Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Janji


__ADS_3

"Tanggal pernikahan kita sudah ditetapkan minggu depan. Bagaimana menurutmu?" Tanya Zant setelah mengecup pelan dahi Rihan. Keduanya masih ada di kamar Rihan, dengan Zant yang memangku Rihan di sofa.


"Lebih cepat lebih baik. Lagipula tidak banyak penghalang lagi di antara kita, jadi aku ikut saja. Jika besok tanggal pernikahannya, aku siap. Aku juga hanya ingin pernikahan sederhana."


"Kamu sudah siap jadi seorang ibu? Jadi ibu untuk mengasuh tim kesebelasan yang kita buat nanti?" Canda Zant lalu tersenyum lebar menatap Rihan.


"Hah?" Rihan tidak tahu harus berkata apa. Dia memalingkan wajahnya ke samping, tidak ingin Zant melihat pipinya yang tiba-tiba memerah setelah memikirkan hal-hal itu.


"Hahaha... aku hanya bercanda. Aku tahu betapa sakitnya menjadi seorang ibu yang mengandung dan melahirkan. Aku tidak ingin kamu kesakitan karena itu. Jadi, aku tidak akan memaksamu.


Jika Tuhan mengizinkan kita memiliki anak atau tidaknya, aku bersyukur untuk semuanya. Aku hanya ingin kamu selalu di sampingku, menemaniku hingga maut memisahkan kita." Zant berbicara sambil menatap memuja Rihan yang terlihat memasang wajah datar, tapi sebenarnya gadis itu sangat gugup.


"Dia sangat menggemaskan jika seperti ini," Batin Zant dan tersenyum tipis.


"Aku... aku tidak tahu apa aku layak menjadi istri kak Zant dan menjadi seorang ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti, tapi aku akan berusaha. Aku sebagai seorang wanita, juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang istri dan seorang ibu. Menjadi istri untuk mendampingi kak Zant seumur hidup, dan menjadi seorang ibu untuk membimbing anak-anak kita nanti.


Hanya satu keinginanku. Aku harap kak Zant tidak akan pernah berubah. Tetaplah menjadi seperti sekarang. Juga... bantu aku untuk merawat anak-anak kita nanti."


"Hanya kamu yang aku inginkan menjadi pendamping hidupku. Berhenti mengatakan kamu layak atau tidak. Kamu adalah cinta pertama dan terakhirku. Aku juga berharap kita bisa saling memahami satu sama lain.


Saling menerima kekurangan masing-masing. Aku janji, dan ini janji seumur hidupku untukmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku juga ingin kamu menjanjikan hal yang sama untukku.


Berjanjilah untuk tidak berubah. Berjanjilah untuk tetap bersamaku di saat susah maupun senang. Aku ingin kita selalu bersama hingga maut memisahkan kita.


Kamu harus tahu, My Queen! Jika diberi pilihan antara kamu atau aku yang mati lebih dulu, aku memilih aku yang lebih dulu mati, karena aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Tidak melihatmu beberapa jam saja, rasanya bagaikan setahun. Aku sudah cukup menahan rasa rindu yang begitu lama sejak perpisahan kita di masa lalu. Kali ini, tidak lagi. Aku ingin menebus semua waktu itu. Aku ingin setiap detik kita selalu bersama," Zant berbicara panjang lebar dan berakhir dengan mengecup lembut bibir gadis kecilnya.


"Bagaimana jika kita tidak pernah bertemu?" Tanya Rihan pelan.


"Maka aku akan tetap sendiri, karena menurutku tidak ada seorangpun yang sama sepertimu."


"Terima kasih, My King." Dengan senyum tipis Rihan menatap Zant.


"Mulai sekarang, tidak perlu ada terima kasih di antara kita, My Queen. Kamu adalah belahan jiwaku. Kamu ditakdirkan hanya untukku. Jadi, berhenti mengatakan terima kasih. Hm?" Rihan hanya membalas dengan anggukan.


"Aku mencintaimu, My Queen."


"Aku juga, My King."


Keduanya lalu saling melempar senyum kemudian Zant mendekap erat Rihan di pelukannya.


***


Pagi ini, siaran berita menggemparkan semua orang. Pasalnya perusahaan terkuat di Jepang milik keluarga Satoru bangkrut secara tiba-tiba. Perusahaan yang berdiri sudah cukup lama dan tidak bisa dijatuhkan begitu saja, kini bangkrut secara tiba-tiba.


Banyak komentar penasaran tentang kejatuhan perusahaan itu. Sayangnya tidak ada yang tahu. Hanya orang-orang tertentu, atau pihak-pihak perusahaan yang tahu kejadian sebenarnya. Banyak perusahaan mulai takut dengan Cognizant Technology.


Mereka tidak menyangka perusahaan kecil itu yang beberapa waktu lalu terdengar hampir bangkrut, justru menjatuhkan perusahaan kuat milik keluarga Satoru.


