Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Mengingat Lagi


__ADS_3

Selamat membaca!


.


.


.


Perlahan mata tajam yang tadinya tertutup kini terbuka sempurna. Pemiliknya tiba-tiba bangun karena suara hujan deras di luar sana. Dia terbangun dan mengambil posisi duduk dengan selimut masih setia menutupi kaki hingga sebatas pinggangnya.


Dia tiba-tiba mengingat masa lalunya di saat hujan deras seperti ini, tetapi waktu itu adalah pulang sekolah. Kebiasaannya yang mengendarai sepeda harus terhenti karena hujan deras yang akan mengakibatkan tasnya basah dan dia juga akan sakit, jika terlalu lama terkena air hujan. Dia terpaksa harus berteduh di halte bus yang tidak terlalu jauh dengan sekolahnya.


Sudah hampir 1 jam hujan belum juga berhenti, membuatnya akan semakin lama sampai ke rumah padahal waktu sudah menunjukan pukul 17.05. Melihat jarum jam di pergelangan tangannya, dia menjadi gelisah, mengingat orang yang menunggunya pulang akan khawatir karena tidak biasanya dia pulang terlambat.


Dia berdiri sambil tangannya merasakan bagaimana air hujan jatuh ke tangannya. Dia tersenyum sendiri tanpa sadar dengan tingkahnya. Tidak lama kemudian sebuah BMW berhenti di depannya membuatnya mengerutkan kening karena heran. Akan tetapi, dia mengangkat bahunya acuh karena merasa tidak mengenal siapa pemilik mobil itu.


Mengabaikan orang yang baru saja turun dari mobil, gadis yang tidak lain adalah Rihan semasa SMA itu kembali asik dengan air hujan yang jatuh mengenai telapak tangannya, hingga seorang pria dengan seragam yang sama dengannya datang menghampirinya sambil membawa payung.


"Hai, namaku David."


"Hai juga, ada yang bisa aku bantu?" Tanya Rihan ramah lalu tersenyum manis.


"Eum... tidak ada. Hanya saja sudah jam segini kenapa anak gadis sepertimu belum pulang?" Tanya David canggung.


"Hujan begitu deras, tasku akan basah dan aku juga akan sakit jika aku memaksa pulang." Jawab Rihan tanpa menatap David yang menatapnya intens.


"Ayo, aku antar pulang! Dimana alamat rumahmu?" Tanya David lalu tersenyum tipis.


"Aku tidak apa-apa pulang sendiri. Mungkin sebentar lagi hujan akan berhenti. Aku juga tidak bisa mengikuti orang yang baru aku kenal." Balas Rihan polos.


"Baiklah. Aku sudah memberitahu namaku padamu. Seragam kita juga sama. Mungkin kamu tidak mengenalku, tapi aku jelas mengenalmu. Kamu sangat terkenal di sekolah. Kamu bisa menelpon orang tuamu dalam perjalanan selama di dalam mobil bersamaku jika merasa khawatir." David berusaha meyakinkan Rihan.


"Tapi, ponselku sudah tidak memiliki daya lagi," Balas Rihan dengan wajah memelas.


"Kamu bisa menggunakan ponselku jika mau." David lalu mengambil ponselnya dan memberikannya pada Rihan. David sangat berusaha agar Rihan naik ke mobilnya.


Memikirkan ucapan pria di depannya, Rihan lalu menatap jam di pergelangan tangannya yang hanya tersisa beberapa menit lagi memasuki setengah 6 sore. Jika dia masih di sana, waktunya sampai di rumah semakin larut. Akhirnya Rihan mengiyakan tawaran David. Setelah mengambil ponsel David, Rihan teringat sesuatu.

__ADS_1


"Bagaimana dengan sepedaku?"


"Kamu bisa meninggalkannya di sini, biar aku yang akan mengurusnya. Ayo!"


Keduanya kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.


Sejak pertemuan pertama mereka di hari itu, David selalu saja mencari alasan untuk dekat dengan Rihan tanpa sadar bahwa Ariana sang tunangan selalu memperhatikan mereka.


Meski Rihan hanya merespon David layaknya teman, tetapi Ariana jelas sangat cemburu melihat bagaimana perlakuan tidak biasa David pada Rihan sehingga dia selalu menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan Rihan.


...


Mengingat masa lalunya, Rihan menggeleng kepala berusaha untuk tidak lagi memikirkannya karena akan membuatnya sakit kepala. Banyak sekali perlakuan buruk Ariana padanya membuatnya berusaha untuk melupakannya. Rihan tidak ingin terbayang oleh masa lalunya yang nantinya berdampak pada kesehatannya sendiri.


Melihat jam digital di atas nakas sampingnya yang menunjukan sebentar lagi adalah waktunya untuk bangun, Rihan lalu menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Tanpa mempedulikan penampilan bangun tidurnya yang mengenakan piyama tidur sedikit acak-acakan, Rihan menuju salah satu pintu yang terhubung langsung dengan ruang kerjanya.


