Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Murid Baru 2


__ADS_3

Mendengar apa yang dikatakan Beatrix, David hanya bisa menguatkan hatinya dari kekecewaan. Dia juga hanya bisa mengerti karena biar bagaimanapun, gadis yang ia cintai begitu menderita di masa lalu.


"Selama ini kamu di mana? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu? Aku sudah menyuruh orang mencarimu ke berbagai negara tetapi tidak menemukan jejakmu," David menatap intens Beatrix.


"Setidaknya aku senang dia baik-baik saja. Aku pikir dia mungkin akan mengalami trauma karena kejadian itu," Batin David lalu tersenyum tipis menatap pujaan hatinya.


"Aku dibawa berobat ke luar negeri oleh kakek dan nenek. Tapi dalam perjalanan, bertemu dengan Mentra kekasihku. Dia dengan berbaik hati membantu kakek dan nenek yang kesusahan mengurus biaya operasiku."


"Lalu di mana kakek dan nenekmu?" Tanya David penasaran.


"Kakek sudah meninggal beberapa tahun lalu. Kalau nenek ada di luar negeri,"


"Syukurlah kamu baik-baik saja,"


"Ya, aku sudah terlalu lama di toilet. Kekasihku akan khawatir. Aku pergi dulu, Dev." Beatrix kembali ke tempat duduk Rihan dan yang lainnya.


David hanya menatap sendu kepergian Beatrix. Di satu sisi dia senang gadis itu sudah bahagia dengan pilihannya. Tetapi di sisi lain, dia sedih karena kebahagiaan pujaan hatinya tidak bersamanya. Dia hanya bisa mengasihani dirinya lalu menghela nafas sebentar kemudian berbalik arah dan menuju tempat duduknya.


"Sepertinya toilet 1 km dari sini," Cibir Mentra kesal. Beatrix hanya bisa membalas dengan senyuman dan mengusap pelan bahu kekasih posesifnya ini.


Baru satu menit Beatrix sampai dan duduk, David juga masuk. Melirik sekilas Beatrix, David duduk kembali di tempatnya.


"Karena kekasihku sudah datang, kami pamit kembali ke apartemen. Ada yang harus kami lakukan. Untuk minuman kalian biar aku yang bayar. Anggap saja traktiran awal pertemuan," Mentra kemudian berdiri dan mengulur tangannya pada sang kekasih kemudian pamit dari sana setelah mendapat anggukan dari Rihan.


Rihan menatap David yang sejak kepergian kedua orang kepercayaannya itu, wajahnya menjadi murung. Sebelumnya, tidak separah ini. Sepertinya pembicaraan singkat mereka tadi berhasil mengubah suasana hati David.


"Sudah selesai?" Tanya Rihan datar pada Dian setelah melirik jam tangannya sebentar memastikan waktunya tidak terbuang lama.


"Hampir selesai. Ini hanya tinggal diedit rapi dan selesai." Balas Dian tanpa menoleh pada Rihan.


"Berikan padaku!" Pintah Rihan membuat Dian seketika berhenti dan menatap bingung pada Rihan.


"Kamu ingin mengeditnya? Biar aku saja." Tolak Dian dan menggeleng.


"Berikan saja padanya," Albert mendorong laptop miliknya ke depan Rihan. Albert jelas tahu seperti apa kemampuan Rihan.


Rihan menatap layar laptop kemudian mulai menggerakan jarinya di sana. Tidak butuh waktu lama, mungkin sekitar 5 menit, Rihan menggeser laptop itu kembali pada Dian.


"Sudah selesai?" Tanya Albert setelah menarik laptop ke depannya.


"Cepat sekali. Jangan lupa untuk ajari aku caranya juga, Rei." Sambung Albert ketika melihat laporan mereka sudah rapi tinggal menunggu di print out.


"Jika aku ada waktu. Ayo pulang! Ada yang harus aku lakukan,"


"Jika kamu sibuk, sebaiknya pulanglah lebih dulu. Kami masih ingin bersantai di sini." Ujar David pelan. Sepertinya dia tidak ingin segera pulang. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


"Iya, Rei. Tidak apa-apa jika kamu pulang lebih dulu." Albert tentu saja tidak berani menahan Rihan di sini.


