Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Nama Asli Neo dan Logan


__ADS_3

Setelah makan malam bersama berakhir, Alex dan Alen kini berada di ruang kerja Rihan untuk melaporkan tugas yang Alex kerjakan sebelum berangkat nanti.


"Direktur Bimo menanyakan tentang pendapat anda mengenai proposal kerja sama yang diajuhkan oleh Chi Corporation, Tuan." Suara Alex membuka pembicaraan mereka.


"Kamu sudah membacanya? Bagaimana pendapatmu?" Tanya Rihan menatap bergantian kedua asistennya yang berdiri tegap di depannya.


"Proposal mereka sangat bagus Tuan, tidak heran jika Chi Corporation menduduki peringkat pertama perusahaan terbaik."


"Bagaimana denganmu, Len?"


"Saya juga sependapat dengan kak Alex, Tuan. Jika dibandingkan dengan Miara Group, Chi Corporation jauh lebih baik."


"Hm." Deheman Rihan mengangguk pelan.


"Berarti kita hanya akan menerima proposal dari Chi Corporation dan menolak Miara Group?" Tanya Alex.


"Saya sarankan untuk menerima keduanya, Tuan." Alen menyampaikan pendapatnya sambil menatap sang kakak kemudian beralih pada Rihan.


"Berikan alasannya!" Datar Rihan.


"Sejak awal, Miara Group selalu berusaha agar proposal mereka diterima dengan melakukan berbagai cara. Selanjutnya, kedatangan Tuan Neo dan asistennya ke Indonesia, mereka juga menawarkan proposal yang sama.


Padahal mereka bisa saja menawarkan proposal itu di kantor pusat jauh hari sebelum kedatangan mereka ke sini. Apalagi R.A Group dan Chi Corporation sedang menjalin kontrak kerja sama untuk proyek lain." Jelas Alen tenang.


"Jadi maksudmu, Chi Corporation sengaja mengajukan proposal yang sama dengan Miara Group?" Komentar Alex dengan kening mengerut.


"Bingo!" Balas Alen berhenti sebentar kemudian melanjutkan.


"Karena kejanggalan itu, aku berusaha mencari hubungan keduanya. Jika mencari dari masa lalu Tuan Neo maka tidak ada hasil apapun. Tetapi ketika mencari melalui Tuan Brand, saya awalnya pesimis, karena tidak ada keterkaitan antara keduanya.


Sayangnya, semakin mencari saya akhirnya menemukan sebuah foto masa muda Tuan Brand dan menemukan dua wajah yang tidak asing." Alen lalu mengeluarkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja Rihan.


Rihan mengambil dan melihatnya. Di sana terlihat foto tiga pemuda dengan seragam yang sama. Pria pertama dengan senyum lebarnya dengan satu tangan diletakkan di bahu pria kedua. Pria pertama tidak lain adalah Brand. Pria kedua atau yang berdiri di tengah dengan pose senyum tipis sambil memegang sebuah piala kejuaraan. Wajahnya juga mereka kenal yang tidak lain adalah Neo. Dan pria terakhir dengan pose yang sama dengan Brand yang juga tersenyum lebar adalah Logan.


Setelah melihatnya, Rihan kemudian memberikannya pada Alex.


"Melalui foto ini, saya mencari lebih jauh lagi, dan menemukan bahwa seragam yang mereka pakai adalah sekolah terbaik di Swiss. Saya kemudian membobol data siswa di sana selama beberapa tahun lalu, dan menemukan nama asli Tuan Neo dan asistennya.


Nama asli Tuan Neo adalah Neondra Jacon Chixeon dan asistennya bernama Loganic Felix Sheron. Menurut informasi yang diperoleh oleh orang kepercayaan kita di Swiss yang turun langsung ke sekolah itu, mereka bertiga adalah sahabat baik.


Tapi setelah beberapa bulan kelulusan mereka, persahabatan mereka renggang begitu saja. Entah masalah apa yang terjadi, tidak ada yang tahu. Menurut rumor, putusnya persahabatan mereka hanya karena seorang gadis." Penjelasan panjang lebar Alen hanya ditanggapi dengan wajah datar Rihan dan tiga garis tipis di dahi Alex.


"Sepertinya Tuan Neo ingin bersaing dengan Brand." Komentar Alex sambil menatap ponsel di tangannya.


"Atur pertemuan untuk keduanya dan Direktur Bimo. Hasil akhirnya berikan padaku," Ucap Rihan datar.


"Baik Tuan."


"Ada laporan lagi?" Tanya Rihan.


"3 hari lagi ulang tahun pernikahan Tuan dan Nyonya besar." Ucap Alex.


"Aku tahu."

__ADS_1


"Itu artinya saya tidak bisa bersama anda ke sana nanti." Ujar Alex lesuh.


"Ada Alen yang menemaniku jadi jangan khawatir. Lakukan tugasmu dengan baik, karena aku hanya ingin berita baiknya."


"Baik, Tuan. Karena tidak ada lagi, maka saya pamit berangkat."


