Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Melahirkan 2


__ADS_3

Di rumah sakit, Rihan masih menahan sakitnya. Ibu muda yang seharusnya siap untuk melahirkan, tapi dia menahannya karena ingin menunggu suami tercintanya.


"Aku akan menemanimu. Itu sakit. Please, jangan menahannya lagi!" Neo berbicara dengan lembut sekaligus khawatir karena Rihan belum menyiapkan diri untuk melahirkan.


Ruang operasi sudah disiapkan, tetapi Rihan belum ingin masuk. Rihan masih di ruang rawat.


"Aku akan menunggu suamiku. Akh... aku baik-baik saja. Shhhh..." Rihan mengepalkan tangannya menahan sakit.


"Kamu sudah kesakitan, Ri. Ayo! aku akan menemanimu di dalam. Zant sedang dalam perjalanan." Neo terus saja membujuk Rihan.


Semua orang sudah membujuk Rihan, tetapi Mommy Zanri itu masih keukeh dengan pendiriannya menunggu suaminya.


"Aku sudah menelpon Zant, dia sedang dalam perjalanan." Alex membuka suara sambil menatap khawatir pada Rihan.


"Zant sedang dalam perjalanan, jadi kamu juga harus siap-siap, Sayang." Mommy semakin khawatir.


"Kak Zant sudah berjanji akan menemaniku bersalin. Aku akan menunggunya! Aku baik-baik saja, Mom." Rihan menggeleng sambil memegangi perutnya.


Drettt


Drettt


Drettt


"Ini telepon dari Zant!" Alex memberitahu siapa yang menelponnya.


"Angkat!"


Alex mengangguk kemudian menekan ikon jawab, sekaligus menekan pengeras suara.


"Hal..."


BRAK


BRUK


BRUK


BOMM


Baru saja Alex akan mengatakan halo, terdengar suara keras di seberang sana. Jelas sekali itu suara benturan dua kendaraan. Yang artinya sedang terjadi kecelakaan besar.


Semua orang panik karena mereka juga mendengar suara keras itu. Pikiran buruk mulai memenuhi kepala semua orang.


"Aku akan mengecek situasinya!" Alex lalu mengambil iPadnya di atas meja dan membukanya. Pria itu ingin melihat cctv lokasi Zant saat ini.


"GLEDY!" Panggil Rihan cukup keras meski sedang kesakitan.


Baru kali ini gadis itu tidak tenang dalam bertindak. Kekhawatiran dan pikiran buruk memenuhi pikirannya. Dadanya tiba-tiba terasa nyeri. Air matanya bahkan sudah membasahi pipinya tanpa sadar.


"Saya di sini, Nona!"


"Katakan apa yang terjadi?" Rihan begitu gelisah di tempatnya.


Neo yang berada di sebelah Rihan, dengan telaten mengelap keringat yang terus saja keluar membasahi dahinya.


Rihan menegang di tempatnya. Melihat apa yang Gledy tunjukan pada mereka, jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Itu..."


Semua orang bisa melihat dengan jelas melalui layar hologram yang Gledy tampikan. Mereka bisa melihat mobil Zant yang ditabrak dari samping oleh sebuah mobil ugal-ugalan.


Karena benturan yang cukup keras, mobil Zant ikut terbalik dua kali. Keadaan mobil benar-benar hancur. Semua orang panik melihatnya. Jika mobil sehancur itu, apa kabar orang yang di dalamnya?


Rihan sudah meremas dadanya yang terasa sesak dan nyeri secara bersamaan. Belum lagi perutnya yang semakin sakit. Sakit batin dan fisik membuat Rihan benar-benar tersiksa. Rihan tidak pernah sesakit ini sebelumnya.

__ADS_1


"Saya akan ke tempat kejadian," Alex segera membuka suara memecah keheningan. Dia lalu bergegas keluar dengan cepat.


Nafas Rihan sudah naik turun. Semua orang khawatir melihatnya. Mommy Rosse dan Mommy Lily sudah menangis.


"Ayo ke ruang operasi!" Rihan tiba-tiba membuka suara setelah terdiam cukup lama.


Para orang tua dan anak muda di sana semakin khawatir. Apalagi wajah Rihan kali ini terlihat lebih datar dari ekspresinya selama menjadi Tuan Muda Rehhand. Auranya bahkan sangat mengerikan.


Mereka lebih baik melihat Rihan menangis atau marah, dari pada melihat ekspresi seperti ini. Jika Rihan sudah berekspresi seperti ini, tandanya dia benar-benar sakit. Sakit yang bahkan tidak bisa digambarkan lagi seperti apa rasanya.


