Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Baik-baik Saja


__ADS_3

Setelah insiden penyusupan itu, pesta ulang tahun pernikahan Jhack dan istrinya harus berakhir. Para tamu disuruh pulang ke tempat masing-masing. Jika ada yang ingin menginap, Jhack selaku pemilik mansion sudah menyediakan 2 villa yang lumayan besar dekat mansion utama, sehingga ada beberapa keluarga yang masih ingin menikmati keindahan mansion seorang Jhack bisa menginap di sana.


Termasuk keluarga Alexander dan Samantha. Julian Antarik bersama Ayu tidak ingin mengabaikan kesempatan ini. Mereka juga tinggal dan menginap.


Ketiga keluarga itu sudah berencana dalam hati masing-masing untuk mengambil hati seorang Jhack maupun Jhon dengan menjenguk Rihan yang sakit karena insiden penyusupan itu.


Kembali pada keluarga Rihan, mereka begitu khawatir karena Rihan sejak beberapa jam lalu pingsan saat masih bersama Neo. Sepertinya racun itu bukan main-main, sehingga Rihan yang sudah berusaha kuat akhirnya pingsan juga.


Rihan kini berbaring lemah di kamar tamu dan sedang ditatap cemas semua keluarganya. Di sana juga ada Neo dan Logan. Keduanya tidak pulang, terlebih Neo yang merasa bersalah karena Rihan yang menjadi tameng untuknya.


"Saya minta maaf karena semua ini salah saya." Neo membuka suara memecah keheningan.


"Jangan menyalakan diri sendiri, Tuan Neo. Rei memang seperti itu. Dia rela berkorban untuk siapa saja, tanpa memikirkan dirinya sendiri." Balas Jhack yang masih menatap putri semata wayangnya.


Dalam hati Jhack dan Rossemary, keduanya begitu sedih karena setelah beberapa bulan baru bertemu dengan sang anak, kini anak satu-satu mereka harus terbaring sakit.


"Bagaimana keadaan, Rei?" Tanya Bibi Shintia khawatir pada Dokter Galant yang baru saja memeriksa Rihan.


"Racun di tubuh tuan muda tergolong berbahaya. Untungnya peluru itu sudah dikeluarkan dan tidak mengenai alat vitalnya. Dan juga, karena daya tahan tubuh tuan muda yang kuat membuat racun tidak cepat menyebar. Saya sudah memberi penawar racunnya. Mungkin besok atau tengah malam nanti, kondisi tuan muda sudah membaik. Saya akan memeriksa kondisi tuan muda setiap dua jam sekali untuk memastikan penyebaran racun itu."


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya pamit."


"Ya."


Setelah kepergian Dokter Galant, suasana kembali hening. Masing-masing larut dalam pikirannya.


"Inilah alasan kenapa saya tidak ingin jauh dari anda, Nona. Maafkan saya yang selalu lalai dalam tugas." Keluh Alex dalam hati menatap sendu Rihan yang terbaring dengan wajah pucat.


"Hei... aku tahu, kamu pasti merasa bersalah. Tapi percayalah! Rei tidak pernah menyalakan siapapun atas apa yang menjadi keputusannya." Avhin menenangkan Alex dengan menepuk pelan bahunya.


"Saya tahu Tuan, tapi..."


"Sudahlah. Sebaiknya kamu mengurus mayat-mayat yang belum kalian kuburkan itu." Potong Avhin membuat Alex tersadar dan segera pamit mengurus beberapa hal.


"Sudah semakin larut, sebaiknya anda pulang, Tuan Neo. Saya tidak bermaksud mengusir anda, hanya saja saya tidak ingin merepotkan anda." Daddy Jhack tidak enak dengan keberadaan Neo di sana.


"Sepertinya saya akan menginap di sini, Tuan Jhack. Rei seperti ini karena saya." Balas Neo yang menatap sekilas Daddy Jhack.


"Baiklah. Saya akan meminta pelayan menyiapkan dua kamar untuk anda dan asisten anda. Semoga anda nyaman menginap di sini." Jhack tersenyum tipis.


"Tidak masalah. Terima kasih sudah mengizinkan kami menginap." Balas Neo ikut tersenyum.


Daddy Jhack segera mengangguk dan menoleh pada kepala pelayan yang sedari tadi ada di sana. Kepala pelayan yang mendapati lirikan sang majikan segera membungkuk tanda mengerti dan pamit untuk menyiapkan kamar.


...


Tengah malam, di saat semua orang sudah tertidur di kamar masing-masing, danĀ  menyisahkan Alex, Alen, Dokter Galant yang berjaga di kamar Rihan. Di saat Alen dan Dokter Galant yang tertidur dengan posisi duduk di ujung sofa kamar Rihan, hanya Alex seorang diri yang masih terjaga di samping Rihan dengan berdiri tegak. Alex hanya menatap wajah tenang Rihan yang sudah tidak pucat lagi.


