Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Sedikit Peringatan


__ADS_3

"Kenapa melakukannya? Kamu tahu, aku bisa menghindari peluru itu."


"Maka pecahan kaca di bawah sana akan melukai anda, Tuan."


"Pecahan kaca itu tidak sebanding dengan dua luka yang kamu dapatkan dari peluru itu, Beatrix."


"Saya tahu. Tapi saya tidak ingin anda terluka sedikitpun di depan mata saya sendiri. Jika pecahan kaca itu tidak sebanding dengan luka karena peluru ini, maka luka ini tidak sebanding dengan keselamatan anda, Tuan. Ini bukan apa-apa bagi saya, karena anda sangat berarti bagi kami, Tuan. Nyawa anda lebih berharga dari segalanya,"


"Aku mengerti. Berhenti bicara, karena kondisimu semakin melemah. Pulanglah bersama Alex karena aku akan mengurus rubah itu. Tenang saja, kamu akan baik-baik saja. Hm?"


"Saya percaya pada anda, Tuan."


Beberapa saat lalu, terdengar 3 tembakan beruntun di gedung kosong itu. Ariana dengan tangan gemetar menekan dua kali pelatuk sehingga dua peluru berhasil keluar dan menuju ke arah Rihan. Akan tetapi, sebelum Rihan menghindari peluru itu, Beatrix sudah lebih dulu menggunakan tubuhnya sebagai tameng sehingga dua peluru berhasil bersarang di punggungnya.


Satu tembakan lagi dari Alex yang mengarah ke kaki Ariana sehingga gadis itu hanya bisa terbaring lemah. Kedua temannya saat ini sedang ketakutan di sampingnya.


Sebenarnya Alex bisa saja melepas tembakan tepat pada kepala Ariana agar gadis itu mati di tempat. Sayangnya, Rihan sudah berpesan sejak awal untuk tidak melakukan itu. Cukup membuatnya terluka sebagai peringatan untuknya. Lagipula satu hal yang paling di jaga oleh seorang Ariana adalah tubuhnya, sehingga dua luka yang didapat cukup sebagai peringatan.


"Bawa Beatrix bersamamu, Lex. Langsung ke Lab dan tunggu aku di sana untuk operasinya. Ingat untuk masuk melalui jalan rahasia. Persiapkan semuanya dan tunggu aku di sana," Ucap Rihan setelah mengangkat Beatrix ke atas tandu dan dibawa keluar oleh bawahan Rihan.


"Saya akan menunggu anda di sini, Tuan." Tolak Alex.


"Ini perintah!"


"Baik Tuan." Alex pasrah dan menuruti perkataan majikannya ini.


Setelah kepergian Alex dan yang lainnya, Rihan menghampiri Ariana dan kedua temannya yang sedang ketakutan. Dua orang pengawal bayangan tetap tinggal bersama Rihan.


"Bawa keduanya pulang," Perintah Rihan untuk membawa dua teman Ariana.


"Baik, Tuan."


"Haruskah aku MEM-BUNUH-MU di sini?" Rihan tenang dengan menekan kata membunuhmu, membuat Ariana semakin ketakutan. Belum lagi kondisinya sangat menyedihkan dengan wajah pucat dan darah segar keluar dari luka tembak di kaki dan lengannya.


"Tapi... jika aku membunuhmu, itu berarti aku sama jahatnya denganmu. Jadi, lebih baik membuatmu seperti ini sebagai peringatan, aku rasa sedikit cukup. Ingat bahwa ini sedikit cukup. Aku beri kesempatan padamu untuk mengobati dirimu dan merubah jalan pikiranmu." Rihan lalu menatap luka Ariana.


"Luka ini..."


"Akhhh... hen...hentikan..." Ringis Ariana karena Rihan menekan jarinya ke dalam luka tembaknya itu.


"Kamu Tahu? luka tembak, indikasi operasinya sama seperti pada kasus lainnya yaitu jika jaringan meliputi otot, kulit, saraf, pembuluh darah sudah rusak dan mati tidak lagi dapat berfungsi sama sekali.

