
"Nona! Beberapa hari lalu ada orang misterius yang ingin menyembuhkan kaki Ariana. Dia secara tiba-tiba datang ke rumah sakit dan menawarkan untuk menyembuhkan kaki gadis itu." Lapor Alex pada Rihan yang sedang bersantai di balkon kamarnya.
"Sepertinya orang itu sudah mulai bergerak. Dia ingin memanfaatkan orang lain untuk rencananya." Gumam Rihan sambil mengetuk-ngetuk pelan meja dengan jari telunjuknya.
"Siapa orang itu, Nona?" Tanya Alex mengerutkan kening.
"Entahlah, Kak. Aku juga tidak tahu seperti apa wajahnya. Yang aku tahu, dia orang yang sangat berambisi untuk rencananya. Apapun akan dia lakukan. Dia adalah orang yang tidak berperasaan yang membunuh tanpa ampun demi rencananya." Jawab Rihan santai. Rihan lalu mengambil ponselnya di atas meja dan mulai menelpon.
"Di mana, Kak? Ada yang ingin aku bicarakan, tentang orang itu. Aku menunggumu di kamar." Ucap Rihan pada orang di seberang telepon lalu mematikannya tanpa menunggu balasan dari sana.
"Kak Alex bisa kembali. Ada yang harus aku bicarakan dengan kak Zant." Ucap Rihan pada Alex.
"Baik, Nona."
"Sampai kapan kamu akan terus berbicara formal denganku, Kak?" Gumam Rihan setelah Alex pergi meninggalkannya.
Sampai sekarang Alex masih menganggap Rihan sebagai majikan, bukan adiknya. Padahal Rihan sudah berulang kali memintanya untuk memanggilnya adik, tetapi Alex sama sekali tidak melakukannya
Tidak membutuhkan waktu lama, Zant muncul di kamar Rihan, dan segera menuju balkon.
"Ada apa?" Tanya Zant setelah duduk di depan gadis kecilnya. Keduanya hanya dibatasi oleh meja kecil.
"Kakak tahu seperti apa wajah orang itu?" Tanya Rihan acuh, lalu mengalihkan pandangannya ke arah taman.
"Samar-samar. Apa dia sudah melakukan pergerakan?" Tanya Zant menopang dagunya sambil menatap wajah cantik tunangannya ini.
"Hm. Dia ingin memanfaatkan musuhku. Dia bergerak sesuai perkiraanku." Jawab Rihan lalu mengambil gelas berisi jus dan menyesapnya secara perlahan.
"Aku menebak rencananya tidak sesederhana itu." Ujar Zant pelan.
"Aku juga berpikir seperti itu. Apa kak Zant tahu di mana tempat kita diculik dulu?" Tanya Rihan setelah meletakkan gelas yang sudah berisi setengah jus.
"Tidak. Kita tertidur setelah keluar dari tempat itu, jadi aku tidak bisa mengingatnya."
"Apa kakak tahu, siapa pemimpin organisasi bawah tanah?" Tanya Rihan pelan.
"Pemimpin organisasi itu begitu misterius. Aku menduga, mereka ada hubungannya dengan orang itu." Jawab Zant seadanya.
"Ya. Semua yang diperdagangan oleh organisasi bawah tanah itu sangat tidak masuk akal, dan hanya orang itu yang bisa melakukannya." Gumam Rihan lalu menghela nafas pelan.
"Dan jika dia sendiri yang menawarkan bantuan, maka ada rencana licik di dalamnya. Wanita yang akan kamu singkirkan itu akan sedikit merepotkan jika berada dalam perlindungan orang itu." Balas Zant ikut menatap ke depan sana.
"Tidak masalah. Akan lebih bagus jika mereka bersatu. Dengan begitu, aku tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga untuk memikirkan bagaimana cara menyingkirkan mereka satu persatu, karena hanya perlu satu rencana untuk keduanya." Rihan beralih menatap Zant.
"Dan aku akan selalu berada di sampingmu untuk membantumu, jadi tenang saja gadis kecil." Sahut Zant dan membalas tatapan Rihan lalu tersenyum tipis.
"Aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi." Sambung Zant dalam hati.
"Besok atau lusa aku harus ke sana. Sudah waktunya kita bergerak." Ucap Rihan pelan.
"Aku ikut kalau begitu. Lagipula, tidak ada lagi pekerjaan di sini. Aku juga ingin melihat seperti apa negara tempatmu bersekolah dulu." Balas Zant dan tersenyum tipis.
"Juga menjagamu dari mata liar para pria di luar sana." Sambung Zant dalam hati.
