
Selamat Membaca!
.
.
.
"Kamu datang, Han." Sambut Phiranita dengan senyum manisnya, melihat kedatangan Rihan di depan pintu masuk kamarnya.
Rihan hanya memasang wajah datarnya sambil terus berjalan menuju tempat tidur Phiranita diikuti oleh Alex dan Dokter Damar.
"Kenapa tidak makan?" Tanya Rihan lagi setelah berdiri didekat tempat tidur Phiranita.
"Aku tidak mau makan tanpamu. Aku mau kamu yang menyuapiku," Jawab Phiranita masih dengan senyum manisnya menatap Rihan.
"Setelah aku menyuapimu, istirahatlah! Banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu." Rihan duduk di kursi dekat Phiranita kemudian mengambil makanan milik gadis itu yang baru saja dibawa oleh seorang suster.
Phiranita hanya menganggukkan kepalanya sambil memperhatikan Rihan yang mengambil nasi dan lauk menggunakan sendok dan sedikit meniupnya karena panas.
"Kenapa dia begitu mirip dengan Rihan? Kamu dimana Rihan, Maaf... Aku hanya bisa membalas rinduku padamu lewat pria di depanku ini. Aku harap kita segera bertemu." Gumam Phiranita dalam hatinya, kemudian tersadar karena Rihan sudah mendekatkan sendok ke mulutnya.
Phiranita lalu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Rihan. Dia mengunyah makanan sambil terus menatap lekat wajah Rihan.
Rihan yang ditatap tidak merasa risih atau apapun. Dia dengan wajah datarnya menatap balik tepat di kedua bola mata sahabatnya, membuat Phiranita akhirnya salah tingkah dan memalingkan wajahnya ke arah lain sambil terus mengunyah makanan di mulutnya. Kegiatan itu terus berlanjut hingga makanan di tangan Rihan, habis dimakan oleh Phiranita.
"Sudah. Waktunya minum obatmu dan istirahat," Setelah suapan terakhir diberikan, Rhiana segera mengambil obat untuk Phiranita.
"Terima kasih, Han." Balas Phiranita lalu tersenyum kemudian meminum obat yang diberikan oleh Rihan padanya.
"Tidurlah!" Rihan lalu meletakkan piring kosong di meja sampingnya. Setelah itu, Rihan membantu Phiranita berbaring kemudian menyelimutinya.
"Tolong usap kepalaku juga," Phiranita menatap Rihan dengan mata sayunya.
Sepertinya obat yang diberikan padanya sangat cepat bereaksi. Rihan dengan tenang mengusap lembut kepala sang sahabat hingga gadis itu tertidur pulas.
"Memang benar kata orang, segala sesuatu jangan dilihat hanya dari luarnya saja." Dokter Damar berkomentar dengan pelan hampir tidak didengar. Sayangnya, Alex memiliki pendengaran yang tajam.
Dokter Damar begitu kagum dengan sosok presdir baru mereka yang baik hati. Luarnya saja yang terlihat dingin, nyatanya hatinya begitu baik.
Dokter Damar sudah memperhatikan sikap Rihan yang begitu bijaksana dalam mengambil keputusan. Semua masalah akan dihadapinya dengan tenang tanpa adanya emosi di sana.
__ADS_1
Entah apa yang sang presdirnya itu pelajari, sehingga dia begitu tenang dan sangat pandai mengatur dirinya. Dia yang usianya sudah tidak muda lagi, tidak bisa menahan emosinya hanya karena hal-hal kecil. Sedangkan sang presdir, usianya masih belasan tahun, tetapi begitu tenang. Maklumlah, dalam dirinya mengalir jiwa-jiwa seorang pemimpin.
Semakin memikirkannya, Dokter Damar semakin memiliki banyak kekaguman dalam hatinya.
...
"Ada perkembangannya?" Tanya Rihan datar pada Dokter Damar. Matanya terus menatap Phiranita yang sudah terlelap dengan nafas teraturnya.
"Semua memar pada tubuh pasien sudah menghilang semua, Presdir. Kondisi tubuhnya juga sudah membaik. Sepertinya dalam waktu dekat, pasien sudah bisa pulang." Dokter Damar menjawab setelah memeriksa kembali data hasil tes Phiranita.
"Untuk traumanya, anda ingin pengobatannya dilakukan secara rutin di sini, atau rawat jalan yang hanya dilakukan 2 kali seminggu?" Lanjut Dokter Damar setelah hening beberapa menit.
