
"Di dalam sini berisi foto-foto sandera yang dibawa pergi dari rumah sakit Setia, Tuan." Dom berbicara setelah meletakkan sebuah map coklat berisi hasil pencariannya tentang sandera yang berhasil kabur.
"Jelaskan apa saja yang sudah kamu temukan selama pencarianmu." sang tuan merespon sambil membuka map yang diberikan Dom.
"Pihak rumah sakit memang menyembunyikan kepulangan sandera sehingga orang-orang kita tidak menemukan apapun. Sayangnya mereka lupa jika kepulangan sandera dilihat oleh beberapa pasien yang dirawat di sana, sehingga saya bisa menemukannya." Jelas Dom antusias.
"Lalu bagaimana dengan foto-foto ini?" Tanya sang tuan datar.
"Kebetulan ada seorang pasien sangat mengagumi orang yang membawa pulang sandera, sehingga dia mengambil gambarnya sampai orang itu benar-benar pergi dari rumah sakit. Saya rasa gadis itu dibawa ke tempat orang itu, Tuan."
"Siapa orang itu?" Tanya sang tuan penasaran lalu menatap Dom.
"Presdir rumah sakit itu sendiri, Tuan." Jawab Dom mantap.
"Rehhand Lesfingtone?" Sang tuan menautkan kedua tangannya di atas meja dan menatap datar Dom.
"Benar sekali tuan." Dom menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Hmm. Ada hubungan apa Rehhand dengan gadis itu?" Tanya sang tuan.
"Menurut pasien di sana, Tuan Muda Rehhand sangat menjaga gadis itu. Dia bahkan tidak beristirahat dengan baik karena menjaga gadis itu semalaman. Ada juga yang mengatakan, mereka mendengar gosip dari beberapa suster di sana bahwa gadis itu meminta Tuan Muda Rehhand untuk menjadi sahabatnya dan diterima karena itu juga merupakan proses penyembuhan gadis itu." Jelas Dom tenang.
"Akan semakin menarik jika kita berurusan dengan si pria cantik itu," Ucap sang tuan lalu menampilkan seringai liciknya.
"Bos ternyata mengenal nama samaran Tuan Muda Rehhand." Batin Dom heran karena tidak biasanya sang bos sibuk dengan berita di media sosial, karena Dom sendiri yang akan memberitahukan berita penting apa saja yang harus diketahui oleh sang Bos.
"Bagaimana dengan tempat tinggal pria cantik itu?" Tanya si bos itu lagi.
"Jauh dari ibukota, Tuan. Saya sudah memerintahkan anak buah kita untuk mengawasi di sana. Kata mereka, keamanan di sana benar-benar ketat. Sudah hampir dua hari mereka mencari jalan tikus, tetapi tidak menemukan apapun. Mereka benar-benar hebat dalam merancang keamanan di sana, Tuan." Jawab Dom sambil menatap tuannya.
"Aku percayakan tugas itu padamu Dom. Aku yakin kamu pasti bisa menemukan jalan semut sekalipun." Si tuan menatap datar Dom.
"Baik Tuan."
***
"Selamat pagi, Nona." Sapa Alex dan Alen hampir bersamaan ketika memasuki kamar sang majikan.
Tidak lupa pula, Rihan menutup kembali pintu kamarnya, karena sekarang ada Phiranita di mansionnya, sehingga dia harus benar-benar menyembunyikan penyamarannya dengan baik.
Meski sekarang waktu masih menunjukan pukul 4 pagi, yang berarti Phiranita masih terlelap, akan tetapi Rihan akan selalu waspada jika sewaktu-waktu sahabatnya mencarinya di kamar.
"Saya akan menyiapkan air mandi anda, Nona." Alen lalu menuju kamar mandi sang majikan setelah mendapat balasan deheman dari Rihan.
"Hari ini penentuan siapa yang akan menjadi kepala rumah sakit nanti, Nona. Anda ingin hadir di sana?" Tanya Alex diakhir kalimatnya.
"Tidap perlu. Saya akan memberikan suara dari sini." Jawab Rihan melirik sebentar jam di atas meja samping tempat tidurnya.
