Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Tidak Kenal Tempat


__ADS_3

"Aku mencintaimu, tetapi beraninya kamu menyukai pria lain? Lebih baik kamu mati di tanganku dari pada kamu hanya dikurung di penjara. Semua hal aku lakukan hanya untukmu dan kamu ingin menghianatiku? J*****g!" Marah Jonathan sambil menjambak rambut Kim Yura dan menatap tajam wanita itu.


Jenderal Jung yang melihat tindakan Jonathan di sebelah ruang interogasi itu hanya diam di tempatnya. Jenderal polisi muda itu menghentikan dua bawahannya yang ingin masuk ke ruang interogasi.


"Wanita iblis? Dia?" Tanya Jenderal Jung dalam hati.


Mendengar apa yang dikatakan Jonathan, Jenderal Jung berpikir keras. Dia merasa tidak mungkin. Bagaimana mungkin wanita secantik itu diberi julukan wanita iblis? Sungguh, Jenderal Jung tidak percaya.


Jonathan tentu saja tahu identitas Rihan, karena mereka sengaja diberi akses oleh Rihan untuk tahu identitasnya. Jonathan memang menempatkan beberapa bawahannya untuk mengawasi apa saja yang dilakukan Kim Yura, sehingga ketika melihat sikap acuh tak acuh Rihan dan Zant di bandara, Jonathan segera mencari identitas Rihan. Jonathan juga penasaran karena sangat terpesona pada pandangan pertama dengan Rihan.


Ketika mendapat akses setelah meretas sistem buatan yang Rihan buat untuk mengelabui musuh, Jonathan menemukan kematian tragis para organisasi bawah tanah yang pernah mengguncang dunia karena aksi kejam mereka.


Pantas saja, tidak terdengar lagi penemuan baru atau transaksi jual beli benda-benda ilegal oleh organisasi bawah tanah itu.


Jika mereka ditangkap semudah itu oleh para bawahan Rihan dan juga disiksa hingga mati mengenaskan, maka orang yang menangkap mereka pastilah sangat kejam. Ketika Jonathan ingin menelpon Kim Yura dan memberitahu identitas Rihan, dia selalu saja gagal. Ketika dia akan menelpon, selalu ada panggilan masuk yang membuatnya harus pergi mengurus suatu masalah.


"Jika dia benar-benar kejam seperti yang dikatakan, maka tidak heran dia tahu identitasku. Tapi, apa benar dia sekejam itu?" Jenderal Jung masih saja berbicara dalam hatinya.


Jenderal Jung asik dengan pikirannya, tanpa mempedulikan Kim Yura yang kepalanya sedang dipukul ke meja interogasi oleh Jonathan. Padahal seharusnya mereka tidak boleh membiarkan dua tersangka di dalam sana bertengkar, tetapi entah kenapa Jenderal Jung sedikit senang melihat Kim Yura diperlakuan seperti itu.


"Jenderal..."


"Ada apa?" Jenderal Jung tersadar dari lamunannya setelah dipanggil oleh wakilnya.


"Apa kita biarkan saja artis itu disiksa?"


"Pisahkan mereka!"


"Siap, Jenderal."


"Gadis itu benar-benar misterius. Dia baru saja muncul setelah sekian lama disembunyikan oleh ayahnya. Dia muncul beberapa tahun setelah kematian sepupunya. Dia membuatku sangat penasaran dengannya. Entah apa yang dia sembunyikan dibalik wajah cantik dan datar itu." Gumam Jenderal Jung dalam hati.


"Sa...kit... Jo... Kamu menyiksaku." Kim Yura meringis karena Jonathan menekan kuat kepalanya pada meja interogasi.


"Sakitmu tidak seberapa dengan semua milikku yang disita polisi. Semua milikku yang aku dapatkan dengan susah paya sejak dulu dengan taruhan nyawa. Semuanya diambil dariku karena kamu. Karena kebodohanmu. Aku akan membunuhmu hari ini!"


BRUK


"A...ku tidak ta...hu, dia anak Jhack Lesfingtone. Ya...ng ak...u ta...hu, dia gadis biasa dan ti...dak sekejam itu." Kim Yura memaksakan dirinya untuk bicara, karena Jonathan baru saja mengangkatnya, kemudian mencengkram kuat lehernya.


"Karena dia bukan orang bodoh yang akan membuka identitas aslinya begitu saja. Dia juga bukan j****g sepertimu!"


BRUK


Jonathan kemudian menghempaskan dengan kasar Kim Yura hingga menabrak tembok. Bertepatan dengan itu, wakil jenderal dan seorang polisi masuk dan mengamankan Jonathan. Sedangkan Kim Yura dibawa keluar untuk diobati.


