
"Silahkan duduk, Nak."
"Iya, Paman."
Rihan kemudian duduk di salah satu sofa dalam ruang kerja Tuan Evan dan berhadapan langsung dengan kepala keluarga Chi itu.
"Kamu pasti penasaran kenapa paman memanggilmu ke sini, 'kan?" Tuan Evan bertanya setelah meneguk segelas kopi dan meletakkannya. Rihan hanya membalas dengan anggukan.
"Pertama, paman ingin mengucapkan banyak terima kasih karena sudah menyelamatkan Ira. Terima kasih juga, karena kamu, Neo dan Ira tidak terlalu terpuruk atas meninggalnya mami mereka. Paman hanya bisa mengucapkan terima kasih untuk kehadiranmu dalam keluarga ini. Jika ada yang kamu inginkan, katakan saja. selagi paman bisa, paman akan memberikannya untukmu."
"Sama-sama, Paman. Tapi saya tidak menginginkan apapun saat ini. Jika ada, nanti akan saya katakan."
"Baik. Paman akan menunggunya. Oh iya, mulai sekarang, jangan terlalu formal. Kita sudah seperti keluarga,"
"Baik, Paman."
"Satu lagi yang ingin paman tanyakan padamu,"
"Silahkan, Paman."
"Bagaimana pendapatmu tentang Ira?"
"Pendapat seperti apa yang paman maksud?" Tanya Rihan mengerutkan kening.
"Sudut pandangmu sebagai pria ketika melihat Ira."
"Bagaimana aku menjawabnya? aku ini seorang gadis," Gumam Rihan dalam hati lalu menghela nafas pelan.
"Sudut pandang seorang pria, aku tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Bisa dibilang Tata adalah gadis yang cantik, ceria dan manja, mungkin?" Jawab Rihan seadanya.
"Hmm... pertanyaan terakhir tentang Ira. Jika dia paman jodohkan sekarang, bagaimana menurutmu? Apa Ira sudah cocok menikah?"
"Bagiku menikah itu sekali seumur hidup. Mereka yang menjalankannya harus benar-benar paham apa itu menikah. Bukan hanya untuk bersenang-senang tapi juga ada beberapa hal yang harus mereka pikirkan untuk masa depan mereka dan juga anak-anak mereka nanti.
Jika paman bertanya tentang Tata, bukankah itu terlalu cepat? Maksudku, Tata baru saja bertemu paman dan kak Neo setelah terpisah cukup lama. Tapi, itu tergantung padanya. Kalau dia siap, itu bukan masalah. Paman berencana menjodohkan Tata?"
"Ya. Paman mengerti maksudmu. Paman sudah memikirkan itu. Akan tetapi, paman yakin pria yang paman jodohkan ini bisa menjaga anak gadis paman dengan baik. Terbukti, dia baik-baik saja sampai saat ini," Tuan Evan berujar diakhiri dengan tersenyum tipis.
"Kenapa perasaanku tidak enak?" Gumam Rihan dalam hati menatap aneh senyum Tuan Evan.
"Baguslah kalau pria itu bisa menjaga Tata dengan baik." Rihan mengangguk pelan.
"Nak Rei, tidak penasaran siapa pria itu?" Tanya Tuan Evan masih dengan senyumnya.
"Memangnya siapa pria itu, Paman?"
__ADS_1
"Pria yang sedang duduk di depan paman saat ini."
"Ya, salam! perasaan tidak enakku tadi ternyata ini," Ucap Rihan dalam hati merasa geli. Ingin sekali dia tertawa, tapi sudahlah.
"Kenapa harus aku?"
"Paman rasa kamu cocok dengan Ira. Apalagi selama ini kamu yang menjaga Ira. Paman sangat yakin dengan pilihan paman,"
"Tapi maaf paman, pilihan paman salah." Geli Rihan dalam hati.
"Jadi, bagaimana pendapatmu?" Tanya Tuan Evan serius.
"Saya..."
BRAK!!
"Kenapa masuk tanpa mengetuk pintu, Neo? Kamu merusak pintunya," Marah Tuan Evan.
"Maaf, Pi. Ada yang harus aku bicarakan dengan Rei. Ini penting!" Neo lalu menarik tangan Rihan dan beranjak keluar.
"Papi juga sedang berbicara hal penting dengan Rei. Kamu bisa menunggu,"
"Ini darurat, Pi. Tidak bisa ditunda. Kami pamit." Neo dengan cepat menarik Rihan dan keluar dari sana.
Neo yang awalnya berdiskusi dengan Alex, memaksa asisten Rihan itu untuk memberikan map yang di dalamnya berisi bagaimana pencarian mereka hingga rencana untuk menyelamatkan sang adik. Neo tidak ingin mendengar Alex menjelaskan isi map itu.
Neo hanya mengambil map berwarna coklat itu dan segera keluar. Dia kemudian dengan cepat menuju kamar sang papi berniat menguping pembicaraan dua manusia di dalam sana.
