
Tidak memakan waktu lama, Rihan dan yang lainnya tiba di kampus. Memarkirkan kendaraan di tempatnya, mereka kemudian menuju kelas karena waktu sudah menunjukan kurang 5 menit lagi kelas akan dimulai.
Gibran sendiri sudah menuju ke fakultasnya setelah mobilnya memasuki gerbang dan Albert berhenti sebentar hanya untuk menurunkan Gibran. Tidak lupa juga, Gibran berterima kasih karena sudah menolongnya.
Perkuliahan berjalan seperti biasa hingga selesai tepat pukul 12.30. Untungnya Rihan sempat mengkonsumsi suplemen pemberian Alen karena asistennya itu tahu jika majikannya memiliki kelas hingga lewat jam makan siang.
Menunggu hingga dosen keluar diikuti oleh mahasiswa lainnya, Rihan bersama David dan Albert segera keluar dari kelas dan mendapati Alen sudah berada di depan pintu keluar. Albert hampir saja jantungan karena kaget dengan kehadiran Alen.
"Makan siang sudah siap, Tuan." Lapor Alen yang menyambut Rihan.
"Hmm."
"Kak Alen memang yang terbaik." Sambung Albert senang setelah menenangkan keterkejutannya. Maklumlah jika dia sudah sangat lapar. Keempatnya kemudian menuju kantin untuk makan siang.
Ketika keluar dari fakultas kedokteran, pandangan mereka teralihkan dengan arak-arakan mobil mewah yang baru saja tiba. Mungkin sekitar 5 mobil mewah dan 5 mobil yang tidak terlalu mewah yang dipastikan adalah mobil para pengawal.
"Hari ini Indonesia kedatangan masing-masing menteri pendidikan dari 4 negara, Tuan. Mereka akan meninjau Antarik Universitas yang akan dijadikan tuan rumah dalam olimpiade tingkat internasional nanti." Alen segera menjelaskan ketika melihat tatapan Rihan pada mobil-mobil itu.
"Apa kita juga akan ikut?" Tanya Albert.
"Tergantung apa kamu terpilih sebagai perwakilan kampus atau tidak." Balas David seadanya.
"Benar juga. Sudahlah, ayo pergi. Aku sudah lapar."
"Kamu tidak pernah berubah, Al." Seru David menggeleng kepalanya dan dibalas Albert dengan mengangkat bahunya tidak peduli.
Mereka kini tiba di kantin, tepatnya meja makan mereka yang biasanya. Ternyata sudah ada Max di sana.
"Kalian lama sekali." Sambut Max sedikit kesal.
"Kami sedikit bermain tadi," Balas Albert mengambil posisi duduk di dekat Max.
"Aku menunggu, dan kalian asik bermain?" Max kini bertambah kesal.
"Kelas kami baru saja berakhir." David menjelaskan setelah duduk di sebelah Albert.
"Oh, aku pikir ada sesuatu. Sepertinya kampus kita kedatangan tamu," Ucap Max sambil melihat Alen yang mengambil makanan untuk Rihan.
"Yups... kata kak Alen, itu menteri pendidikan dari luar negeri yang meninjau tempat olimpiade nanti." Albert berbicara sambil menatap berbinar pada makanan di depannya. Bagi Albert, setiap makan bersama seperti ini, selalu ada menu baru yang membuatnya akan bertingkah konyol karena lapar.
"Itu bagus. Sayangnya aku tidak terlalu pandai dalam akademik." Max kini mulai mengisi piring nya.
"Karena kamu malas belajar." Albert ikut mengambil makanannya.
"Mungkin."
Setelah semua piring terisi, mereka kemudian makan dengan tenang hingga selesai dan Alen membersihkan meja dan berpamitan pulang.
"Kamu tahu Rei, entah angin apa, Gibran meminta maaf padaku." Ujar Max senang.
"Ternyata dia menepati janji," Balas Albert yang masih mengunyah buah yang dia ambil sebelum Alen benar-benar pergi.
"Maksudnya?" Heran Max.
Albert kemudian menceritakan kejadian beberapa jam lalu sebelum mereka tiba di kampus.
"Pantas saja! Sangat tidak mungkin anak itu berubah tanpa alasan." Max membalas dengan anggukan.
"Setahuku, sudah lewat makan siang. Kenapa nenek sihir itu datang kemari?" Tanya Albert yang melihat kedatangan Ayu dari pintu masuk.
