Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Maafkan Aku


__ADS_3

"Kak..." Panggil Rihan pelan.


"Tumben, panggilan mami beda," Tanya Neo yang masih belum menyadari siapa yang dia peluk. Wajar jika Neo mengira Rihan adalah ibunya, karena celemek yang dipakai Rihan milik nyonya besar Chixeon..


"Ini Rei, Kak." Jawab Rihan dan menoleh sedikit ke samping kiri menatap Neo yang menunduk untuk melihat wajah Rihan.


"Rei?" Ulang Neo akhirnya tersadar siapa yang sudah dia peluk. Dengan cepat Neo melepas pelukannya pada Rihan. Ekspresi Neo seketika berubah. Pria itu lalu menatap semua pelayan maupun koki di dapur.


"MULAI SEKARANG, TIDAK ADA YANG BOLEH MENYENTUH BARANG-BARANG MAMI TANPA SEIZINKU! SIAPA YANG MEMBERIKAN BARANG MAMI UNTUK DIPAKAI? JAWAB!" Teriak Neo dengan wajah memerah.


Rihan yang berdiri di samping Neo tersenyum kecut. Rihan tidak menyangkah respons Neo seperti ini hanya karena dia memakai celemek milik bibi Dara. Rihan juga menatap kepala pelayan yang mulai ketakutan.


Wajar jika semua pelayan dan koki di sana takut karena ini pertama kalinya mereka melihat tuan muda mereka yang selalu bersikap tenang, kini marah besar.


"Mereka tidak salah apapun, Kak. Aku sendiri yang mengambil barang bibi dan memakainya. Maaf, karena aku tidak tahu jika kak Neo akan semarah ini. Aku janji ini tidak akan terjadi lagi. Aku juga pamit keluar sebentar, ada yang harus aku lakukan." Nada suara Rihan datar. Rihan berlalu pergi dari sana setelah melepas celemek dan meletakkannya di atas meja sampingnya.


"Biarkan aku sendiri," Rihan menghentikan Alex yang ingin ikut dengannya.


"Maaf, Paman. Aku tidak ikut sarapan." Rihan pamit kemudian benar-benar pergi dari sana.


Brak


"Anda harusnya bersyukur karena majikan saya ingin memasak untuk anda. Tuan muda tahu anda tidak akan memakan masakan para koki. Anda juga harus tahu, jika Tuan Muda Rei tidak pernah memasak untuk sembarangan orang!" Alex emosi setelah menggebrak meja makan.


"Maafkan saya, Tuan Evan. Saya juga tidak ikut makan." Alex kemudian juga pergi dari sana.


Tuan Evan atau ayah Neo itu hanya menghela nafasnya sebentar kemudian mendorong sendiri kursi rodanya dan mendekati Neo yang masih berdiri mematung. Logan sendiri hanya berdiri di tempatnya dan menatap heran Neo karena dia juga kaget dengan sikap Neo tadi.


"Boy... papi tahu perasaanmu. Kamu pasti tidak ingin orang lain menyentuh barang-barang milik mamimu karena banyak kenangan yang ditinggalkan di sana. Tapi boy... semua itu tidak akan mengubah apapun. Barang-barang itu bisa rusak kapan saja seiring berjalannya waktu.


Barang-barang itu akan tua dan rusak dimakan usia, tapi kenangan mamimu akan tetap tersimpan di dalam hati kita. Papi minta padamu untuk tidak melakukan hal ini lagi. Rei sudah bersusah payah memasak untukmu, setidaknya hargailah usahanya.


Kamu harus tahu, usaha kita jika tidak dihargai rasanya sangat menyakitkan. Papi yakin Rei pasti kecewa. Jangan lupa untuk meminta maaf padanya setelah ini. Ayo kita makan!"

__ADS_1


"Maafkan aku, Rei. Aku benar-benar bodoh." Keluh Neo dalam hati merasa bersalah.


"Siapkan apa yang sudah Rei masak," Perintah Tuan Evan pada kepala pelayan.


Kepala pelayan dengan sigap memberi kode para pelayan untuk menyajikan nasi goreng yang Rihan masak tadi. Rihan belum sempat menyajikannya di piring karena Neo sudah memeluknya.


"Ada apa, Nik?" Tanya Tuan Evan yang melihat wajah gelisah kepala pelayan.


"Maaf Tuan besar, sebenarnya celemek milik almarhum nyonya besar saya yang mengambil dan memberikannya pada Tuan Rei. Maafkan saya Tuan besar, Tuan Muda." kepala pelayan berbicara takut-takut.


"Sudahlah. Tidak perlu dibahas lagi. Kembali ke tempatmu!" Neo semakin merasa bersalah pada Rihan.


"Baik, Tuan Muda."


"Siapa yang memasak telur gulung ini?" Tanya Tuan Evan setelah mengunyah sepotong telur gulung.


