Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Berkunjung


__ADS_3

Setelah keluar dari kelas meninggalkan ketiga teman kelompoknya, Rihan menuju parkiran fakultas kedokteran untuk mengambil motornya dan bergegas pulang.


***


Saat ini Rihan sedang mengendarai motornya menuju tempat tinggal kakek dan neneknya yang hanya berjarak beberapa kilo meter dari area kampus. Rihan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang hingga, tiba di depan rumah bergaya klasik yang sangat sederhana milik kakek dan neneknya.


Rumah yang 3 tahun lalu dia tempati selama masa sekolah menengahnya. Rumah dengan banyak kenangan di dalamnya.


Rihan mematikan mesin motornya kemudian melepas helmnya dan turun dari motor menuju pintu pagar yang tidak di kunci itu, dan memasuki pekarangan rumah yang begitu asri yang ditumbuhi banyak tanaman bunga milik sang nenek.


Rihan dengan pelan merogoh saku jeansnya dan mengambil kunci rumah kemudian membuka pintu yang dikunci. Setelah pintu dibuka, Rihan lalu melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu yang hanya di isi dengan sofa sederhana dan beberapa perabot lainnya.


Jika ada yang merasa heran kenapa rumah milik kakek dan nenek Rihan begitu sederhana sedangkan anak mereka atau Mommy Rihan mempunyai suami dengan kekayaan yang melimpah?


Jawabannya adalah karena kedua paru baya itu hanya ingin menempati rumah hasil kerja keras mereka dari masa muda hingga kini. Semua hal di dalam rumah itu tidak ada sedikitpun di isi dengan barang mahal, yang ada hanya barang-barang sederhana hasil jerih paya mereka sendiri. Kedua lansia itu hanya ingin hidup sederhana menikmati masa tua mereka.


Rihan memandang sebuah figura yang tergantung di ruang tamu berisikan tiga manusia yang sedang mamasang pose senyum manis mereka, dimana seorang gadis remaja yang berdiri di belakang pasangan paru baya yang sedang duduk dengan tenangnya sofa.


Rihan hanya memasang senyum tipisnya pada kedua paru baya yang ada di foto itu yang tidak lain adalah kakek dan neneknya bersama dirinya.


Setahun yang lalu, sang kakek dipanggil pulang ke pangkuan Bapa di sorga karena penyakit keturunannya, sehingga neneknya terpaksa harus mengikuti sang anak, atau Mommy Rihan untuk tinggal bersama agar ada yang merawat di masa tuanya.


Karena sang nenek berangkat ke Amerika, maka rumah ini hanya dijaga oleh pembantu yang dulunya bekerja di sini. Mereka sesekali datang dan membersihkan luar maupun dalam rumah sehingga terlihat seperti ada yang menempati rumah ini.


Rihan hanya memandang datar suasana rumah yang tidak ada perubahan apapun. Semuanya tetap sama.


Setelah puas mengingat kenangan masa lalunya, Rihan segera keluar dan mengunci kembali pintu rumah kemudian berjalan menuju motornya yang masih terparkir sempurna di sana. Ketika akan menyalakan mesin motornya, seorang menyapanya.


"Maaf, Aden siapa?" Tanya seorang wanita paru baya pada Rihan.


Rihan mengalihkan pandangannya ke arah wanita paru baya itu yang tidak lain adalah bibi yang selalu menjaga rumah ini.


"Anda siapa?" Tanya balik Rihan, meski dia sudah tahu siapa yang ada di depannya ini.


"Saya bibi yang selalu menjaga rumah ini. Aden yang selalu datang di sini, ya." Tanya sang bibi lalu tersenyum pada Rihan.


"Maksudnya?" Tanya Rihan datar pada bibi yang Rihan ingat namanya Asri.


"Aden yang setiap hari selalu datang, dan berdiri di depan gerbang sambil melihat ke dalam, 'kan?" Tanya Bibi Asri.


"Ya. Saya orangnya! Memangnya kenapa?" Tanya balik Rihan.


Rihan terpaksa berbohong, karena penasaran dengan siapa pria yang kata Bibi Asri selalu datang dan menatap rumah kakek dan neneknya. Ini berita baru baginya.


"Tidak apa-apa, Den. Hanya saja bibi penasaran, kenapa aden suka melihat ke dalam? Aden teman non Rihan, ya?" Tanya Bibi Asri.


"Ya. Saya teman Rihan," Jawab Rihan.


"Sepertinya aden rindu dengan non Rihan, sampai-sampai setiap hari harus datang ke sini.


Nona Rihan sudah tidak tinggal di sini lagi, Den. Non Rihan sudah diajak tinggal bersama orang tuanya," Wanita paru baya yang biasa di panggil Bi Asri berbicara dengan lembut.

__ADS_1


"Kalau begitu, saya pamit, Bi." Rihan menyalakan mesin motornya pergi dari sana.


"Iya, Den. Hati-hati di jalan." Balas Bibi Asri sambil menatap Rihan yang sudah berlalu pergi dengan motornya.