"Segeralah sadar, Nona!"


Hanya tiga kata itu yang selalu Alex ucapkan berulang kali dalam hatinya berharap sang majikan segera sadar. Alex tidak sedikitpun merasa lelah karena berdiri berjam-jam di samping Rihan. Meski Alen sudah menyiapkan kursi untuknya, Alex tetap menjaga statusnya sebagai seorang asisten yang setia berdiri di samping Rihan.


Hingga sorot mata sendu Alex tiba-tiba terlihat bersemangat dikala dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jari tangan Rihan yang sedikit bergerak dan satu menit kemudian kedua matanya terbuka. Melihat sang majikan yang sudah sadar, Alex tanpa sadar menyungging senyum senang.


"Tuan, apa yang anda rasakan?" Tanya Alex membuat Rihan yang masih menyesuaikan pandangannya segera menatap Alex.


"Aku baik. Bagaimana keadaan yang lainnya?" Tanya balik Rihan dengan suara pelan.


"Semua keluarga baik. Saya akan membangunkan Dokter Galant untuk memeriksa anda."


Hanya sekali sentuhan, Dokter Galant segera bangun dan menanyakan apa yang Alex perlukan. Mendengar penuturan Alex, Dokter Galant segera berdiri dan memeriksa Rihan. Alex juga tidak lupa membangunkan sang adik yang sedari tadi juga khawatir sepertinya.


"Apa anda masih merasa sesak?" Tanya Dokter Galant setelah selesai memeriksa Rihan.

__ADS_1


"Tidak."


"Syukurlah. Semua racun sudah menghilang. Hanya menunggu luka luar di bahu anda segera sembuh." Dokter Galant mulai menulis sesuatu di buku kecilnya.


"Hmm."


"Anda ingin makan sesuatu, Tuan? Setahu saya, belum ada apapun yang masuk dalam perut anda sejak pestanya berlangsung." Khawatir Alen yang kini duduk di ranjang king zise Rihan dan menatap lekat sang majikan.


"Tidak."


"Tapi anda harus mengkonsumsi sesuatu, Saya khawatir akan berpengaruh pada tubuh anda."


"Jika tuan tidak ingin makan, biar saya menyuntikkan vitamin agar tubuh anda tetap stabil. Besok, apapun yang terjadi, anda harus makan." Usul Dokter Galant dengan tegas.


"Cerewet sekali." Sahut Rihan datar membuat Alen hanya menghela nafas sedih. Sedangkan Dokter Galant hanya bisa membatin.


"Semua demi kebaikan anda, Nona."


"Aku tahu kamu merasa bersalah. Tapi semua itu bukan salahmu. Itu keputusanku. Di lain waktu aku juga akan melakukan hal yang sama." Ujar Rihan pada Alex yang sedari tadi menatapnya sendu.


"Tuan..."


"Sudahlah. Istirahatlah! kalian pasti lelah." Rihan lalu menutup matanya. Dia tidak ingin merepotkan tiga orang kepercayaannya ini.


"Kami akan beristirahat di sini. Kali ini dengarkan saya, Tuan." Alex ingin menebus kesalahannya.


"Keras kepala." Gumam Rihan pelan masih memejamkan matanya.


Alex tersenyum samar dan berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Alen dan Dokter Galant juga ikut. Ketiganya berencana tidur sambil duduk di sofa.


Hingga satu jam berlalu, Rihan kembali membuka matanya. Dia sama sekali tidak tidur. Rihan lalu melirik ke arah sofa yang hanya berjarak beberapa meter dengan tempat tidurnya. Di sana Alex yang tertidur dalam posisi duduk melipat kedua tangan di dada dengan kepala bersandar pada sofa. Alen di sebelah kiri Alex dengan posisi yang sama tetapi bersandar pada bahu Alex. Ada juga Dokter Galant yang ikut bersandar di bahu kanan Alex.


Rihan dengan tenang bangun dan sedikit mengenyit karena nyeri pada bahunya. Melirik sekilas bahunya yang sudah diperban, Rihan menatap jam digital di atas meja sampingnya yang menunjukan pukul 3 pagi.


"Terima kasih sudah setia padaku," Gumam Rihan pelan.


Sedikit berpikir, Rihan lalu mengambil ponselnya di atas meja kemudian mengabadikan moment ketiga manusia yang tertidur pulas itu.


"Mungkin ini akan berguna di lain waktu." Batin Rihan lalu menyeringai.


***


Di kamar tamu lantai dua mansion Jhack Lesfingtone, tepatnya kamar yang ditempati oleh Neo.


Kini pria itu sedang duduk di sofa singel sambil membaca beberapa kertas yang baru saja diberikan Logan padanya beberapa menit lalu. Logan juga duduk di sofa satunya lagi yang berhadapan dengan Neo.


