Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pria Bodoh


__ADS_3

Sudah pukul 8 malam, Rihan masih ada di ruang kerjanya. Rihan melewatkan makan malam bersama yang lainnya. Dia tidak memiliki nafsu makan saat ini. Rihan sibuk membaca salinan data diri Elle yang Brand berikan waktu itu.


Di sana tertulis, Elle hanyalah anak yatim piatu asal Swiss yang karena memiliki IQ tinggi, bisa mendapat beasiswa untuk bersekolah di tempat yang sama dengan Neo, Brand dan Logan.


Awal pertemuan Elle dan ketiga pria tampan itu di saat mobil Neo hampir saja menabrak Elle yang akan menyeberang jalan. Di situlah mereka berkenalan dan ternyata sekolah di tempat yang sama sehingga mereka menjadi sahabat.


Membaca data diri Elle, Rihan tentunya sangat tidak puas karena itu hanya identitas umumnya saja. Meski awalnya Rihan tidak menemukan nama asli Elle, tetapi berkat Brand, dia akhirnya tahu.


"Aku penasaran, siapa orang kuat dibalik wanita ini." Gumam Rihan dan menutup kembali berkas yang dia baca.


Selang beberapa menit Rihan larut dalam pikirannya, tiba-tiba gadis itu menyeringai dan menekan sesuatu pada jam tangannya.


"Temui aku sekarang!"


Hanya butuh beberapa detik, seseorang muncul di samping Rihan. Entah lewat mana orang itu datang.


"Bawahan siap menerima perintah!"


"Aku pernah memintamu melakukan sesuatu, 'kan?" Tanya Rihan tanpa menatap orang di sampingnya.


"Tuan meminta saya mempelajari virus yang dipakai oleh keamanan Chi Corporation untuk menyerang anda waktu itu."


"Hm. Lalu kamu sudah mempelajarinya?" Tanya Rihan menatap orang di sampingnya yang tidak lain adalah Gledy.


"Sudah, Tuan."


"Itu bagus! Karena aku sedang bosan, mari sedikit bermain." Rihan menyeringai kemudian berdiri dan menuju ruang kontrol mansion yang terdapat dalam ruang kerjanya.


"Baik, Tuan."


Gledy kemudian memimpin jalan menuju ruang kontrol yang dimaksud. Di sana terdapat layar lebar yang menampilkan semua sisi mansion tanpa terkecuali. Mereka bisa melihat aktivitas semua orang di dalam maupun di luar mansion.


"Tunjukan padaku apa yang kamu dapatkan!" Perintah Rihan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor di depannya.


"Baik, Tuan." Gledy lalu berpindah tempat lima langkah dari Rihan ke kanan dan menekan sebuah tombol sehingga sebuah layar hologram berukuran 50x50 cm muncul di depannya. Gledy lalu menekan beberapa ikon dan muncul tulisan-tulisan dan angka-angka di layar hologram itu. Ada juga penjelasannya.


"Cukup sulit juga kombinasi yang mereka ciptakan." Komentar Rihan menatap layar hologram.


"Aku ingin sedikit bermain lagi dengan sistem keamanan Chi Corporation. Bantu aku, Gledy!" Ujar Rihan dan mulai duduk kemudian membuka laci meja mengambil notebook miliknya.


"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Gledy.


"Bantu aku menahan serangan balasan dari mereka nanti. Malam ini aku akan memaksa masuk sistem keamanan mereka." Rihan lalu menatap sekilas layar monitor di atasnya yang menampilkan bagian taman mansion dimana Neo dan Elle berada.


Melihat sepasang kekasih itu sebentar, Rihan beralih pada layar notebook di depannya yang menyala. Rihan kemudian dengan sepuluh jari sekaligus, mengoperasikan notebooknya untuk menembus sistem keamanan Chi Corporation.


Sekitar 20 menit berlalu, layar notebook kini menampilkan warna dasar hitam, dengan tulisan hijau yang bergerak naik ke atas. Rihan berhenti kemudian menatap monitor notebook dan menyeringai.


"Mari bermain!" Gumamnya dan menekan enter.


Setelah itu, Rihan bersandar pada kursi dengan tangan terlipat di dada dan memperhatikan layar monitor di atasnya untuk mencari keberadaan Logan. Ternyata pria itu sedang membaca berkas di sofa kamarnya.