***


"Bagaimana tugasmu hari ini?" Tanya Rihan pada Alex yang berdiri di depannya.


"Sniper itu sudah kami tangkap, Nona. Anda ingin mengintrogasinya sendiri atau saya saja?" Tanya Alex.


"Kamu saja," Rihan menjawab singkat.


"Baik, Nona. Kalau begitu saya pamit," Alex lalu beranjak pergi dan hendak membuka pintu, tapi kembali dipanggil oleh Rihan.


"Lex,"


"Iya, Nona?" Jawab Alex kembali ke tempatnya semula.


"Aku ingin rekaman CCTV di sekitar rumah kakek dan nenek." Rihan berbicara sambil mengetuk-ngetuk pelan meja kerjanya dengan jari telunjuknya.


"Rekamannya akan siap 15 menit setelah saya keluar dari ruangan ini, Nona." Balas Alex sambil menatap waktu di pergelangan tangannya.


"Hmm."


...


Lima belas menit kemudian, Alex kembali masuk dan berdiri di depan Rihan lalu menyerahkan iPad pada sang majikan yang berisi rekaman CCTV.


Rekaman ini sudah saya periksa, dan hanya mobil ini yang hampir setiap hari di waktu yang sama, selalu melewati supermarket dan restaurant. Saya juga sudah memeriksa plat mobilnya, dan terdaftar atas nama David Alexander, Nona." Jelas Alex setelah memberikan iPad pada Rihan. Tuan Anderxius yang Alex maksud adalah kakek Rihan.


"Hmm." Deheman Rihan lalu menganggukkan kepalanya dan matanya tetap fokus menonton rekaman CCTV di tangannya.


"Bagaimana dengan persiapan besok?" Tanya Rihan setelah meletakkan iPad di atas meja dan menatap Alex.


"Semua anggota sudah siap, Nona." Jawab Alex dengan tegas tetapi percayalah, jantungnya berdebar kencang memikirkan latihan apa yang akan dilakukan sang majikan selain latihan neraka yang sering mereka dapatkan.


"Bagus. Ingat untuk hadir sebelum waktu latihan di tempat biasa. Tidak ada ampun bagi yang terlambat!" Ucap Rihan sambil menatap tajam Alex.


"Baik, Nona. Saya pamit." Alex membungkukkan badannya kepada sang majikan kemudian berlalu pergi dari sana.


...


"Maaf Nona, waktunya makan malam." Alen baru saja datang setelah hampir jam makan malam.


"Hmm." Deheman Rihan kemudian berdiri dari kursinya dan berjalan menuju lantai satu untuk makan malam diikuti oleh Alen dari belakang.


Sesampainya di meja makan, Alen lalu melakukan tugasnya seperti biasa yaitu melayani sang majikan untuk makan malam.


"Dimana Alex?" Tanya Rihan setelah sudah duduk di kursinya.


"Saya disini, Nona." Jawab Alex yang baru saja datang dengan tergesah-gesah takut membuat sang majikan menunggu.

__ADS_1


"Duduk!" Pintah Rihan.


"Baik, Nona." Balas Alex lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan sang adik.


"Selamat makan, Nona." Ucap si kembar secara bersamaan.


"Hmm."


Ketiga lalu menikmati makan malam mereka dengan tenang.


Drrttt


Drrttt


Drrttt


Getaran ponsel milik Alex membuat fokus mereka pada makanan terhenti.


"Maaf, Nona! Telepon dari Dokter Damar." Alex memberitahu setelah membersihkan mulutnya dengan tisu lalu menatap ponselnya.


"Jawab," Balas Rihan singkat, kemudian menyudahi makan malamnya diikuti oleh Alen.


"Ada apa, Dok?" Tanya Alex setelah menekan ikon jawab, sekaligus memperbesar suaranya agar didengar oleh sang majikan.


"Nona Phiranita tidak mau makan, Tuan. Dia hanya ingin makan jika di suapi oleh presdir." Jawab Dokter Damar di seberang telepon.


"Berikan ponselmu padanya," Balas Rihan datar lalu mengambil ponsel dan mematikan mode speaker dan mendekatkan pada telinganya.


"B...baik, Presdir."


"Halo Ehan! Kamu tidak datang menjengukku?" Suara di seberang sana yang tidak lain adalah suara Phiranita.


"Kenapa tidak makan?" Tanya Rihan tanpa menjawab pertanyaan Phiranita.


"Aku ingin kamu yang menyuapiku," Phiranita menjawab dengan nada manjanya.


"Aku akan kesana lima belas menit lagi," Balas Rihan sambil melihat jam tangannya.


"Benarkah? Aku tunggu! Dah Ehan, aku menyayangimu." Suara Phiranita sangat bersemangat.


"Hmm." Deheman Rihan lalu mematikan sambungan telepon dan mengembalikannya pada Alex.


Rihan kemudian berdiri diikuti oleh Alex dari belakang karena mereka akan langsung menuju ke rumah sakit. Sedangkan Alen, dia sibuk membersihkan meja makan dibantu oleh para pelayan.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.


See You.

__ADS_1


__ADS_2