Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Kemenangan


__ADS_3

Selamat membaca!


.


.


.


"Aku tidak mengizinkanmu, Len." Balas Rihan datar tanpa menatap Alen.


"Lalu bagaimana dengan taruhannya?" Tanya Albert menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tidak apa-apa. Aku tidak masalah menjadi budaknya selama satu semester." Max membuka suara lalu tersenyum tipis. Dia tidak ingin ada yang terluka.


"Max..." Panggil Albert merasa bersalah.


"Permainan tetap dilanjutkan." Ujar Rihan datar kemudian berdiri.


"Tapi kita kekurangan personil." Jawab Albert cepat.


"Dan izinkan aku menggantikan tempat Albert, Tuan." Bujuk Alen.


"Tidak perlu. 4 orang sudah cukup. Tugasmu menjaga Albert. Aku tidak ingin kamu masuk dalam tim. Dan jangan membantah." Balas Rihan penuh penekanan sambil menatap tajam Alen. Yang lain hanya diam tidak berani membantah.


"Baik, Tuan."


"Bagus."


"Permainan masih bisa dilanjutkan?" Tanya Wasit yang menghampiri Rihan dan teman-temannya.


"Aku sarankan kalian untuk berhenti saja. Sudah pasti kalian akan kalah karena kurangnya personil." Gibran memasang senyum meremehkan.


"Permainan tetap dilakukan dengan hanya 4 orang." Balas Rihan tenang.


"Kamu yakin? Sama saja dengan mencari kekalahan. Apalagi poin kalian juga di bawah." Wasit menatap waktu dan poin kedua tim.


"Benar sekali. Waktu hanya tersisa 2 menit dan kalian yakin bisa mengalahkan kami?" Ejek Gibran lalu tertawa sinis.


"Jika waktu hanya 10 detik pun, kami tetap bermain. Kami bukan pengecut seperti mereka yang sudah mencapai ajang internasional dan pasti tahu yang namanya bermain secara profesional. Aku mulai ragu, apa mereka benar-benar pernah sampai ke tahap itu?" Balas Rihan selalu tenang.


Gibran yang mendengarnya merasa tersindir. Dia mengepalkan kedua tangannya.


"Kamu menuduhku bermain curang?" Marah Gibran sambil menunjuk Rihan dengan jari telunjuknya.


"Kamu merasa tersindir?" Tanya Rihan dan menyeringai.


"Ak..."


"Jika itu bukan kamu, maka diamlah!" Rihan memotong perkataan Gibran dengan datar.


"Kamu..."


Prieeet.


"Dari pada kalian berdebat, lebih baik permainan dimulai saja." Wasit segera menengahi keduanya.


"Baik."

__ADS_1


"Silahkan mengambil posisi di lapangan." Ucap sang Wasit. Kedua tim kembali ke lapangan basket.


"Semangat teman-teman!" Teriak Albert memberi semangat, begitu juga dengan yang lainnya.


Sedangkan Alen, dia hanya bisa menghela nafasnya pelan karena sang majikan. Alen tahu Rihan tidak ingin dia bermain karena khawatir akan sama seperti Albert, bahkan lebih parah. Alen juga sadar permainannya tidak akan sebagus sang kakak apalagi sang majikan yang merupakan gurunya dan kakaknya. Akan tetapi Alen yakin, setidaknya dia bisa mempertahankan diri jika ada yang bermain licik dengannya. Sayangnya majikannya tidak mengijinkannya. Alen hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja.


Adapun beberapa pendukung tim Gibran mulai beralih mendukung tim Rihan karena kecurangan yang mereka lakukan. Mereka mulai kecewa dengan cara bermain idola mereka yang ingin menang dengan melakukan trik licik.


Gibran yang menyadari pendukung Rihan semakin banyak, merasa hatinya memanas ingin memukul orang. Akan tetapi dia berusaha tenang agar tidak mengganggu permainannya nanti.


Prieeet


Permainan kembali dimulai.


Rihan kini memegang kendali bola. Sambil terus mendribble bola, Rihan sedang berusaha untuk mencari cara agar permainan segera berakhir dengan cepat mengingat waktu tersisa hanya 2 menit.


TAP


TAP


TAP


Bola terpantul antara tangan Rihan dan lantai lapangan.


"Dev." Panggil Rihan lalu melempar bola pada David ketika teman Gibran mulai mendekat padanya.


HUP


Bola berhasil ditangkap oleh David. Dia lalu menggiring bola dengan banyak melakukan tipuan untuk menghindari lawan hingga tiba 3 meter didekat ring lawan.


