
Setelah mendengar berita yang disiarkan, Alex lalu mematikan TV kemudian berbicara pada sang majikan.
"Apa kita harus menghentikan media untuk tidak memperpanjang berita ini, Nona?"
"Biarkan saja." Jawab Rihan datar.
"Baik, Nona."
"Bagaimana dengan yang aku minta padamu, Lex?" Tanya Rihan datar pada Alex sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya di atas meja.
"Sudah saya beli, Nona. Anda hanya tinggal memperkenalkan diri sebagai pemimpin di sana." Jawab Alex yang saat ini masih setia berdiri di depan Rihan.
"Hm. Atur jadwalku untuk itu," Balas Rihan datar.
"Baik, Nona."
"Maaf Nona, Antarik Company mengirim undangan perayaan ulang tahun perusahaan mereka untuk anda." Alen membuka suara setelah diam menyimak.
"Atur jadwalku juga, Len." Rihan membalas dengan pelan.
"Baik Nona. Tapi, anda mendapat dua undangan sekaligus. Satu atas nama Tuan Muda Rehhand, dan satu lagi atas nama R.A Group." Jelas Alen tenang.
"Aku akan datang sebagai Tuan Muda Rehhand. Dan Alex... kamu urus R.A Group."
"Baik, Nona."
"Bagaimana dengan jadwalku besok?" Tanya Rihan tenang. Dia masih dengan posisi yang sama.
"Anda hanya memiliki satu kelas siang, Nona."
"Baiklah. Aku akan beristirahat." Rihan kemudian berdiri dan berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Alex dan Alen dari belakang.
"Selamat tidur, Nona." Ucap Alex dan Alen secara bersamaan ketika Rihan akan memasuki kamarnya.
"Hm."
***
Kediaman Alexander.
"Tuan Muda Rehhand Lesfingtone, ya." Monolog David dalam hati.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" Tanya Tania, ibu David.
"Tidak ada, Bu." David menjawab dengan lembut.
"Yah... Kamu mengenal Tuan Muda Rehhand Lesfingtone?" Tanya David pada sang Ayah.
Saat ini David bersama kedua orang tuanya sedang menikmati makan malam di kediaman Alexander.
"Oh, Tuan Muda itu. Kenapa kamu menanyakannya?" Tanya balik sang Ayah.
"Aku hanya penasaran dengannya, Ayah." Jawab David lagi.
"Kita akan bicara di ruang keluarga. Habiskan dulu makan malammu,"
"Baik, Ayah."
Mereka bertiga lalu menikmati makan malam dengan tenang hingga selesai.
Ruang Keluarga.
"Kenapa kamu ingin tahu tentang Tuan Muda Rehhand?" Tanya Ayah David ketika mereka sudah duduk di ruang keluarga.
__ADS_1
"Hanya ingin tahu saja, Yah. Orangnya sangat dihormati di kampus." David menjawab pada sang Ayah.
"Wajar saja. Dia anak kedua dari Jhon Roland Lesfingtone. Pengusaha sukses nomor 1 di Prancis. Pamannya juga merupakan orang terkaya nomor 2. Jack Roland Lesfingtone." Jelas Ayah David.
"Benarkah?" Tanya David lagi hampir tidak percaya.
"Sehebat itukah?" Gumam David dalam hatinya.
"Itu memang benar. Jadi Ayah harap, kamu bisa berteman baik dengannya. Itu semua juga demi keuntungan perusahaan kita."
"Baik, Ayah." Balas David dengan anggukan.
"Benar juga, ada yang ingin ibu bicarakan juga."
"Apa, Bu?" Tanya David penasaran.
"Ibu ingin pernikahan kamu dan Ariana dipercepat."
"Bu... Bisakah perjodohan ini dibatalkan? Aku sudah tidak mencintai Ariana lagi, Bu, Yah." David dengan wajah memelas menatap kedua orang tuanya.
"Kamu ingin ibu sakit lagi, Dev?" Tania, ibu David mengeluh dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
"Ayah juga setuju dengan ibumu, Dev." Ayah David ikut mendukung.
"Bagaimana jika Ariana membatalkan perjodohan ini?" Tanya David pada kedua orang tuanya.
"Jika pihak Ariana yang membatalkan perjodohan ini, maka kami juga setuju. Tapi menurut ibu, mereka tidak akan mungkin membatalkan perjodohan ini," Ibu Tania menjawab dengan tegas.
