Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Amerika Lagi


__ADS_3

Maaf guys... baru up. Minggu ini dan minggu depan aku ada UAS jadi jarang up. Mohon pengertiannya ya, guys! Mari kita lanjut kisah Rihan.


.


.


.


"Halo! Perkenalkan nama saya Rihhane Senora. Terserah kalian ingin memanggilku apa. Semoga kita bisa berteman baik."


"Apalagi yang j****g ini rencanakan?" Batin Ariana yang menatap benci Beatrix sambil kedua tangannya terkepal erat.


"Silahkan duduk, Nak." Dekan mempersilahkan dengan ramah.


"Baik, Pak. Terima kasih." Balas Beatrix dan tersenyum manis membuat para pria yang melihatnya terpesona.


Ariana yang melihat semua tatapan terpesona mengarah pada Beatrix, semakin membenci Beatrix yang sedang menyamar menjadi Rihan itu.


"Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan padamu b***h." Gumam Ariana dalam hati sambil terus menatap Beatrix yang berjalan ke arahnya. Lebih tepatnya mengambil posisi duduk di belakang Ariana. Dekan itu juga segera keluar setelah Beatrix duduk di tempatnya.


"Halo teman," Sapa Beatrix pelan di belakang Ariana.


"Senang bertemu lagi," Sambung Beatrix tersenyum miring. Ariana yang mendengarnya semakin jengkel tetapi tidak berbalik menatap Beatrix.


"Kamu mengenal Ariana?" Tanya seorang gadis yang duduk di sebelah Beatrix.


"Ya. Dia temanku. Aku pernah SMA di sini," Beatrix tersenyum manis dan dibalas anggukan oleh gadis yang bertanya tadi.


"Bagaimana dengan gadis yang kamu bully, Ar?" Pancing Beatrix mengundang tatapan penasaran dari mereka yang mendengarnya.


Beatrix sengaja memancingnya karena pada saat itu, kasus pembullyan terhadap Rihan ditutup rapat oleh keluarga Ariana sehingga tidak ada yang tahu tentang itu.


[Pembullyan?♧


[Aku juga pernah mendengar adanya kasus pembullyan yang sengaja ditutup oleh pihak sekolah karena orang tua anak yang membully itu adalah investor terbesar di sekolah itu.]


[Kamu tahu dari mana soal itu?]


[Temanku dari sekolah itu yang menceritakannya padaku.]


[Di mana temanmu itu bersekolah?]


[SMA Permata Harapan.]


[Di mana kamu bersekolah, Rihan?]


Ariana yang mendengar percakapan teman-temannya itu menjadi gugup. Lebih gugup lagi adalah sekolah yang disebut itu adalah SMAnya dulu. Ariana menoleh menatap tajam Beatrix seakan mengancam untuk jangan memberitahu asal sekolahnya. Beatrix hanya menatap santai Ariana dengan menaikan sebelah alisnya seakan menantang.


"Tanyakan saja pada Ariana. Aku sedikit lupa nama sekolahku dulu," Jawab Beatrix menatap Ariana dengan senyum menantang membuat Ariana hanya bisa mengumpat dalam hatinya karena kesal.


"Jadi, di mana kamu bersekolah, Ar?" Tanya seorang mahasiswa yang penasaran. Beberapa mahasiswa mulai mendekat dan duduk mengelilingi Beatrix. Mereka kini menatap Ariana menuntut jawaban.


"Kalian tidak perlu tahu!" Balas Ariana kesal lalu menatap benci Beatrix sekilas kemudian berbalik menghadap ke depan.

__ADS_1


"Jika aku mengingatnya, aku akan memberitahu kalian, tenang saja." Beatrix menyahut. Semua orang hanya bisa mengangguk mengerti.


"Ini masih permulaan rubah betina! Aku jamin, hidupmu akan damai setelah kedatanganku," Batin Beatrix yang menatap punggung Ariana lalu tersenyum licik.


...


Di kelas Rihan, mereka saat ini sedang dalam kondisi tenang karena seorang dosen sedang mengajar di depan. Di saat semua orang sedang fokus pada dosen itu, tiba-tiba ponsel Rihan bergetar di atas meja. Ada beberapa mahasiswa yang mendengar getaran itu sehingga fokus mereka teralihkan.


Rihan hanya acuh dengan keadaan. Dia beralih menatap ponselnya yang bergetar di atas mejanya. Melihat nama si penelpon, Rihan tanpa penundaan segera menjawabnya.


"Ada apa, Kak?" Jawab Rihan pelan.


Meski tindakan Rihan tidak sopan, tetapi tidak ada yang berani menegurnya. Dosen wanita di depan pun hanya bisa menghela nafas sebentar kemudian melanjutkan lagi penjelasannya.


"Bisakah aku meminta bantuanmu?"


"Katakan saja!"


"Ira saat ini sedang syok dan tidak bisa ditenangkan."


"To the point, Kak."


"Kedua orang tuaku kecelakaan di Swiss. Saat ini mereka ada di rumah sakit. Rencananya aku akan berangkat diam-diam karena tidak ingin Ira tahu masalah ini. Sayangnya karena ceroboh, dia mendengar percakapanku bersama Logan yang membuatnya syok. Bisakah kamu datang menenangkannya? Ira tidak mau mendengarkanku. Aku yakin, mungkin kamu bisa menenangkanya." Suara Neo terdengar lirih.


