Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Basket


__ADS_3

Selamat membaca!


.


.


.


Rihan sebenarnya tidak ingin berurusan dengan orang angkuh seperti Gibran. Hanya saja, dia tidak ingin Max akan semakin terpuruk dengan penyakitnya karena kekalahannya nanti dan diolok-olok oleh Gibran dan teman-temannya, sehingga Rihan berinisiatif membungkam orang seperti Gibran ini.


"Apa taruhannya?" Ulang Rihan datar. Jangan lupakan tatapan tajamnya yang menusuk, membuat Gibran tiba-tiba merasa takut.


Tidak ingin mempermalukan diri sendiri di hadapan tim basketnya, juga banyaknya mahasiswa yang baru saja datang karena mengikuti Rihan, Gibran tetap memasang wajah angkuh dan menatap remeh Rihan dan yang lainnya.


"Jika timku menang, aku ingin Max menjadi budakku selama satu semester. Jika timku kalah, terserah apa yang kalian lakukan pada kami." Ucap Gibran sambil melipat kedua tangan di atas perutnya.


"Laki-laki sejati akan memegang perkataannya." Rihan membalas datar lalu melepas tas ransel di bahunya dan meletakkannya sembarangan ke bawah.


"Kamu bisa bermain basket?" Tanya Rihan pada David yang sedari tadi hanya diam.


"Ya. Tapi tidak terlalu mahir." Jawab David tiba-tiba gugup. Ini pertama kalinya Rihan menatap dan berbicara langsung padanya.


"Rei... kamu tidak bisa seperti ini karena aku. Biarkan aku menolak permainan ini. Awalnya aku dan Albert yang bermain, kenapa harus begini?" Max berbicara sambil memegang ujung kemeja Rihan yang sedang berjongkok mengikat tali sepatunya.


"Masuklah ke dalam tim. Anggap saja kita sedang melakukan terapi untukmu." Balas Rihan lalu berdiri setelah mengikat tali sepatunya agar tidak lepas selama permainan.


"Rei..." Panggil Max sayu.


"Persiapkan dirimu!" Balas Rihan datar.


"Kamu hanya menggunakan itu, Lex?" Tanya Rihan pada Alex yang saat ini masih menggunakan jaket kulitnya.


"Saya akan membukanya, Tuan." Alex lalu membuka jaket kulitnya dan terpampanglah kaos putih ketat yang memperlihatkan bagaimana proporsionalnya tubuh seorang yang mengikuti latihan neraka seperti Alex.


[Ya, ampun! mataku sungguh beruntung melihat ini...]"


[Jika asisten Tuan Muda Rehhand sekekar itu, bagaimana dengan tuan muda sendiri?]


[Benar sekali! Aku sangat ingin melihatnya]"


[SEMANGAT TUAN MUDA... KAMI MENDUKUNGMU!]


[Go Gibran... Go Gibran... Juara bertahan tetap akan menang.]


Begitulah bisikan kagum dan teriakan karena tubuh Alex dan teriakan semangat untuk tim Rihan. Tidak lupa juga tim cheerleader basket dan penggemar Gibran yang juga memberi dukungan.


"Jumlah kita cukup. Persiapkan diri kalian!" Rihan menatap satu persatu rekan setimnya.


"Bagaimana dengan kami?" Pertanyaan aneh dari Dian membuat suasana yang tadinya tegang tiba-tiba berubah menjadi tawa lepas Max dan Albert.


Rihan hanya tersenyum tipis tidak terlihat oleh yang lainnya sambil menatap Dian yang memasang wajah anehnya. Sedangkan David, selalu memperhatikan Rihan sehingga dia menyadari senyum tipis Rihan pada Dian.


"HAHAHA..."


"Astaga! perutku..." Max memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa.


"Sebaiknya kamu pulang dan tidur, Di." Ucap Albert yang masih tertawa.


"Bodoh sekali jadi orang! kamu harus mendukung timmu." Ayu menatap malas Dian di sebelahnya.


"Iyaya... Baiklah!" Dian menganggukkan kepalanya merasa lucu dengan dirinya sendiri.


"Dia tersenyum? Kenapa terlihat...


Astaga, pikiranku." Batin David menggelengkan kepalanya ketika melihat senyum tipis tidak terlihat milik Rihan.


"Kamu tidak ingin bermain?" Tanya Rihan datar karena melihat gelengan kepala David.

__ADS_1


"Tidak. Maksudnya, aku ikut." Jawab David menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lalu, ada apa dengan gelengan itu?" Tanya Rihan menatap intens David yang berdiri satu meter di depannya.


"Ak... aku hanya merasa aneh dengan Dian. Ya... hanya itu." David menganggukkan kepalanya meyakinkan.


"Hm."


"Kita tidak punya waktu untuk mengganti pakaian. Ada yang tidak nyaman dengan pakaiannya?" Tanya Rihan pada keempat pria di depannya.


Mereka rata-rata menggunakan celana jeans dengan kemeja juga baju kaos. Pasti rasanya aneh bermain dengan pakaian seperti itu. Sedangkan tim Gibran berpakaian olahraga karena mereka memang sedang bermain tadi.


"Aku tidak masalah." Ucap Albert diangguki oleh yang lainnya.