__ADS_1


Jika penanganannya cepat pada beberapa kasus, maka jaringan masih dapat diselamatkan, namun jika terlalu lama atau cedera sangat berat kemungkinan membutuhkan prosedur amputasi. Berdoalah semoga ada bantuan untukmu.


Satu lagi... Semoga luka ini menjadi pengingat untukmu menjadi lebih baik. Ini kesempatan pertama dan terakhir aku berikan padamu sebagai sesama manusia." Ucap Rihan panjang lebar, lalu berdiri hendak keluar.


"Oh iya... Jarak dari sini sampai ke Antarik Universitas satu kilometer. Semoga kamu masih kuat sampai di sana, karena ponselmu aku bawa. Belum lagi, hanya tersisa penjaga gerbang di sana, yang entah ada sekarang atau tidak karena mereka mungkin harus melakukan kewajibannya di masjid. Aku pergi!" Ucap Rihan santai dan benar-benar pergi dari sana sambil terus melempar ke atas dan menangkap kembali ponsel Ariana.


"Brengsek kamu, Tuan Muda, akhhh..."


Rihan tidak lagi mempedulikan teriakan Ariana dan dengan santai naik ke atas motornya, memasang helm dan pergi dari sana setelah membunyikan klakson motor seakan pamit pada Ariana di dalam sana.


Melewati Antarik Universitas sekitar ratusan meter, Rihan menghentikan motornya dan mengambil ponsel Ariana di saku celananya dan mencari nomor telepon Tuan Samuel Samantha, ayah Ariana. Mendapati nama kontak yang dicari, Rihan menekan ikon panggil dan mendekatkan ke telinganya. Hanya dering ketiga, panggilan dijawab.


"Ada apa, Sayang?"


"Jemput anak anda sekarang, Tuan Samuel. Jika anda terlambat, mungkin melihat mayat anak kesayangan anda terdengar menarik untuk berita malam ini. Lokasinya di gedung kosong 1 km di belakang Antarik Universitas." Rihan segera memutuskan sambungan telepon.


Rihan hanya menggertak Ariana sebelumnya, agar membuat gadis itu merasa putus asa dan jika mungkin, dia berubah, entahlah. Rihan hanya berharap. Tapi, Rihan tidak yakin Ariana akan berubah. Intinya, semua ini hanya kesempatan pertama dan terakhir Rihan berikan pada Ariana. Setelah itu, Rihan menatap jamnya sebentar karena dia harus cepat pulang untuk mengoperasi Beatrix.


Di usia Rihan yang masih terbilang muda ini, Rihan sudah beberapa kali melakukan operasi, dan semuanya berhasil. Itupun dilakukan secara diam-diam karena Rihan tidak memiliki izin operasi dan tidak memiliki gelar seorang dokter. Semua ini Rihan pelajari untuk membantu orang-orang di sisinya.


Setengah tahun, Rihan pakai untuk mempelajari bidang medis dan setengah tahun dipakai untuk praktek sehingga Rihan hampir menyamai sang mama di bidang medis. Rihan saat ini sedang mempelajari operasi yang pernah di pakai Mama Shintia untuk mengoperasi ibu Neo. Jika itu berhasil, maka Rihan sama hebatnya dengan Mama Shintia.


...


Rihan masuk lewat jalan rahasia 1 km didekat mansionnya yang membawanya ke laboratorium bawah tanah miliknya, dimana para ilmuwannya bekerja. Memasuki Lab, sudah ada Alex, Dokter Galant, dan beberapa suster menunggunya. Selain Lab untuk uji coba pembuatan teknologi dan serum, juga ada ruangan khusus operasi yang dibuat Rihan untuk keadaan mendesak seperti ini.


"Anda datang, Tuan." Sambut Alex menghampiri Rihan.


"Semuanya sudah siap?" Tanya Rihan lalu menuju wasstafel dan mencuci tangannya.


"Sudah, Tuan. Hanya menunggu anda,"


"Bagus. Aku akan mengganti pakaian sebentar," Rihan kemudian masuk ke ruangan lain sebelah ruang operasi untuk mengganti pakaiannya.


