Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Ulang Tahun


__ADS_3

"Siapa bilang kami putus? Kami saling mencintai, dan tidak akan pernah putus." Elle menghampiri Rihan dan yang lainnya. Rihan sendiri hanya menyeringai dan duduk santai di tempatnya. Phiranita yang mendengar suara itu, segera berbalik ke sumber suara.


"Kamu..." Phiranita kaget ketika melihat wajah Elle.


"Kak... wanita itu... dia adalah suster yang bekerja sama dengan dokter gadungan itu untuk mencelakai papi dan mami. Aku jelas mengingat wajahnya," Phiranita kini berdiri menatap Elle dengan tajam. Rihan hanya duduk dengan santai di sofa.


Elle yang mendengar perkataan Phiranita, menegang di tempatnya. Hanya satu menit, kemudian wanita itu kembali normal. Dia tidak ingin menampilkan ekspresi mencurigakan. Bisa-bisa penyamarannya terbongkar.


"Itu tidak mungkin Ira. Kakak sudah mengenal Elle cukup lama. Dia tidak mungkin melakukan itu. Lagipula tidak ada untung baginya mencelakai lapi dan mami." Neo menggeleng tidak percaya. Pria itu lalu menghampiri Phiranita dan menurunkan tangan adiknya itu yang masih saja menunjuk Elle.


"Tidak, Kak! Aku tidak mungkin salah. Aku masih mengingat jelas wajahnya. Dia yang mengantar minuman itu pada kita. Pada saat dia mengantar minuman, dia memakai masker jadi kakak tidak bisa melihat jelas wajahnya. Tapi setelah dia datang untuk kedua kalinya, dia tidak lagi memakai masker, sehingga wajahnya terlihat jelas. Ingatanku tidak mungkin salah, Kak.


Jika aku melihat pria yang menyamar itu lagi untuk kedua kalinya, aku pasti akan mengenalinya, meski waktu itu dia memakai masker. Aku masih ingat jelas seperti apa sorot matanya. Aku ingat, Kak. Percayalah padaku!" Phiranita menatap penuh permohonan pada Neo.


"Kakak percaya padamu, tapi kakak juga percaya pada Elle." Balas Neo lalu memeluk sang adik.


"Aku tidak mungkin melupakan wajah orang yang sudah membunuh mami, Kak... tolong percaya padaku. Hiks..." Gumam Phiranita yang mulai menangis dalam pelukan Neo.


"Tenanglah, Sayang." Bisik Neo sambil menepuk pelan punggung sang adik.


"Han... kamu percaya padaku, 'kan?" Ucap Phiranita setelah melepas pelukannya dan menatap sedih pada Rihan yang masih enteng di tempatnya. Rihan bahkan tidak berbalik menatap Elle yang berdiri di belakang sofa yang dia duduki.


"Aku percaya padamu. Tapi tidak ada bukti untuk itu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Tata. Wanita yang menyamar menjadi suster itu, tidak akan bisa bertahan lebih lama dengan penyamarannya.


Dia boleh saja membodohi semua orang, tapi tidak denganku. Tatapan mata seseorang menunjukan dengan jelas siapa dia sebenarnya. Meski warna matanya berubah sekalipun, tapi tatapan itu tidak akan pernah berubah." Balas Rihan datar dan sedikit melirik pada Neo.


"Belum saatnya, Tata. Biarkan wanita itu melakukan semua yang dia bisa. Kita hanya perlu duduk dan menonton drama yang dia buat. Jika waktunya tiba, semua kartu as hanya perlu dibuka." Sambung Rihan dalam hati lalu menyesap secangkir susu di depannya.


Setelah Rihan mengatakan itu, hanya ada keheningan di sana. Hingga Alen datang dan memberitahukan bahwa sarapan pagi sudah siap.


"Jika kamu ingin tahu Elle adalah suster itu atau bukan, maka mulai sekarang akrabkan dirimu dengannya agar kamu tahu seperti apa sifat aslinya. Jika dia terlihat terpaksa menerima kehadiranmu, maka kamu pasti tahu jawabannya sendiri," Rihan membuka suara sebelum akhirnya beranjak pergi dari sana.


"Bajingan itu! ini tidak bisa dibiarkan." Kesal Elle dalam hati. Kedua tangannya terkepal kuat.


...


Di meja makan, semua orang makan dengan tenang. Hanya Neo dan Elle yang terlihat tidak berselera makan. Neo masih memikirkan perkataan Rihan. Jelas sekali perkataan itu menyindir seseorang.


Sayangnya Neo tidak ingin berprasangka buruk. Pria itu selalu bergumam dalam hati bahwa apa yang dia pikirkan tidak mungkin. Sesekali Neo akan melirik Elle lalu menggeleng.


