Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Membunuhnya Diam-diam, Dosa Tidak Ya...


__ADS_3

Yo... Aku kembali setelah sekian tahun menghilang.😂😂😂


Jangan bosan menunggu, dan jangan bosan membaca ceritaku ya...


Mari kita lanjut kisah Rihan.


.


.


.


Mobil Neo baru saja masuk melewati gerbang mansion Rihan. Mata Neo menyipit karena melihat motor yang dia lihat sebelumnya di jalan raya tadi terparkir tidak jauh dari mansion.


"Apa aku salah lihat?" Batin Neo lalu tersenyum tipis.


Neo dengan cepat mematikan mesin mobil dan turun tanpa mempedulikan Elle yang tertegun karena sikap Neo barusan. Biasanya pria itu akan membuka pintu mobil untuknya. Nyatanya, dia terlihat antusias masuk ke dalam mansion.


"Siapa yang membuat pria itu begitu antusias?" Gumam Elle kesal. Gadis itu terpaksa turun sendiri dengan perasaan kesal dan menutup kuat pintu mobil Neo.


"Maaf, Paman. Apa kita kedatangan tamu?" Tanya Neo pada kepala pelayan setelah melihat ruang tamu ternyata kosong.


"Tidak ada, Tuan."


"Kalau begitu di luar motor siapa? Aku baru melihatnya," Tanya Neo mengerutkan kening.


"Motor itu milik, Tuan Muda. Memang Tuan Muda jarang menggunakan motor itu, jadi anda baru melihatnya."


"Benarkah?" Tanya Neo dan tersenyum senang.


"Iya, Tuan."


"Terima kasih, Paman. Lalu di mana Rei?"


"Tuan muda ada di ruang kerjanya,"


"Baik. Lanjutkan pekerjaanmu, Paman. Aku akan ke ruang kerja Rei."


"Baik, Tuan. Silahkan,"


Neo kemudian menuju ruang kerja Rihan dengan terus tersenyum sepanjang jalan.


"Sepertinya kita berjodoh," Gumam Neo setelah keluar dari lift.


Masuk ke ruang kerja Rihan, senyum Neo seketika memudar karena melihat Brand yang bersandar pada bahu Rihan.


"Bajingan itu selalu saja membuatku kesal," Batin Neo lalu segera menghampiri Rihan.


Sret


"Sudah berapa kali aku katakan untuk menjauh dari Rei 'kan? Jangan membuatku memukulmu sekarang, Brand." Neo sangat kesal pada Brand setelah dia menyingkirkan pria itu dari Rihan.


Setelah Brand menjauh dari Rihan, Neo naik dari belakang sofa kemudian duduk di antara Rihan dan Brand. Brand hanya bisa menahan diri dan mengumpat dalam hati.


Rihan, dia hanya bersikap biasa saja. Sejak awal Brand bersandar padanya, Rihan sudah mendorong pria itu beberapa kali. Akan tetapi, Brand tidak menyerah dan beralasan bahwa dia masih lelah karena kejar-kejaran dengan polisi dan karena berlari dari halaman mansion sampai ke ruang kerja Rihan.


Rihan hanya bisa menggeleng dan akhirnya membiarkan saja. Lagipula perlakuan Brand tidak di luar batas. Rihan juga sudah menganggap pria itu sebagai kakaknya jadi tidak masalah.


"Ada yang ingin aku katakan padamu, Rei." Neo menatap Rihan di sampingnya.


"Katakan saja," Balas Rihan tanpa melihat lawan bicaranya.


"Aku hanya ingin bicara berdua denganmu," Neo menatap Alex yang sedari tadi menatap tajam dirinya.


Rihan menoleh ke sampingnya dengan ekspresi datar menatap Neo sebentar, kemudian beralih pada Alex dan Alen di depannya. Dua asisten pribadi Rihan mengerti tatapan itu, sehingga mereka berpamitan keluar. Alex juga tidak lupa menarik Brand ikut bersama mereka.

__ADS_1


Setelah kepergian tiga orang itu, Rihan kembali menatap Neo menunggu apa yang ingin pria itu katakan.


"Kenapa waktu itu kamu tidak mengatakan bahwa kamu adalah orang yang duduk di sebelahku saat di sungai? Kenapa menyembunyikannya?" Tanya Neo bersidekap dada menatap memicing pada Rihan yang bersikap santai.


"Apa untungnya bagiku?" Tanya balik Rihan.


"Eum... jika aku tahu waktu itu, mungkin kita sudah akrab sejak dulu." Jawab Neo lalu menggosok pelan tengkuknya.


"Itu tidak mengubah apapun," Balas Rihan datar lalu mengalihkan pandangannya dari Neo.


"Berapa banyak rahasia yang tidak aku tahu tentangmu? Bisakah kamu menceritakannya padaku?" Tuntut Neo menatap Rihan serius.