"Hm."


***


Pagi hari seperti biasa, Rihan selalu didatangi oleh Alen untuk membantunya bersiap ke kampus. Kqli ini hanya Alen sendiri karena Alex sudah berangkat bersama Dokter Lio tadi malam, sehingga semua tugas Alex diserahkan pada Alen.


"Nona ada kelas jam 10 nanti. Mari saya bantu bersiap."


"Hm."


Keduanya kemudian menuju kamar mandi.


"Apa saya harus mengikuti nona ke kampus?" Tanya Alen disela-sela memberi pijatan ringan di bahu Rihan.


"Tidak perlu. Lakukan tugasmu seperti biasa. Jika ada sesuatu yang penting, kabari aku." Jawab Rihan sambil memejamkan mata menikmati pijatan Alen.


"Tapi, kak Alex berpesan untuk selalu mengikuti nona kemanapun nona pergi."


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Len. Kamu juga memiliki tugas mengantar makan siang nanti."


"Padahal kepala pelayan bisa saja mengantar makan siang untuk anda." Batin Alen lirih.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian dibantu oleh Alen, Rihan kini sudah rapi tapi hanya memakai pakaian rumahan pria dengan celana santai panjang hitam yang senada dengan bajunya. Rihan akan menjenguk Phiranita sebentar.


...


"Selamat pagi, Presdir." Sapa Dokter Damar bersama dua orang Suster yang menjaga Phiranita.


"Hmm. Kapan obat pemenangnya habis?" Tanya Rihan yang sudah berdiri di samping tempat tidur Phiranita.


"Sebentar lagi, Presdir."


"Istirahatlah! Biar Tata saya yang jaga."


"Baik, Presdir. Kami pamit."


"Hmm."


Setelah kepergian Dokter Damar, hanya ada keheningan. Tidak lama kemudian Phiranita membuka matanya pelan dan menoleh ke segala arah hingga matanya menangkap kehadiran Rihan yang berdiri di sampingnya.


"Han... berapa lama aku tidur?"


"Tidak terlalu lama. Bagaimana perasaanmu?"


"Sudah lebih baik. Maafkan aku karena selalu menyusahkanmu. Mulai sekarang aku akan melakukan semuanya sendiri. Aku akan berusaha keras untuk sembuh. Aku tidak akan bermanja-manja lagi padamu. Aku akan belajar mandiri." Tekad Phiranita kemudian berusaha untuk duduk tanpa dibantu oleh Rihan.


"Aku tidak masalah dengan tingkahmu. Aku hanya ingin kamu sembuh."

__ADS_1


"Aku tahu, dan mulai sekarang aku akan berusaha semampuku untuk sembuh."


"Ya, sudah. Terserah kamu. Jika butuh sesuatu, katakan saja padaku."


"Baik. Tapi aku lapar Han, hehehe..."


"Jika sudah merasa lebih baik, ayo sarapan bersama." Ajak Rihan.


"Ayo! tapi aku mandi dulu,"


"Aku tunggu di bawah."


"Saya akan bantu nona bersiap."


"Oke, Kak."


Setelah itu, Rihan segera keluar dan turun ke lantai satu dan menunggu di ruang tamu. Di sana sudah ada Max yang sepertinya akan ke kampus dilihat dari pakaiannya yang rapi.


"Hai, Rei. Kamu tidak ada kelas?" Tanya Max yang melirik sekilas Rihan kemudian melanjutkan aktivitas menscroll ponsel nya.


"Ada."


"Jam berapa?"


"10."


"Oke."


Tidak lama kemudian Alen muncul bersama Phiranita yang menggenggam erat lengan Alen ketika melihat Max di sana.


"Aku pergi dulu Rei, aku lupa jika ada yang harus aku lakukan sebelum ke kampus." Max segera pamit ketika melihat gelagat takut Phiranita yang melihatnya.


Mengurung niatnya untuk sarapan bersama, Max terpaksa harus pulang ke rumahnya untuk sarapan di sana saja.


"Kamu tidak sarapan Max?" Tanya Alen. Rihan hanya diam karena tahu alasan jelas sikap Max.


"Tidak, Kak. Aku pergi, ya."


"Hati-hati."


"Ya."


Setelah itu ketiganya menuju meja makan dan sarapan bersama.


Menyelesaikan makan pagi, Phiranita kembali beristirahat sedangkan Rihan dibantu oleh Alen mengganti pakaiannya dengan outflit untuk ke kampus.


Hari ini Rihan akan mengendarai motor sehingga Alen meminta seorang pengawal untuk mengeluarkan motor di garasi. Rihan naik dan mengendarai motor menuju RS Setia untuk mengecek keadaan Dian karena menurut laporan, gadis itu sudah sadar tadi malam. Setelah melihat Dian, Rihan akan menuju ke kampus.


***


Jika ada kritik dan saran dari para pembaca sekalian, jangan sungkan untuk menulisnya di kolom komentar.


Terima kasih and See You.

__ADS_1


__ADS_2