Sedangkan Elle, wanita itu masih kesal karena perkataan Rihan. Beberapa kali dia harus menghembuskan nafas berusaha menenangkan dirinya.


"Jika tidak suka makanannya, sebaiknya jangan mengganggu orang lain yang sedang makan. Selera makan mereka bisa ikut hilang." Ujar Rihan datar setelah baru beberapa sendok dia suap ke dalam mulutnya.


"Ekhem... maaf, aku akan makan sekarang." Seru Neo setelah tersadar dari lamunannya.


"Aku juga minta maaf," Sambung Elle lalu ikut makan tapi terpaksa.


Setelah sarapan, Rihan beranjak ke ruang kerjanya. Ada Alex yang ikut di belakangnya. Ketika akan memasuki lift, Neo tiba-tiba muncul dan masuk. Katanya dia ingin ikut juga ke ruang kerja Rihan.


Sampai di ruang kerja, Rihan segera menuju kursi kebesarannya. Alex juga ikut tetapi hanya berdiri di depan Rihan dengan dibatasi oleh meja kerjanya. Neo sendiri, duduk di sofa dan mulai membaca berkas-berkas entah apa itu.


"Rei..." Panggilan Neo setelah beberapa menit dia membaca kertas di tangannya.


"Hm."


"Apa kamu tahu sesuatu? Aku yakin kamu tahu sesuatu. Itu pasti berkaitan dengan kematian mami."


"Tidak."


"Perkataannmu barusan membuatku berpikir seperti itu."


"Hanya perasaanmu saja. Jangan menggangguku,"


"Baik."


"Tuan, Ada email untuk anda," Alex membuka suara setelah membaca email masuk melalui iPad di tangannya, kemudian emberikan iPad itu pada Rihan.

__ADS_1


"Minggu depan, ya. Siapkan penerbangan ke sana. Aku penasaran apa yang mereka inginkan," Balas Rihan lalu memberikan kembali iPad pada Alex.


"Perjalanan bisnis?" Tanya Neo penasaran.


"Hm."


"Bukankah mereka belum tahu siapa pemilik R.A Group? Kenapa kamu mau berangkat ke sana?" Tanya Neo mengerutkan kening.


"Apa aku harus melapor semua rencana bisnisku padamu?" Tanya Rihan datar.


"Eum... tidak juga, tapi... boleh aku ikut?"


"Lex, bagaimana cara mengatasi orang seperti itu?" Tanya Rihan menatap Alex di depannya.


"Bunuh saja di tempat, Tuan." Jawab Alex santai.


"Akan aku coba nanti." Balas Rihan dan mengangguk pelan.


"Kau... kapan-kapan kita harus berduel." Tantang Neo pada Alex.


"Jika anda masih hidup, saya bersedia." Jawab Alex tanpa menatap Neo.


"Apa maksudmu?" Kesal Neo.


"Sebelum kita berduel, Tuan Muda pasti akan menembak mati anda lebih dulu." Balas Alex lalu melirik Neo sekilas.


"Uhuk..." Terdengar batuk pelan dari Rihan. Rihan tidak menyangka Alex bisa berkata seperti itu.


"Silahkan diminum, Tuan." Alex dengan tenang menyodorkan segelas air untuk Rihan.


"Aku tidak bisa berkata-kata. Kalian atasan-bawahan suka sekali membuat orang kesal." Gumam Neo lalu memijit pelipisnya.


***


Hari ini adalah ulang tahun Phiranita. Tuan Evan sudah datang sejak kemarin. Rihan juga sudah menyiapkan kamar untuk pria paru baya itu. Rencananya mereka akan melakukan barbeque di taman mansion untuk perayaan ulang tahun Phiranita hari ini.


Memang setelah usulan Rihan sebelumnya agar Phiranita mengakrabkan diri dengan Elle, ternyata dilakukan besok harinya. Itu memang rencana Rihan agar Elle kesulitan bergerak atau menghubungi seseorang untuk rencananya. Phiranita dengan senang hati selalu menempel pada Elle dengan terpaksa.


Si Elle, wanita itu juga terpaksa menerima kehadiran adik iparnya yang menurutnya sangat menyebalkan. Dia selalu berusaha bersikap tulus di depan Phiranita, meski di belakang sedang mencari kesempatan untuk mencelakainya, sayangnya selalu gagal.


"Bagaimana dengan semua persiapan?" Tanya Rihan pada Alex dan Alen yang berdiri di depannya. Kedua tangan Rihan terpaut satu sama lain sambil menopang dagunya.


