
Motor yang dikendarai Rihan melaju dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan Kota Jakarta menuju Antarik Universitas. Rihan dengan tenang memarkir motornya di tempat parkir khusus Fakuktas Kedokteran tanpa mempedulikan tatapan penasaran yang ditujukan padanya karena Rihan masih mengenakan helmnya, sehingga mahasiswa yang melihatnya tidak bisa mengenalinya.
Bagaimana tidak penasaran, jika motor yang dikendarainya itu merupakan motor limited edition, sehingga banyak pasang mata penasaran dengan pemilik motor tersebut. Mereka beranggapan bahwa si pengendara pasti mahasiswa baru, mengingat kendaraan itu baru pertama mereka lihat.
Memang area parkiran Antarik Universitas semuanya terbuka sehingga dapat dilihat dengan jelas apa saja yang dilakukan oleh orang-orang di tempat parkir.
Rihan lalu membuka helmnya dan mendapat teriakan histeris dari para gadis yang melihatnya. Rihan sendiri tidak mempedulikan sikap yang ditujukan padanya. Dia hanya berjalan dengan tas ransel hitam yang dipakai sebelah membuatnya terlihat sangat keren.
Rihan dengan langkah pelan berjalan menyusuri lorong fakultas kedokteran hingga tiba di kelasnya, tepatnya pukul setengah satu. Rihan lalu membuka pintu kelas dan hendak masuk.
BRUK
Rihan bertabrakan dengan seseorang yang baru saja keluar dari kelas. Rihan tidak meringis sakit atau apapun, tetapi dia beralih menatap tajam orang di depannya yang sudah menabraknya.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya tidak sengaja. Anda tidak apa-apa?" Tanya orang yang sudah menabrak Rihan.
"Hmm." Deheman Rihan lalu berjalan melewati orang itu menuju tempat duduknya.
Sedangkan orang yang ditinggalkan Rihan, masih terpaku di tempatnya karena merasa dejavu dengan keadaan ini. Dia awalnya sampai lebih dulu di parkiran, dan hendak berjalan ke kelasnya ketika dia melihat si tuan muda dingin yang terkenal itu baru saja memarkirkan motornya.
Dengan rencana di kepalanya, dia berjalan terlebih dahulu dan memasuki kelas dan menunggu kedatangan tuan muda yang ingin dia jadikan teman.
Setelah memprediksi si pria cantik itu akan masik kelas, dia dengan cepat ikut berdiri dan membuka pintu kelas sehingga keduanya bertabrakan. Dia berpikir bahwa rencana ini pasti berhasil, sehingga dia bisa dekat dengan tuan muda itu. Sayangnya, sangat susah mendekatkan diri pada si Tuan Muda Rehhand ini.
"Rencana apa lagi yang harus aku buat?" Gumamnya dalam hati lalu menatap Rihan yang saat ini sedang menatap serius ponselnya.
Sambil memikirkan rencana di kepalanya, dia berjalan menuju tempat duduknya dan kembali duduk dengan tenang karena sebentar lagi dosen mata kuliah hari ini akan segera masuk.
***
"Selamat siang, Kelas!" Sapa seorang dosen yang baru saja masuk ke dalam kelas Rihan.
"Siang, Pak!" Semua mahasiswa menyahut dengan serempak kecuali Rihan.
"Baik. Hari ini saya tidak akan menerangkan materi apapun, tetapi saya ingin kalian membuat sebuah proyek yang berisi tentang kesehatan manusia. Misalnya, kalian meneliti perkembangan seseorang yang saat ini sedang sakit. Tugas kalian adalah memantau perkembangannya setiap hari.
Apakah pasien bisa sembuh dalam waktu yang cepat atau tidak. Jangan lupa juga alternatif yang paling ampuh untuk kesembuhannya juga harus kalian masukan dalam laporan nanti. Proyek ini sekaligus merupakan nilai akhir kalian semester ini. Ada pertanyaan?" Sang dosen berbicara panjang lebar setelah duduk di kursinya dan memandang satu persatu wajah mahasiswa di depannya.