"Kami semua menyayangimu. Tenangkan dirimu, agar baby Zanri juga baik-baik saja. Aku akan menemanimu!" Neo yang masih berdiri, menarik Rihan yang terduduk di brankar kedalam pelukannya.


"Aku tahu, tapi tidak perlu! Daddy Zanri akan datang menemani kami. Dia sudah berjanji akan datang!"


Mommy Rosse, Mommy Lily dan Mama Shintia sudah menangis dalam pelukan suami masing-masing. Alen, Beatrix dan Telly juga ikut menangis melihat Rihan yang seperti ini.


"Iya. Kita akan menunggu Zant di ruang operasi." Neo masih saja memeluk erat Rihan, membenamkan kepala Rihan di dadanya. Neo juga ikut sakit melihat orang yang ia cintai seperti ini.


Neo lalu memberi kode pada tim medis yang sudah siap membantu persalinan Rihan untuk segera ke ruang operasi.


Ada juga Dokter Galant yang sejak kehamilan Rihan, Zant memaksanya untuk mempelajari hal-hal berkaitan dengan ibu hamil, hingga persalinan.


Karena memiliki IQ di atas rata-rata, sehingga tidak sulit bagi Dokter Galant untuk menambah keahliannya dari dokter bedah dan penyakit dalam di tambah menjadi dokter kandungan.


Rihan lalu dibawa ke ruang operasi. Neo ikut bersama tim medis. Yang lainnya akan menunggu di luar.


Sampai di ruang operasi, Neo tetap setia menggenggam tangan Rihan dengan erat. Rihan sendiri hanya berekspresi datar. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tidak ada yang bisa menebaknya.


"Aku tahu kamu kuat, Ri. Kami semua menyayangimu. Mari berjuang untuk baby Zanri." Neo menguatkan Rihan yang hanya berekspresi datar. Sesekali Rihan akan mengerutkan kening karena sakit di perutnya.


Rihan tidak menjawab. Dia hanya menatap Neo sekilas, lalu beralih menatap para tim medis sambil mengelus lembut perutnya.


"Nona, semua sudah siap. Kita bisa mulai sekarang!" Dokter Galant memberitahu Rihan yang masih dengan ekspresi yang sama.


Sebelum menatap Dokter Galant, Rihan lebih dulu menatap ke arah pintu. Berharap suami posesifnya itu tiba-tiba muncul.


Lima menit Rihan menatap pintu, ternyata pintu itu sama sekali tidak bergerak untuk terbuka. Sorot mata Rihan yang semula datar, kini berubah sendu. Ia memegangi dadanya yang semakin sakit.


Rihan lalu menatap Dokter Galant dan mengangguk pertanda dia siap sekarang. Meski tanpa suaminya.


"Aku akan berjuang untuk baby Zanri. Aku akan berjuang demi anak kita. Kami menunggumu, My King." Gumam Rihan dalam hati sebelum menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan kuat berusaha mendorong keluar penghuni perutnya.


...


Neo dengan setia menjalankan tugasnya menjadi suami dadakan Rihan. Neo bahkan tanpa sadar sudah mencium kening Rihan yang terlihat kelelahan berusaha mendorong keluar baby Zanri.


"Dorong lagi, Nona. Kepala baby Zanri sudah kelihatan." Seorang dokter wanita memberi instruksi dengan semangat.


Meski Dokter Galant ada di sana, tapi Zant sejak awal sudah melarang keras Dokter muda itu melihat langsung persalinan istrinya. Dokter Galant hanya diminta membantu dokter wanita yang sudah Zant siapkan sejak dulu.


Dokter Galant hanya bisa mengutuk dalam hati, karena marah pada suami posesif majikannya itu. Jika pada akhirnya dia hanya berdiri tanpa melihat persalinan secara langsung, apa gunanya dia bekerja keras menjadi dokter kandungan?


"Semangat, Ri... sebentar lagi baby Zanri akan keluar." Neo tersenyum tipis sambil membelai lembut pucuk kepala Rihan.


Setelah dorongan kuat, akhirnya terdengar suara bayi dalam ruangan itu. Para tim medis tersenyum senang.


"Ini tuan muda, Nona." Dokter Galant membuka suara dengan senang. Pria itu yang memotong tali pusat baby Zanri, kemudian menggendongnya.


"Sepertinya aku melahirkan anak kembar," Rihan membuka suara sambil menatap sekilas Neo di sampingnya.


"Huh?" Dokter wanita itu terkejut dan segera melakukan tugasnya lagi.


Tangisan bayi kedua juga terdengar. Semua orang senang.


