Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Memberi Pelajaran


__ADS_3

"Kamu mengingatnya?" Tanya Zant pelan.


"Ya. Tempat ini adalah tempat kita diculik dulu. Kenapa masih ada sampai sekarang? Seingatku, kak Sam waktu itu ingin menghancurkannya," Jawab Rihan lalu melangkah pelan menuju tabung kaca di depannya.


Rihan menyentuh pelan tabung kaca itu, kemudian memejamkan matanya. Di saat itu juga, pikirannya dipenuhi dengan potongan ingatan masa kecilnya, dimana mereka dimasukkan ke dalam tabung ini dan akan dijadikan objek penelitian.


"Mungkin ada sesuatu yang terjadi sehingga tempat ini tidak dihancurkan." Balas Zant lalu menuju perangkat komputer yang merupakan kontrol utama semua penelitian di dalam sini.


"Telusuri semua yang ada di sini, Gledy." Ucap Rihan lalu segera menghampiri Zant.


"Baik, Nona."


"Apa yang ingin kakak lakukan?" Tanya Rihan sambil melihat jari-jari Zant yang bergerak lincah di atas keyboard.


"Mencari apa saja yang tersembunyi di sini. Setelah itu, menghancurkannya!" Jawab Zant yang tetap fokus di layar monitor berukuran besar di depannya.


Rihan hanya membalas dengan anggukan. Rihan kemudian menghampiri perangkat komputer yang lain dan mulai mengoperasikannya.


"Sudah belasan tahun, kenapa orang itu tidak menghancurkan tempat ini?" Tanya Rihan mengerutkan kening menatap layar monitor di depannya.


"Dia tidak akan menghancurkan sesuatu yang masih berguna untuknya." Jawab Zant datar.


"Orang itu benar-benar gila. Bagaimana bisa dia menculik anak-anak untuk dijadikan objek penelitian? Dia bahkan tanpa perasaan membunuh hampir 100 orang anak hanya untuk penelitiannya. Benar-benar iblis." Gumam Rihan datar.


Rihan saat ini sedang menatap layar monitor yang menampilkan daftar nama bahkan identitas lengkap semua anak yang diculik untuk objek penelitian orang itu.


"Entah apa tujuan orang itu dengan penelitian ini. Dari 100 anak, hanya kita yang selamat. Jadi, total yang mati ada 98 orang." Zant ikut menatap layar monitor yang menampilkan hal yang sama dengan layar monitor di depan Rihan.


"Pohon yang kita lihat sebelumnya, ternyata uji coba yang dia lakukan. Serum ini dibuat dengan maksud agar objek yang terinfeksi, akan tetap pada usianya saat terinfeksi dan tidak akan menunjukan tanda-tanda pertumbuhan.


Intinya, orang itu mengembangkan serum yang mampu membuat manusia tidak akan bertumbuh sehingga bertambah tua dan mati. Dari 98 anak yang dijadikan objek, serum itu ternyata tidak cocok, sehingga mereka mati setelah beberapa hari terinfeksi.


Hanya kita yang belum dijadikan kelinci percobaan. Tapi dari data yang ada di sini, sepertinya kamu adalah sampel yang paling cocok dengan serum itu. Sampel darahmu ternyata cepat sekali menyatu dengan serum itu, dan tidak ada penolakan. Aku menduga dia akan mengincarmu untuk kelinci percobaannya, gadis kecil." Jelas Zant panjang lebar setelah menemukan fakta di layar monitor di depannya.


"Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Tempat ini harus dihancurkan. Ilmuwan gila itu juga harus dihancurkan hingga ke akar-akarnya. Dia dan rubah betina itu harus segera disingkirkan." Nada suara Rihan penuh penekanan.


"Hm. Kita harus menghancurkan serum yang sudah dikembangkan selama ini. Karena serum itu sudah terhubung dengan perangkat ini beserta penelitian lainnya, maka sistem ini harus dihancurkan, sehingga semua penelitian orang itu juga akan hancur." Zant mulai menggerakkan jarinya di atas keyboard.


Sekitar 20 menit Zant berkutat dengan keyboard, hingga senyum tipis terukir di bibir pria itu setelah layar monitor menampilkan notifikasi penghancuran sistem yang harus disetujui. Dengan santai Zant menekan setuju sehingga mereka hanya perlu menunggu sistem atau kontrol utama semua penelitian di dalam sini akan hancur secara otomatis.