"Saya, Pak!" Seorang mahasiswi mengancungkan tangannya dengan cepat.
"Silahkan, Dian." Balas sang dosen pada orang yang mengancungkan tangan, yang tidak lain adalah Dian.
"Proyek ini mandiri atau kelompok Pak? Dan juga, penyakit yang akan kami teliti ini, penyakit seperti apa Pak?" Tanya Dian setelah dipersilahkan oleh dosen itu.
"Pertanyaan yang bagus, Dian. Jadi, proyek ini dilakukan dalam kelompok. Sedangkan untuk penyakit, cukup penyakit yang bisa disembuhkan atau penyakit yang tingkat kesembuhannya bisa diprediksi. Saya harap, penyakit yang akan kalian teliti ini, tidak memakan waktu yang lama karena itu juga akan menghambat waktu penyelesaian laporan kalian. Ada pertanyaan lagi?" Jelas dosen itu dan kembali mengajukan pertanyaan.
"Bagaimana dengan pembagian kelompoknya, Pak?" Tanya seorang mahasiswa yang duduk tidak jauh dari Rihan.
__ADS_1
"Untuk pembagian kelompok, di sini sudah saya siapkan beberapa kertas berisi nomor kelompok yang akan kalian pilih. Albert! silahkan bagikan kertas ini untuk teman-temanmu, setelah itu bacakan nomor kelompok yang kalian dapatkan, agar saya bisa menulisnya di sini."
Albert yang disebut namanya, segera berdiri dan mengambil kertas-kertas kecil yang sudah digulung kecil-kecil itu dan dibagikan pada semua teman-teman sekelasnya.
"Silahkan bacakan nomor yang ada di tangan kalian. Mulai dari meja pertama paling ujung sebelah kanan saya!" Dosen kembali menginstruksi ketika semua mahasiswa sudah mendapatkan gulungan kertas kecil di tangan mereka.
"Lima, Pak."
"Selanjutnya,"
"Satu, Pak."
"Lanjut."
"Lima, Pak."
"Selanjutnya, David."
"Tiga, Pak."
Seterusnya hingga sampai pada Rihan dan Dian.
"Dian..." Seru dosen itu.
"Tiga, Pak."
"Rehhand."
Semua orang hanya bisa menggelengkan kepala. Bisa-bisanya ketiga orang pintar itu ada dalam satu kelompok. Entah nilai berapa yang akan mereka dapatkan untuk proyek ini.
Pembacaan nomor terus berlanjut sampai pada mahasiswa terakhir.
"Dan terakhir, Albert?"
"Saya juga, tiga Pak!"
"Baiklah. Karena semua orang sudah mendapatkan kelompoknya, jangan lupa untuk secepat mungkin mengerjakan proyek ini. Ingat! jangan ada yang terlambat memasukan laporan kelompoknya. Saya tidak akan memberikan toleransi karena alasan apapun. Selamat siang." Dosen itu lalu keluar dari kelas menyisahkan keributan karena masing kelompok berdiskusi tentang proyek mereka.
"Ayo! kita temui tuan muda dan Dian." Ajak Albert pada David untuk segera menuju teman kelompok mereka.
"Ayo," Balas David lalu mengikuti Albert menuju meja Rihan dan Dian.
"Maaf, Tuan Muda. Saya dan David kesini untuk membahas proyek kita karena kita satu kelompok." Albert membuka suara setelah dia berdiri di depan meja Rihan dan Dian, sedangkan David juga ikut berdiri disampingnya.
"Hmm."
"Ayo, ambil kursi kalian dan kita bahas bersama." Dian menyambut kedua pria itu dengan senyum manisnya.
__ADS_1
Kedua pria yang berdiri itu, lalu mengambil kursi yang kosong didekat mereka yang merupakan tempat duduk mahasiswa lain yang sudah bergabung bersama kelompok mereka.