"Ini tuan muda kedua, Nona!" Dokter wanita itu tersenyum senang dan menghampiri Rihan dengan bayi laki-laki di gendongannya.

__ADS_1


"Andai kamu di sini, pasti kamu akan sangat senang melihat mereka, My King." Monolog Rihan dalam hati dan mengelus pelan pipi tembem anak pertamanya.


BRAK


Suara pintu operasi dibuka dengan kuat mengalihkan perhatian semua orang.


Rihan bahkan meneteskan air matanya melihat kemunculan orang yang dia tunggu sedari tadi. Tapi Rihan kaget, ternyata wajah suaminya itu dipenuhi dengan darah.


Lebih tepatnya darah yang mengalir dari kepalanya. Bukan hanya kepala. Ada juga bagian tangan yang terlihat penuh luka. Sepertinya suaminya ini memaksakan diri datang kemari meski sedang terluka parah.


"Maafkan aku, My Queen. Maaf karena terlambat! Maafkan aku!" Zant berbicara dengan lirih.


Pria itu tidak memusingkan keadaannya sendiri yang penuh luka. Ada seorang suster yang ingin membersihkan darah di dahinya, tetapi ditepisnya. Zant tidak ingin disentuh oleh siapapun. Zant hanya mengambil tisu dan membersihkan wajahnya sendiri.


"Terima kasih sudah datang, My King."


"Maafkan Daddy baby, maa... ini..." Suara Zant tertahan karena baru sadar jika ada dua bayi yang sedang digendong oleh Dokter Galant dan Dokter wanita bernama Ani itu.


"Kita memiliki anak kembar, My King." Rihan tersenyum tipis melihat wajah berbinar suaminya.


"Terima kasih. Terima kasih, sudah memberiku dua malaikat ini. Aku mencintaimu My Queen. Maaf, aku belum bisa menyentuhmu. Aku begitu kotor. Ada masalah kecil tadi." Zant masih dengan senyum senang menatap penuh cinta istrinya.


"Aku tahu. Tapi aku tidak masalah disentuh olehmu. Sekarang!"


Zant hanya terkekeh dan menghampiri Rihan, kemudian mencium kening istri tercintanya itu.


"Untuk kedua malaikatku nanti saja. Tubuhku banyak sekali kumannya."


"Akh..." Rihan tiba-tiba meringis membuat semua orang kembali panik.


"Ada apa, My Queen?" Zant mulai panik.


"Sepertinya ini yang terakhir, My King." Rihan tersenyum tipis menatap suaminya.


"Serius? Hahaha... terima kasih sudah menunggu daddy, Baby." Zant bertambah senang sekarang. Pria itu sudah mengecup berulang kali kening istrinya.


Dokter Ani lalu memberikan anak kedua Rihan dan Zant pada Neo, kemudian beralih melakukan tugasnya.


Neo sedari tadi hanya diam melihat interaksi dua sejoli di depannya. Meski cemburu, tapi Neo ikut senang karena orang yang dia cintai sudah kembali seperti semula. Neo hanya tersenyum tipis dan kembali menatap bayi mungil di gendongannya.


"Kamu istriku yang hebat! Terima kasih, My Queen. I love you. Ayo dorong lagi, My Queen."


Kali ini Rihan tidak terlalu kesusahan karena kekuatannya sudah kembali. Hanya perlu beberapa dorongan, anak terakhir mereka akhirnya hadir juga di dunia ini.


"Ini tuan putri, Nona, Tuan." Dokter wanita itu segera memberitahu jenis kelamin bayi mungil di gendongannya


Lengkaplah kebahagiaan Rihan dan Zant.


Keduanya saling menatap dan tersenyum penuh cinta. Di sela tatapan intens keduanya, Rihan tiba-tiba mengerutkan kening dan mencengkram kuat lengan Zant. Nyeri di dadanya kembali menyerang.


"My King, aku..."


"My Queen! Hei... jangan menakutiku! Jangan tinggalkan aku!" Zant panik karena istrinya sudah menutup matanya.


"Nona hanya tidur, Tuan. Nona pasti kelelahan."


"Ah... Syukurlah! Terima kasih, My Queen. Tidur yang nyenyak." Zant bernafas legah, lalu mencium kening istrinya lama.


Neo di belakangnya hanya menggeleng dan tersenyum tipis.


Baru saja Zant akan berbalik melihat anak bungsunya, kepalanya tiba-tiba pusing dan akhirnya tubuhnya juga ambruk.


BRUK


***

__ADS_1


3 Anak cukup. 😂😂😂


__ADS_2