"Baiklah. Aku akan segera ke sana. Tunggu aku!"


"Ya. Terima kasih, Rei."


"Hmm."


Rihan segera mengemas tasnya kemudian berdiri hendak keluar.


"Maaf pak, aku pamit! Ada urusan penting." Ucap Rihan datar pada dosen wanita itu kemudian berlari keluar. Dosen itu hanya bisa mengelus dadanya untuk bersabar karena dia belum menjawab, tetapi Rihan sudah keluar lebih dulu.


"Apa terjadi sesuatu?" Bisik Albert pada David yang duduk di sebelahnya.


"Entahlah. Tapi sepertinya begitu, terlihat dari tindakan Rei." Balas David ikut berbisik tetapi pandangannya tetap memperhatikan dosen di depan kelas.


"Apa sebaiknya kita ikuti saja?" Usul Albert.


"Untuk apa? Itu bukan urusanmu. Lagipula Rei pasti tidak ingin kamu mencampuri urusannya."


"Benar juga."


Kembali pada Rihan, dia saat ini setelah keluar dari kelas, kembali menelpon Alex untuk menyiapkan jet pribadi untuknya. Alex yang kebetulan sedang di mansion segera melaksanakan perintah sang majikan.


Rihan dengan cepat mengendarai motornya menuju mansion. Dia begitu khawatir dengan sahabatnya. Traumanya belum sembuh, kenapa harus ada kejadian ini.


Sesampainya di mansion, Rihan tanpa mengganti pakaiannya segera menuju lapangan pesawat. Di sana sudah ada Alex dan Alen yang masih kebingungan dengan perintah tiba-tiba Rihan.


"Maaf Tuan, boleh saya tahu ada apa sehingga anda begitu tiba-tiba ingin berangkat?" Tanya Alex karena ketika Rihan menelpon, Alex tidak sempat bertanya.


"Aku harus ke Amerika. Tata membutuhkanku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya." Jawab Rihan datar dan segera naik ke jet pribadi.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Biarkan saya ikut." Alex sudah bersiap naik.


"Tidak kali ini. Ada hal penting yang harus kamu lakukan, Lex." Tolak Rihan menatap Alex yang mengerutkan kening.


"Saya tidak ingin meninggalkan anda sendiri, Tuan."


"Kamu harus tahu, Lex! Rencana utama kita untuk membalas rubah itu belum terlaksana. Jika kamu ikut denganku, siapa yang akan membantu Beatrix? Sebaiknya kamu dan Alen tinggal untuk membantunya. Aku akan baik-baik saja di sana."


"Saya masih belum percaya pada mereka, Tuan." Gumam Alex pelan.


"Semua itu ulah Rine jika kamu lupa, Lex."


"Tapi Tuan..."


"Aku akan baik-baik saja. Tenanglah. Ayo berangkat!" Ucap Rihan pada sang pilot.


Pilot lalu mengontrol jet pribadi hingga lepas landas meninggalkan wajah sedih bercampur khawatir milik kedua asisten pribadi Rihan itu.


"Percaya saja pada nona, Kak." Alen menepuk pelan bahu Alex untuk menenangkannya.


"Kakak tahu, tapi..."


"Ayo masuk, Kak!"


"Baiklah." Alex menghela nafas dan ikut bersama Alen.


***


Hanya butuh beberapa jam, Rihan sudah mendarat di lapangan khusus jet pribadi yang dibangun hanya berjarak beberapa meter dengan mansion baru milik Neo. Setelah mendarat, sudah ada Neo dan Logan yang menunggunya.


"Bagaimana keadaan Tata?" Tanya Rihan setelah turun dan menghampiri Neo dan Logan.


"Ira ada di kamarnya. Aku akan mengantarmu ke sana. Maaf sudah merepotkanmu." Neo merasa bersalah.


"Bukan apa-apa." Balas Rihan datar. Dia dengan tenang ikut Neo masuk ke dalam mansion. Logan mengekor di belakang.


"Jam berapa kalian akan berangkat?" Tanya Rihan setelah mereka masuk dalam lift.


"Setelah Ira tenang. Aku tidak mau meninggalkannya dalam keadaan seperti itu." Balas Neo menatap Rihan sekilas.


"Ayo berangkat ke Swiss." Perkataan Rihan membuat Neo dan Logan secara serempak menatapnya.


"Maksudmu?" Tanya Neo bingung.


"Aku ikut ke Swiss bersama Tata. Akan lebih baik dia melihat secara langsung keadaan orang tua kalian. Aku jamin semua akan baik-baik saja," Jawab Rihan menatap bergantian dua pria di depannya.


"Tapi..."


"Biarkan ini menjadi terapi terakhir untuk Tata. Dia juga bisa mengingat hal-hal menyenangkan di masa kecilnya dan melupakan traumanya."


"Baiklah. Aku setuju denganmu. Aku serahkan Ira padamu."


"Hmm."

__ADS_1


__ADS_2