"Telur gulung, salad buah dan nasi goreng, ketiga menu itu dibuat oleh Tuan Rei, khusus untuk Tuan Muda." Jawab kepala pelayan yang berdiri 2 meter dari meja makan.


"Rasanya sama persis dengan buatan mamimu, Nak." Tuan Evan menatap Neo yang sedang mengunyah nasi goreng.


"Kamu bahkan berusaha membuatnya sama persis dengan masakan mami. Maafkan kebodohanku, Rei. Aku yakin, kamu pasti kecewa. Maafkan aku," Lagi-lagi Neo membatin dan semakin merasa bersalah pada Rihan.


"Neo harus meminta maaf pada Rei, Pi." Neo berdiri berniat dan berniat pergi.


"Habiskan dulu makananmu. Ingat jika Rei memasak khusus untukmu." Cegah Tuan Evan.


"Benar juga," Neo akhirnya mengurungkan niatnya dan fokus menikmati makanannya.


Beralih pada Rihan, setelah keluar dari dapur, dia menuju kamarnya dan mengambil dompet bersamaan dengan ponselnya. Tidak lupa juga kunci mobil juga diambil. Rihan tanpa mengganti pakaiannya, segera turun. Dia berniat jalan-jalan sebentar menenangkan pikirannya.


Rihan juga sebenarnya tidak marah pada Neo karena itu haknya. Lagipula ada beberapa orang tidak ingin barang-barang milik orang yang mereka sayangi dipakai atau disentuh. Rihan bisa mengerti itu. Hanya saja dia kecewa karena usahanya seperti tidak dihargai.


Berusaha untuk tidak memikirkannya, Rihan kini sudah sampai di halaman mansion. Ketika akan menuju garasi mengambil mobil, terdengar klakson sebuah mobil derek yang masuk ke gerbang dan berhenti tidak terlalu jauh dari tempat Rihan berdiri.

__ADS_1


Rihan hanya mengerutkan kening menatap mobil derek di depannya. Rihan juga sedang menunggu seorang penjaga gerbang keluarga Neo yang berlari ke arahnya.


"Maaf, Tuan. Kata mereka, motor itu milik anda yang anda pesan kemarin." Beritahu penjaga gerbang itu.


"Ya. Itu milik saya." Balas Rihan datar.


Rihan memang meminta Alex membelikan sebuah motor sport untuknya karena mereka mungkin masih beberapa hari di sini untuk mencari Phiranita. Padahal Neo sudah memberi izin untuk memakai kendaraan miliknya, tetapi Rihan hanya memakai mobil Neo dan membeli motor sendiri.


"Baik, Tuan. Anda ingin mengendarainya sekarang atau nanti, agar saya membawanya untuk anda." Tanya si penjaga gerbang dengan sopan.


"Bawa saja kemari."


"Baik Tuan, tunggu sebentar."


Hanya beberapa menit, penjaga gerbang itu sudah kembali sambil mendorong motor sport berwarna hitam bercampur merah itu ke hadapan Rihan.


"Terima kasih. Ambil ini untuk sarapan pagimu," Rihan menyodorkan sebuah kartu debit pada pria di depannya.


"Maaf, Tuan. Saya sudah sarapan pagi sejak tadi." Tolak penjaga gerbang itu tegas.


"Untuk makan siang kalau begitu. Pinnya anda dibalik kartu. Kamu boleh mengembalikannya atau tidak terserah padamu. Tapi ingat! Jika ingin mengembalikannya maka waktumu hanya 2 jam dari sekarang. Itupun ketika kartu ini kembali, saldo di dalamnya harus setengah dari saldo dalam kartu ini. Jika saldonya belum setengah, jangan pernah mengembalikan kartu ini pada saya." Rihan lalu meletakkan dengan paksa kartu itu di tangan pria yang mungkin berusia sekitar 30-an itu.


"Tolong berikan kunci ini pada asisten saya. Saya akan keluar sebentar," Rihan memberikan kunci mobil pada pria di depannya.


Rihan lalu memakai helm dan pergi dari sana. Penjaga gerbang itu hanya menatap syok kartu di tangannya dengan gemetar.


Setelah keluar dari gerbang, Rihan mengeluarkan seringai di bibir mungilnya karena mengingat sisa saldo kartu yang dia berikan tadi. Jika Rihan tidak salah ingat, mungkin sekitar beberapa milliar saldo kartu debit tersebut.


Rihan memang sengaja melakukannya, karena kemarin dia tidak sengaja mendengar keluh kesah penjaga gerbang itu tentang biaya sekolah dan berobat mertuanya, juga biaya sewa kontrakannya. Sedangkan gajinya hanya cukup untuk operasi mertuanya yang puluhan juta itu.


***


Terima kasih sudah membaca ceritaku. Semoga pembaca sekalian tidak bosan menunggu updet chapter terbaru cerita Rihan, ya. Terima kasih juga untuk semua dukungan kalian.

__ADS_1


Sampai jumpa di chapter berikutnya.


__ADS_2