
"Bos ada yang harus saya katakan pada anda. Ini penting!" Seru Dom yang baru masuk dan melihat Brand sedang fokus di layar komputer depannya.
"Katakan!"
"Chi Corporation membatalkan kontrak kerja sama dengan Miara Group."
Brak!
"Apa?" Ujar Brand setelah menggebrak meja dengan keras.
"Mereka baru saja menelpon, Bos."
"Kurang ajar! Apa Neo sudah tahu adiknya tidak ada bersama kita?" Tanya Brand dengan emosi.
"Saya tidak tahu, Bos. Tapi menurut anak buah kita, Neo dan Logan sudah dua kali pergi ke mansion Tuan muda itu. Saya curiga dia sudah bertemu dengan adiknya."
"Ini tidak bisa dibiarkan. Dimana Neo sekarang?" Tanya Brand dengan wajah merah padam.
"Laporan terakhir anak buah kita, Neo dan Logan sudah kembali ke luar negeri dengan jet pribadi kemarin. Setelah itu, tidak ada laporan apapun. Anak buah kita tidak bisa lagi di hubungi, Bos." Jawab Dom takut melihat wajah beringas sang Bos.
"SIAL...SIAL...SIAL..."
Prang
Prang
Bruk
Dengan emosi, Brand menghempaskan apa saja yang ada di atas meja depannya.
"Itu..." Dom tidak tahu harus berkata apa, karena melihat kemarahan Brand. Belum lagi dia takut menegur Brand. Pasalnya, sang Bos baru saja menghempaskan apa saja di atas mejanya, termasuk kontrak kerja sama pembangunan resort.
"Anda baru saja membuang kontrak kerja sama dengan R.A Group, Bos." Lirih Dom sambil menatap berkas-berkas yang berceceran di lantai
"Bersihkan ruangan ini segera. Aku ingin menenangkan pikiran." Brand kemudian keluar dari sana dengan membanting pintu ruangannya keras.
"Baik, Bos."
Setelah kepergian Brand, Dom hanya bisa menghela nafas pelan karena sang Bos tidak melampiaskan emosi padanya.
***
Di kamar Rihan, Alen sedang membantu menyiapkan semua kebutuhan Rihan setelah kebutuhannya sudah disiapkan di sebuah koper kecil karena mereka akan berangkat untuk perayaan ulang tahun pernikahan kedua orang tua Rihan.
Kemarin, Phiranita sudah berangkat bersama Neo dan Logan untuk pengobatannya. Rihan sendiri tanpa sepengetahuan Neo, telah menyuruh pengawal bayangannya untuk ikut secara diam-diam mengawasi mereka agar tiba dengan selamat. Meski Rihan tahu Neo memiliki pengawal bayangan sepertinya, tetapi Rihan hanya ingin mendengar keadaan sahabatnya dari pengawalnya langsung.
Rihan juga tidak ingin Phiranita tiba-tiba drop karena mereka dihadang di tengah jalan nanti. Meski keberangkatan mereka dengan jet pribadi milik Neo, tetapi jika orang yang selama ini memata-matai Neo jelas akan tahu keberadaan mereka sehingga Rihan berinisiatif menyingkirkan orang-orang itu dari jauh.
Rihan sudah menerima laporan dari pengawal bayangannya tentang aktivitas Brand selama ini. Rihan juga ingin tahu apakah Brand sudah mengetahui keberadaan Phiranita atau tidak, dan menurut pengawal bayangannya, Brand sama sekali tidak tahu.
Rihan yang mendengar laporan itu sedikit tenang. Kini dia akan fokus pada dirinya sendiri karena sahabatnya sudah ada yang menjaga.
Baru saja dia tenang, sudah ada laporan masuk melalui email padanya yang isinya memberitahukan bahwa Brand curiga Phiranita sudah berangkat bersama Neo.
Rihan hanya mengangguk membaca email dari pengawalnya. Rihan ingin mengirim pesan pada Neo untuk memberitahu hal ini, tetapi dia urungkan. Rihan yakin, Neo pasti akan tahu dengan sendirinya.