"Kita tidak sedekat itu."


"Karena itu, belajarlah dekat denganku. Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah membuka hati untukku. Beri aku kesempatan untuk menunjukan padamu betapa aku menyayangimu. Hm?" Neo berbicara dengan serius lalu menarik Rihan untuk menatapnya.


"Katakan padaku. Bagaimana perasaan kak Neo, jika Elle memiliki kekasih lain?" Tanya Rihan sambil menatap lekat Neo.


"Itu... aku..." Neo tidak tahu harus berkata apa.


"Apa kak Neo senang? Apa kak Neo menerimanya?" Tanya Rihan lagi. Neo hanya membalas dengan gelengan.


"Tidak ada orang yang ingin di duakan, Kak. Jikapun ada, itu karena keadaan. Mereka terpaksa menerima itu karena sesuatu. Mereka menerima itu dengan senyum lebar, tapi percayalah, tidak ada yang tahu isi hati mereka." Ucap Rihan dan menggeleng.


"Kalau begitu, anggap saja keadaan yang memaksamu untuk menerimaku. Meski kamu tidak menyukaiku, tidak masalah. Biar aku saja yang menyukaimu. Asalkan kamu selalu di sampingku, bagiku itu cukup." Balas Neo sambil memegang kedua lengan Rihan.


"Jangan menguji kesabaranku, Kak. Aku bukan orang bodoh yang harus menahan sakit hati demi keegoisanmu. Lebih baik aku terluka karena membantu orang lain, dari pada sakit hati karena cinta. Aku sudah melihat banyak orang yang menderita karena cinta. Mereka rela sakit hati dan bahkan berkorban nyawa demi orang yang mereka cintai bersama dengan orang lain.


Itu jelas bukan aku! Memang kata orang cinta butuh pengorbanan, tapi bukan berarti berkorban nyawa agar orang yang mereka cintai bahagia dengan yang lain. Bagiku itu orang bodoh. Bodoh karena cinta.


Karena aku tidak ingin menderita, tidak ingin menjadi bodoh karena cinta, maka aku menanam prinsip dalam diriku untuk tidak menyukai milik orang lain. Jika aku terlanjur menyukai dan bahkan mencintainya, maka aku secepatnya berusaha melupakan perasaan itu.


Aku tidak tahu bagaimana pemikiran orang lain tentang apa yang aku katakan sebelumnya. Setiap orang memiliki pemikiran sendiri tentang bagaimana berkorban demi cinta. Jika dia berkorban nyawa karena mereka saling mencintai, aku akui itu. Sejauh ini, seharusnya kak Neo mengerti perkataanku," Jelas Rihan panjang lebar dan terus menatap manik mata Neo.


"Tapi, aku..."


"Aku akan memikirkannya. Tapi tolong, jangan menjauh dariku lagi, hm? Aku tidak ingin kehilanganmu," Neo lalu menarik Rihan ke dalam pelukannya. Pria itu memeluk erat Rihan, dengan kepalanya disembunyikan di cekuk leher Rihan.


"Akan aku pikirkan juga," Balas Rihan datar.


"Tidak. Apapun yang terjadi, jangan menghindariku lagi. Jika itu terjadi, siap-siap menerima hukuman dariku. Hukumannya cukup ringan. Satu ciuman di pipi sepertinya bagus." Neo masih memeluk erat Rihan.


"Kau... lepas!" Rihan kesal lalu mendorong Neo kuat hingga pelukan mereka terlepas.


"Aku serius dengan hukuman itu, Rei. Aku pergi!" Neo lalu beranjak pergi dari sana setelah mengacak rambut Rihan sebentar. Pria itu bahkan bersiul sepanjang jalan karena senang.


"Membunuhnya diam-diam dosa tidak, ya." Batin Rihan kesal, lalu bersandar pada sofa dan memejamkan matanya.


...


"Tuan, anda sudah melewatkan makan siang." Seru Alen setelah masuk ke ruang kerja Rihan.


"Kamu dan Alex makan saja di bawah. Antarkan makan siangku ke sini setelah kalian selesai. Jangan biarkan para pengungsi itu ikut, karena aku tidak mood untuk meladeni mereka." Jawab Rihan masih memejamkan matanya.


"Baik, Tuan." Balas Alen lalu berbalik dan keluar.


***


Hari ini seperti yang Rihan perintahkan sebelumnya, Alex akan menjemput Phiranita di Swiss. Tadi malam Rihan sudah meminta izin pada Tuan Evan, papi Neo dan Phiranita agar ulang tahun anak gadisnya dirayakan saja di Indonesia.


Rihan juga mengatakan pada Tuan Evan untuk ikut kemari karena ada sesuatu yang akan dia tunjukan pada saat ulang tahun nanti. Tuan Evan dengan senang hati memberi izin. Tuan Evan juga mengatakan akan ikut jika beliau tidak sibuk.