"Iya, Rei. Kami tidak apa-apa," Sambung Dian tersenyum.


"Baik. Sampai jumpa besok." Pamit Rihan kemudian berdiri dan pergi dari sana.


Setelah keluar dari cafe, Rihan mengendarai mobilnya menuju mansion. Ketika mobil Rihan masuk jalan tol, Rihan mendapat notifikasi dari Gledy bahwa ada yang mengikutinya dari belakang.


"Tidak bisakah aku tenang sehari saja?" Gumam Rihan pelan lalu menginjak pedal gas agar untuk menghindari mobil yang mengikutinya.


"Biarkan aku berolahraga, Gledy. Kamu bisa istirahat."


...*Siap,Tuan.*...


Rihan menambah kecepatan mobilnya sehingga terjadilah aksi kejar-kejar di jalan tol yang cukup banyak kendaraan lain yang berlalu lalang.


Mobil Rihan dan mobil di belakangnya saling mengejar hingga Rihan yang sudah merasa bosan segera menghentikan mobilnya menutupi jalan yang tidak ada lagi kendaraan lain yang berlalu lalang karena itu adalah jalan menuju mansionnya yang cukup jauh dari kota.


Melihat target mereka berhenti, mobil itu juga berhenti. Beberapa pria berbadan kekar keluar dengan penampilan seperti preman tetapi mereka menggunakan masker. Kira-kira sekitar 5 orang. Mereka menghampiri mobil Rihan.


Baru beberapa langkah, sebuah sedan hitam tiba-tiba muncul entah dari mana dan menabrak mobil yang mengikuti Rihan tadi. Rihan yang awalnya ingin keluar dari mobil mengurungkan niatnya karena dia mengenali sedan hitam itu.


"Biarkan mereka kami yang urus, Tuan." Alex datang bersama pengawal bayangan dengan sedan hitam tadi. PB 010 dan dua temannya sedang menghadang pria-pria berbadan kekar itu sehingga Alex dengan mudah melewati mereka dan menuju ke mobil Rihan.


"Waktu kalian hanya 5 menit dari sekarang." Rihan lalu mengatur stopwacth di jam tangannya.


"Tuan memberikan waktu untuk kita 5 menit dari sekarang. Tapi, jangan biarkan mereka mati." Ucap Alex dan diangguki oleh ketiga pengawal itu.


"Siap, Tuan!"


Terjadilah perkelahian diantara para pria itu. 5 lawan 4. Mengingat waktu yang diberikan hanya lima menit, mereka dengan cepat memukul maupun menendang tepat di titik vital yang membuat lawan tidak lagi bisa bergerak.


"4 menit 20 detik. Kerja bagus!" Puji Rihan pada Alex yang sudah selesai dengan tugasnya. Kelima pria itu saat ini sudah pingsan setelah dipukul.


"Dari mana mereka berasal?" Tanya Rihan pada Alex.


"Sepertinya mereka dari luar negeri, Tuan. Wajah mereka tampak asing." Jawab Alex karena dia tadi sempat membuka masker mereka satu persatu dan melihat wajah mereka.


"Gadis itu mulai mengibarkan bendera perang denganku, rupanya." Gumam Rihan pelan tetapi masih bisa didengar oleh Alex yang berdiri di samping Rihan. Tepatnya diluar mobil sedangkan Rihan di dalam.


"Saya menemukan ini di dalam mobil mereka, Tuan Muda." PB 009 yang menghampiri Rihan dan memberikan sebuah ponsel.


"Buka untukku, Lex." Rihan memberikan ponsel itu pada Alex untuk dibuka karena ponsel itu memakai kode pin.


Alex dengan senang hati mengambil ponsel itu dan membukanya hanya dalam waktu satu menit beberapa detik.

__ADS_1


"Ini, Tuan."


Rihan mengambil ponsel itu dan membuka kontak panggilan masuk dan ternyata tertera nomor tanpa nama di sana. Menekan panggil, Rihan lalu menyalakan mode speaker sambil menunggu panggilan dijawab.


"Tugasmu sudah selesai? Jika sudah, kirimkan foto bajingan itu padaku." Itu suara yang sangat Rihan kenal.


