Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Menemukan Ruang Rahasia


__ADS_3

"Tuan besar baik-baik saja. Terlambat sedikit saja, akan berakibat fatal. Untuk nyonya..." Perkataan Dokter terhenti karena ragu untuk mengatakan hal ini.


"Katakan dengan jelas!" Neo berusaha menahan emosinya. Pikirannya saat ini sedang berkecamuk. Bagaimana bisa semuanya terjadi begitu cepat dan terjadi didekatnya tanpa dia tahu.


"Awalnya detak jantung nyonya kembali normal karena tindakan CPR yang dilakukan. Sayangnya, karena racun yang mungkin sudah menyatuh dengan tubuh, sehingga nyonya tidak bisa lagi diselamatkan.


Cairan infusnya terkandung racun mematikan yang sengaja disuntikkan. Sepertinya mereka berniat menyuntikkan racun itu juga pada tuan besar, tetapi gagal. Kami menemukan jarum ini tergeletak di bawah brankar Tuan besar." Dokter menjelaskan takut-takut. Tidak lupa juga, dokter itu memberikan jarum suntik berisi cairan berwarna hijau itu pada Logan.


Neo yang mendengarnya merasakan dunianya runtuh seketika. Kemarin dia baru saja bercerita dengan maminya. Maminya juga tertawa senang. Mereka terlihat sangat bahagia saat itu. Tapi kenapa hal ini harus terjadi?


"Sudah kukatakan untuk berbicara dengan jelas 'kan?" Nada suara Neo sangat pelan. Dia seperti kehilangan semangat hidupnya.


"Maafkan kami, Tuan Muda."


Neo dengan pelan menuju brankar maminya. Dia hanya menatap nanar tubuh wanita yang melahirkannya itu. Tubuh itu terbujur kaku dan pucat. Neo tidak tahu harus berkata apa. Tanpa sadar cairan bening itu mengalir membasahi pipinya. Dia menyesali semua yang sudah terjadi.


"Urus pemakaman mami, Gan." Perintah Neo datar.


Neo berbalik dan keluar dari ruangan itu. Entah pergi kemana pria itu. Neo hanya tidak ingin melihat mayat maminya lama-lama. Dia tidak mau ruangan itu hancur karena kemarahannya.


"Tenangkan kak Neo! Mayat bibi aku yang urus." Rihan datar lalu memberikan isyarat pada Logan.


"Kamu yakin?" Tanya Logan.


"Hmm. Pergilah, Kak!"


"Maaf sudah merepotkanmu."


"Kalian boleh keluar dari ruangan ini," Perintah Rihan pada para dokter dan suster di sana setelah kepergian Logan. Mereka kemudian dengan patuh keluar dari sana.


Melihat tidak ada lagi orang lain di sana selain Rihan dan Alex, bersama kedua orang tua Neo. Rihan kemudian menekan jam tangannya. Setelah itu keluar jarum kecil di sana. Mengambilnya, Rihan membuka kancing baju mayat ibu Neo bagian dada lalu menusuk jarum itu di sana.


Setelah dirasa jarum tertusuk tepat di bagian jantung, Rihan lalu mengontrol jam tangannya hingga terdengar suara Gledy.


...*Mode x-ray aktif!*...

__ADS_1


Dengan tenang, Rihan menatap sekujur tubuh ibu Neo mulai dari kepala hingga kaki. Dapat Rihan lihat melalui lensa yang dia pakai, sesuatu berwarna hijau diantara warna hitam, yaitu tubuh wanita paru baya itu dan putih yaitu bagian tulang. Warna hijau itu terlihat bergerak di bagian jantung. Rihan bisa menduga jika itu racun yang disuntikkan tadi.


"Periksa jenis racun ini. Waktumu tidak banyak, Lex. Aku ingin hasilnya secepat mungkin." Rihan memberikan jarum suntik berisi cairan hijau di dalamnya pada Alex. Untung Logan tidak membawanya sehingga Rihan bisa meminta orang-orangnya untuk meneliti racun itu.


"Baik, Tuan."


"Teteskan sedikit saja di botol itu untuk kamu bawa. Akan mencurigakan jika kamu membawa jarum itu langsung." Alex mengangguk dan mengambil botol pemberian Rihan dan menyuntikkan beberapa tetes saja ke dalam botol untuk diteliti.


"Kamu bisa menebak racun apa itu, Gledy?" Tanya Rihan siapa tahu otak pintarnya ini tahu.


...*Maaf, Tuan! Itu seperti sejenis racun baru karena saya baru melihatnya. Menurut saya itu hasil campuran beberapa racun mematikan.*...


"Baiklah. Sudah cukup."


"Lex?"


"Saya, Tuan."


"Kamu bisa mencari mayat lain yang mirip untuk menggantikan mayat ini?" Rihan terus menatap mayat di depannya.


"Hmm. Aku yakin ini bisa diatasi,"


"Baik, Tuan. Saya akan menyuruh pengawal bayangan menyiapkannya. Saya akan segera mengurus racun ini."


"Hmm. Lakukan secepatnya dan tanpa ada yang tahu."


"Baik, Tuan. Saya pamit,"


Setelah kepergian Alex, Rihan kini menatap sendu mayat ibu Neo.


"Bagaimana bisa bibi mati begitu saja? padahal aku sudah berusaha mendatangkan dokter hebat untuk mengoperasi bibi, bahkan mendonorkan darahku untuk bibi. Aku tidak ingin apa yang aku lakukan sia-sia. Semoga saja Tuhan membantuku," Batin Rihan sambil mengelus pucuk kepala ibu Neo.


"Aku penasaran ini ulah siapa hingga semuanya terjadi begitu cepat. Bagaimana caranya dia melakukan semuanya tanpa kak Neo sadar?" Rihan berusaha keras memikirkan kejadian yang sebenarnya terjadi.