"Untuk bertemu dengan Rei, tentu saja." Jawab Max yang ikut melihat. Keduanya terus menatap Ayu hingga gadis itu menghampiri mereka.
"Hai tuan muda, ada yang ingin aku katakan." Ayu mengutarakan maksudnya setelah mengambil posisi duduk di sebelah Rihan. Ayu saat ini sangat senang karena tidak ada Alex yang akan mengganggunya untuk mendekati Rihan. Rihan hanya menatapnya datar.
"Tidak lama lagi akan diadakan olimpiade tingkat internasional di kampus kita. Karena itu, dalam acara pembukaan olimpiadenya nanti, harus ada kata sambutan dari perwakilan mahasiswa kita. Jadi, bisakah perwakilannya itu kamu?" Sambung Ayu ketika Rihan tidak meresponnya.
"Ada presiden mahasiswa dan wakil-wakilnya." Sahut Rihan datar.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi aku yang mengusulkan supaya kamu yang menjadi perwakilan. Mau ya." Kali ini suara Ayu terdengar merengek dan tidak formal lagi.
"Rei tidak mau, kenapa kamu memaksa?" Max ikut kesal.
"Terserah aku, dan itu bukan urusanmu." Sinis Ayu menatap Max.
"Mau ya, Rei?"
"Tidak."
Setelah menolak, Rihan segera berdiri dan pergi dari sana diikuti oleh yang lainnya meninggalkan Ayu yang malu sendiri karena ditolak di depan mahasiswa yang sedang makan di kantin. Terjadilah bisik-bisik mencibirnya.
"DIAM KALIAN! Mau aku keluarkan dari kampus?" Teriak Ayu marah.
"Ckckckkck... sungguh malang."
Sebuah suara membuat Ayu mengalihkan pandangannya ke arah belakang dan mendapati Ariana dengan kedua temannya yang melipat tangan di dada dan menatap Ayu sinis.
"Kau..." Geram Ayu.
"Kamu sungguh tidak punya malu!" Ariana masih saja menyindir Ayu.
"Tidak ada urusannya denganmu. Memangnya Rei suka padamu? Cih..." Balas Ayu lalu pergi dari sana dalam keadaan emosi.
"Untuk sekarang tidak, tapi nanti. Kamu pikir aku akan kalah darimu? Kalah tidak ada dalam kamus hidup seorang Ariana." Gumam Ariana lalu ikut pergi dari sana diikuti oleh kedua temannya.
Karena tidak ada lagi kelas, Rihan dan ketiga teman prianya kemudian bersiap pulang. Sebelum itu, mereka akan mampir ke rumah sakit untuk mengantar Dian pulang. Max juga ikut kali ini.
...
"Kamu pulang, Nak." Sambut nenek Dian ramah di saat mereka masuk ke dalam gerbang dan menghampiri nenek Dian yang berdiri menunggu mereka di depan pintu.
"Iya, Nek. Maafkan Dian yang tidak memberitahu nenek sebelumnya."
"Tidak apa-apa. Bagaimana kegiatan kampusnya?" Tanya nenek Dian ketika mereka sudah duduk di ruang tamu.
"Loh! bukannya kata nak Rei, kamu mengikuti kegiatan kampus selama beberapa hari jadi tidak pulang?"
"Ternyata tuan muda tidak ingin nenek khawatir." Batin Dian lalu menatap Rihan dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, Nek. Kegiatannya berjalan lancar." Balas Dian tersenyum pada sang nenek. Dian sedikit menengadah kepalanya agar air matanya tidak menumpuk dan jatuh.
"Syukurlah! Nenek juga mau berterima kasih pada nak Rei yang sudah menjaga nenek dengan selama kamu tidak ada."
"Aku juga berterima kasih untuk semuanya." Sambung Dian tersenyum tulus pada Rihan dan yang lainnya.
"Sama-sama. Jangan sungkan untuk meminta bantuan kami jika diperlukan." Balas Albert.
"Ya."
Setelah selesai, Rihan dan ketiganya pulang ke rumah masing-masing.
***
"Bos..." Panggil Dom pada Brand.
"Ada apa?"
"Pihak R.A Group baru saja mengkonfirmasi proposal kerja sama kita."
"Lalu?"
"Katanya besok ada pertemuan untuk membahas proyek itu sekaligus keputusan akhir apakah pembangunan resort itu diterima atau tidak. Akan tetapi..."
"Jangan bertele-tele, Dom."