"Semua persiapan sudah siap, Tuan. Kami sudah mengantisipasi serangan atau gangguan dari luar. Kami tidak ingin kecolongan lagi seperti di Amerika waktu itu." Suara Alex mewakili Alen.


"Itu bagus. Tapi, kecolongan juga tidak masalah. Justru itu akan menambah kemeriahan malam ini." Balas Rihan dan menyeringai.


"Siap, Tuan! Kami juga sudah menyiapkan rencana cadangan mengantisipasi kegagalan nanti,"


"Kerja bagus. Bagaimana pergerakan wanita itu selama beberapa hari ini?"


"Dia terlihat frustasi karena selalu diawasi oleh nona Ira." Jawab Alen dan terkekeh mengingat kejadian beberapa hari lalu.


"Tata memang bisa diandalkan. Kalian bisa kembali."


"Baik, Tuan."


Setelah kepergian dua asistennya, Rihan terlihat merenung.


"Identitas Elle sulit ditemukan. Bisa jadi dia ada hubungannya dengan perusahaan IT itu. Sistem mereka sulit ditembus. Belum lagi organisasi bawah tanah itu. Aku jadi penasaran dengan organisasi itu. Hm... sangat merepotkan jika mencampuri urusan orang lain." Gumam Rihan dalam hati.


"Aku juga tidak sabar melakukan perjalanan bisnis ini. Apa yang mereka inginkan dengan mengundang untuk meeting di tempat mereka?" Gumam Rihan lalu bersandar di kursi kebesarannya dan terus berpikir.


...


Pukul 7 malam, semua orang sudah siap di halaman mansion. Tidak terlalu banyak orang yang diundang. Karena Phiranita tidak punya teman di sini, sehingga dia meminta Rihan mengundang David, Albert, Dian dan Beatrix. Rihan baru akan mempertemukan Beatrix dengan Phiranita. Sisanya hanya orang rumah.


Diantaranya ada Rihan, Alex, Alen, Neo, Logan, Brand, Dom, Phiranita, Max, Elle dan Tuan Evan. Semua orang berpakaian formal malam ini karena akan ada sesi foto bersama nanti.

__ADS_1


Di halaman depan mansion yang dihiasi taman bunga dan kolam ikan, menjadi tempat strategis untuk acara malam ini. Cuaca juga mendukung dengan banyaknya bintang yang menghiasi langit malam. Phiranita sangat bahagia hari ini, karena untuk pertama kalinya dia merayakan ulang tahun bersama keluarganya. Sayangnya tidak ada mami Dara di sini. Pasti akan terasa lengkap.


Acara segera dimulai tepat jam tujuh setelah semua orang hadir. Albert dipilih oleh Rihan sebagai pemandu acara ini. Meski dadakan, pria itu hanya cemberut sebentar karena jika diberitahu sebelum acara, dia bisa memandu acara sebagus mungkin, katanya.


Acara dimulai dengan si pemandu acara yaitu Albert menyanyikan sebuah lagu untuk pemilik acara. Pria itu juga mengiringi nyanyiannya sendiri dengan alunan piano yang Rihan siapkan di sana. Setelah itu Albert mengundang Dian untuk menyumbangkan lagu dengan dia sendiri yang memainkan pianonya. Terakhir pemilik acara ikut menyanyi dengan suara pas-pasannya.


Semua orang bertepuk tangan untuk ketiganya yang sudah menyanyi. Selanjutnya acara tiup lilin dan potong kue yang lumayan besar Tuan Evan siapkan untuk anak gadisnya. Phiranita begitu senang dan dengan terharu membuat permintaan sebelum akhirnya meniup lilin dan memotong kue setelah semua orang bernyanyi. Albert juga memandu pemberian kue ulang tahun hingga selesai.


"Selanjutnya pemberian hadiah untuk yang berulang tahun." Albert menginstruksi dengan semangat.


"Maaf sebelumnya, ada sedikit kesalahan teknis. Kita akan menikmati barbeque lebih dulu sebelum pemberian hadiah." Albert menginterupsi perkataannya sendiri setelah Alex datang berbisik padanya.


Rihan tidak ingin mereka yang melihat hadiah darinya, akan pingsan karena belum makan. Lebih baik mengantisipasi lebih dulu.


Para pelayan lalu membawa hasil barbeque ke setiap meja untuk dinikmati. Sekitar 5 meja panjang disiapkan. Sebelum hasil barbeque diletakkan di atas meja, sudah ada bermacam kue dan minuman untuk para tamu, mulai dari minuman sehat, bersoda maupun beralkohol disediakan di sana.


Setelah para pelayan menyajikan daging panggang di setiap meja, Albert memandu para tamu untuk makan. Terakhir dirinya turun untuk makan bersama di satu meja dengan David, Beatrix, dan Dian.


