Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Tidur Bersama Lagi


__ADS_3

Tap!


Rihan baru saja menutup laptop setelah selesai membaca email yang dikirimkan oleh Dokter Lio yang sekarang menjabat sebagai kepala rumah sakit setia.


Merenggang otot tangannya, Rihan kemudian memindahkan laptop ke atas meja. Rihan mengalihkan pandangan ke sampingnya untuk melihat Neo yang ternyata sudah tertidur dengan posisi kepala menengadah ke atas sedangkan kedua tangan terlipat di dada.


"Baru saja setengah jam aku membaca email, cepat sekali tidurnya." Gumam Rihan dalam hati setelah menatap jam dinding kamarnya.


Rihan mengingat kejadian beberapa saat lalu dimana Neo memeluknya. Untung saja dia menahan dadanya tadi dengan tangan sehingga penyamarannya tidak terbongkar. Jika saja Rihan tidak cepat, Neo pasti akan menyadarinya.


Menghela nafasnya sebentar, Rihan kemudian menuju kamar mandi untuk memasang penutup dadanya agar penyamarannya tetap aman selama tidur dengan Neo.


Penutup dada Rihan sudah dibuat khusus sehingga pemakainya tidak merasa sesak dalam beraktifitas. Tidak lupa juga, Rihan mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.


Rihan biasanya ketika akan tidur, atau tidak ada kegiatan diluar kamarnya, dia akan melepas penutup dadanya. Tadinya dia berpikir tidak ada yang akan datang ke kamarnya sehingga dia memutuskan untuk tidak memakai penutup dadanya. Sayangnya Neo tiba-tiba sudah ada di kamarnya ketika dia keluar dari kamar mandi.


Setelah selesai dengan urusannya, Rihan keluar dari kamar mandi dan menuju sofa tempat Neo berada dan berniat membangunkannya.


"Kak, ayo tidur."


"Hmm."


"Kak..."


"Aku bangun. Kamu sudah selesai?" Tanya Neo mengucek mata kirinya pelan.


"Hmm."


"Mau tidur di sini saja, atau di kamarku?" Tanya Neo menatap tempat tidur Rihan. Rihan juga menatap tempat tidurnya.


"Sebaiknya di kamar kak Neo saja." Putus Rihan pelan.


Alasannya karena tempat tidur Rihan hanya cukup untuk dua orang, dan Rihan tidak mau kesempatan Neo semakin besar untuk memeluknya. Jika di kamar Neo, ukuran tempat tidurnya besar jadi Rihan punya kesempatan untuk menjaga jarak nanti setelah Neo sudah tertidur.


"Ya, sudah. Ayo!"


"Padahal, ukuran itu sangat pas. Tapi sudahlah." Sambung Neo dalam hati.


Keduanya menuju kamar Neo.


"Kak Neo tidak mengganti pakaian?" Tanya Rihan karena Neo masih memakai pakaian santai. Biasanya pria itu akan memakai piyama untuk tidur.


"Aku akan menggantinya sebentar. Tunggu aku!"


Hanya beberapa menit, Neo sudah kembali dengan piyama berwarna biru dongker. Rihan menatapnya mengerutkan kening karena melihat Neo yang tersenyum setelah keluar dari walk in closet.

__ADS_1


"Ada apa dengan ekspresimu, Kak?" Tanya Rihan yang melihat Neo berjalan menghampirinya. Lebih tepatnya menuju tempat tidur.


"Tidak ada, hanya saja aku merasa lucu karena piyama tidur kita sama. Sudah seperti piyama pasangan," Jawab Neo lalu terkekeh pelan. Pria itu kemudian naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Rihan.


"Heh... Kak Neo saja yang mengikutiku memakai piyama yang sama," Cibir Rihan lalu berbalik membelakangi Neo.


"Aku tidak mengikutimu. Memang hanya piyama ini yang tersedia dalam lemari,"


Padahal sebenarnya banyak piyama di dalam lemarinya. Hanya saja mengingat piyama Rihan, Neo memutuskan memakai piyama yang sama. Dasar Neo.


"Sudahlah, jangan dibahas. Mari kita tidur. Selamat malam." Neo merapatkan tubuhnya pada Rihan kemudian memeluknya erat. Pria itu terus tersenyum. Dia akhirnya bisa tidur nyenyak.


Rihan hanya bisa menghela nafas melirik pada tangan di perutnya. Jantungnya kembali berdebar. Belum lagi nafas hangat di tengkuknya.


"Aku harus menunggu hingga kak Neo tidur," Gumam Rihan dalam hati lalu memejamkan matanya tetapi tidak tidur.


Hampir setengah jam, Rihan membuka matanya. Dapat dia rasakan, pelukan di perutnya sedikit longgar tandanya Neo sudah terlelap. Rihan dengan pelan melepas tangan di perutnya. Setelah itu dia turun dari tempat tidur. Karena posisi Rihan tadi di bagian ujung tempat tidur, sehingga dia harus berpindah tempat.