"Baiklah! Semua pasti tahu dasar permainan ini. Bukan hanya taruhan yang harus dipikirkan, tetapi kerja sama tim. Untuk kemenangan, itu tergantung bagaimana cara kalian bekerja sama dengan teman setim. Dan Max, jangan gugup! Tahan emosimu. Ingat kata-kataku, anggap ini adalah terapi untukmu." Jelas Rihan panjang lebar sambil menatap tajam tepat di kedua bola mata masing-masing teman setimnya.


"Kami mengerti." Balas keempat pria itu bersamaan.


"Bagus."


Prieett


Suara fluit membuat semuanya menoleh pada seorang pria kira-kira berumur 30an yang akan menjadi wasit nantinya.


"Kedua tim siap? Ingat untuk tidak berlaku curang." Ucap sang wasit yang sedang memegang bola di tangannya.


"Ya."


"Ketika bola ini saya lepas, maka permainan dimulai." Sambung sang wasit.


Kedua tim mulai fokus menatap bola di tangan sang wasit yang sudah diangkat tinggi siap dilepas ke atas.


Duk.


Bola dilepaskan oleh wasit, dan permainan pun dimulai.


Untuk Rihan sendiri, dia begitu tenang. Tidak ada jejak ambisi untuk mengambil bola. Rihan hanya memperhatikan bagaimana kerja sama tim lawan.


"Kerja sama yang bagus." Batin Rihan sambil menganggukkan kepalanya ketika lawan berhasil memasukkan bola ke dalam ring mereka.


"Siap-siap menjadi budakku, anti sosial." Ejek Gibran pada Max ketika berhasil mencetak 2 poin.


Max hanya mengepalkan tangannya menahan emosi.


"Ingat kata-kataku, Max." Rihan menenangkan Max.


Max tersadar dan menghembuskan nafas berusaha tenang.


Permainan terus berlanjut. Kini tim Rihan yang memegang bola. Tepatnya bola sedang digiring oleh Albert.


"Max, tangkap bolanya!" Teriak Albert lalu melempar bola pada Max.


HUP


"Perhatikan pria dengan no punggung 3." Bisik Rihan pada Alex.


"Baik, Tuan."


"Fokus Max!" Teriak Rihan.


"Siap-siap jadi budakku, Max. Aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya menjadi budak pria tampan sepertiku." Provokasi Gibran di samping Max yang sedang mendribble bola.


Mendengar provokasi Gibran, emosi Max terpancing sehingga kehilangan fokus dan Gibran berhasil mengambil bola di tangannya.


"Hahaha... Kasihan sekali kamu.." Ejak Gibran kemudian berlalu sambil menggiring bola menuju ring lawan.


HUP

__ADS_1


"What the hell..." Kaget Gibran karena David berhasil mengambil bola di tangannya.


"Bolanya Rei..." Teriak David ketika bola dilempar pada Rihan yang berada didekat ring lawan.


HUP


Dengan tenang Rihan menangkap bola kemudian melakukan slam dunk.


Sring!


Bola berhasil masuk ke dalam ring.


Tepuk tangan meriah diberikan untuk Rihan karena teknik slam dunknya atau memasukan bola dengan tubuh melayangnya.


[KAMI PADAMU TUAN MUDA...]


TOS


David dan Rihan lalu melakukan tos karena berhasil memasukan bola.


Permainan terus berlanjut dan babak pertama dimenangkan oleh tim Gibran dengan selisih 1 poin.


"Sial... kenapa tuan muda itu sangat hebat?" Marah Gibran karena hampir saja mereka kalah di babak pertama. Untung saja waktu di babak pertama habis sehingga mereka memenangkannya.


...


"Max..." Panggil Rihan karena Max terduduk dan mengacak rambutnya frustasi.


"Maafkan aku... Aku terpancing emosi," Ujar Max dengan nada bersalahnya.


"Hei, kamu anti sosial... Jangan membuat tuan muda kalah. Kamu bisa tidak, bermain dengan baik?" Marah Ayu sambil menunjuk tepat di wajah Max.


"Kamu tidak punya hak memarahinya. Kembali ke tempatmu." Suara Rihan dingin, membuat Ayu bungkam dan kembali ke tempat duduknya.


"Beri aku kesempatan di babak kedua ini." Ucap Max sambil menatap sayu Rihan.


"Memangnya kita punya pemain cadangan?" Canda Albert membuat David tertawa diikuti oleh Max.


"Kali ini jangan terpancing emosi, Max." Rihan kembali mengingatkan lalu menarik Max yang sedang duduk untuk berdiri karena waktu istirahat habis.


"Baiklah. Terima kasih teman-teman." Max tersenyum tipis.


Prieeet


Kedua tim kembali mengambil posisi masing-masing.


[SEMANGAT MAX... KAMI MENDUKUNGMU!]


"Ini..." Max tidak bisa berkata-kata.


"Semangat Max." Rihan ikut memberi semangat.


Setelah waktu istirahat babak pertama, Rihan menyuruh Alex untuk meminta pada penonton yang mendukung Rihan agar menyemangati Max dengan imbalan traktiran oleh Rihan, sehingga mereka dengan semangat mengiyakan.


Permainan berlanjut hingga waktu sudah menunjukan 5 menit berlalu dengan skor 10 poin untuk tim Rihan dan 5 poin untuk tim Gibran.


"Johar, pakai rencana B." Bisik Gibran pada Johar temannya dengan nomor punggung 3.


"Siap, Bos."


"Kita lihat sejauh mana kalian bertahan," Gumam Gibran dalam hati, lalu menampilkan senyum liciknya.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu, ya.

__ADS_1


See You.


__ADS_2