Hanya beberapa menit, Rihan keluar dengan seragam scrub. Setelah itu, Rihan kembali ke wasstafel dan mencuci lagi tangannya, kemudian mengeringkannya. Setelah itu, Rihan dibantu oleh seorang Suster untuk memakai Baju Tindakan Operasi (Operation Theatre Uniforms) yang meliputi apron medis, masker, penutup kepala, dan sarung tangan.


Setelah semuanya lengkap, Rihan dan yang lainnya masuk ke ruang operasi. Alex dan para ilmuwan hanya menunggu diluar.


Sekitar satu jam, Rihan keluar dan hanya mengangguk pada Alex pertanda semuanya lancar. Dokter Galant akan menyelesaikan operasinya, dimana tugasnya menutup bekas bedah tadi. Untungnya luka di punggung Beatrix tidak serius karena Ariana hanya menembak sembarangan, dan tidak mengenai titik vital sehingga Beatrix baik-baik saja.


"Setelah Beatrix sadar, hubungi Mentra. Pria posesif itu pasti khawatir karena kekasihnya tidak bisa dihubungi," Ucap Rihan setelah melepas apron medis lengan panjang yang dipakainya dan membuangnya ke tempat sampah.

__ADS_1


"Baik Tuan."


***


"Aku hampir berakar di dalam sini," Omel Neo setelah Alen membuka pintu ruang kerja Rihan.


"Maaf untuk itu, Tuan." Ucap Alen datar dan menatap wajah kesal Neo.


"Di mana majikanmu?" Tanya Neo sedikit menguap dan berjalan keluar.


"Tuan muda sedang sibuk. Tidak bisa diganggu," Jawab Alen dan mengikuti Neo dari belakang.


"Sibuk? Dimana dia, aku ingin bertemu." Tanya Neo menengok kebelakang menatap Alen dengan kening berkerut.


"Tuan sedang diluar." Jawab Alen dan berhenti karena Neo juga berhenti.


"Tepatnya di mana? Aku akan ke sana," Neo sangat ingin tahu.


"Anda tidak bisa ke sana. Tuan muda hanya berpesan agar tidak menunggunya karena tuan mungkin akan pulang tengah malam, atau mungkin besok."


"Besok?" Ulang Neo sedikit meninggikan suaranya.


"Ya."


"Ck... dia pasti sibuk mengurus gadis yang bernama Rihan itu. Bisa-bisanya dia menyukai orang yang sudah memiliki kekasih." Decak Neo lalu menatap Alen sekilas kemudian kembali ke tujuan awalnya, yaitu ke kamar Rihan.


"Apa dia menyukai Nona?" Gumam Alen sambil menatap Neo yang masuk ke kamar Rihan.


...


Sudah pukul 11 malam, tapi Neo belum juga tidur. Pria itu masih menunggu Rihan. Neo berharap Rihan pulang tengah malam, karena pria itu tidak bisa memejamkan matanya. Sudah hampir satu jam Neo berguling-guling di kasur tetapi belum juga mengantuk. Pria itu kemudian bangun dan mondar mandir tidak jelas di kamar Rihan.


"Bocah itu pasti pulang besok. Ck... Lihat saja! Aku akan membuatmu menjagaku seharian," Kesal Neo lalu menuju kamar mandi karena panggilan alam.


5 menit kemudian, Neo keluar dan menuju lemari pendingin, mengambil sebotol soda dan meminumnya. Neo membuka laci-laci nakas Rihan entah mencari apa. Pria itu tidak tahu harus melakukan apa.


Hingga setengah jam tidak menemukan sesuatu yang menarik, Neo kembali ke tempat tidur dan berusaha memejamkan mata. Sayangnya baru 10 menit, dia kembali membuka matanya dan mendengus karena tidak bisa tidur.


"Sebaiknya menyelesaikan pekerjaan sisa tadi lebih baik, dari pada pusing karena menunggu bocah itu." Gumam Neo lalu menuju ruang kerja Rihan setelah membuat segelas kopi dan membawanya bersama.


Sesampainya Neo di ruang kerja Rihan, pria itu tiba-tiba kesal karena melihat sesuatu di sana.

__ADS_1


__ADS_2