
Selamat membaca!
.
.
.
"Biar aku naik sendiri. Kamu pasti capek gendong aku terus," Tolak Phiranita setelah mereka sampai di ruang rawatnya, dan Rihan hendak menggendongnya lagi ke tempat tidurnya.
"Kata dokter aku sudah sembuh, Han." Ujar Phiranita lagi karena Rihan tidak menanggapi perkataannya tadi, malahan Rihan memasang wajah datarnya.
"Hmm."
Mendengar deheman tanda persetujuan dari Rihan, Phiranita langsung tersenyum dan secara perlahan menurunkan kakinya di kursi roda dan berjalan ke arah tempat tidurnya. Sedangkan Rihan hanya memperhatikan sahabatnya itu dengan tajam.
"Aku tidak apa-apa," Phiranita menenangkan Rihan setelah duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Keras kepala." Balas Rihan datar, lalu duduk di kursi dekat tempat tidur Phiranita. Phiranita hanya tersenyum menanggapi perkataan Rihan.
"Aku ini apa bagimu?" Tanya Rihan datar dengan tatapan tajam sang sahabat yang masih memasang senyum manisnya.
"Sahabat." Jawab Phiranita cepat.
"Sahabat, tetapi aku tidak tahu siapa namamu." Rihan sekedar basa-basi sebelum mengorek identitas Phiranita.
"Benar juga, ya. hehehe... aku tahu namamu, tapi kamu tidak. Perkenalkan namaku Phiranita. Rihan biasa memanggilku dengan sebutan Tata." Balas Phiranita lalu mengulurkan tangannya pada Rihan tanda perkenalan.
"Rehhand." Rihan menjawab datar lalu membalas uluran tangan Phiranita.
"Bagaimana dengan keluargamu?" Tanya Rihan.
"Aku tidak tahu mereka masih hidup atau tidak. Maksudku orang tuaku. Yang aku ingat, paman dan bibi membawaku tinggal bersama mereka pada saat umurku 5 tahun. Ingatanku sebelum dibawa oleh paman dan bibi tidak ada. Aku sudah menanyakannya pada paman dan bibi, tetapi mereka selalu mengalihkan pembicaraan." Jawab Phiranita yang kini meremas pelan baju pasiennya sambil menunduk.
"Hmm. Lalu, kenapa kamu mencari sahabatmu sampai ke sini?"
"Tidak ada alasan apapun. Aku sudah berusaha mencarinya di beberapa negara, tetapi tidak menemukan hasilnya. Entah kenapa hatiku mengatakan untuk datang ke Indonesia, dan akhirnya bertemu denganmu.
Sepertinya pencarianku padanya akan berakhir sampai di sini. Biarlah takdir yang akan mempertemukan kita. Aku berharap kamu bisa menggantikannya, sehingga rasa bersalah dan rinduku bisa kutebus melalui kamu." Jawab Phiranita yang kini meneteskan air matanya.
Rihan yang ingin menghibur sang sahabat, terpaksa mengurungkan niatnya karena mendengar ketukan pintu. Keduanya lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu menunggu si pengetuk untuk segera masuk.
"Maafkan kami, Tuan. Lalu lintas Jakarta benar-benar padat." Suara Alex yang baru saja masuk diikuti oleh Alen dan beberapa pelayan dari belakang.
"Hmm."
__ADS_1
"Aku akan membersihkan diri, setelah itu aku harus ke kampus. Aku akan menjengukmu lagi. Istirahatlah!" Ucap Rihan yang kini sudah berdiri dan membantu Phiranita untuk berbaring dan menyelimutinya.
Piranita hanya menganggukkan kepalanya kemudian memejamkan matanya dan perlahan-lahan terdengar nafas teraturnya.
"Ini baju ganti anda, Tuan." Alex lalu menyerahkan paperbag berisi pakaian Rihan, sedangkan Alen sibuk menata sarapan pagi dibantu oleh para pelayan.
Rihan lalu mengambil paperbag di tangan Alex kemudian masuk ke kamar mandi di sana dan membersihkan diri.
Tidak lama kemudian, Rihan keluar dengan pakaian kasual yang biasa dipakainya ke kampus dan mengambil posisi duduk untuk sarapan pagi bersama kedua asisten pribadinya sebelum ke kampus.
***
"Kami bertiga sudah menentukan waktu penelitiannya, Tuan Muda." Albert membuka suara setelah beberapa menit mereka sampai di kantin.
"Panggil namaku. Aku bukan majikan kalian!" Ucap Rihan datar lalu menatap tajam Albert, membuat sang empunya gugup dan berusaha menutupinya dengan memasang senyum pepsodent sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.
"Ba...baiklah Rehhand. Kami sudah menentukan waktunya, dan besok kita akan ke rumah sakit Setia." Jelas Albert berusaha tenang.
"Hmm." Deheman Rihan kemudian menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 11.15.
Kebetulan kelas pagi mereka selesai lebih cepat, sehingga mereka memutuskan untuk membahas proyek akhir semester sekaligus makan siang di kantin.