"Baik, Bos. Akan tetapi, mereka ingin pemilik Miara Group yang datang secara langsung. Jika tidak, tidak akan ada pertemuan apapun. Bagaimana menurut anda Bos?"
__ADS_1
"Maka kita harus datang. Lagipula Chi Corporation sudah tahu siapa pemilik Miara Group. Jadi, mulai sekarang aku akan mengekspose diriku pada publik."
"Mengerti, Bos."
"Bagaimana dengan pencarian kalian selama ini?"
"Tidak ada hasil apapun, Bos. Semua jejaknya bersih."
"Kalian saja yang tidak becus bekerja."
"Maafkan kami, Bos. Kami akan berusaha lagi."
"Kamu bisa pergi."
"Baik, Bos."
***
Hari ini pertemuan yang dijanjikan oleh R.A Group pada perusahaan milik Neo dan Brand. Waktu yang disepakati tepat pukul 10 pagi.
Brand sampai lebih dulu 10 menit sebelum jam 10 di R.A Group bersama Dom dan segera diantar menuju ruang pertemuan. Tidak lama kemudian Neo dan Logan juga sampai. Keduanya juga diantar ke tempat yang sama.
Di mansion, Rihan bersama Alen sedang memantau apa saja yang terjadi di gedung R.A Group. Lebih tepatnya Rihan ingin tahu apa yang sudah terjadi pada dua orang yang katanya bersahabat tetapi renggang begitu saja.
Kembali ke gedung R.A Group, Brand kini duduk di salah satu kursi yang ada di sebelah kanan meja panjang di ruangan itu. Di sebelahnya ada Dom.
"Tidak buruk untuk sebuah cabang perusahaan." Gumam Brand dalam hati yang cukup kagum dengan dekorasi ruangan ini.
"Sebentar lagi Direktur Bimo akan datang. Mohon tunggu sebentar, Tuan." Seorang pegawai yang tadi mengantar keduanya membuka suara sebelum pergi.
"Baik."
Setelah pegawai wanita itu pergi, hanya berselang 2 menit, terdengar suara langkah kaki dibalik pintu. Brand yang mendengarnya segera berdiri diikuti oleh Dom untuk menyambut orang yang datang yang diyakini adalah Direktur Bimo. Merapikan sedikit jasnya, Brand menatap ke arah pintu.
CEKLEK
Pintu terbuka, dan masuklah orang yang ditunggu. Brand yang melihatnya mengerutkan kening karena bukan Direktur Bimo yang datang tetapi Neo dengan setelah jas formal dan terlihat sangat tampan. Ada juga Logan yang membuka pintu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Brand kesal.
"Apa kita salah masuk?" Tanya Neo pada Logan di sebelahnya.
"Sepertinya iya, Tuan."
"Benarkah? Baiklah, mari kembali."
Keduanya kemudian berbalik ingin pergi dari sana. Ketika sampai didekat pintu, Neo tiba-tiba berhenti dan berbalik menatap Logan.
"Tunggu... aku baru ingat, ternyata kita tidak salah ruangan." Gumam Neo kembali menuju tempat duduk di sebelah kiri berhadapan langsung dengan Brand.
"Apa maksudmu tidak salah ruangan? Untuk apa kalian datang kemari?" Tanya Brand yang semakin kesal.
"Kamu mengenalnya, Gan?" Tanya Neo dengan gerakan berbisik sayangnya suaranya sengaja diperbesar agar didengar langsung oleh orangnya.
"Dia CEO Miara Group, Tuan."
"Benarkah? Ini pertama kalinya aku bertemu secara langsung dengan CEO misterius Miara Group. Salam kenal, Tuan." Neo menyapa ramah.
"Kamu... hufttt... Kamu bermain-main denganku? Kamu tidak takut balasannya?" Suara Brand terdengar geram.
"Kenapa harus takut?" Neo membalas dengan tenang lalu menatap remeh Brand di depannya.
"Sial... apa dia tahu sandera tidak ada lagi bersamaku?" Batin Brand khawatir. Jika Neo tahu sandera tidak ada lagi bersamanya maka Brand tidak akan bisa lagi mengancam Neo.
***
Jika ada kritik dan saran dan pembaca sekalian, jangan sungkan untuk menulisnya di kolom komentar. Jangan lupa juga memberi dukungan untuk cerita ini.
__ADS_1
Terima kasih dan sampai ketemu di chapter selanjutnya.