...


"Nona, terima kasih untuk hari ini." Alex membuka suara, ketika mobil yang dia kendarai keluar dari Star Entertaiment. Alen juga mengangguk sependapat.


"Kalian sudah masuk dalam daftar keluarga. Sampai kapan kalian akan menganggapku atasan?" Balas Rihan yang fokus menatap layar iPad. Sesekali dia akan berhenti hanya untuk mengusap rambut hitam suaminya yang sedang manja di pangkuannya.


"Sampai kapanpun anda akan tetap menjadi atasan kami." Alen menjawab lalu menoleh ke belakang dan tersenyum pada Rihan.


"Saya setuju dengan Alen, Nona."


"Sudahlah. Terserah kalian," Rihan hanya bisa pasrah dengan tingkah kedua kakak merangkap asistennya itu.


"Mengerti saja mereka, My Queen. Jika aku di posisi mereka, aku juga akan sama seperti mereka. Dari bawahan kemudian berubah menjadi saudara seayah dan seibu, tentu agak canggung. Berbeda lagi dengan saudara seperjuangan," Zant berbicara setelah mengambil dan mengecup tangan Rihan yang mengelus kepalanya.

__ADS_1


"Hm."


"Halo... Permisi, apa ada orang?"


"Jangan aneh-aneh, Kak."


Alex dan Alen hanya terkekeh lucu. Keduanya merasa lucu karena Zant memasang telinganya kemudian berbicara, seakan perut istrinya sudah ada isinya. Zant hanya sedang ingin menggoda istrinya saja, karena melihat wajah cemberut Rihan.


"Jika diberi kesempatan punya anak, kamu ingin punya anak berapa?" Tanya Zant yang mulai mencium berulang-ulang perut istrinya yang tertutup pakaian formalnya.


"Entahlah. Semua tergantung seberapa beruntungnya kita." Rihan menjawab sambil menahan geli di perutnya.


"Bagaimana jika kita diberi anak sebanyak tim sepak bola?" Canda Zant membuat Alex dan Alen menahan senyum sekaligus malu karena pembicaraan pasangan suami istri yang tidak kenal tempat ini.


"Maka syukuri saja berkat Tuhan. Satu permintaanku, aku hanya ingin mengurus anak kita sendiri. Aku tidak ingin ada babysitter." Rihan berbicara dengan tegas.


"Aku juga sepemikiran, My Queen. Aku ingin merasakan menjadi orang tua seutuhnya. Lagipula, hartamu dan hartaku tidak akan habis meski kita tidak bekerja selama beberapa tahun."


"Hm."


"Bukankah mereka keterlaluan?" Bisik Alen pada Alex.


"Kenapa?" Alex berbicara tanpa suara yang ternyata dimengerti oleh Alen.


SRET


Pembatas antara kursi depan dan belakang tiba-tiba tertutup. Alex dan Alen kemudian saling menatap canggung. Terlebih Alen. Dia yakin sang majikan mendengar perkataannya sehingga pembatas akhirnya diturunkan.


"Kamu harus tahu, nona memiliki pendengaran yang baik meski kita hanya berbisik."


"Entah kenapa aku tiba-tiba lupa, hehehe... aku hanya senang, sekaligus ingin memiliki seseorang yang juga menyayangiku seperti nona."


"Ada aku sebagai kakakmu yang menyayangimu. Maaf karena kurang memperhatikanmu. Kamu tahu kita selalu sibuk. Tapi, sampai sejauh ini bukankah kita sama-sama menikmatinya? Sama-sama menikmati berada didekat nona. Belum lagi, sekarang nona sudah bahagia. Kakak yakin kamu sama seperti kakak yang ikut senang untuk nona."


"Ingat pesan kakak, Len. Jika ada seseorang yang kamu sukai, katakan pada kakak. Biarkan aku sebagai kakakmu, juga berperan sebagai orang tuamu akan melihatnya lebih dulu. Apa dia pantas untukmu atau tidak. Kakak hanya ingin kamu bahagia. Kamu mengerti maksud kakak, 'kan?"


"Aku tahu, Kak. Tenang saja. Aku juga ingin kakak melakukan hal yang sama padaku. Aku juga ingin kakak bahagia. Aku menyayangimu, Kak."


"Kakak juga menyayangimu,"


Keduanya saling melempar senyum dengan Alex yang fokus menyetir.


...


Pletak!


"Lain kali jangan melakukannya lagi di depan mereka. Kasihanilah para jomblo itu." Rihan berbicara setelah menyentil pelan dahi suaminya.


"Salah mereka sendiri, karena belum laku."


"Kamu ada-ada saja, Kak."