"Kenapa ibu berpikir seperti itu?" Tanya David lagi.
"Karena mereka sangat menginginkan menantu sepertimu, Sayang." Ibu David tersenyum lembut.
"Baiklah, Ibu. Kalau begitu, aku akan beristirahat. Besok Dev ada kelas pagi," David lalu pamit pada kedua orang tuanya dan menuju kamarnya dan beristirahat.
***
"Selamat pagi, Nona. Keluarga Alexander ingin mempercepat pernikahan Ariana dan David. Apa yang harus kita lakukan, Nona?" Tanya Alex pada sang majikan yang saat ini baru bangun dari tidurnya dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
"Biarkan saja. Pernikahan mereka tidak akan terjadi," Rihan menjawab dengan tenang lalu melirik jam di atas meja samping tempat tidurnya.
"Baik, Nona."
"Sudah kamu kirim persetujuan kerja sama dengan J2R Lesfingtone?" Tanya Rihan menatap Alex.
"Sudah, Nona. Mentra akan melakukan meeting untuk kontrak kerja sama dengan Tuan Besar, Nona." Jawab Alex pada sang majikan.
Mentra adalah orang kepercayaan Rihan di R.A Group yang merupakan wakil CEO di perusahaannya. Mentra diberi tanggung jawab penuh oleh Rihan untuk mengurus perusahaan pusatnya di Amerika selagi Rihan ada di Indonesia.
Publik hanya mengenal sosok Wakil CEO R.A Grup yang bekerja di bawah perintah sang pemilik perusahaan. Mentra dikenal dengan sosok berdarah dingin dan kejam dalam berbisnis, sehingga banyak yang mengaguminya. Tetapi publik lebih mengagumi dan lebih penasaran lagi dengan sosok dibalik layar R.A Group atau pemiliknya.
Sang wakil CEO sudah sangat berbakat dalam berbisnis. Apa kabar dengan pemimpinnya yang misterius itu? Banyak yang bertanya-tanya akan sosok itu. Sang wakil CEO atau Mentra Puantya ketika ditanya bagaimana sosok sang CEO R.A Group, maka jawabannya,
'Beliau merupakan sosok yang sangat hebat dan baik hati yang juga merupakan panutanku. Saya seperti sekarang karena sosok CEO R.A Group, Rehhand Axerius '. Selalu jawaban itu yang diberikan pada mereka yang bertanya padanya.
Publik begitu penasaran akan sosok pebisnis misterius itu. Banyak yang bertanya, berapa tepatnya usia pebisnis muda itu. Sayangnya orang yang dibicarakan tidak mempedulikan rasa penasaran publik.
Back to topic.
"Sudah kamu atur jadwal ke tempat itu?" Tanya Rihan pada Alex.
"Sudah Nona. Besok jadwalnya,"
"Undangan perayaan ulang tahun Antarik Company empat hari lagi, Nona." Ucap Alen ketika Rihan mengalihkan pandangannya padanya.
__ADS_1
"Hmm."
"Apa yang ingin anda lakukan sebelum ke kampus, Nona?" Tanya Alex pada sang majikan karena Rihan tidak memiliki jadwal hingga siang hari.
"Aku ingin laporan keuangan dan juga kinerja pegawai Cabang R.A Group di sini, sekaligus pergerakan Rubah itu." Jawab Rihan datar Jangan lupa dengan aura menekannya yang keluar.
Jangan salahkan dirinya, karena ketika mengingat si Rubah betina itu, suasana hati dan udara di sekitarnya akan berubah dingin. Alex dan Alen yang sudah terbiasa dengan hawa di sekitar sang majikan, hanya bisa menahan diri agar keringat dalam tubuh mereka tidak dilihat oleh sang majikan. Bisa-bisa mereka akan mengikuti pelatihan khusus mental yang keras dari sang majikan.
"Baik, Nona." Alex segera berlalu pergi dari sana, sekaligus menghela nafas legah karena keringatnya tidak kelihatan oleh sang majikan. Alex hanya berdoa semoga saudari kembarnya tetap bertahan.
"Air mandi anda sudah siap, Nona." Ucap Alen ketika Alex sudah keluar dari kamar sang majikan.