__ADS_1
Rihan hanya menatap datar Zant. Dia juga tidak menolak, karena sejujurnya kehadiran Zant akan sangat membantunya nanti.
Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan hingga Rihan teringat sesuatu. Rihan lalu menyalakan ponselnya dan membuka sesuatu kemudian menunjukan ponselnya pada Zant.
"Aku penasaran, kenapa dalam satu hari, sekitar 4 perusahaan bisa bangkrut dalam satu malam. Apa ini kebetulan?" Gumam Rihan setelah Zant menatap layar ponselnya yang menampilkan berita terbaru hari ini. Zant hanya menatap sekilas berita di ponsel Rihan lalu menatap ke arah lain. Telinga pria itu memerah.
"Salah mereka sendiri, melamar tunanganku setelah konferensi pers itu. Mereka pikir aku sudah mati?" Gumam Zant kesal.
"Mereka tidak tahu jika aku sudah bertunangan, jadi wajar saja." Balas Rihan lalu menggeleng. Tanpa sadar bibirnya sedikit menarik senyum sangat tipis.
"Ck... ayo selesaikan semua masalah dan kita menikah. Kamu tahu, betapa kesalnya aku membaca komentar mereka tentangmu?" Zant semakin kesal, mengingat para komentar pujian terutama kaum adam pada gadis kecilnya.
"Wah... aku baru tahu, kak Zant suka membaca yang seperti itu." Sindir Rihan.
"Sudahlah. Apapun yang terjadi, aku harus selalu di sampingmu. Aku tidak ingin mata liar para pria itu menatapmu." Zant mengambil jus milik Rihan dan meminumnya hingga habis. Rihan hanya menggeleng melihat tingkah pria di depannya.
"Rubah betina, orang itu, organisasi bawah tanah, tunggu..." Monolog Rihan dalam hati.
"Organisasi bawah tanah mengincar lahan pembangunan resort itu. Jika dugaanku benar, maka tidak sia-sia orang itu menawarkan bantuan pada Ariana." Gumam Rihan yang bisa didengar oleh Zant.
"Ada apa?" Tanya Zant penasaran.
"Besok kita harus berangkat, Kak. Kita tidak punya banyak waktu lagi." Jawab Rihan lalu mengirim pesan pada seseorang.
"Oke."
***
Di dalam pesawat, Rihan sedikit menguap malas karena perjalanan mereka akan sedikit memakan waktu.
"Tidurlah. Aku akan membangunkanmu." Ujar Zant yang duduk tepat di sebelah Rihan sambil mengelus pelan kepala gadis kecilnya.
"Nona, sebaiknya tidur saja di kamar jika anda lelah." Alen memberi saran setelah meletakkan beberapa minuman di depan Rihan dan Zant.
"Aku di sini saja, Kak." Jawab Rihan malas.
"Baik, Nona."
"Aku tidak tahu apa yang sudah kamu lewati di masa lalu. Maaf karena tidak ada di sampingmu saat itu. Mulai sekarang, jangan lupa jika aku akan selalu ada di sampingmu apapun yang terjadi.
Ikutsertakan aku dalam semua rencanamu. Dengan begitu, sedikit demi sedikit aku bisa membayar semua yang sudah kamu lewati tanpaku." Gumam Zant lalu menarik pelan kepala Rihan untuk bersandar di bahunya.
"Hm." Deheman Rihan lalu memejamkan matanya setelah bersandar pada Zant.
...
Jet pribadi sampai di mansion Rihan di Indonesia sore hari. Tanpa menunggu waktu lama, Rihan segera bergegas pergi ke lahan pembangunan resort. Rihan hanya ingin pergi bersama Gledy, tetapi Zant memaksa ikut, sehingga Rihan mengizinkannya. Dia juga tidak bisa menolak pria itu.
Sampai di sana, Rihan hanya menatap datar lahan yang hanya ditumbuhi pohon-pohon liar. Ada juga sungai didekat sana. Rihan terus berpikir, apa kira-kira yang diincar oleh organisasi itu.
Sepanjang menyusuri lahan itu, Rihan terus menerka apa yang tersembunyi di sini. Dia yakin, pasti ada sesuatu yang penting. Zant yang sedari tadi di sampingnya hanya menatap intens wajah Rihan. Pria itu tidak pernah bosan menatap wajah datar itu. Geldy sendiri sudah menyusuri bagian lain sehingga hanya Rihan dan Zant.
Selama hampir setengah jam mereka menyusuri lahan itu, tetapi tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Rihan hanya menghela nafas pelan dan beralih menuju pinggiran sungai.