"Baik, Nona. Saya akan membacakan jadwal anda hari ini. Pukul 9 pagi anda ada kelas selama 2 jam. Pukul 12 siang, anda ada meeting dengan perwakilan dari Antarik Hospital sekaligus makan siang, dan yang terakhir anda harus menandatangani beberapa berkas yang dikirim dari kantor pusat R.A. Grup." Alex berbicara sambil menatap iPad di tangannya.
"Hmm."
"Air mandi sudah siap, Nona." Rihan menganggukkan kepalanya kemudian turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Melihat itu, Alex dengan sendirinya keluar dari kamar sang majikan, sedangkan Alen membantu merapikan tempat tidur sang majikan, setelah itu mengikuti sang majikan di kamar mandi untuk membantu membersihkan dirinya sekaligus membantu sang majikan mengganti pakaiannya.
***
"Kak, Dimana Ehan?" Tanya Phiranita pada Alex yang sedang berdiri di depan kamar Rihan.
__ADS_1
"Tuan sedang membersihkan diri, Nona. Anda butuh sesuatu?" Jawab Alex sekaligus bertanya.
"Ya, sudah. Aku tidak butuh apa-apa, Kak. Hanya saja aku ingin melihat Ehan." Jawab Phiranita lalu tersenyum manis.
"Sebentar lagi tuan siap, Nona. Anda bisa turun ke ruang makan lebih dulu." Alex membalas setelah melihat jam di tangannya.
"Aku akan menunggu Ehan di sini, biar kita sama-sama turun ke bawah." Balas Phiranita bersandar pada dinding kamar Rihan.
"Baik, Nona." Alex juga tidak bisa memaksa.
***
"Siapa perwakilan Antarik Hospital?" Tanya Rihan datar pada Alex di depannya yang sedang mengemudikan mobil.
"Tuan Julian sudah memberikan tanggung jawab penuh pada anaknya, sehingga pasti nona Ayu yang akan meeting dengan anda. Saya rasa ini juga rencana mereka untuk lebih dekat dengan anda, Tuan." Jawab Alex lalu melirik sekilas sang majikan melalui kaca spion di bagian atas kepalanya.
"Hmm."
Setelah deheman Rihan, suasana mobil menjadi hening. Maklumlah jika dua orang di dalam mobil itu adalah orang yang irit bicara. Rihan hanya memejamkan matanya sambil bersandar pada kursi mobil, sedangkan Alex fokus mengemudi hingga mereka tiba di Antarik Universitas.
"Silahkan, Tuan!"
Rihan dengan tenang turun dari mobil setelah sang asisten membuka pintu mobil. Seperti biasa, si Tuan Muda Rehhand itu, selalu menjadi sorotan. Rihan dan Alex hanya memasang wajah datar sepanjang jalan kenangan menuju kelas.
Di tengah jalan, keduanya berpapasan dengan David dan Albert yang juga melewati lorong lain sehingga mereka sama-sama bertemu di tengah jalan.
"Hai, Rei... Hai, Kak Alex." Sapa Albert begitu semangat, membuat David di sampingnya hanya menggeleng kepalanya merasa aneh dengan tingkah sahabatnya ini. Sedangkan Rihan hanya berdehem seperti biasa. Mereka berempat lalu beriringan menuju kelas.
...
"Selamat pagi, teman."
"Ada apa dengan pria aneh ini?" Batin Rihan sambil menatap datar pria yang menyambutnya ketika akan memasuki kelas. Pria itu tidak lain adalah Max.
"Siapa lagi pria ini?" Tanya David dalam hatinya sambil menatap penasaran Max.
"Kamu mengenalnya, Dev?" Bisik Albert pada David.
"Tidak."
"Ada apa?" Tanya Rihan setelah duduk di kosong di sana diikuti oleh David dan Albert. Sedangkan Max hanya berdiri dan menatap Rihan dengan senyumnya yang sedari tadi tidak lepas dari bibirnya.
"Ayo sarapan pagi bersamaku!" Ajak Max masih mempertahankan senyumnya.
"Waktu sarapanku sudah lewat." Balas Rihan datar.