Karena kejadian ini, mulai dari karyawan biasa hingga pemegang saham Cognizant Technology yang ikut andil dalam rencana Tuan Naboru, semuanya dipecat dengan tidak hormat. Jadi, pemecatan besar-besaran di Cognizant Technology.


Tuan Naboru kemudian dimasukkan ke penjara karena rencana jahatnya. Selain perusahaannya bangkrut, semua aset keluarga Satoru juga ditarik untuk membayar beberapa hutang karena pemutusan kontrak kerja sama dengan perusahaan lain.


Bukan hanya itu. Tuan Naboru menjadi gila di penjara setelah melihat kondisi mengenaskan Hanami, anak kesayangannya yang mati karena keracunan dan dalam kondisi kedua tangan buntung.


Belum sempat Rihan dan Zant melihat pria paru baya itu di penjara, bawahan Zant sudah memberi kabar bahwa pria tua itu sudah bunuh diri. Rihan hanya menggeleng kepala mendengar kabar itu. Zant sendiri menatap memicing pada Rihan setelah tahu bahwa Hanami sudah mati mengenaskan.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Rihan pura-pura tidak tahu.


"Kenapa harus mengotori tanganmu, hum?" Zant bertanya sambil mengusap lembut kepala Rihan.


Keduanya saat ini ada dalam mobil menuju kantor polisi. Akan tetapi, karena mendapat telepon, Zant memutar kembali mobil. Rihan hanya diam di tempat duduknya menunggu kemana calon suaminya membawanya pergi.


"Aku hanya ingin bermain. Lagipula, salahnya sendiri karena ingin mengambil milikku," Rihan menjawab dengan datar sambil menatap keluar jendela. Zant hanya terkekeh karena menurutnya ekspresi Queen-nya sangat menggemaskan.


"Kamu sangat menggemaskan, My Queen." Rihan hanya mendengus membalas Zant tanpa melihat pria itu langsung. Zant sendiri hanya tersenyum kemudian melanjutkan.


"Akupun akan melakukan hal yang sama denganmu. Aku juga tidak ingin orang lain menginginkan milikku. Jika boleh jujur, aku hanya ingin mengurungmu di kamar agar tidak dilihat oleh para pria di luar sana. Aku tidak rela orang lain melihatmu. Kamu hanya milikku. Hanya aku yang boleh melihatmu!


Tapi, aku tahu kamu pasti tidak suka aku mengurungmu. Aku tahu, kamu tidak suka dikekang. Jadi, aku hanya ingin kamu selalu di sampingku agar tidak ada yang berani mengambilmu dariku. Melirikmu saja, aku tidak rela."


Rihan segera menoleh menatap lekat Zant yang serius menyetir. Gadis itu lalu tersenyum tipis.


"Semoga aku tidak salah memilihnya." Ujar Rihan dalam hati.


"Kenapa melihatku begitu?" Tanya Zant yang menyadari tatapan Rihan.


"Kak Zant benar-benar tampan," Jawab Rihan datar. Tapi Zant tahu gadis itu sedang memujinya. Telinga Zant menjadi memerah. Pria itu berusaha menahan senyum senangnya.


"Jika aku jelek, aku tidak akan sepercaya diri ini untuk bersanding denganmu."


"Aku menyukai kak Zant bukan karena tampan."


"Lalu?"


"Entahlah. Pikir saja sendiri."


"Ingat! Tidak perlu ada terima kasih di antara kita."


"Oke-oke. Aku akan ingat!"


Setelah itu, keadaan mobil kembali hening. Rihan mengalihkan pandangannya keluar jendela, sedangkan Zant tetap fokus menyetir.


Hampir setengah jam kemudian, mobil sport yang dikendarai Zant berhenti di sebuah toko khusus jam tangan limited edition. Rihan menoleh pada Zant seakan bertanya kenapa mereka datang ke sini.


"Hanya untuk melihat-lihat. Ayo My Queen." Ucap Zant setelah memarkir mobilnya dan melepas seat belt.


Rihan melepas seat belt setelah Zant keluar dari mobil. Zant kemudian membuka pintu mobil dan membantu Rihan turun dengan memberikan tangannya pada kesayangannya. Rihan dengan senang hati menerima uluran tangan itu. Keduanya kemudian masuk ke dalam toko.


...


"Aku ingin jam tangan pasangan, keluaran terbaru." Zant berbicara dengan nada datar pada pegawai toko. Rihan mengerutkan kening menatap Zant.


"Dia bisa memberimu jam tangan, kenapa aku tidak?" Rihan hanya menggeleng kepala karena tingkah calon suaminya. Tapi dalam hati gadis itu senang.


"Terserah kak Zant saja."


Pegawai toko ikut tersenyum melihat pasangan kekasih di depannya ini. Masih dengan senyum khasnya, pegawai itu mengeluarkan jam tangan yang diminta Zant tadi. Dua model dan tipe yang berbeda ditunjukkan pada Rihan dan Zant.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Zant dan tersenyum tipis pada Rihan.


"Bagus, Aku ingin model yang ini."