Sampain di sana, Neo dapat mendengar bagaimana pendapat Rihan tentang sang adik, hingga jawaban Rihan yang tidak sempat dijawab karena dia sudah lebih dulu mendobrak pintu. Neo hanya tidak ingin mendengar sesuatu yang tidak ingin dia dengar.
Setelah masuk ke kamar Neo, pria itu lalu melepas tangannya dari Rihan.
"Jadi, hal penting apa yang ingin kak Neo katakan?" Tanya Rihan yang masih berdiri satu meter di depan Neo.
"Ayo jalan-jalan!" Ajak Neo tiba-tiba.
"Bagiku jalan-jalan bukan sesuatu yang penting. Itu bisa dilakukan nanti. Aku harus berbicara dengan paman," Rihan menolak dan berbalik hendak keluar.
Sret!
Tangan Rihan dicekal oleh Neo.
"Mungkin bagimu tidak. Tapi bagiku itu penting. Sudah lama aku ingin jalan-jalan dengan seseorang. Sayangnya tidak ada orang yang bisa aku ajak." Ujar Neo serius. Nada suaranya terdengar lirih.
"Beri aku 5 menit untuk berbicara dengan paman sebentar. Setelah itu kita pergi," Rihan menghela nafas pelan cukup kasihan juga dengan Neo.
__ADS_1
"Tidak. Aku ingin jalan sekarang. Ayo..." Neo tanpa menunggu jawaban, segera menarik Rihan ikut dengannya.
"Sifatnya benar-benar aneh." Rihan mendengus dalam hati.
***
Di Indonesia, tepatnya di Antarik Universitas, Beatrix yang sedang menyamar sebagai Rihan sedang duduk di kantin kampus berniat makan siang. Gadis itu sudah memesan makan siangnya.
Sambil menunggu makan siangnya datang, Beatrix asik memainkan ponselnya tanpa menyadari kehadiran tiga manusia di depannya.
"Hai..." Suara seorang pria berhasil mengalihkan perhatian Beatrix dari ponselnya.
"Hai juga, Dev. Hai Dian, Hai, Al..." Balas Beatrix menyambut mereka dengan senyum manisnya membuat seisi kantin heboh.
Sejak kedatangan Beatrix, Antarik Universitas heboh karena kecsntikannya. Mereka bahkan membuat group yang di dalamnya adalah fans Rihan dan Beatrix. mereka awalnya berpikir keduanya kembar.
Tapi, setelah melihat berita Jhon Lesfingtone yang melakukan konferensi pers waktu itu, mereka akhirnya menjodoh-jodohkan dua manusia berwajah sama itu. Kata mereka, biasanya jodoh kita mirip dengan kita sendiri. Entahlah, author sendiri tidak tahu itu benar atau tidak.
"Menunggu makan siang?" Tanya David tersenyum tipis. David begitu senang melihat gadis di depannya ini. Setelah beberapa hari menatap Beatrix dari jauh, hari ini mereka bisa duduk dan makan bersama.
"Untuk pertama kalinya aku melihat David sesenang ini pada orang baru," Komentarq Dian dalam hati lalu mengerutkan kening. Dian memang tidak tahu siapa Beatrix bagi David.
"Iya. Kalian juga?"
"Ya. Pesanan kami sebentar lagi datang. Tidak apakan kami makan bersamamu?" Tanya David.
"Justru aku senang ada teman makan. Ayo Dian, duduk di sebelahku. Aku harap kita bisa akrab mulai sekarang," Ajak Beatrix dan dibalas anggukan oleh Dian sekaligus berpindah tempat duduk di sebelah Beatrix. Posisi mereka saling berhadapan. Beatrix berhadapan dengan David, Dian berhadapan dengan Albert.
Ting.
Notifikasi pesan masuk di ponsel Beatrix mengalihkan perhatian tiga manusia yang satu meja dengannya.
...'Jangan terlalu memamerkan senyummu. Aku Tidak suka!'...
Beatrix hanya bisa tersenyum membaca pesan dan menggeleng kepala tidak habis pikir dengan tingkat kecemburuan kekasihnya, Mentra.
"Dilihat dari ekspresimu, itu pasti dari kekasihmu. Benar, 'kan?" Tebak Dian dan tersenyum.
"Ya. Kekasihku sangat posesif," Balas Beatrix setelah membalas pesan.
"Sabar, Dev." Bisik Albert menghibur David ketika ekspresi pria itu tiba-tiba berubah sendu.
"Aku baik-baik saja, Al." Balas David dan tersenyum tipis yang dipaksakan.
Keadaan kembali hening hingga makan siang mereka datang dan keempat manusia itu makan dengan tenang. Disela makan mereka yang tenang, tiba-tiba terganggu oleh kehadiran seorang gadis.
__ADS_1