Mendengarnya, senyum Max seketika hilang dan berganti dengan wajah sendunya.
"Aku akan menemanimu makan." Sambung Rihan tidak tegah melihat wajah sendu pria aneh di depannya ini. Tingkah Max juga sama dengan Phiranita membuat Rihan tidak tega menolaknya.
"Benarkah? Ayo!" Max seketika kembali bersemangat dan tanpa aba-aba, dia menarik tangan Rihan yang ada di atas meja untuk mengikuti dirinya.
Rihan sendiri hanya mengikuti Max tanpa mengatakan apapun. Rihan bisa mengerti jika Max benar-benar aneh.
"Sepertinya bukan hanya kejiwaannya yang terganggu, tetapi otaknya juga." Batin Rihan sambil mengikuti tarikan Max.
Rihan lalu menggelengkan kepala mulai merasa aneh dengan tingkahnya sendiri yang akhir-akhir ini selalu membatin jika berurusan dengan Max.
"Majikan saya bisa berjalan sendiri, Tuan Max." Ucap Alex datar tepat di depan Max.
__ADS_1
Alex tidak suka dengan tingkah aneh Max yang hampir menyerupai gadis labil ini. Alex semakin tidak suka lagi ketika melihat gelengan kepala sang majikan. Alex berpikir sang majikan mungkin pusing karena ditarik tiba-tiba oleh Max.
"Rehhand sendiri tidak protes. Kenapa malah kamu? Pria aneh!" Balas Max lalu menggelengkan kepala pada Alex.
"Tidak sadar diri?" Batin Alex lalu menatap Max tajam.
"Biarkan saja, Lex." Ucap Rihan pelan sambil menggelengkan kepalanya.
"Dengar itu." Max memasang senyum penuh kemenangan pada Alex.
"Baik Tuan."
"Siapa pria itu, Dev?" Tanya Albert masih penasaran dengan Max.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak peduli!" Jawab David seadanya.
"Kenapa tingkahnya aneh sekali?" Gumam Albert sambil menatap pintu kelas tempat Rihan keluar tadi.
"Biarkan saja." Balas David lalu mengambil buku di dalam tasnya.
"Ayo ikut mereka, Dev. Aku penasaran dengan pria aneh itu." Ajak Albert.
Albert begitu penasaran dengan Max. Dan kebiasaannya adalah akan mencari tahu hingga rasa penasarannya terjawab.
"Malas." Jawab David singkat.
"Ayolah... Dari tingkahnya, sepertinya dia menyukai Rehhand. Aku curiga, jangan-jangan dia gay?" Tukas Albert lalu menutup mulutnya sendiri ketika mengucapkan kata gay.
"Sepertinya kamu yang aneh karena berpikir seperti itu. Rei mungkin teman pertamanya, sehingga dia begitu antusias mengajak Rei." Balas David lalu menatap malas sahabatnya ini.
"Tidak mungkin! Dari sudut pandang mana kamu berpikir seperti itu, Dev?" Tanya Albert lalu menatap David serius.
PLAK
"Aduh! Ada apa denganmu? Kenapa kepalaku kau pukul?" Albert tidak terima berlakang kepalanya dipukul oleh David menggunakan bukunya.
"Supaya kepalamu berada di posisi semula." Balas David asal.
"Wah... Sepertinya aku salah memilih teman." Albert menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Aku juga merasa salah menjadi temanmu." Balas David tidak mau kalah.
"Ya, Tuhan! Ada apa dengan hari ini. Kenapa semua orang terlihat aneh?" Gumam Albert lalu memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Siapa yang aneh, Al?" Tanya Dian yang baru saja datang dan mengambil posisi duduk di depan David dan Albert.
"Entahlah. Aku pusing. Bangunkan aku ketika dosennya masuk." Albert lalu menenggelamkan kepalanya di kedua tangannya yang terlipat di atas meja.
"Ada apa dengannya, Dev? " Tanya Dian sambil mengerutkan dahinya.
"Entahlah!"
"Sepertinya memang aneh." Gumam Dian pelan.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.
__ADS_1
See You.