"Asisten yang baik. Bosnya bersenang-senang, bawahannya lembur. Tenang saja, Kak. Aku akan membuat bosmu itu lembur bersamamu." Gumam Rihan dan terus menatap Logan hingga dua menit kemudian, terlihat Logan menjawab telepon.

__ADS_1


Rihan terus menatap ekspresi Logan yang awalnya terlihat kesal, kini berubah menjadi panik. Sepertinya itu panggilan masuk dari keamanan kantor pusat Chi Corporation. Rihan hanya bisa menyeringai dan terus menatap Logan yang terlihat berlari keluar. Sudah pasti pria itu mencari Neo.


...


Di taman mansion, Neo dan Elle sedang melepas rindu dengan bercerita apa saja yang sudah mereka lewati selama beberapa tahun ini berpisah. Hingga sampai pada adegan Elle akan mencium Neo, teriakan Logan berhasil menghentikan niat gadis penyihir yang Brand maksud itu.


"Ada apa?" Tanya Neo mengerutkan kening karena Logan yang terlihat mengatur nafas.


"Sistem keamanan di kantor pusat dibobol. Kali ini dia menyerang dengan sangat cepat sehingga hampir semua data perusahaan berhasil bocor. Orang-orang kita tidak bisa menahannya. Mereka sedang berusaha menyerang balik, tapi serangan itu tidak menemukan target yang tepat. Kamu harus melakukan sesuatu." Logan berbicara dengan tergesah-gesah.


"Apa? Bagaimana bisa? Ayo pergi!" Syok Neo dan berdiri meninggalkan Elle tanpa pamit.


"Apa dia sudah bertindak sekarang? Bukankah rencana itu masih lama? Aku harus bertanya padanya, siapa tahu aku bisa membantunya dari sini." Pikir Elle dalam hati.


Wanita itu berpikir bahwa penyerangan sistem keamanan Chi Corporation didalangi oleh Tuannya.


Elle lalu mengambil ponsel berniat menghubungi Tuan yang dia maksud. Sayangnya nomor itu tidak bisa dihubungi.


"Tuan mungkin sedang sibuk."


...


"Bagaimana, Gledy?" Tanya Rihan melirik Gledy di sampingnya yang sibuk mengoperasikan layar hologram di depannya.


"Semua aman, Tuan."


"Itu bagus. Pertahankan, karena sebentar lagi akan ada yang menerobos masuk." Rihan beralih menatap monitor besar di depannya dimana Neo dan Logan terlihat tegesah-gesah masuk ke kamar Logan.


"Tahan sebentar, Gledy. Kita akan mendapatkannya sedikit lagi," Rihan kembali memainkan jari-jari tangannya yang bergerak kesana kemari di atas keyboard. Rihan terus menatap layar notebook yang menampilkan sesuatu yang dia download dan sedang dalam proses. Hasil download baru 50%.


"Mereka terus mengganti alamat ip agar bisa menyerang dan mencari keberadaan anda, Tuan." Lapor Gledy sambil tangannya terus bergerak lincah di layar hologram.


"Kamu tahu apa yang harus dilakukan," Balas Rihan tenang.


Rihan fokus menatap layar notebook yang menampilkan hasil mendownloadnya baru 70%. Sedangkan di kamar Logan, kedua pria itu sibuk dengan laptop mereka masing-masing.


"Kamu sudah menemukan alamat ip yang dia pakai?" Tanya Neo pada Logan.


"Bagaimana bisa menemukannya, sedangkan aku terus-terusan diserang. Aku hanya takut data yang mereka dapatkan bisa menghancurkan perusahaan." Logan menjawab dengan tangan terus mengotak-atik keyboard laptop.


"Aku sedang berusaha menembus kontrol utamanya. Kamu hanya perlu mengulur waktu." Jawab Neo dan diangguki oleh Logan.


Kembali pada Rihan, layar notebooknya sudah tidak lagi mendownload. Sepertinya sudah selesai. Rihan lalu membuka data Chi Corporation yang dicuri tadi. Setelah dilihat, ternyata tidak ada yang aneh.


Itu hanya data-data rahasia perusahan yang seharusnya tidak bocor atau tidak disalahgunakan oleh orang lain karena akan berdampak buruk bagi perusahan. Rihan sendiri tidak mempedulikan itu. Fokus Rihan saat ini adalah mencari lawan bisnis Neo yang mengacaukan ulang tahun kedua orang tuanya waktu itu.