"Waktunya 5 menit untuk sistem itu hancur." Ujar Zant setelah melangkah mundur, dan menatap datar layar monitor yang menampilkan angka 20%. Sistem itu akan mati jika mencapai angka 100%.


"Ayo pergi." Ajak Zant dan berbalik.


Prok


Prok


Prok


"Kita bertemu lagi, dua kelinciku..." Sebuah suara berhasil menghentikan Rihan dan Zant yang akan keluar. Hanya suara, tetapi tidak kelihatan seperti apa wajah orang yang berbicara itu.


"Hati-hati." Bisik Zant lalu menarik Rihan untuk berdiri di belakangnya.


Tak


Tak


Tak


Sekitar 20 orang berpakaian hitam seperti ninja masuk dan mengepung Rihan dan Zant. Jangan lupakan senjata khas ninja di tangan masing-masing.


"Sepertinya kita masuk perangkap." Gumam Zant lalu melirik sekilas Rihan di belakangnya. Keduanya saat ini berdiri saling membelakangi.


"Hm."


"Kamu pasti penasaran kenapa aku bisa menemukanmu, kan?" Tanya suara itu lagi. Pertanyaannya tertuju pada Rihan.


Hingga, terdengar derap langkah kaki yang memasuki ruangan itu. Disusul wajah pria sekitar 30-an yang tersenyum licik. Ada dua ninja di belakangnya. Rihan dan Zant hanya menatap pria itu datar.


"Diam kalian, sepertinya ingin tahu. Baik, akan kuberitahu. Sebelum itu, aku ingin bertanya padamu gadis manis. Apa kamu tidak merasa aneh dengan lengan kananmu?" Tanya pria itu sebelum duduk dengan tenang setelah seorang ninja memberinya sebuah kursi.


Rihan hanya mengerutkan kening, kemudian menatap lengan kanannya. Apa yang dikatakan pria itu benar. Rihan selalu merasa ada yang aneh dengan lengannya.


Zant tanpa mengatakan apapun, segera menyentuh lengan Rihan. Pria itu mendengus kemudian menatap tajam pria yang duduk sekitar 10 meter dengan mereka.


"Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanya pria itu lalu terkekeh.


"Itu adalah pelacak yang aku tanam sejak kamu masih kecil, gadis manis. Dengan bantuan obatku, sehingga tidak akan ada bekas luka di sana. Dengan begitu, tidak akan ada yang tahu jika ada pelacak di lenganmu." Sambung pria itu lalu menghembuskan asap cerutu yang dihisap.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Zant berusaha tenang.


"Karena aku berbaik hati, aku akan memberitahu kalian namaku. Hideyoshi Han. Orang-orang mengenalku Tuan Han. Hanya itu yang perlu kalian tahu." Jawab Tuan Han dan kembali menghisap cerutu di tangannya.


"Kamu tahu gadis manis, dengan pelacak di lenganmu, aku dengan mudah menemukan keberadaanmu. Kamu harus tahu, jika aku selalu mengawasimu sejak dulu.


Aku tidak akan membiarkan kelinci kesayanganku pergi begitu saja. Kamu adalah asetku yang paling berharga. Kamu juga, Boy. Darahmu ternyata cocok dengan penelitian baruku. Dengan kalian yang masuk ke perangkapku, aku dengan mudah mengendalikan kalian, Hahaha..." Ucap Tuan Han lagi dan tertawa setan.

__ADS_1


"Berhenti berbasai-basi. Katakan tujuanmu." Ucap Rihan datar.


"Kamu sangat tidak sabar kelinciku. Untuk saat ini aku hanya ingin kamu tidur di brankar itu, dan aku akan menyuntikkan serum itu ke dalam tubuhmu. Dengan begitu, DNAmu yang sudah terinfeksi, akan menguntungkan penelitianku yang lainnya." Ucap Tuan Han lagi dan tersenyum licik.


"Untuk apa aku harus menurutimu?" Sahut Rihan datar.


"Heh... tenang saja, aku punya sesuatu yang akan membuatmu menurut." Tuan Han menoleh menatap seorang ninja di sampingnya.


Rihan dan Zant mengalihkan pandangan ke layar monitor. Layar yang tadinya menampilkan sistem yang akan akan hancur secara otomatis, kini tidak ada lagi. Seorang ninja sudah membatalkannya. Yang kini tampil di layar adalah wajah sok Ariana yang tersenyum senang di sana.


"Hai b***h, aku punya sesuatu untukmu. Lihatlah..." Ucap Ariana di layar monitor, lalu menoleh ke belakang, dan menampilkan wajah Daddy Jhack dan Mommy Rosse yang disandera.


