
"Kamu sudah tahu selama ini, tetapi kenapa membiarkanku begitu saja?" Tanya Elle pelan. Remasan di selimut yang dia pakai semakin kuat.
"Pertanyaan bagus! Aku membiarkanmu selama ini, karena pesan terakhir bibi padaku untuk menjagamu. Sayangnya, tindakanmu sudah melewati batas." Jawab Zant datar.
Zant kemudian mengambil sebuah gelas minuman di sampingnya dan meminumnya membuat semua orang menatapnya heran. Mereka bertanya-tanya, dari mana minuman itu datang? Mereka sedari tadi hanya memperhatikan Zant dan tidak sadar, bahwa pria berwajah datar di samping Zant saat ini sedang berdiri memegang baki di tangannya dengan satu gelas dan sebotol minuman di atasnya.
"Mendengar ceritamu, seharusnya keluarga Neo tidak ada hubungan apapun dengan kecelakaan keluargamu. Kalau begitu, kenapa kamu ingin menghancurkan Neo dan keluarganya?" Tanya Brand menatap tajam Elle.
Semua orang juga menanti jawaban dari Elle. Elle yang ditatap seperti itu, tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku penasaran apa yang akan dilakukan Tuanmu, jika tahu yang sebenarnya?" Suara Zant terdengar tenang. Pria itu menatap Elle tajam.
"Apa maksudmu?" Tanya Brand tidak mengerti.
"Manrix Stefillus, anak tunggal supir pribadi keluargaku yang juga terlibat dalam kecelakaan itu. Sekarang menjabat sebagai wakil direktur Cognizant Technology. Dia yang tidak tahu cerita sebenarnya dari kecelakaan itu. Bagaimana jika dia tahu, bahwa sekretarisnya yang sebenarnya terlibat dalam kecelakaan itu?" Zant berbicara sambil menggoyang pelan gelas di tangannya.
"Aku mengerti! Berarti, si Manrix itu berpikir karena keluarga Neo, sehingga ayahnya meninggal. Dia yang menjabat sebagai wakil direktur, ingin membuat masalah dengan Chi Corporation, sehingga Cognizant Technology di blacklist. Aku juga penasaran apa yang akan dia lakukan pada penyihir sepertimu?" Ujar Brand dan mengangguk mengerti.
Elle yang mendengar itu meneguk ludahnya susah payah. Masih teringat jelas di pikirannya pesan terakhir sang Tuan bahwa nyawa taruhannya jika gagal dalam misi ini. Belum lagi jika dia tahu kebenaran kecelakaan itu, tubuhnya pasti dicabik-cabik sebelum dibunuh. Elle sangat tahu tempramen menyeramkan sang Tuannya itu.
"Tenang saja, kamu tidak akan bertemu dengan dia lagi." Suara Alex membuat Elle menoleh ke arah seberang kaca.
"Kamu akan tinggal di sini dan menerima hukumanmu setiap hari. Bukankah lebih bagus, menerima siksaan setiap hari dari pada disiksa sehari penuh lalu dibunuh?" Sambung Alex dengan tenang.
"KAU... LEPASKAN AKU! LEBIH BAIK AKU DI SIKSA DAN LANGSUNG DIBUNUH OLEHNYA, DARIPADA TINGGAL DI SINI, DAN DISIKSA OLEHMU!" Teriak Elle dan berusaha melarikan diri.
Sayangnya, baru saja dia melangkah, kakinya tanpa sengaja tersangkut selimut dan jatuh terjerembab tepat di depan Brand.
"Menurutlah dan tinggal di sini. Percayalah, hidupmu akan terasa lebih baik daripada berkeliaran dan membuat kekacauan." Brand berbicara dengan santainya kemudian menginjak tangan Elle.
"Akh... kamu..." Ucap Elle dan meringis sakit.
__ADS_1
"Kamu sangat kasar. Berikan itu padanya!" Zant melirik pria berwajah datar yang berdiri di sebelahnya.
"Aku juga ingin mencobanya," Ucap Brand, karena orang kepercayaan Zant itu menuangkan sebotol minuman yang dia bawa dan memberikannya pada Elle.
"Ini dibuat khusus untuknya," Balas Zant lalu berdiri dan beranjak keluar setelah melihat Elle meminum hingga habis isi gelas itu.
"Berikan itu setiap hari padanya. Hadiah dariku!" Ujar Zant pada Alex lalu pergi dari sana diikuti oleh orang kepercayaannya.
Setelah Zant keluar dari ruang bawah tanah itu, teriakan kesakitan Elle terdengar membuat Zant menyeringai.
Minuman itu bukan minuman biasa, tetapi sudah dicampur dengan racun yang akan bekerja selama 3 jam, membuat orang yang meminumnya akan kesakitan seperti organ tubuhnya dicabik-cabik.
Itu racikan yang Zant buat sendiri dengan bantuan resep yang dia baca dari laptop milik Rihan. Sepertinya gadis kecilnya itu sedang mengembangkan beberapa racun dan belum sempat dibuat, bahkan diujicobakan. Oleh karena itu, Zant dengan senang hati akan mencobanya pada Elle.
Yang Zant minum sebelumnya, memang minuman yang sama, tetapi dia sudah lebih dulu meminum penawarnya. Zant sengaja meminumnya lebih dulu agar Elle tidak curiga.