"Nanti saja! Itu harus sesuai keinginannya," Rihan lalu menatap jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 9 malam.
Ketika akan bersiap-siap untuk pulang ke mansion, karena besok dirinya harus melatih Alex bersama bawahannya yang lain, tangannya tiba-tiba ditahan untuk tidak pergi oleh Phiranita.
"Jangan pergi Rihan, aku mohon, hiks... hiks... maafkan aku." Phiranita bergumam dalam tidurnya sambil menangis memegang erat tangan Rihan.
Rihan menatap sang sahabat yang masih memegang erat tangannya dengan pandangan iba. Setelah menghela nafasnya, Rihan kemudian kembali duduk di kursinya dan terus memperhatikan wajah Phiranita. Sesekali Rihan akan mengusap pelan wajah Phiranita dari air matanya yang keluar karena mengigau sambil menangis. Entah mimpi gadis itu.
"Sepertinya, rencana besok ditunda, Lex!" Rihan masih menatap lekat sosok yang tetidur di depannya .
"Baik, Tuan." Jawab Alex, kemudian menyungging senyum tipisnya karena senang, rencana pelatihan neraka dibatalkan. Alex dengan cepat mengetik pesan pemberitahuan ke markas.
...
Sedangkan Rihan, pandangannya juga tidak lepas dari menatap wajah Phiranita yang begitu dia rindukan.
"Anda boleh beristirahat, Dok." Rihan membuka suara karena sudah waktunya bagi Dokter Damar untuk beristirahat dari jam kerjanya.
"Tidak apa-apa, Presdir. Saya akan tetap menemani anda," Balas Dokter Damar sungkan. Lagipula, kondisinya masih cukup untuk begadang sampai pagi.
Rihan yang mendengar jawaban itu, segera menatap tajam Dokter Damar, membuat yang ditatap menelan ludahnya takut dan segera menjawab.
"Ba...baik, Presdir. Saya pamit," Dokter Damar bergegas keluar dari ruangan itu setelah pamit pada Rihan dan Alex.
"Bagaimana dengan sniper itu?" Tanya Rihan pada Alex yang kini sudah berdiri didekatnya.
"Snipernya sudah saya introgasi, Tuan. Akan tetapi, dia hanya menjawab bahwa mereka diberi perintah untuk membunuh melalui telepon. Transaksi juga dilakukan melalui telepon. Jadi, dia tidak tahu seperti apa rupa orang yang menyuruhnya.
Saya juga sudah memeriksa nomor yang menghubunginya. Tapi itu nomor sekali pakai, Tuan. Apa yang akan anda lakukan selanjutnya?" Jelas Alex kemudian diakhiri dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Mereka?" Tanya Rihan datar.
"Mereka?" Alex kembali bertanya karena tidak mengerti maksud pertanyaan sang majikan.
"Maksudnya sniper itu memiliki rekan?" Rihan menjelaskan dengan tatapan tajam pada Alex.
"Iya, Tuan. Rencananya kami akan menangkap rekannya yang lain karena alamat sudah diberikan oleh sniper itu." Ucap Alex.
"Hmm."
...
"Tuan," Panggil Alex setelah lama mereka diam.
"Hmm."
"Keluarga Alexander dan Samantha akan melakukan pertemuan. Anda ingin mendengar percakapan mereka?" Tanya Alex menatap Rihan yang sedang mengelus pelan jemari tangan Phiranita.
"Kapan pertemuannya?" Tanya Rihan seketika berhenti mengelus tangan sang sahaba.
"Dua hari lagi, Tuan." Jawab Alex.
"Pantau terus pergerakan mereka, dan laporkan padaku." Balas Rihan lalu perlahan-lahan melepas tangannya dari genggaman Phiranita.
"Baik, Tuan."
"Sepertinya Tuan David sangat mencintai anda, hingga dia selalu berkunjung ke rumah lama anda." Alex berkomentar mengingat rekaman CCTV.
"Biarkan saja." Rihan menjawab singkat.
"Baik, Tuan."
Selang beberapa menit, Laex kembali bertanya, "Apa rencana anda selanjutnya dengan Nona Phiranita?"
"Entahlah!" Jawab Rihan singkat, lalu berdiri dan berjalan menuju jendela ruang rawat Phiranita.
"Siapa kamu Tata! Kenapa mereka bisa menculikmu? Kita bersahabat tetapi tidak tahu menahu lebih dalam tentang keluarga masing-masing," Gumam Rihan dalam hatinya sambil menatap lalu lintas jalan raya di bawahnya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.