"Hehehe... karena tidak ada yang melihat kita, aku ingin mengisi dayaku sekarang dengan cara menyicil."


"Menyicil, maksudnya?"


"Dimulai dari perut." Setelah mengatakan itu, Zant mengangkat dengan semangat atasan formal yang Rihan kenakan hanya untuk menyusupkan tangannya ke dalam sana.


"Astaga, Kak! Mereka akan mendengar kita. Itu geli... berhenti."

__ADS_1


"Tidak. Aku harap kita segera sampai,"


Rihan hanya bisa menahan suaranya agar tidak didengar oleh Alex dan Alen.


"Keluarkan saja, My Queen. Mereka pasti mengerti,"


"Tidak."


"Tidak mau? Aku akan memaksamu mengeluarkannya."


Zant mulai melancarkan aksinya membuat Rihan hanya bisa memukul tangan suaminya itu yang bergerak ke sana kemari. Rihan juga tetap menahan suaranya. Zant tidak tinggal diam. Suami posesif Rihan itu semakin nekat, membuat suara Rihan akhirnya keluar juga.


Alex dan Alen hanya bisa saling pandang dan berusaha memasang wajah datar menyembunyikan wajah malu keduanya karena suara aneh yang mereka dengar.


Ketika sampai di Villa, Alex dan Alen keluar tanpa pamit. Keduanya tidak berani mengganggu dua sejoli di kursi penumpang belakang.


***


Malamnya, tepat pukul 7, Alex dan Alen keluar dari Villa tanpa pamit. Bagaimana mau pamit, Rihan dan Zant belum keluar sama sekali dari kamar sejak sore tadi. Alex hanya mengirim pesan bahwa dia dan Alen akan berkunjung ke rumah mantan paman dan bibinya.


Di kamar, Rihan menatap datar Zant dengan nafas terengah-engah karena Zant yang mengisi dayanya, sedangkan Rihan yang menderita kelelahan.


"Maafkan aku, My Queen. Aku tidak bisa berhenti karena kamu terlalu candu. Lagipula, ini tujuan kita datang ke sini. Hehehe..."


"Biarkan aku istirahat sebentar, Kak."


"Tidurlah, My Queen. Aku akan membangunkanmu. Terima kasih banyak. Love you."


CUP


"Hm."


"Alangkah baiknya segera ada isinya. Semoga saja," Harapan Zant sambil mengusap pelan, kemudian mencium berulang kali perut istrinya. Setelah itu, pria itu turun dari ranjang. Tidak lupa juga, Zant memberi kecupan di seluruh wajah istrinya. Rihan yang sudah terlelap tidak tahu apa yang Zant lakukan.


...


"Tidurmu nyenyak? Sini aku bantu membersihkan diri." Zant membuka suara setelah melihat Rihan yang membuka matanya dan merenggangkan otot tangannya. Pria itu sudah menunggu setengah jam sambil menatap wajah tenang istrinya yang terlelap.


"Lumayan. Aku bisa sendiri, Kak." Tolak Rihan ingin turun dari tempat tidur.


"Sudah menjadi tugasku karena membuatmu kelelahan. Jangan menolak, hum?" Ujar Zant tersenyum. Zant kemudian mengangkat istri kecilnya menuju kamar mandi sekaligus membantunya membersihkan diri. Pria itu tidak akan pernah lelah melakukan ini. Justru dia sangat senang bisa memanjakan istri tercintanya.


"Kemana kak Alex dan Alen?" Tanya Rihan setelah Zant menurunkannya dari gendongan pria itu ke kursi. Keduanya akan makan malam.


"Oh, Aku lupa memberitahumu. Alex mengirim pesan bahwa mereka akan berkunjung ke rumah mantan paman dan bibinya." Rihan hanya mengangguk kemudian menatap beberapa hidangan yang menggugah selera di depannya.


"Mau yang mana? Aku akan mengambilnya untukmu."


"Ini, ini, dan itu. Pesan atau masak sendiri?" Tanya Rihan sambil menatap dengan senyum tipis hidangan di depannya.


"Masak sendiri, My Queen. Ini khusus untukmu. Meski kalah jauh dengan buatanmu tentu saja."


"Ini enak, Kak. Terima kasih."


"Baguslah, kalau kamu suka. Aku akan sering memasak untukmu selama kita disini."


"Tidak perlu repot, Kak. Lagipula, aku sudah bisa makan sembarangan. Hanya perlu menghindari makanan yang mengakibatkan alergi saja."


"Tidak apa-apa, My Queen... ingat! Aku hanya ingin memanjakanmu."

__ADS_1


"Sekali lagi terima kasih, My King."


"Tidak perlu ada terima kasih di antara kita,"


__ADS_2