__ADS_1
"Nona,"
"Hmm."
"Kak Alex baru saja menelpon dan mengatakan bahwa semua sudah disiapkan sesuai rencana. Hanya menunggu kedatangan anda."
"Baguslah. Bagaimana keadaan mansion utama?"
"Semua persiapan ulang tahun hampir selesai, Nona."
"Bagus."
"Max ingin ikut dengan anda. Dia tidak ingin ikut bersama kedua orang tuanya."
"Kamu tahu kita tidak langsung ke sana, tetapi ke Prancis lebih dulu. Katakan padanya, jangan membuatku menendangnya dari mansion ini." Tegas Rihan yang sibuk dengan laptopnya di atas tempat tidur.
"Baik, Nona."
...
"Biarkan aku ikut bersamamu, Rei." Pintah Max dengan wajah memelas setelah melihat Rihan yang keluar dari kamarnya. Max sedari tadi menunggu Rihan tidak jauh dari pintu kamarnya.
"Aku akan pulang ke Prancis." Rihan menjawab dengan datar sambil berjalan menuju lift.
"Benarkah? Maka itu akan semakin menarik. Biarkan aku mengenal orang tuamu juga."
"Untuk apa?" Tanya Rihan lalu masuk ke dalam lift diikuti oleh Alen dan Max. Ketiganya akan menuju ruang makan untuk makan siang.
"Hanya ingin mengenal keluargamu. Hehehe..."
"Baiklah, aku akan berangkat bersama kedua orang tuaku saja." Max pasrah dengan keputusan Rihan. Jangan lupakan juga wajah menyedihkannya.
Rihan sebenarnya bisa saja membawa Max bersamanya, tetapi ada sesuatu yang harus dia lakukan sehingga jika Max ikut, maka itu akan merusak rencananya.
...
Setelah makan siang, Rihan dan Alen segera berangkat dengan jet pribadi menuju Prancis. Padahal masih ada beberapa hari sebelum perayaan dimulai, tapi ada yang harus Rihan lakukan sehingga mereka harus berangkat lebih awal. Max dibiarkan sendiri di mansion. Entah kapan keluarganya akan menuju ke Amerika. Rihan sendiri tidak peduli.
Rihan hanya meminta orang tuanya untuk mengundang orang-orang penting dan juga orang-orang yang terkait dengan masa lalunya, seperti keluarga Alexander dan keluarga Samantha.
Untuk keluarga Bruneyas atau keluarga Max, mereka diundang karena memang perusahaan mereka yang di Jerman juga bekerja sama dengan perusahaan keluarganya. Begitu juga dengan Antarik Company. Ada Chi Corporation dan juga perusahaan lainnya yang masih kerabat dengan mereka.
Keluarga Alexander dan Samantha begitu senang ketika menerima surat undangan perayaan ulang tahun pernikahan pengusaha besar itu. Setahu mereka, hanya perusahaan yang bekerja sama dengan mereka yang diundang.
Pither Alexander dan Samuel Samantha bertanya-tanya alasan kenapa mereka juga diundang. Orang yang membawa undangan yang merupakan bawahan Rihan hanya menjawab bahwa J2R Lesfingtone atau perusahaan milik keluarga Rihan tertarik untuk membangun kerja sama dengan mereka sehingga kedua perusahaan itu juga diundang.
Mendengar alasan itu, kedua kepala keluarga itu begitu senang dan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka dengan senang hati memberitahu keluarganya untuk bersiap.
***
Biasanya dengan penerbangan biasa membutuhkan waktu 17 jam 50 menit dari Jakarta menuju Prancis, tetapi karena Rihan menggunakan Jet pribadi sehingga perjalan tidak memakan banyak waktu.
Rihan dan Alen tiba di mansion sang paman sudah lewat jam makan malam. Paman dan bibi Rihan begitu senang melihat kedatangan keponakan kesayangan mereka yang sudah seperti anak sendiri.