"Hmm." Balas Rihan lalu turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Sampai kapan aku bisa menguasai ketakutan akan hawamu, Nona." Gumam Alen ketika sang majikan sudah menuju kamar mandi.
Alen kemudian merapikan tempat tidur Rihan kemudian menekan tombol khusus di bawah tempat tidur sang majikan sehingga muncul alat pemindai dibalik tembok kamar Rihan.
Alat pemindai itu lalu memindai semua isi kamar Rihan layaknya sinar laser dengan tujuan membersihkan atau menghisap semua debu yang menempel dalam kamar sang majikan.
Alat itu khusus diciptakan oleh Rihan untuk membersihkan kamarnya. Karena dia tidak ingin orang lain membersihkan atau masuk ke dalam kamarnya selain kedua orang tuanya, kedua asistennya, juga orang yang benar-benar Rihan percayai.
Selain membuat alat pemindai kebersihan, Rihan juga membuat sebuah Robot khusus yang bertugas menyiapkan atau menata barang-barang pribadinya yang berkaitan dengan pakaian formal, kasual, aksesoris, sepatu, tas, perlengkapan mandi dan kebutuhan pribadi lainnya yang ada dalam kamarnya.
Para pelayan hanya perlu membawa semua kebutuhan Rihan dan berdiri di depan pintu lalu menunggu kedatangan Robot milik Rihan yang diberi nama 'Lulu' yang akan mengambil semua itu dan menatanya dalam kamar Rihan, sehingga tidak sembarangan orang bisa masuk dalam kamar seorang Rihan.
Selain bertugas menata perlengkapan Rihan, Lulu juga bisa mendeteksi adanya penyusup dalam kamar Rihan karena semua yang bekerja dalam mansion milik Rihan sudah terdaftar dalam sistem milik Lulu. Lulu juga bisa berbicara jika di diizinkan untuk berbicara oleh majikannya.
Ketika pekerjaannya selesai, Lulu akan kembali ke tempatnya untuk beristirahat yaitu, dalam sebuah lemari kaca yang tersedia dalam kamar Rihan. Lemari yang ditempati Lulu sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga ketika dimasuki oleh Lulu maka secara otomatis lemari akan mengisi ulang daya tahan tubuh sang Robot.
Setelah membersihkan kamar majikannya, dan dilihat sudah rapi, Alen lalu menuju kamar mandi tempat Rihan berada, tepatnya Bathup yang dipakai Rihan untuk berendam.
Alen kemudian menuangkan wewangian tambahan pada air mandi sang majikan, kemudian Alen memijit pelan bahu Rihan agar tetap rilex.
Setelah beberapa menit kemudian, Rihan menyudahi acara berendamnya dengan mengangkat sebelah tangannya menandakan bahwa Alen berhenti memijit bahunya. Rihan lalu menuju shower dan membersihkan sisa sabun yang menempel pada tubuhnya dengan air.
Melihat itu, Alen lalu mengambil mantel mandi yang sudah tersedia secara rapi disana dan dipakaikan pada sang majikan. Setelah itu Alen mengikuti Rihan menuju meja rias dan mengeringkan rambut sang majikan kemudian membantu Rihan memakaikan pakaian kasualnya.
Rihan yang selesai memakai pakaiannya dibantu oleh Alen, menekan tombol pada jam tangannya dan pintu kamarpun terbuka menampilkan Alex yang berjalan masuk ke dalam kamar Rihan.
"Maaf Nona, Nyonya besar ingin berbicara dengan anda." Alex segera memberitahu ketika sampai dan berdiri di depan Rihan yang saat ini sedang memandangi dirinya lewat cermin besar yang tersedia dalam walk in closetnya.
"Sejak kapan Mommy menelpon?" Tanya Rihan datar tanpa melihat lawan bicaranya.
"Lima menit yang lalu, Nona." Jawab Alex lalu ikut melihat pantulan sang majikan dibalik cermin.
Diam-diam Alex mengagumi rupa sang majikan. Mau dia berpenampilan pria atau wanita tetap saja mempesona. Sayangnya Alex tidak berani menyukai majikannya sendiri.
"Setelah sarapan aku akan menelpon Mommy." Rihan lalu menyudahi acara memandang pantulan dirinya di cermin kemudian berlalu dari sana diikuti oleh si kembar dari belakang.
***
Terima Kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu dengan menekan,
Like
Komen
Rite and
Vote.
__ADS_1
See you.