan dengan ponselnya yang bergetar karena notifikasi pesan masuk. Isinya hampir sama dengan pesan yang Zant terima.
"Selamat menempuh penyesalanmu! Tenang saja, aku akan membantumu mewujudkan semua perkataan pedasmu pada nona. Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup. Saat ini kamu beruntung karena Logan yang memberitahumu. Bagianku nanti. Tunggu saja!" Gumam Alex datar. Saking emosinya, Alex bahkan tidak sadar sudah mematahkan pena yang dia genggam sedari tadi.
__ADS_1