Kedatangan Rihan dihadiahi pelukan hangat sang paman dan bibi. Sedangkan kakak sepupunya sudah keluar sebelum Rihan tiba sehingga keduanya tidak bertemu.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Sayang?" Tanya Bibi Shintia setelah pelukan keduanya terlepas. Bibi Shintia bahkan menangkup wajah Rihan untuk melihat lebih jelas wajah ponakannyq seakan-akan mereka tidak bertemu bertahun-tahun. Mata Bibi Shintia sudah berkaca-kaca.
"Aku baik, Ma." Suara Rihan sedikit melembut.
"Syukurlah. Duduk dulu, Sayang." Bibi Shintia dengan cepat membawa Rihan duduk bersamanya di sofa.
"Kamu Alen, 'kan? bagaimana kabarmu? Terima kasih sudah menjaga Rei selama ini." Bibi Shintia tersenyum lembut menatap Alen yang duduk di depannya.
"Saya baik, Nyonya. Itu sudah menjadi tugas saya menjaga tuan nuda kedua."
Jika berada di keluarga pamannyq, Rihan akan dipanggil tuan muda kedua karena sepupunya yang bernama lengkap Yaravhin Roland Lesfingtone akan dipanggil tuan muda pertama.
"Sejak pertemuan pertama kita, sudah saya katakan untuk memanggil mama sama seperti Rei, 'kan? Saya justru sangat senang. Ayo, Saya ingin mendengar kamu memanggil mama."
"Tapi, Nyo..."
"Saya tidak terima penolakan!" Tegas Bibi Shintia.
"Ma...mam...a..." Mengucapkan satu kata itu, suara Alen tiba-tiba bergetar. Mungkin nalurinya yang belum pernah merasakan bagaimana memiliki seorang ibu atau ayah yang harus dipanggil.
"Bagus, Sayang! Mulai sekarang kamu jadi anak perempuan mama." Bibi Shintia kemudian berdiri dan menghampiri Alen setelah melihat reaksi Alen yang bergetar dan mulai berkaca-kaca.
Dipeluknya Alen, sambil mengusap lembut punggung Alen membuat asisten Rihan itu semakin bergetar dan mulai meneteskan air matanya.
"Beginikah, rasanya pelukan seorang ibu? Hangat..." Alen lalu membalas pelukan itu dengan erat.
"Pa... tidak masalahkan, Alen jadi anak perempuan kita?" Tanya Bibi Shintia disela-sela pelukan mereka.
"Tidak masalah, Ma. Apapun yang mama mau papa turuti, asal mama bahagia." Balas Paman Jhon ikut tersenyum.
"Berarti hanya menunggu pendapat Avhin dan mama akan mengurus surat-suratnya." Bibi Shintia sangat senang lalu melepas pelukannya.
"Avhin pasti setuju dengan kita. Untuk surat-surat itu, biarkan papa dan Avhin yang mengurusnya. mama tenang saja."
"Baiklah."
Rihan yang melihat kebahagiaan yang dipancarkan Alen dari sorot matanya ikut senang.
"Aku akan beristirahat Pa, Ma... Ada yang harus Rei dan Alen lakukan nanti. Jangan katakan pada kak Avhin kalau aku pulang. Biarkan ini menjadi kejutan." Rihan kini berdiri dan hendak menuju kamarnya.
"Oke, Sayang. Kalian pasti lelah perjalanan jauh. Alen! kamarmu di sebelah kamar Rei." Ujar Bibi Shintia lalu mengusap kepala Alen lembut.
"Baik, Ma. Terima kasih sudah mau menjadi mama Alen. Terima kasih juga, Pa." Alen tersenyum menatap Paman Jhon dan Bibi Shintia bergantian.
"Sama-sama sayang. Istirahatlah!"
Rihan dan Alen kemudian menuju lantai dua dimana kamar keduanya berada.
***
Jangan lupa untuk memberi kritik dan saran yang membangun untuk cerita ini di kolom komentar. Dukungan juga jangan lupa, ya.
Terima kasih.
Sampai ketemu di chapter selanjutnya.
__ADS_1