David terpaksa harus melakukan jump shoot karena dua orang lawannya menghalangi jalannya. Ketika ingin melakukan jump shoot, David diterjang oleh Johar dari belakang sehingga bola meleset dan tidak memasuki ring. David sendiri jatuh terduduk, tetapi dia baik-baik saja.


"Tidak apa-apa." Balas David tenang, tidak terpancing emosi karena dia tahu ini hanyalah akal-akalan tim Gibran. David lalu mengulurkan tangannya dan menggapai tangan Johar.


"Kamu..." Johar tidak mampu berkata apapun, karena David bisa membaca rencananya yang ingin menjatuhkan David ketika tangannya berhasil digapai.


David bukan orang bodoh yang tidak akan tahu rencana sederhana seperti itu. David yang menggapai tangan Johar, memegangnya erat ketika merasakan pegangan tangan Johar mulai melemah karena ingin melepaskannya agar David jatuh. Sayangnya David tahu dan mengenggam erat tangan Johar agar dia berdiri lagi.


"Lepaskan tanganmu!" Johar menahan sakit karena David meremas kuat tangannya ketika sudah berhasil berdiri.


"Aku hanya takut jatuh." Balas David asal kemudian melepas pegangannga pada Johar.


"Bajingan itu..." Umpat Johar ketika David pergi meninggalkannya.


...


Beralih pada bola yang meleset, dan tidak masuk dalam ring. Gibran yang melihatnya begitu senang. Akan tetapi, dia menggertakkan giginya karena seseorang berhasil menggunakan teknik Rebound sehingga bola kembali masuk ke dalam ring sehingga berhasil mencetak poin.


Lagi-lagi Gibran kesal sekaligus iri karena Rihan berhasil melakukan teknik-teknik yang sangat baik dalam mencetak poin.


Teknik Rebound adalah teknik yang berguna untuk merebut bola yang gagal masuk ke dalam ring, baik yang ditembakkan oleh tim sendiri atau tim lawan. Karena David gagal melakukan jump shoot sehingga Rihan menggunakannya untuk memasukan kembali bola dalam ring.


"Sial..." Marah Gibran lalu menatap tajam Rihan yang kini bertos ria dengan David.


Permainan semakin sengit dengan menyisahkan waktu 30 detik dengan poin 21 : 20.


Gibran yang melihat skor mereka selisih satu poin dengan tim Rihan merasa senang. Dengan waktu 30 detik, dia yakin tim Rihan tidak akan mencetak poin lagi.

__ADS_1


Untuk mengulur waktu, Gibran dengan ketat menjaga Rihan yang sedang mendribble bola ke arah ring. Gibran tidak akan membiarkan Rihan mencetak poin lagi.


Semua penonton duduk dengan tegang di posisi mereka masing-masing. Bagaimana tidak tegang jika ini merupakan detik-detik penentuan siapa pemenang pertandingan. Albert di kursi penonton hanya menggigit jari tangannya karena panik.


Sedangkan Rihan, dia selalu tenang dalam melakukan segala hal. Rihan sedang menggiring bola ke kiri dan ke kanan berusaha menghindar dari Gibran yang selalu menghalanginya. Rihan lalu melirik waktu di dinding lapangan, menunjukan tersisa 10 detik dengan skor 21 : 20. Bukannya panik, Rihan tetap tenang hingga jaraknya dengan ring lawan semakin dekat.


Gibran yang melihat waktu semakin habis tersenyum senang. Gubran memberi kode pendukungnya untuk menghitung mundur bersama-sama waktu detik yang terus berjalan. Sambil memberi kode, Gibran tetap menghalangi jalan Rihan.


[Sepuluh...]


[Sembilan...]


[Delapan...]


TAP


TAP


TAP


Rihan masih menggiring bola sambil terus menghindari Gibran yang ingin mengambil bola darinya.


[Tujuh...]


[Enam...]


Ketika sudah semakin dekat ring, dan Rihan tidak bisa lebih dekat lagi, Rihan lalu melakukan Lay Up jarak dekat.


[Lima...]


}Empat...]


Shut!


[Tiga...]


[Dua...]


Tuk!


[Satu...]


Hening.


...


[KYAK ... TIM TUAN MUDA REHHAND MENANG!!!]


Ya, Rihan menembakkan bola ke arah ring tepat saat hitungan kedua. Bola kemudian masuk ke dalam ring bertepatan dengan hitungan satu dan waktu juga berakhir.


Karena Rihan melakukan Lay Up jarak dekat, maka poin mereka bertambah 2 poin sehingga skor 21 : 22 poin. Tim Rihan akhirnya dinyatakan menang, sedangkan Gibran melampiaskan emosinya dengan memukul kuat wajah Johar yang datang ingin menenangkannya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2