Rihan menggertakkan giginya dan mengepalkan tangannya kuat. Tatapan matanya tajam dan begitu dingin mengarah pada Tuan Han.


"Tenanglah, jangan terpancing emosi. Pria itu sedang memprovokasimu." Gumam Zant berusaha menenangkan gadis kecilnya. Mendengar perkataan Zant, Rihan segera menghembuskan nafas kasar berusaha meredam emosinya.


"Kami baik-baik saja, Sayang. Jangan dengarkan mereka. Jangan jadi objek penelitian tua bangka itu. Tidak apa-apa jika kami mati." Suara merdu Mommy Rosse membuat pandangan tajam Rihan berubah menjadi lembut.


Plak


Plak


Rihan memejamkan matanya ketika suara tamparan itu terdengar. Ariana baru saja menampar pipi Mommy Rosse dengan kuat.


"Bagaimana menurutmu kelinciku? Berbaringlah di brankar itu, atau nyawa kedua orang tuamu melayang." Suara Tuan Han terdengar sangat santai.


"Jangan, Sayang. Kami tidak apa-apa." Ucap Daddy Jhack lirih.


BUGH!


"DIAM..." Marah Ariana setelah memukul dengan kuat kepala Daddy Jhack dengan pistol di tangannya.


Tangan Rihan semakin terkepal kuat melihat Ariana yang memukul kepala sang daddy dengan pistol hingga darah segar mengalir dari dahinya.


Dor


Dor


Satu tembakan Ariana berikan di lengan Mommy Rosse, dan satu tembakan di betis kiri Daddy Jhack.


"Itu hanya percobaan. Jika kamu tidak menurut, tembakan selanjutnya di kepala mereka." Ancam Ariana dan tersenyum licik. Pistol di tangan Ariana sudah beralih ke kepala Daddy Jhack.


Rihan tanpa mengatakan apapun, segera menuju brankar dan berbaring di sana. Rihan tidak tegah melihat kesakitan kedua orang tuanya. Zant tidak bisa menahan Rihan. Tangan pria itu hanya tertahan di udara.


"Jangan khawatir, Boy. Brankar di sebelahnya tempatmu. Kamu juga harus berbaring di sana." Perintah Tuan Han lalu memberi kode para seorang ninja di belakangnya.


Tuan Han membuka koper dan mulai mengambil jarum suntik yang sudah ada isinya. Pria tua yang masih terlihat muda karena efek serum yang dia buat, lalu menghampiri Rihan dan Zant yang sedang dipaksa untuk berbaring di brankar sebelah Rihan.


Melihat kedatangan Tuan Han, Rihan menatap jam tangan Zant. Rihan sedang menghitung keberuntungan mereka. Rihan juga menoleh ke layar monitor dan tersenyum lembut kepada kedua orang tuanya yang sudah menangis.


"Ini tidak akan sakit, gadis manis. Serum ini akan menyatuh dengan tubuhmu dengan cepat, jadi tenang saja. Setelah menyatuh dengan DNAmu, kamu hanya perlu berbaring dan sampel darahmu akan aku gunakan untuk semua penelitianku. Hahahah..." Tuan Han mulai memposisikan jarum di nadi Rihan.


"Sebelum kamu menyuntikkannya, aku ingin mendengar alasanmu melakukan semua ini. Aku juga ingin tahu, seperti apa penelitianmu." Suara Rihan berhasil menghentikan gerakan tangan Tuan Han.


"Kamu tahu gadis manis, menjadi tua kemudian mati sangat tidak menyenangkan. Jika aku terus muda, aku bisa mengencani banyak wanita di luar sana dan bersenang-senang dengan mereka.


Selain itu, aku harus kuat agar bertahan hidup. Dengan adanya penelitian ini, tubuhku akan semakin awet muda dan kuat. Bukan itu saja, semua racun dan senjata mematikan yang aku ciptakan sendiri, bisa dipakai untuk mengancam sebuah negara.


Dengan begitu, aku akan menjadi orang yang paling berkuasa di dunia ini. Semua yang aku inginkan akan tercapai. Dan kalian berdua akan mewujudkan rencanaku. Hahaha..." Jelas Tuan dan tertawa terbahak-bahak.


"Rencanamu sangat bagus, Tuan Han. Sayangnya itu tidak akan terjadi selama aku masih hidup." Ucap Rihan santai.


SRET!


BUGH!