"Dia hanya menebar obat bius kedalam ruanganku bersama Alex dan kak Logan. Sedangkan di ruangan ini... ketika kita masuk tidak tercium obat bius seperti di ruangan sebelah. Tapi, kak Neo sudah terbius. Kalau begitu, bagaimana caranya? Lewat mana juga dia keluar?" Rihan terus berbicara dalam hati sambil mengamati setiap sudut ruangan ini.

__ADS_1


"Hanya orang yang sudah biasa dengan ruangan ini yang tahu seluk beluknya. Tenaga medis di sini, orang yang mendesain ruangan ini, orang kepercayaan kak Neo yang juga tahu banyak hal tentang ruangan ini. Siapa kira-kira masuk dalam tersangka?"


"Dia tidak sempat menyuntikkan racun pada paman. Itu berarti dia hampir ketahuan. Tapi... kenapa jarum itu tidak dibawa saja, kenapa justru meninggalkannya di sini? Aneh. Belum lagi, dia membawa pergi Tata bersamanya."


Rihan terus berbicara sendiri dalam hati sambil menatap dan menyentuh setiap sudut ruangan ini. Siapa tahu ada petunjuk semacam ruang rahasia atau jejak yang ditinggalkan.


"Dia begitu ahli," Gumam Rihan pelan.


Merasa tidak ada yang aneh dengan ruangan ini, Rihan sedikit menghela nafas kemudian duduk di salah satu sofa. Ketika akan duduk, mata Rihan tidak sengaja melihat sesuatu berwarna merah didekat kaki meja. Menunduk, Rihan menyentuhnya dengan jari telunjuknya.


"Darah?" Gumam Rihan pelan. Rihan lalu mengambil tisu di atas meja kemudian membersihkan darah itu. Setelah itu, Rihan keluar dari ruangan itu dan menuju sebuah ruangan yang ternyata ruangan khusus tes darah dan memberikan sampel darah yang ada di tisu itu. Rihan ingin mengetahui siapa pemilik darah ini.


Setelah kembali masuk ke ruangan tadi, Rihan mulai mengamati daerah tempat darah tadi.


"Jika itu darah Tata, berarti mungkin dia hampir ketahuan oleh Tata sehingga dia melukainya dan langsung membawanya. Bagaimana cara dia membawa Tata tanpa ada yang tahu? Semua saksi yang berjaga di luar sana tidak menemukan keanehan apapun. Hanya ruangan ini satu-satunya tempat dia keluar."


"Bagian tembok tidak ada pintu rahasia. Lemari tidak ada, toilet juga. Yang tersisa hanya... lantai!" Menyadari apa yang dikatakan, Rihan menatap lantai. Tepatnya bagian darah tadi.


Menatap dengan teliti lantai keramik itu, Rihan mengerutkan kening. Rihan meletakkan tangannya pada daerah sofa dan mulai merasakan setiap sudut sofa yang terbuat dari kulit itu. Merasa tidak ada sesuatu di sana, Rihan beralih pada meja. Melakukan hal yang sama di bagian atas meja yang ternyata juga tidak ada.


Rihan melanjutkan dengan memindahkan jari telunjuk dan jari tengahnya yang sedari tadi bergeser pada area bawah meja hingga tepat di kaki meja tempat tetesan darah tadi. Tanpa sadar Rihan mengeluarkan seringai liciknya ketika jarinya berhasil menemukan apa yang dia cari.


Sekali tekan, terdengar bunyi seperti gesekan antara lantai keramik yang satu dan yang lainnya. Mengalihkan pandangannya pada keramik di sampingnya, tepatnya bagian samping sofa. Ada sekitar 4 keramik berbentuk persegi itu mulai turun secara perlahan-lahan hingga muncul sebuah lubang hitam persegi di sana.


"Apa kak Neo tahu keberadaan ruangan ini?" Gumam Rihan pelan kemudian menuju lubang persegi itu.


Rihan kemudian mengambil ponselnya sebagai penerang lalu menyorotkan pada lubang itu. Ada sebuah tangga di sana. Tanpa ragu, Rihan segera turun ke bawah melalui tangga itu. Jika Rihan tidak salah hitung, sekitar 12 anak tangga berhasil membawanya pada dasar ruangan itu yang begitu gelap.


Menyusuri lorong itu, hingga sekitar 5 meter, terdapat belokan. Rihan berbelok kearah kanan mengikuti lorong itu sampai cahaya ponselnya berhasil menyorot sebuah tangga yang mengarah ke atas yang cukup mirip dengan tangga sebelumnya.


Rihan dengan tenang menaiki tangga itu sambil berpegangan pada penyangga tangga di sebelah kanan. Tidak lupa juga Rihan mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu ada bahaya menantinya di atas sana.


Ketika tersisa 4 tangga lagi, Rihan bisa melihat sebuah pintu berbentuk lingkaran di atasnya. Rihan lalu mendorong pintu itu kuat hingga terbuka. Mematikan ponselnya, Rihan kemudian berhenti sehingga hanya kepalanya yang terlihat keluar. Mengamati sekitar, ternyata pintu ini mengarah ke belakang rumah sakit yang jarang sekali dikunjungi orang.


Merasa tidak ada bahaya, Rihan keluar dari sana. Meski itu bagian belakang rumah sakit, tetapi ada lampu-lampu penunjuk jalan di sana. Melihat pada jam tangannya, ternyata sudah pukul 4 pagi.

__ADS_1


Rihan kemudian menghubungi Logan untuk mengatakan jalan rahasia ini. Setelah menghubungi Logan, Rihan mulai menyusuri belakang rumah sakit ini.


__ADS_2