Rihan memutuskan tidur di bagian belakang Neo yang luas. Rihan kemudian meletakkan bantal di bagian tengah sebagai pembatas agar Neo tidak masuk ke daerah kekuasaannya. Rihan melakukan ini karena dia tidak akan bisa tidur jika jantungnya semakin berdebar dalam pelukan Neo.


Merasa semuanya aman, Rihan berbalik dan membelakangi Neo kemudian memejamkan mata dan terlelap.


Tengah malam, kerutan di dahi Neo terlihat jelas. Pria itu merasa ada yang hilang. Dia lalu membuka matanya dan tidak mendapati Rihan di depannya.


"Apa dia sudah kembali ke kamarnya?" Neo menghela nafas kecewa.


"Maaf, Rei. Aku tidak suka ada pembatas di sini," Gumam Neo lalu mengambil bantal itu dan membuangnya ke lantai. Neo kemudian kembali berbaring dan memeluk Rihan lebih erat dari sebelumnya.


"Sepertinya pembatas itu harus disingkirkan mulai besok." Gumam Neo dalam hati lalu memejamkan matanya dan terlelap dengan tersenyum tipis.


Pukul 5 pagi, Rihan membuka matanya. Dia kembali menghela nafas karena tangan Neo yang masih melingkar di perutnya. Dengan pelan Rihan mengangkat tangan Neo. Sayangnya usahanya tidak berhasil. Justru pelukan itu semakin erat.


"Masih terlalu pagi untuk bangun. Tidur lagi," Suara serak Neo di tengkuknya membuat Rihan merinding sekaligus berdebar.


"Posisi ini sangat tidak baik untuk kesehatan jantung," Tutur Rihan dalam hati lalu kembali memejamkan mata. Berusaha untuk tidur, tapi semua itu sia-sia.


"Kak?"


"Hmm."


"Aku harus ke toilet."


"Itu hanya alasanmu."


"Aku serius, Kak."

__ADS_1


"Sebentar lagi,"


Rihan hanya bisa menghela nafas dan menunggu sebentar lagi yang Neo maksud.


"Ini sudah hampir jam 6, Kak. Ayo bangun!"


Hening.


"Jangan berpura-pura tidak mendengarku. Aku tahu kak Neo sudah bangun,"


"Kamu sangat tidak peka, Rei." Neo melepas pelukannya dengan lesuh.


"Terserah." Rihan kemudian bangun dan keluar dari kamar Neo.


Ketika akan membuka pintu, suara Neo membuat langkah Rihan terhenti.


"Sarapanku sama seperti kemarin. Aku akan bersiap." Rihan tidak membalas. Dia hanya melirik Neo sebentar kemudian membuka pintu dan keluar.


...


Semua orang sudah siap di meja makan. Phiranita sejak bangun hanya mengurung diri di kamar tidak ingin keluar. Akan tetapi atas bujukan Rihan, gadis itu akhirnya keluar juga. Phiranita masih terpukul atas kehilangan sang mami. Padahal mereka baru saja bertemu setelah sekian tahun terpisah. Rihan dengan sabar memberinya pengertian sehingga gadis itu mau keluar dan mereka sarapan bersama.


"Rei, setelah sarapan ikut paman sebentar. Ada yang harus paman bicarakan denganmu," Suara Tuan Evan di sela makan mereka.


"Baik, Paman."


"Apa yang ingin papi bicarakan? Apa tentang perjodohan Ira?" Batin Neo menebak. Selera makannya tiba-tiba hilang.


"Aku sudah bersusah payah memasak. Sebaiknya habiskan." Bisik Rihan yang duduk di samping Neo. Neo tidak membalas. Pria itu dengan terpaksa menghabiskan makanan di piringnya.


Setelah sarapan, Rihan bersama Tuan Evan menuju ruang kerja pria paru baya itu. Neo yang penasaran ingin ikut secara diam-diam.


"Ada yang harus saya bicarakan dengan anda. Ini berkaitan dengan penculikan nona Ira." Suara Alex di belakang Neo menghentikan niat Neo yang ingin menguping.


Neo hanya bisa mengumpat dalam hati dan dengan terpaksa mengikuti Alex. Untuk Phiranita sendiri, gadis itu sudah menuju kamarnya. Dia tidak ingin merepotkan orang lain sehingga dengan mandiri menuju kamarnya.


***


"Aku minta maaf karena masuk dalam jebakan mereka sehingga gadis itu berhasil diselamatkan," Lapor Rine pada pria di depannya.


"Semua rencanaku selalu saja digagalkan oleh bajingan itu," Sambung Rine sambil menatap pria di depannya yang dengan santainya mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.


"Kesempatan terakhir untukmu. Jika gagal lagi, katakan selamat tinggal untuk hidupmu. Jangan berpikir karena hubungan kita, sehingga aku memaafkanmu. Sama sekali tidak." Suara dingin itu berhasil membuat Rine merinding.


"Baik. Aku pergi!"

__ADS_1


Setelah kepergian Rine, pria itu lalu menatap keluar jendela apartemennya.


"Apa yang kalian berikan padaku, aku akan membalas dengan hal yang sama." Gumam pria itu pelan.


__ADS_2