Rihan segera bangun dan menendang dengan kuat adik kecil Tuan Han, sehingga pria tua itu langsung terjatuh dan meringis sakit sambil memegangi adik kecilnya.


TAK!


Ruangan itu tiba-tiba menjadi gelap. Semua lampu dalam ruangan itu dimatikan dengan sengaja.


"Kerja bagus, Gledy." Gumam Rihan dalam hati.


Para ninja mulai bergerak ke sana kemari mencari penerangan. Sebagian berusaha menolong Tuan Han yang masih meringis sakit. Rihan juga sudah turun dan menarik Zant berdiri di sebelahnya.


"Pakai itu, Kak. Dengan begitu, kita dengan mudah membasmi mereka. Incar bagian inti tubuh mereka, Kak." Bisik Rihan setelah memberikan sebuah sebuah belati pada Zant. Pria itu hanya membalas dengan anggukan.


Meski dalam gelap, mata Rihan dan Zant masih sangat baik untuk melihat musuh yang sedang berdiri di sekitar mereka. Keduanya tanpa menunggu, segera memberikan serangan diam-diam pada inti tubuh para ninja itu.


BUGH


BUGH


BUGH


BUGH

__ADS_1


Suara benda jatuh terdengar. Tuan Han mulai panik dan dengan sembarangan meraih apa saja yang ada didekatnya. Setelah merasa dia memegang tangan seseorang, Tuan Han akhirnya bernapas legah. Di saat itu juga, lampu dalam ruangan itu menyala.


"Kau..." Suara Tuan Han tertahan. Pria tua itu syok, karena yang dia genggam bukan pergelangan tangan seorang ninja, melainkan tangan Zant yang menatapnya dengan seringai licik.


Zant sedikit berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Tuan Han. Belati kecil di tangan kanan Zant kini beralih tempat ke leher pria tua itu.


"Kamu tidak bisa membunuhku. Jika aku mati, kedua orang tua tunanganmu itu juga mati. Jangan lupa jika ada juga kesayanganku di sana." Ucap Tuan Han dan tersenyum licik pada Zant.


Rihan berdiri sekitar dua meter dengan mereka. Tersisa 16 ninja di sekeliling mereka. 6 ninja lainnya sudah terkapar karena serangan diam-diam Rihan dan Zant.


"Coba saja. Sebelum kau menghubungi mereka, kau yang lebih dulu mati pria tua." Jawab Zant datar. Belati sedikit ditekan sehingga melukai leher Tuan Han.


16 ninja tidak bergerak di tempat mereka, karena sang Tuan sedang disandera. Wajah Tuan Han terlihat pucat dengan keringat yang membasahi punggungnya.


"Kalian jangan senang dulu. Sekali aku menelpon, nyawa kedua orang tuanya tidak bisa diselamatkan lagi." Ucap Tuan Han dengan suara bergetar, berusaha mengancam.


Rihan hanya menatap datar Tuan Han dan tidak khawatir sedikitpun, membuat pria tua berwajah muda itu mengerutkan kening tidak senang.


"Akh... LEPASKAN AKU SIALAN..." Teriakan Ariana kembali terdengar di layar monitor. Semua orang mengalihkan pandangan ke sana. Rihan segera menyeringai ke arah Tuan Han.


"Kamu tahu pria tua... Karenamu, aku terinspirasi untuk menjadi seorang ilmuwan. Membuat racun, penawarnya, senjata tajam, dan teknologi canggih lainnya. Meski ini pertama kalinya aku bertemu secara langsung denganmu, tapi dari tindakanmu yang aku tahu sejak kecil, aku sedikit demi sedikit tahu jalan pikiranmu. Dengan berat hati aku mengucapkan terima kasih." Ucap Rihan dan menghampiri Tuan Han.


BUGH!


Satu pukulan telak di pipi Tuan Han. Zant hanya menggeleng kepala setelah menjauh dan memberikan ruang untuk Rihan menghajar pria tua itu.


"Rubah ini sudah diamankan, Nona. Maaf, karena kami sedikit terlambat." Suara Mentra di layar monitor membuat Rihan menoleh dan mengangguk senang.


Sejak awal Rihan sudah menempatkan Mentra dan Beatrix untuk menjaga orang tuanya secara khusus. Rihan jelas tahu hal ini akan terjadi.


"Bersenang-senanglah dengan rubah itu. Jangan lupa untuk menyisahkan bagianku." Ucap Rihan datar. Rihan saat ini sedang mencengram kuat leher Tuan Han.