Setelah kepergian Zant, Brand menelan ludahnya takut. Pria itu juga mengelus dadanya pelan. Awalnya dia akan mencoba minuman itu setelah Zant pergi. Sayangnya, Elle lebih dulu bereaksi kesakitan sehingga Brand mengurung niatnya. Pria itu dengan cepat beranjak keluar dari ruangan itu.
Setelah keluar dan menutup pintu, Brand menghampiri yang lainnya. Ketika melihat wajah Neo, Brand kembali teringat pada Rihan. Emosi pria itu lalu tersulut. Tanpa mengatakan apapun, Brand menghampiri Neo.
"Kamu bajingan, Neo! Karena kebodohanmu, Rei meninggal. Aku akan membunuhmu hari ini!" Kesal Brand setelah memukul bertubi-tubi wajah Neo.
Logan yang tadinya ingin melerai dua sahabatnya itu, ditahan oleh Dom. Dom juga memberi isyarat agar membiarkan dua pria itu menyelesaikan masalah mereka. Setidaknya keduanya akan merasa sedikit legah.
Neo sendiri tidak membalas pukulan Brand. Pria itu sadar dengan kesalahannya dan membiarkannya begitu saja. Yang lain hanya menatap datar Brand yang sedang meninju berulang kali wajah Neo.
Neo setelah pingsan di depan gerbang mansion Rihan, dibawa pergi ke rumah sakit oleh orang suruhan Alex. Pria itu lalu dirawat selama beberapa hari karena depresi. Dia juga tidak makan selama beberapa hari sehingga kehilangan banyak cairan tubuh sehingga mudah pingsan.
Zant sendiri yang menelpon Neo dan memberitahukan padanya untuk datang karena Alex sudah menangkap Elle. Awalnya Zant tidak ingin memberitahu Neo, tetapi setelah dipikir-pikir, Zant juga kasihan pada pria itu.
Jika boleh jujur, Zant sebenarnya sangat marah pada Neo karena gadis kecilnya seperti ini. Akan tetapi, Zant tidak ingin melakukan apapun pada Neo, karena dia yakin hidup pria itu mulai sekarang tidak akan seperti dulu lagi. Rasa bersalah Neo membuatnya akan menyesal seumur hidup.
__ADS_1
Di ruang bawah tanah itu, hanya ada suara pukulan Brand pada Neo, dan suara teriakan kesakitan Elle karena racun di tubuhnya, seakan organ tubuhnya diiris secara perlahan-lahan. Sudut bibir Alex tertarik ke atas melihat dan mendengar teriakan kesengsaraan Elle.
***
Zant baru saja sampai di My Albany. Pria itu segera turun ke laboratorium untuk menyapa gadis kecilnya sebelum dia membersihkan diri. Sudah menjadi kebiasaannya, bercerita pada Rihan apa saja yang akan dan setelah dia lakukan. Entah didengar atau tidak, Zant hanya ingin bercerita.
Sampai di Lab, Zant dibuat syok karena melihat Dokter Galant sedang berusaha memberikan CPR pada Rihan. Gadis kecilnya sudah tidak lagi berada dalam tabung, tetapi sedang berbaring di brankar dengan Dokter Galant yang sedang memompah dada Rihan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Zant panik. Pria itu lalu mendorong Dokter Galant menjauh dari Rihan dan beralih memompa dada gadis kecilnya.
"Detak jantungnya berhenti. Gledy tidak bisa lagi menolongnya. Tu...Tuan majikan tidak bisa diselamatkan lagi. Sudah dua jam detak jantung Tuan majikan berhenti. Tuan Majikan, di...dia..." Dokter Galant tidak mampu melanjutkan perkataannya dan mulai menangis.
"DIAM! Dia adalah gadis yang kuat. Dia tidak mungkin pergi begitu saja." Marah Zant sambil terus memberikan CPR pada Rihan.
"Kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Kita baru saja bertemu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, gadis kecil. Tidak akan! Aku tidak akan memaafkanmu jika kamu pergi meninggalkanku," Zant berbicara dari nada tinggi hingga rendah. Tanpa sadar air mata pria itu lolos dari pelupuk matanya.
"Sudah cukup kamu membuatku menderita selama belasan tahun karena meninggalkanku. Aku tidak mengizinkanmu pergi lagi. Aku mohon, tinggallah bersamaku, gadis kecil. Aku... aku..." Zant tidak tahu harus berkata apa lagi. Kedua tangannya gemetar ketika dia tidak lagi merasakan reaksi apapun dari tubuh gadis kecilnya.
"Hei... bangunlah, gadis kecil. Jangan tinggalkan aku! Aku mohon..." Gumam Zant lalu menarik Rihan yang sudah tidak bernyawa lagi ke dalam pelukannya. Pria itu menangis dalam diam sambil memeluk erat gadis kecilnya.
Dokter Galant yang berdiri di samping brankar ikut menangis.
"Kenapa melakukan ini padaku? Kamu marah karena aku melakukan kesalahan? Kalau begitu, bangunlah dan katakan padaku dimana kesalahanku. Bangun dan pukul aku jika aku salah, gadis kecil. Hiks... hiks... Jangan melakukan ini padaku. Bangunlah, gadis kecil. Please, wake up!"
.
.
.
Mari berdoa bersama, semoga Rihan tenang di sana.
__ADS_1