Rihan menyeringai, kemudian memberikan ponsel pada Alex sebentar dengan maksud untuk mengambil gambar 5 pria yang sedang pingsan itu kemudian dikirim pada nomor itu.


"Bagaimana hadiahku, mantan kakak ipar?" Tanya Rihan santai.


"KAU..." Suara di seberang sana terdengar emosi.


"Sepertinya peringatan yang aku berikan tidak berlaku lagi untukmu, Rine." Ucap Rihan datar.


"BAGAIMANA BISA KAU LOLOS BERGITU SAJA? BAJINGAN KAMU, REI!" Marah Rine. Rihan bisa menebak sejelek apa ekspresi wanita itu ketika marah.


"Calm down! Itu hanya hadiah jumpa kembali untukmu. Hadiah lainnya akan menyusul," Rihan lalu memutuskan panggilan lebih dulu tanpa menunggu umpatan di seberang sana.


"Sisakan satu orang di sini. Biarkan dia kembali dan melapor pada gadis itu," Rihan memberikan kembali ponsel itu pada Alex untuk dikembalikan ke tempat semula.


"Baik, Tuan."


"Hmm. Sampai ketemu di mansion," Rihan menyalakan kembali mobilnya dan menuju mansion.


"Hati-hati di jalan, Tuan."


***


Tepat pukul 8 pagi, Rihan sudah siap di atas motor kesayangannya. Dia akan ke kampus karena ada kelas pukul 9 pagi. Rihan memang berniat ke kampus lebih awal mengingat perjalanannya dari mansion ke kampus cukup jauh. Lagipula Rihan sedang malas mengebut sekarang.


Hari ini juga rencananya Beatrix akan mulai masuk kuliah dengan mengambil jurusan yang sama dengan Ariana, yaitu desain. Sebenarnya Beatrix sudah menyelesaikan studinya di bidang manajemen tetapi karena rencana mereka, sehingga gadis itu harus kembali masuk kuliah. Hitung-hitung menambah hobbynya.


Motor Rihan memasuki gerbang Antarik Universitas pukul 08.35 pagi. Tepat setelah motor Rihan masuk gerbang, sebuah lamborgini juga ikut dari belakang. Mendengar klakson mobil itu, tanpa  melihatnya, Rihan jelas tahu siapa yang mengemudi. Tentu saja itu Beatrix. Jika David atau Albert, mereka biasanya sama-sama menuju tempat parkir milik fakultas kedokteran.


Rihan hanya menengok sekilas ke bagian belakang sebagai tanda membalas sapaan Beatrix. Rihan terus menuju tempat parkir, sedangkan Beatrix dengan mobil juga menuju fakultas desain.


Di posisi Beatrix, gadis itu menuju ruang dekan agar bisa mengantarnya ke kelas. Meski Antarik Universitas milik keluarga Ayu, tapi Alex secara diam-diam membayar dekan fakultas desain agar Beatrix ditempatkan di kelas yang sama dengan Ariana. Lagipula rekapan nilai-nilai palsu milik Beatrix sangat bagus sehingga pimpinan fakuktas desain itu dengan senang hati menempatkan Beatrix dikelas yang diinginkan.


Beatrix kemudian diantar menuju kelas dimana Ariana berada. Kebetulan belum ada dosen di sana sehingga dekan itu segera membuka pintu dan masuk diikuti oleh Beatrix.


"Perhatian semuanya!" Dekan pria paru baya itu mengalihkan Perhatian semua orang.


Ariana yang tadinya sibuk memamerkan koleksi make up edisi terbatas miliknya, terpaksa berbalik dan menatap malas sang dekan. Matanya tiba-tiba melotot ketika melihat kehadiran Beatrix di samping Dekan itu.


"Hari ini kita kedatangan mahasiswi baru pindahan dari Amerika. Dia akan belajar bersama kalian mulai sekarang. Ingat untuk memperlakukannya dengan baik. Silahkan perkenalkan dirimu, Nak."

__ADS_1


"Halo! Perkenalkan nama saya Rihhane Senora. Terserah kalian ingin memanggilku apa. Semoga kita bisa berteman baik."


__ADS_2