"Baik, Nona. Serahkan semua itu pada kami." Jawab Mentra dan tanpa perasaan menampar dan menjambak kuat rambut Ariana, membuat gadis itu berteriak kesakitan.


"Istirahatlah Dad, Mom... kalian aman bersama mereka." Ucap Rihan lembut dan tersenyum tipis pada kedua orang tuanya.


"Baik, Sayang." Balas Daddy Jhack dan Mommy Rosse. Setelah itu, keduanya dibawa oleh Beatrix agar beristirahat.


"Seharusnya kamu menculik keduanya pria tua, bukannya menyandera mereka di rumah mereka sendiri." Sindir Rihan dan menggeleng.


"Akh... lepaskan aku! Tolong lepaskan aku. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Biarkan aku pergi." Tuan Han memohon dengan wajah memelas.


"Aku tidak sebodoh itu untuk melepaskanmu pria tua. Tenang saja, kamu dan kesayanganmu si rubah itu akan aku tempatkan dalam satu ruangan kemudian bersenang-senang bersama." Ucap Rihan datar. Belati di tangan kirinya kini berpindah menggores secara perlahan-lahan kulit wajah Tuan Han.


"Arrrrgggg... kalian jangan diam saja. Bunuh mereka!" Teriak Tuan Han dengan suara yang dipaksakan, karena sakit di kulit wajah dan cengkraman di lehernya.


"Aku serahkan mereka padamu dan Gledy, Kak." Ucap Rihan santai.


Tangan Rihan masih terus bergerak melukis wajah Tuan Han. Zant mengangguk dan segera berdiri dan menatap tajam para ninja di sekeliling mereka. Geldy juga sudah muncul entah dari mana. Sejak awal, robot pintar Rihan itu bersembunyi setelah kedatangan Tuan Han.


"Untuk sekarang, aku menganggapmu teman. Setelah itu, kita rival. Mari bersenang-senang." Ujar Zant. Gledy hanya menatap datar Zant.


Terjadilah perkelahian sengit antara Zant dan Gledy melawan keenam belas pria berpakaian ninja itu.


Hanya beberapa menit, keenam belas ninja itu tumbang dengan bagian tubuh yang terpisah, memenuhi ruangan itu.


"Teknologimu ternyata tidak secanggih itu pria tua. Mereka bahkan dengan mudah dijatuhkan oleh calon suamiku." Ujar Rihan dan menyeringai membuat wajah Tuan Han semakin menggelap karena marah.


"Kalian terlalu menganggap remeh ilmuwan ini. Jangan lupa jika masih ada organisasi bawah tanah yang melindungiku." Ucap Ruan Han masih tidak ingin menyerah.


"Benar juga, aku melupakan organisasi tidak bermoral itu." Gumam Rihan dalam hati.


"Maksud anda mereka?" Suara Zant membuat Rihan menyeringai. Entah sejak kapan Zant sudah berada di depan layar monitor dan menampilkan wajah beberapa orang asing yang terlihat babak belur.


"Kamu... bagaimana bisa?" Tanya Tuan Han syok. Pria tua itu sudah tidak ada harapan lagi.


"Justru pria tua sepertimu yang terlalu menganggap remeh kami." Jawab Zant dan beralih menatap Rihan lalu tersenyum lembut.


"Terima kasih, Kak." Rihan tersenyum tipis pada Zant.


"Ya. Aku akan minta hadiahku nanti." Balas Zant membuat Rihan menggeleng.


"Bagaimana, Pak tua?" Tanya Rihan santai.


"Hahaha... ini belum berakhir. Aku tidak mungkin dikalahkan secepat ini. Tidak mungkin." Syok Tuan Han. Rihan hanya menatap pria tua di depannya ini dengan sebelah alis terangkat.


"Sepertinya dia sudah gila." Sahut Zant lalu menghampiri Rihan dan mengulurkan tangannya membantu Rihan berdiri.


"Hm." Balas Rihan setelah berdiri di sebelah Zant. Keduanya lalu menatap datar Tuan Han yang berlutut sambil meremas tambutnya dan berteriak seperti orang gila.


"Kamu melupakan sesuatu gadis manis..." Suara Tuan Han terdengar datar. Pria tua itu menatap Rihan dengan tajam. Wajahnya terlihat semakin mengerikan karena darah segar yang mengalir akibat gorengan belati buatan Rihan.


.


.


.

__ADS_1


Kolom komentar tersedia untuk yang ingin memberi saran.


__ADS_2