Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Zurich Botanical Garden.


__ADS_3

"Mari kita lihat, apa yang akan rubah ini lakukan." Gumam Beatrix dalam hati sambil terus mengunyah makanan dalam mulutnya.


Ariana terlihat memasuki kantin dan mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Beatrix. Hari ini Ariana sudah tidak bisa lagi menahan diri untuk memberi pelajaran pada Beatrix karena banyak mahasiswa yang menjodohkan Rihan dan Beatrix.


Padahal banyak orang yang tahu bahwa Beatrix sudah memiliki Mentra sebagai kekasihnya, tetapi fans Rihan dan Beatrix tetap saja menjodohkan keduanya.


Netra Beatrix dapat melihat Ariana yang semakin mendekat. Beatrix juga sudah mempersiapkan diri menunggu kedatangan Ariana. Semua orang di kantin yang melihat Ariana jelas tahu kemana langkah kaki gadis akan membawanya.


Selama ini mereka tahu bagaimana usaha Ariana untuk mendapat perhatian Tuan Muda Rehhand. Mereka bisa menebak jika akan terjadi sesuatu dilihat dari ekspresi Ariana yang menahan kekesalannya.


Ketika sampai di satu meja sebelum meja Beatrix dan yang lainnya, Ariana mengambil sesuatu di atas meja itu.


Sret!


"Ups... padahal aku berharap itu tepat sasaran," Ujar Ariana dengan nada mengejek tapi juga kesal karena tidak mengenai sasaran.


Ariana sebelumnya mengambil segelas minuman dingin milik seorang gadis yang duduk di meja sebelum meja Beatrix dan yang lainnya. Rencananya Ariana akan menyiramkan Beatrix dengan minuman itu.


Sayangnya, Beatrix adalah gadis yang terlatih dan memiliki insting yang bagus. Jelas terlatih, karena semua sudah direncanakan oleh Rihan. Beatrix sudah memprediksi apa yang akan Ariana lakukan dengan minuman yang diambil itu.


Melihat Ariana yang semakin mendekat dan melakukan gerakan menyiram minuman itu, Beatrix dengan refleks berdiri dan mundur satu langkah sehingga minuman itu hanya mengenai lantai dan sedikit juga mengenai celana Dian yang duduk di sebelahnya.


"Apa-apaan kamu Ariana! Kamu sudah tidak waras? Kamu tidak apa-apa, Ri?" Tanya David khawatir pada Beatrix. David menatap tajam Ariana yang berdiri sambil melipat tangannya.


"Kamu baik-baik saja, Dian?" Tanya Albert yang juga berdiri dan memberikan tisu pada Dian untuk membersihkan celananya yang terkena minuman dingin berwarna merah itu.


"Aku baik-baik saja. Maafkan aku, Dian. Aku lupa menarikmu tadi," Beatrix sedikit menyesal karena melupakan Dian yang duduk di sebelahnya.


"Santai saja Ri, ini bukan apa-apa." Dian tersenyum tipis sambil membersihkan celana jeansnya yang basah di bagian paha.


"Kamu tidak pernah berubah, Ariana. Sampai kapan kamu akan terus begini? Kamu sudah dibutakan oleh rasa iri." David sangat kesal melihat Ariana. Pandangannya semakin tajam pada mantan tunangannya ini.


"Sampai aku mendapatkan Tuan Muda Rei. Sampai saat itu, aku tidak akan membiarkan gadis manapun dekat dengannya." Jawab Ariana dengan lantang.


"Kamu sangat percaya diri, untuk mendapatkan Tuan muda Rei. Kamu harus sadar, selera tuan muda bukan orang sepertimu. Pernah sekali, dia melirikmu? Tentu saja tidak pernah. Jangan pernah bermimpi mendapatkan Tuan muda Rei karena kamu sama sekali bukan tipenya. Melihatmu saja, dia enggan." Ujar Beatrix tenang. Beatrix kemudian mengambil tasnya dan berniat pergi dari sana.

__ADS_1


Byur!


"Aku kembalikan minuman tadi," Beatrix berbicara setelah mengguyur Ariana dengan es jeruk milik Albert.


David yang melihat kepergian Beatrix segera menyusulnya setelah menatap sebentar Ariana dengan tajam.


"Ayo pergi, Dian. Aku antar kamu pulang. Kamu harus mengganti celanamu, karena kita masih ada kelas lagi," Albert mengambil tas Dian dan merangkulnya di bahu bersamaan dengan miliknya kemudian menarik tangan Dian dan ikut pergi dari sana.


"Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja? Meski Tuan muda Rei tidak menyukaiku, aku masih punya banyak cara membuatnya di sisiku. Lihat saja nanti," Kesal Ariana dalam hati. Kedua tangannya mengepal berusaha menahan diri.


***


"Kemana kita akan pergi?" Tanya Rihan tanpa menatap Neo yang sedang menyetir di sebelahnya.


"Entahlah,"


"Jika tidak tahu, kenapa harus pergi sekarang?"


"Aku hanya ingin jalan-jalan bersamamu. Entah kemana, yang jelas aku ingin jalan-jalan sekarang."


Keadaan dalam mobil kembali hening. Neo fokus menyetir, Rihan sibuk menatap keluar jendela sambil melipat tangan di dada.


"Kamu marah?" Suara Neo tidak membuat Rihan menggubrisnya. Melihat sikap Rihan, Neo hanya bisa menghela nafas.


"Aku minta maaf. Jika kamu ingin kembali sekarang, aku tidak akan kembali sebelum kita jalan-jalan." Sambung Neo menatap sekilas Rihan lalu kembali menatap ke depan.


"Pasti ada alasan khusus, sehingga kak Neo menarikku keluar dari sana. Tapi apa?" Rihan sangat yakin Neo menariknya dengan tiba-tiba bukan tanpa alasan.


"Aku sudah minta maaf, jangan menatapku seperti itu." Neo tiba-tiba gugup karena menyadari lirikan Rihan.


"Kenapa kak Neo menarikku keluar dari ruangan paman? Aku yakin bukan karena jalan-jalan," Tanya Rihan sambil menatap menyelidik pada Neo.


"Aku hanya ingin jalan-jalan denganmu, serius! berhenti menatapku begitu," Balas Neo menatap sekilas Rihan.


"Aku akan mencari jawabannya sendiri. Bangunkan aku jika sudah sampai," Rihan bersandar dan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu alasan sebenarnya aku melakukan ini," Ujar Neo dalam hati.


Hanya membutuhkan beberapa menit, Lamborgini Veneno milik Neo sudah terparkir didekat Zurich Botanical Garden.


Zurich Botanical Garden adalah taman dengan koleksi flora yang beragam. Setiap pengunjung dapat menikmati pemandangan indah Zurich Botanical Garden tanpa khawatir tentang biaya, karena untuk masuk ke taman botani ini tidak dipungut biaya atau gratis. Taman ini terletak diantara parit Schanzengraben dan benteng Bauschanzli. Taman ini dibuka setiap hari hingga jam 7 atau 8 malam.


Mematikan mesin mobil, Neo menoleh ke arah Rihan yang sepertinya tertidur dengan kepala miring ke arahnya.


"Entah kenapa aku sedikit tidak suka jika kamu terlalu dekat dengan Ira. Apalagi papi ingin menjodohkanmu dengannya. Aku sudah mengklaimmu sebagai..."


"Kenapa menatapku seperti itu?" Pertanyaan Rihan berhasil menyadarkan Neo.


"Tidak. Aku tadi ingin membangunkanmu. Ayo turun, kita sudah sampai." Elak Neo dan segera membuka seat belt dan turun dari mobil. Rihan hanya mengerutkan kening dan ikut turun.


"Bagaimana menurutmu tempat ini?" Tanya Neo di saat keduanya sudah masuk ke area Zurich Botanical Garden.


"Lumayan. Tapi terlalu ramai," Jawab Rihan menatap sekeliling.


"Kamu ingin tempat sepi biar romantis, begitu?" Canda Neo dan ditatap tajam oleh Rihan.


"Kamu tahu aku hanya bercanda," Sambung Neo lalu terkekeh. Dia senang melihat ekspresi Rihan sekarang.


"Serius juga tidak apa." Balas Rihan santai.


"Benarkah?" Tanya Neo serius.


"Kak Neo tahu aku hanya bercanda."


"Ck... Kamu menang. Ayo ke sana!" Balas Neo sedikit kesal. Neo lalu menarik Rihan menuju tempat lainnya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku. Jika ada kirtik dan saran yang membangun untuk perbaikan cerita ini, jangan lupa menulisnya di kolom komentar.


Sampai jumpa di chapter selanjutnya.😊

__ADS_1


__ADS_2