Alex sudah berangkat sejak dini hari dengan jet pribadi agar sampai di sana dan kembali tepat waktu.


"Tuan..." Panggil Alen setelah masuk ke ruang kerja Rihan dan meletakkan segelas susu di depan Rihan. Alen memanggil Rihan karena sang majikan terlihat serius membaca laporan penyelidikan Elle beberapa minggu ini.

__ADS_1


"Hm."


"Anda tidak berencana mencari tahu sesuatu yang tersembunyi di tanah pembangunan resort itu?" Tanya Alen.


"Untuk apa bersusah payah, jika nantinya ada orang yang akan membuka jalan untuk kita?"


"Saya mengerti, Tuan."


"Bagaimana dengan perusahaan IT itu?"


"Mereka sangat senang karena anda mau menerima proposal yang mereka ajukan. Sebagai tanda terima kasih, mereka menawarkan untuk memasang kamera pengawas berteknologi tinggi di seluruh bagian perusahaan."


"Menurutmu, berapa biaya yang dikeluarkan untuk membeli dan memasang kamera pengawas di setiap sudut perusahaan?" Tanya Rihan setelah meletakkan kertas di atas meja lalu mengambil susu yang Alen bawa dan meminumnya.


"Untuk kamera pengawas dengan tipe standar, biayanya lumayan banyak menurut saya. Jika berteknologi tinggi, saya rasa biayanya tidaklah sedikit."


"So... Kenapa mereka ingin memasangnya di R.A Group, tanpa memikirkan pengeluaran mereka?" Tanya Rihan lalu meletakkan gelas yang isinya sudah setengah di atas meja.


"Apa mereka ingin mengawasi keadaan perusahaan?" Tebak Alen.


"Entahlah."


"Kalau begitu, apa saya harus menolak tawaran itu?"


"Biarkan saja mereka memasangnya. Tapi, hanya di bagian yang muda dilihat saja."


"Saya mengerti, Tuan!"


"Bagus. Bagaimana keadaan Bibi Dara?"


"Kata mama, nyonya Dara sudah beraktifitas seperti biasa. Akan tetapi hanya di sekitar mansion."


"Itu bagus!"


...


"Rei, ayo jalan-jalan!" Seru Neo menghampiri Rihan yang termenung di balkon ruang kerjanya.


"Ajak kekasihmu saja," Balas Rihan datar tanpa mengalihkan pandangan dari halaman mansionnya.


"Elle sedang meninjau tempat pembangunan resort." Neo menjawab setelah duduk di depan Rihan dan tanpa permisi mengambil jus milik Rihan dan meminumnya.


"Tidak ada jadwal peninjauan hari ini. Untuk apa dia ke sana?" Tanya Rihan menatap tajam Neo yang baru saja meletakkan gelas kosong bekas jus di atas meja.


"Karena dia belum tahu lokasinya dengan baik. Dia juga ingin melihat secara langsung seberapa luas lahan itu."


"Kalau begitu, kenapa dia tidak pergi bersamamu?" Tanya Rihan sambil mengetik sesuatu di ponselnya mengirim pesan pada Alen.


"Dia hanya ingin pergi sendiri,"


"Katanya tidak tahu lokasi itu dengan baik. Seharusnya dia pergi bersamamu yang sudah beberapa kali ke sana."


"Elle akan pergi dengan sopir."


"Biasanya sepasang kekasih, mereka selalu ingin pergi kemana-mana dengan kekasih mereka. Apalagi tempat itu sangat tenang, dan jauh dari pantauan orang lain. Itu seharusnya menjadi tempat strategis untuk menjalin kasih," Rihan beralih menatap Alen yang datang dengan sebotol air mineral.


"Benar juga. Kenapa Elle pergi sendiri?" Batin Neo menunduk.


"Di mana dia mendapatkan sopir?" Tanya Rihan lagi lalu mengambil botol air mineral yang baru diletakkan Alen.


"Itu sopir milikmu," Jawab Neo setelah merebut botol di tangan Rihan dan membukanya kemudian memberikan kembali pada Rihan.


"Tuan muda jarang memakai sopir karena ada kak Alex yang mengemudi. Lagipula, Tuan Muda sudah lama mengendarai motor. Jika membutuhkan sopir, mereka akan dihubungi. Itupun dalam keadaan darurat. Dan juga, semua penjaga di mansion tidak akan menerima perintah dari orang lain untuk mengemudi kecuali Tuan Muda, kak Alex dan saya sendiri." Penjelasan Alen membuat Neo tertegun.


"Kalau begitu, sopir siapa yang Elle maksud?" Tanya Neo menatap Rihan yang meneguk air mineral.

__ADS_1


"Tanyakan sendiri padanya." Jawab Rihan santai setelah menaruh botol berisi setengah air mineral.


__ADS_2