"Jadi benar, mereka orang suruhan pria itu. Aku tidak menyangka, dia begitu serakah akan kekuasaan." Ujar Neo yang membaca laporan yang diberikan Logan.


"Meski kekayaannya tidak sebanding denganmu, tetapi jika berurusan dengan manusia selicik itu, maka butuh rencana yang matang. Aku juga penasaran, dimana dia mendapatkan teknologi canggih serta racun yang menunjang penyerangan itu?" Logan masih sibuk membaca.


"Dia bisa melakukan banyak cara licik untuk mendapatkan semua itu." Balas Neo meletakkan kertas yang dia baca di atas meja.


"Benar juga."


"Kamu sudah melihat keadaan Rei?" Tanya Neo setelah meneguk secangkir kopi yang dibuat sendiri dengan alat yang tersedia di kamarnya.


"Belum. Aku akan melihatnya," Balas Logan lalu berdiri setelah meletakkan kertas di atas meja.


"Aku ikut." Neo ikut berdiri menyusul Logan.


"Apa kita tidak mengganggunya? Ini sudah jam 3 pagi." Logan tiba-tiba merasa tidak enak nantinya.


"Maka kembali ke kamarmu, karena aku sendiri yang akan ke sana."


"Baiklah, aku ikut."

__ADS_1


Keduanya kemudian menuju kamar Rihan. Lebih tepatnya kamarnya selama menjadi Rei.


...


Rihan kini duduk bersandar pada tempat tidurnya. Ingin sekali dia membuka laptopnya, tapi takut tubuhnya belum cukup kuat berlama-lama duduk atau bergerak. Terlebih sendi bahunya yang akan ikut bergerak jika dia mengetik.


Tidak ingin membuat orang lain khawatir, Rihan akhirnya hanya duduk bersandar dan diam tanpa melakukan apapun. Rihan juga tidak mengantuk sama sekali. Hingga pandangan Rihan teralihkan dengan kemunculan diam-diam Neo dan Logan.


"Kamu sudah sadar. Maaf sudah membuatmu terluka. Sepertinya ini terhitung dalam hutang." Seru Neo pelan setelah berdiri dekat tempat tidur Rihan. Ada Logan di sampingnya.


"Katamu tidak." Rihan menjawab datar.


"Aku hanya menghargai pengorbananmu." Canda Neo yang ternyata garing bagi Rihan.


"Ck..." Decak Rihan membuat Neo tersenyum tipis.


"Terima kasih sudah menolongku. Kali ini aku benar-benar tulus." Neo masih memasang senyum tipis.


"Aku tahu. Kalian sudah mengurus pria itu?" Tanya Rihan mengalihkan pembicaraan.


"Tidak semudah itu. Dia memiliki backingan dimana-mana. Manusia itu benar-benar licik." Ucap Neo tiba-tiba kesal.


"Bilang saja kamu tidak mampu." Cibir Rihan menatap malas Neo.


"Kamu meremehkanku rupanya. Tunggu kamu sembuh dan kita harus berduel." Tantang Neo.


"Dibutuhkan kemampuan otak, bukan hanya fisik." Balas Rihan melirik gelas kosong di meja sampingnya.


"Aku tahu. Hanya saja, aku tiba-tiba ingin berlatih bersamamu." Neo ikut melirik arah yang sama dengan Rihan.


"Why?"


"Hanya ingin," Jawab Neo lalu menuangkan gelas kosong tadi dengan air yang sudah disediakan di sana, kemudian memberikannya pada Rihan.


"Terima kasih." Rihan mengambil gelqs di tangan Neo dan meminumnya.


"Jadi bagaimana?" Tanya Neo memastikan.


"Oke."


"Jangan lupa mengosongkan jadwalku, Gan." Ujar Neo senang pada Logan yang hanya diam menatap interaksi Rihan dan Neo.


"Siapa, Bos."


"Tapi, kamu benar-benar sudah sembuh?" Tanya Neo mengingat tujuan utamanya datang kemari.


"Seperti yang kamu lihat," Balas Rihan datar.


"Kapan kamu berubah?" Neo entah kenapa tiba-tiba tidak suka dengan suara datar Rihan ketika berbicara dengannya.


"Kenapa harus?"


"Sudahlah, terserah padamu." Pasrah Neo lalu duduk di kursi yang sejak awal disiapkan Alen untuk Alex.


"Kalian tidak ingin beristirahat?" Tanya Rihan heran dengan dua manusia ini. Ini sudah lewat jam tidur.


"Aku ingin menjaga penolongku. Hitung-hitung membayar sedikit hutang." Jawab Neo tersenyum menatap wajah malas Rihan.


"Terserah. Selamat berjaga. Aku akan tidur!"


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku. Jangan lupa juga memberikan dukungan untuk cerita ini, ya.


Sampai ketemu di chapter selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2