__ADS_1
"Masih ada waktu untuk menemukan apa yang mereka cari." Zant menenangkan gadis kecilnya.
"Awalnya aku berpikir untuk menunggu mereka bergerak ke tempat ini. Sayangnya, tidak tahu sampai kapan itu akan terjadi. Belum lagi aku tidak ingin jika sampai ada sesuatu yang berbahaya tersimpan di sini, dan mereka menemukannya, maka akan sangat merepotkan." Sahut Rihan setelah duduk di salah satu bangku yang disediakan di bawah pohon rindang dekat sungai. Zant juga ikut duduk di sampingnya.
"Aku mengerti." Balas Zant pelan.
Keduanya terdiam di sana tanpa mengatakan apapun. Entah apa yang mereka pikirkan dengan memandangi air sungai yang tenang. Pandangan Rihan terus menelusuri sekitarnya hingga Rihan mengernyit merasa ada yang aneh.
Tanpa mengatakan apapun, Rihan segera berdiri dan menuju salah pohon kecil di sana dan menatapnya datar.
"Sudah lama aku tidak ke sini, kenapa pohon ini sama sekali tidak ada perubahan?" Gumam Rihan menatap menyelidik pada pohon kecil di depannya.
"Ada apa?" Tanya Zant yang menghampirinya.
"Apakah ada kasus dimana tanaman tidak ada perubahan sama sekali padahal tanah dan tanaman lain di sekitarnya begitu subur?" Tanya balik Rihan tanpa menatap Zant.
"Maksudmu pohon kecil ini?" Tanya Zant lagi dan dibalas anggukan oleh Rihan.
"Aku juga tidak tahu dengan kasus yang kamu maksud. Tapi sepertinya itu mustahil. Mana mungkin ada tanaman yang tidak subur di tanah yang ternyata sangat subur? Kecuali tanaman itu bukan tanaman biasa atau tanaman khusus." Ujar Zant pelan.
"Tanaman khusus?" Ulang Rihan lalu mengeryit.
"Ini bisa jadi petunjuk untukmu menemukan apa yang tersembunyi di sini." Zant menatap penuh kasih pada Rihan.
Mendengar apa yang dikatakan Zant, Rihan menyadari sesuatu. Bagi orang itu, apa saja akan dilakukan untuk rencananya. Orang itu bahkan bisa melakukan hal yang tidak mungkin dan sangat berbahaya bagi manusia. Jadi, tidak heran jika pohon ini tidak pernah ada perubahan sama sekali.
"Gledy!" Panggil Rihan pelan.
Hanya hitungan detik, Gledy segera muncul di samping Rihan membuat Zant menatap robot pria yang sampai saat ini belum dia ketahui seperti apa wajah dibalik masker itu dengan tajam.
"Periksa tempat di sekitar sini. Jangan melewatkan apapun!" Perintah Rihan datar.
"Baik, Nona."
Gledy menyusuri sekitar tempat pohon kecil itu berada. Hingga beberapa menit, robot buatan Rihan itu menemukan sesuatu dan segera memanggil Rihan.
"Nona."
Rihan segera menghampiri Gledy dan menatap datar batu yang ternyata ditutupi oleh tanaman rambat. Pantas saja mereka tidak menemukan apapun. Gledy kemudian mendorong batu itu menjauh sehingga mereka bisa melihat lubang yang ditutupi oleh besi bulat.
Gledy kembali membukanya kemudian masuk. Rihan juga ikut masuk, begitu juga dengan Zant.
Sampai di bawah, Rihan menegang ditempatnya melihat pemandangan di depannya. Begitu juga dengan Zant.
"Ini..."
***
"Pa... kaki Angel akhirnya sembuh. Angel sangat senang, Pa. Dengan begini, Angel bisa kembali membunuh ****** itu. Ternyata dia belum mati. Kali ini dia harus mati. Angel tidak menyangkah dia menyembunyikan identitasnya selama ini." Ucap Ariana dengan kesal.
"Iya, sayang. Dengan adanya Tuan Han di sisi kita, semua akan aman. Kita bisa merebut kekuasaan Jhack Lesfintone menjadi milik kita. Kita hanya perlu memenuhi persyaratan yang diajukan Tuan Han, maka semua akan menjadi milik kita." Balas Samuel Samantha dan tersenyum licik.
"Benar, Pa. Apapun akan Angel lakukan asal wanita itu mati. Angel juga tidak sabar dengan rencana Tuan Han yang ingin menangkap wanita itu untuk penelitiannya. Sebelum itu, Angel akan menyiksanya hingga memohon ampun. Hahaha..."
__ADS_1