Dari semua kontrak kerja sama Chi Corporation dan perusahaan lain yang Rihan baca dalam daftar rahasia perusahan, ternyata semua perusahaan itu bekerja dengan R.A Group juga. Itu berarti tidak ada masalah. Rihan terus membuka dan mencari, hingga dia menemukan satu nama perusahaan yang di black list oleh Chi Corporation.


"Cognizant Technology? terdengar tidak asing," Gumam Rihan sambil berpikir.


Rihan menoleh menatap Gledy yang masih sibuk menahan serangan dari Logan dan Neo.


"Sepertinya cukup, Gledy! Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau. Kamu boleh berhenti, tapi jangan buat mereka berhenti. Biarkan mereka begadang malam ini. Aku juga ingin tidur sendiri," Rihan kemudian menutup notebook yang dipakai.

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


Rihan merenggangkan otot tangannya dan berdiri kemudian meninggalkan ruangan itu. Gledy dibiarkan di sana. Robot yang menyerupainya itu bisa kembali ke tempatnya sendiri.


***


Pagi hari, Rihan bangun dan tidak mendapati seseorang di sampingnya. Itu berarti dia lembur hingga pagi. Rihan senang untuk itu. Rihan lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah, pandangan Rihan teralihkan oleh Neo yang baru masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai serta wajah lelah yang terlihat jelas. Tanpa sadar Rihan tersenyum tipis.


"Bagus juga melihatnya tersiksa seperti ini," Monolog Rihan dalam hati lalu menuju cermin dan menatap pantulan dirinya di sana tanpa mempedulikan Neo yang menatapnya sayu.


"Rei!"


"Hm."


"Bisa bantu aku sebentar?" Neo berbicara sangat pelan. Rihan hanya menatap Neo melalui pantulan cermin dengan datar.


"Temani aku tidur 5 menit saja. Setelah aku terlelap kamu boleh pergi. Aku benar-benar lelah," Sambung Neo yang kini sudah di belakang Rihan.


"Aku sibuk!" Balas Rihan datar dan segera berbalik dan menghindari Neo yang hendak menahan tangannya.


"Hei..." Panggil Neo pelan.


"Sebaiknya kak Neo ke kamar Elle saja. Minta dia menemanimu. Aku sedang sibuk. Waktuku tidak banyak," Tolak Rihan setelah membuang handuk bekas pakainya tadi ke tempat pembuangan.


"Tapi... Baiklah. Aku akan memintanya menemaniku di sini." Ujar Neo dan ingin mengambil ponsel dan menelpon Elle.


"Aku menyuruhmu ke kamarnya. Aku tidak ingin kamarku dimasuki orang asing. Kamu orang terakhir yang aku ijinkan masuk ke sini. Setidaknya hargailah kepercayaanku," Rihan berbicara dengan datar sebelum masuk ke walk in closet.


"Maaf," Gumam Neo pelan. Pria itu menunduk sedih.


10 menit Rihan baru keluar dari walk in closet dengan pakaian santai. Melewati tempat tidur, Rihan mengerutkan kening, karena melihat Neo yang tertidur di sana.


"Dia tidak jadi ke kamar Elle?" Gumam Rihan menatap Neo sekilas dan mengambil ponselnya di atas nakas samping tempat tidur.


Ketika akan mengambil ponselnya, mata Rihan tidak sengaja melihat ke arah laci yang terbuka. Karena penasaran, Rihan membukanya. Seketika dia syok dan segera menelpon Dokter Galant.


"Kamu gila? Kamu bisa membunuh dirimu sendiri," Rihan tiba-tiba panik setelah menelpon Dokter Galant.


Bagaimana tidak panik, Rihan menemukan kotak obat tidurnya, ternyata sudah kosong. Itu berarti Neo sudah meminumnya sekaligus. Padahal obat tidur milik Rihan itu obat khusus, sehingga hanya satu butir, itu sudah cukup untuk penderita insomnia.


"Aku menyuruhmu ke kamarnya, bukan tidur sendiri. Pria bodoh!" Kesal Rihan dan menatap Neo khawatir karena Neo terlihat kesulitan bernafas.


Yang paling buruk dari overdosis obat tidur ini adalah berhentinya aliran darah dari jantung ke otak yang dapat menyebabkan kematian.


.


.


.


Mari berdoa bersama, semoga Neo baik-baik saja. 😊

__ADS_1


__ADS_2