Mengambil posisi duduk di kursi kebesarannya, Rihan lalu menghidupkan laptop, memasukan sebuah flashdisk yang tersimpan bermacam virus dengan kegunaan masing-masing, Rihan lalu membobol data rahasia perusahaan milik keluarga Samantha.


Melihat adanya kejanggalan, seringai tipis terlihat di bibir Rihan. Setelah mengcopy apa yang dia lihat, Rihan melakukan hal yang sama pada perusahaan milik keluarga Antarik. Terlihat sedikit jejak kekaguman di mata Rihan karena butuh lebih sedikit waktu untuk membobol sistem pertahanan perusahaan Antarik. Rihan mengerutkan kening karena tidak sengaja membaca dua file dengan nama R.A Group dan RS. Setia.


Menyimpan beberapa file yang terlihat sangat dijaga oleh perusahaan Antarik, Rihan mematikan kembali laptopnya. Tindakan Rihan yang membobol data rahasia kedua perusahaan besar dengan rentang waktu yang tidak berbeda jauh dan dilakukan di saat ahli yang menjaga data-data itu sedang beristirahat membuat mereka terbangun secara tiba-tiba dan dengan panik berusaha mempertahankan data-data itu, tapi sayangnya keahlian mereka masih jauh di bawah Rihan.


Mengambil iPad itu, Rihan melirik jam digital di sana yang menujukan tersisa 5 menit sebelum kedua asistennya datang ke kamar. Rihan kemudian berdiri dan menuju sebuah ruangan khusus yang merupakan ruang kontrol mansionnya.


Meletakkan iPad itu ke atas mesin pemindai di samping sistem utama ruang kontrol atau sistem hologram utama dimana Gledy diciptakan, Rihan lalu menekan tombol enter di layar hologram dan terlihatlah semua kode-kode asing maupun yang dia tahu di layar depannya. Rihan kemudian menekan kode-kode asing itu untuk melihat lebih jelas cara kerjanya.


Merasa jika waktu untuk mempelajari kode-kode tersebut akan lama sedangkan waktu hampir habis, Rihan kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan setelah meninggalkan pesan untuk Gledy.


"Pelajari kode-kode itu dan jelaskan padaku di waktu luang."


...*Baik Tuan.*...


Memasuki kamarnya dan mengambil posisi duduk di sisi ranjang, Rihan lalu membuka pintu kamar untuk Alex dan Alen. Kedua asistennya kemudian masuk dan melakukan tugas mereka seperti biasa.


***


Jakarta kini gempar karena berita bocornya data-data rahasia kedua perusahaan besar di Indonesia. Kedua pemilik perusahaan besar itu sangat panik mengingat data-data itu sangat penting untuk rencana mereka di masa depan.

__ADS_1


Mereka kini mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu ada yang meminta bayaran untuk data yang bocor itu atau membungkam media agar data-data itu tidak sampai tersebar. Sayangnya sudah 24 jam menunggu, tetapi tidak ada informasi sama sekali.


Rihan yang mendengar berita itu dari Alex hanya mengangguk dan berpura-pura tidak tahu. Padahal Alex sudah memasang ekspresi yakin jika itu adalah ulah sang majikan. Akan tetapi melihat respon Rihan, Alex tiba-tiba ragu dan mencari topik lain untuk dibahas.


"Jadwal terapi Nona Phi akan dilakukan seperti biasa, Tuan?"


"Hmm. Persiapkan semuanya. Panggil Max ke sini."


"Baik Tuan."


***


"Anak buah kita baru saja melapor bahwa Brand mencari seseorang di mansion Rehhand. Katanya orang yang Brand cari sempat dirawat di RS Setia dan kemudian dibawa pulang oleh Rei. Menurutmu siapa yang sedang Brand cari?" Logan menatap Neo yang sedang membaca berkas-berkas di ruang tamu apartemen mereka.


"Tidak mungkin dia." Balas Neo yang berhenti sejenak untuk menatap Logan.


"Bagaimana kalau itu dia?" Tanya balik Logan.


"Jika benar, maka kamu harus mencari cara untuk masuk secara baik-baik di mansion bocah itu." Balas Neo lalu melanjutkan pekerjaannya.


"Baiklah. Jika benar dia ada di sana, apa yang akan kamu lakukan?" Pertanyaan Logan kembali menghentikan tangan Neo yang hendak membuka lembar berikut berkas yang dia baca.


"Maka aku harus membawanya ke sisiku." Jawab Neo lalu menutup berkas yang dia baca meski belum selesai.


"Bagaimana kalau dia tidak ingin ikut denganmu?"


"Itu tidak mungkin."


"Bisa saja itu terjadi. Sudah lama kalian tidak bertemu. Mungkin saja dia sudah melupakanmu." Perkataan Logan mengundang tatapan tajam seorang Neo.


"Selesaikan sisa berkas ini. Aku ingin beristirahat." Ucap Neo datar lalu berdiri dan pergi meninggalkan Logan untuk beristirahat.


"Dia selalu saja menyiksaku karena mengganggunya. Hiss..." Kesal Logan lalu membuka berkas di depannya dengan kasar.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku,

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.


__ADS_2