"Ada yang punya saran penyakit apa yang akan kita teliti?" Tanya Dian saat David dan Albert sudah duduk berhadapan dengan dia dan Rihan.
"Menurutku, kita tentukan dulu rumah sakit mana yang akan kita jadikan tempat untuk proyek ini. Setelah itu, kita bisa mencari pasiennya di sana." Jelas Albert lalu menatap Rihan dan Dian bergantian.
"Saran yang bagus. Aku setuju! Bagaimana dengan David dan Tuan Muda?" Dian mengalihkan pandangannya pada Rihan dan David yang saat ini terlihat aneh.
Bukan aneh sih, tapi menurut Dian, sikap David yang terlihat aneh karena dia saat ini menatap intens wajah Rihan yang berjarak beberapa senti di depannya yang hanya dibatasi oleh meja.
Sedangkan orang yang diperhatikan, baik Rihan maupun David, keduanya seakan sibuk dengan dunia mereka sendiri tanpa mempedulikan kedua teman mereka yang juga merasa aneh.
"Setelah tidak ada rencana untuk dekat denganmu, ternyata rencana itu datang sendiri dengan kita berada dalam satu kelompok." Senang David dalam hatinya sambil terus menatap intens wajah Rihan yang saat ini sibuk dengan ponsel pintarnya.
Ya, orang yang bertabrakan dengan Rihan saat memasuki kelas tadi adalah David. David melakukan hal itu, karena sangat sulit untuk menjadi teman tuan muda itu.
David sengaja melakukannya karena jika berhasil, dia bisa dengan sengaja mengajak Rihan untuk makan bersamanya sekedar meminta maaf dan mengajak berteman. Sayang sekali, rencananya tidak berhasil, membuatnya tidak tahu harus memikirkan cara apa.
Tapi kini, David begitu senang karena akhirnya bisa dekat dengan Rihan dalam satu kelompok. Itu artinya, dia akan sering bertemu dengan Rihan. Semakin memikirkannya, jantung David semakin berdebar kencang, entah apa yang dia rasakan sekarang.
Dari jarak jauh saja, jantung David sudah berdebar kencang, apalagi jika hanya beberapa senti di depannya ini, jantungnya seakan lompat keluar dari tempatnya.
"Dev, bagaimana dengan saranmu?" Tanya Albert setelah memukul pelan bahu David sehingga mengagetkan David dari lamunannya akan berteman dengan Rihan.
"Ah, ya. Aku sarankan untuk tempat peneltiannya adalah rumah sakit Setia, karena rumah sakit itu juga merupakan milik Tuan Muda Rehhand. Sedangkan pasien, aku ikut saran kalian saja." David menyuarakan pendapatnya setelah sadar dari lamunannya.
"Benar juga! Bagaimana dengan anda, Tuan Muda?" Tanya Albert beralih menatap Rihan.
"Jika di rumah sakit Setia, saya sudah memiliki pasien." Rihan menjawab tanpa menatap lawan bicaranya. Dia masih sibuk dengan ponsel pintarnya, karena sedang menanyakan rencana Alex.
"Baiklah. Jika tempat dan pasien sudah ditentukan, bagaimana dengan waktu? Maksudku, kapan waktu kita ke rumah sakit Setia." Albert kembali bertanya.
"Atur saja waktunya, asalkan bukan besok!" Balas Rihan datar masih dengan kegiatannya.
"Memangnya anda sedang apa besok?" Tanya Albert penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Rihan seketika mengangkat kepalanya yang menunduk dan menatap tajam wajah Albert, membuat Albet menelan ludahnya takut kemudian berkata sambil menggaruk kepalanya yang mendadak gatal karena muncul keringat.
"Maafkan saya, Tuan Muda. Saya hanya penasaran,"
"Urusan pribadi!" Jawab Rihan lalu kembali melihat ponselnya.
"Atur waktunya, dan hubungi aku." Rihan berdiri dan mengambil tasnya dan berlalu pergi dari sana tanpa pamit meninggalkan wajah menganga milik ketiga orang teman kelompoknya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.