Meja pertama, ada Alex, Alen, Max, Brand, Logan dan Dom. Meja kedua ada Rihan, Neo, Elle, Tuan Evan dan Phiranita. Meja ketiga ada David, Beatrix, Dian dan Albert. Dua meja sisa untuk para pelayan dan penjaga.


Sekitar satu jam lebih, semua orang menikmati barbeque, Alex kembali menghampiri Albert untuk memandu acara selanjutnya, yaitu pemberian hadiah. Pemberian hadiah dilakukan sambil beberapa orang masih menikmati hasil barbeque tidak masalah. Lagipula sudah jam 9 lewat.


"Para tamu sekalian, kita akan ada dalam acara pemberian hadiah untuk Tuan putri kita malam hari ini. Sebelumnya, saya mengundang Tuan putri, untuk berdiri di depan sini agar setiap orang bisa melihat betapa cantiknya dia. Silahkan, Tuan Puteri." Albert mempersilahkan Phiranita dengan senyum lebar.


Phiranita yang duduk di samping Tuan Evan segera berdiri dan menuju ke depan sambil mengangkat sedikit gaunnya yang menjuntai di tanah.


"Aku seperti anak kecil kamu panggil Tuan putri." Decak Phiranita setelah berdiri tidak jauh dari Albert.


"Kamu memang Tuan putri malam ini. Sungguh!"


"Sudahlah."


Albert hanya tersenyum tipis pada Phiranita kemudian mengalihkan pandangan ke arah tamu dan mulai melanjutkan.


"Saya akan mengundang para tamu yang duduk di meja ketiga untuk memberikan hadiahnya. Silahkan!" Albert menatap meja yang dimaksud dimana David dan yang lainnya duduk.


Ketiga orang yang duduk di meja ketiga itu, segera maju dan memberikan hadiah masing-masing secara berurutan. Mulai dari David, Dian, Beatrix terakhir Albert sendiri. Phiranita menerima hadiah dari mereka dengan senang hati. Sampai pada Beatrix, Phiranita begitu senang. Dia memeluk sahabatnya itu dengan bahagia.


Selanjutnya meja pertama. Alex dan yang lainnya. Sampai pada Brand, Phiranita menegang sepersekian menit lalu kembali normal setelah mengingat beberapa hari lalu Rihan menjelaskan bahwa Brand tidak melakukan hal buruk padanya. Justru pria itu yang menolongnya. Rihan juga menambahkan beberapa bukti sehingga gadis itu percaya.


Neo yang melihat reaksi sang adik pada Brand mengerutkan kening lalu tersenyum bangga karena dia berpikir adiknya tidak takut sama sekali pada Brand. Phiranita justru terlihat tersenyum tulus tanpa beban. Neo terus melihatnya, dan kembali berpikir.


"Berarti, apa yang dikatakan bajingan itu benar?" Gumam Neo dalam hati. Pria itu lalu menggeleng tidak percaya bahwa bukan Brand pelaku trauma sang adik.


Pemberian hadiah terus berlanjut hingga meja Rihan dan yang lainnya.


Semua orang memberikan hadiah tapi tidak dibuka sama sekali oleh Phiranita. Katanya dia akan membukanya sendiri. Sampai pada Rihan, gadis itu memberikan kotak kecil berisi kalung yang dibeli waktu itu.


"Aku juga punya hadiah lain untukmu." Ucap Rihan dan menatap ke arah Alex.


"Ada lagi?" Tanya Phiranita mengerutkan kening.


"Hm."


Alex dengan sigap berdiri dan menekan sesuatu di samping peralatan back sound, hingga layar monitor berukuran 2x2 meter di depan para tamu yang sejak tadi menampilkan beberapa foto Phiranita mulai dari usia 5 tahun hingga sekarang, berhenti.


Kini hanya menampilkan warna dasarnya yaitu putih. Semua orang menatap penasaran pada layar monitor itu. Dari semua rasa penasaran, hanya Elle yang was-was.


"Apa bajingan itu akan membongkar semua penyamaranku?" Batin Elle gugup. Wanita itu mulai menggigit kuku jarinya.


Mereka yang duduk di meja kedua masih ada di depan Phiranita. Termasuk Elle. Semua mata tertuju pada layar monitor. Hingga, layar monitor menampilkan wajah seorang paru baya yang tersenyum manis.


Elle yang melihat wajah wanita paru baya itu menegang di tempatnya, dan mundur beberapa langkah. Dia syok dan hampir jatuh, jika saja Albert tidak menahannya.


"Bagaimana bisa?" Gumam Elle.


"Mami/Dara sayang?" Gumam Neo, Tuan Evan dan Phiranita hampir bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2