"Baiklah. Jadi besok jam 10 pagi, kita berkumpul di lobby rumah sakit. Tapi tunggu..." Albert menatap ketiga temannya kemudian tersenyum. Dia teringat akan sesuatu.
"Kamu saja ketuanya," Jawab David dan Dian secara bersamaan kemudian ikut tersenyum menatap Albert yang kini memasang wajah melongo.
"Tidak bisa begitu. Bagaimana kalau David saja?" Albert menolak sekaligus memberi usulan.
"Kamu yang paling aktif di sini, sehingga kamu yang harus menjadi ketua. Biar Dian yang akan menjadi sekretaris kelompok." David memasang senyum menyebalkan menurut Albert. Setidaknya penilaiannya tidak salah memilih Albert menjadi ketua kelompok.
"Bisa-bisanya aku memimpin ketiga orang pintar ini. Huffft..." Gumam Albert lalu menghela nafasnya pelan, tapi masih bisa didengar oleh ketiga temannya.
"Terima saja nasibmu, Kawan." David menepuk pelan bahu Albert. Ada senyum mengejek di matanya.
"Dian, kamu setuju jadi sekretaris Albert?" Tanya David pada Dian yang ada di sebelah Albert.
Dian hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Mereka yang sedang membahas tugas kelompok, dialihkan karena kedatangan Ariana.
"Maaf, Tuan Muda. Boleh saya duduk disini?" Tanya Ariana yang baru saja datang dan menghampiri tempat duduk Rihan.
David, Dian dan Albert mengalihkan pandangannya pada Ariana, kemudian kembali menatap Rihan menunggu jawabannya.
"Hmm."
__ADS_1
Mendengar itu, Ariana dengan senang hati duduk di kursi kosong di sana.
"Terima kasih, Tuan Muda." Ariana lalu memasang senyum terbaiknya kemudian duduk di kursi kosong depan Rihan.
"Apa aku juga boleh duduk di sini, Tuan Muda?" Tanya Ayu yang juga baru saja datang dan menatap Rihan intens.
"J****g ini kenapa harus ikut? ini tidak bisa dibiarkan!" Kesal Ariana dalam hatinya lalu menatap sinis Ayu yang masih berdiri menunggu jawaban Rihan.
"Hmm." Deheman Rihan mempersilahkan Ayu untuk duduk di sana. Entah apa yang Rihan rencanakan dengan memberi izin kedua wanita itu duduk satu meja dengannya.
Dengan senang hati, Ayu mengambil posisi duduk di sebelah Ariana karena hanya ada satu kursi kosong di sana. Padahal masih ada kursi kosong di bagian Rihan, akan tetapi tidak ada yang mau duduk sejajar dengannya, apalagi bersebelahan.
BRUK
"Awww..."
"Rasakan itu. Malu 'kan dilihat Tuan Muda." Ejek seorang dalam hati senang.
"Kamu sengaja, 'kan? Jawab aku Nona Samantha!" Marah orang yang terjatuh tadi, yang tidak lain adalah Ayu.
Beberapa saat lalu, ketika bokong Ayu akan mendarat di kursi, Ariana yang ada di sampingnya sengaja mendorong kursi Ayu ke belakang, sehingga Ayu yang ingin duduk akhirnya terjatuh.
"Maaf, Nona Antarik. Kakiku salah tempat tadi," Jawab Ariana tanpa dosa kemudian memperlihatkan senyum kemenangannya pada Ayu yang sedang menggertakkan giginya menahan marah.
Ayu berusaha mempertahankan sisi tenang serta feminimnya di hadapan pria pujaannya, sehingga wajahnya yang putih itu terlihat memerah karena menahan emosi.
"Cari tempat lain, jika ingin membuat keributan." Nada suara Rihan datar tanpa menatap orang yang dimaksud. Rihan tidak senang dengan keributan yang dua wanita itu sebabkan. Belum lagi, dia sedang sibuk dengan ponselnya.
"Maafkan saya, Tuan Muda." Ayu memasang wajah memelasnya pada Rihan sedangkan pada Ariana, dia memasang tatapan tajamnya. Ayu lalu menarik kembali kursinya dan duduk dengan tenang.
Setelah Ayu duduk di kursinya, tidak ada membuka suara. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Meski begitu, pandangan mereka hanya tertuju pada satu objek di depan mereka yang tidak lain adalah Rihan yang sedang sibuk dengan ponselnya.
David, Dian, Ariana dan Ayu sedang fokus menatap wajah tampan dan cantik Rihan, sedangkan Albert juga sibuk dengan ponselnya tanpa memperhatikan teman-temannya.
Alex yang sedari tadi di belakang Rihan, hanya menggelengkan kepalanya heran dengan tingkah mereka yang menatap sang majikan intens. Alex kemudian mengalihkan perhatiannya pada telinganya karena mendengar suara sang adik yang baru saja memasuki gerbang Antarik Universitas.
Setelah beberapa menit, Alen terlihat bersama para pelayan memasuki kantin dan berjalan ke arah tempat duduk Rihan.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
See You.
__ADS_1