__ADS_1


"Berikan kami model yang sama, untuk semua warna berbeda yang ada di toko."


"Anda ingin membeli semua warna untuk jam tangan model ini, Tuan?" Tanya sang pegawai kaget sekaligus senang.


"Ya. Kirimkan ke alamat ini." Zant menjawab dengan datar kemudian meletakkan kartu hitam miliknya bersamaan dengan alamat mansion keluarga Lesfingtone.


"Ini..." Pegawai toko itu baru sadar ternyata Rihan adalah anak gadis yang terkenal akan kecantikannya itu, setelah membaca alamat yang diberikan Zant.


"Rahasiakan ini." Zant kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Rihan dan berlalu pergi dari sana.


"Baik, Tuan."


Setelah kepergian Rihan dan Zant, pegawai toko itu dan temannya bersorak gembira karena bisa melihat secara langsung anak gadis Jhack Lesfingtone yang terkenal itu.


"Terlalu boros." Cibir Rihan pada Zant.


"Untukmu, itu bukan apa-apa. Meski aku tidak sekaya keluargamu, tapi aku tidak akan semudah itu bangkrut."


"Aku tidak tahu, apa kak Zant sedang merendah untuk ditinggikan... Tapi, berhenti membandingkan kekayaan. Lagipula kekayaanmu pasti setara dengan milik kak Neo atau lebih. Jadi..."


"Hahaha... aku semakin mencintaimu. Tapi, ini terakhir kalinya aku mendengar kamu menyebut nama pria lain." Potong Zant lalu mengecup pucuk kepala Rihan. Tingkat keasaman di tubuhnya begitu tinggi ketika mendengar kesayangannya menyebut nama pria lain. Rihan lagi-lagi menggeleng kemudian mengangguk setuju.


"Mari habiskan hari ini dengan jalan-jalan setelah itu pulang. Setidaknya kita manfaatkan waktu ini dengan baik," Lanjut Zant.


"Hm."


"Aku penasaran bagaimana kondisi rubah betina itu." Zant bertanya ketika keduanya keluar dari toko dan menyusuri jalanan khusus pejalan kaki. Keduanya berjalan sambil melihat sekeliling mereka yang terdapat toko perhiasan lain.


"Menikmati hari-harinya yang penuh dengan warna," Jawab Rihan datar, kemudian menyeringai. Zant menaikan sebelah alisnya kemudian ikut menyeringai mengerti maksud kesayangannya.


Seperti yang dikatakan Rihan, hari-hari Ariana, si rubah betina itu begitu berwarna setiap harinya. Tempat tinggal mereka setiap hari selalu didatangi orang-orang yang membuat rusuh dengan memaki dan mencemooh keluarga Samantha, terlebih Ariana.


Mulai dari gerbang hingga halaman keluarga Samantha selalu dipenuhi sampah yang dilempari setiap pagi.


Bukan hanya itu. Ariana setiap hari selalu mendapat paket yang berisi teror kematian untuknya, membuatnya hampir gila. Meski Alvin, kakak Ariana sudah meminta orang mengawasi paket yang datang, tapi, tetap saja selalu ada paket teror di kamar Ariana.


Selain itu, Ariana harus keluar masuk rumah sakit karena keracunan permanen di tubuhnya setiap pagi, siang dan tengah malam. Tidak ada tim medis yang mampu menyembuhkan keracunan di tubuhnya.


Setiap pukul 7 pagi, Ariana akan berteriak kesakitan karena jantungnya seakan dihujam oleh pisau berkali-kali membuatnya ingin secepatnya mati. Bukan hanya jantung, organ vital lain ikut sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Hal yang sama juga terjadi siang hari sekitar jam 14.00 siang, dan tengah malam jam 23.00.


Rasa sakit itu akan bertahan selama tiga sampai empat jam membuatnya sangat menderita. Ariana sudah beberapa kali mencoba bunuh diri karena tidak tahan dengan sakitnya. Sayangnya rencananya selalu gagal karena ada bawahan Rihan yang mengawasinya.


Jadi, ketika Ariana akan bunuh diri, kakak dan ibunya akan datang menolongnya. Mereka kemudian membawanya ke rumah sakit untuk diobati, tetapi tetap saja tidak ada obat untuk menyembuhkannya.


Mereka hanya menghilangkan rasa sakit, tetapi itu tidak akan bertahan lama karena sudah ada dokter khusus yang disiapkan Rihan sehingga penghilang rasa sakit itu hanya bertahan setengah jam, kemudian kembali lagi. Jadi, percuma saja Ariana dibawa ke rumah sakit, karena rubah betina itu tetap saja kesakitan.


Tubuh Ariana kini semakin kurus. Racun permanen di tubuhnya semakin mengikis organ tubuhnya secara perlahan-lahan. Ini yang Rihan inginkan. Menyiksa rubah betina itu secara perlahan-lahan setiap detiknya.


Jika Ariana bertobat dan menyesali perbuatannya, Rihan mungkin akan mengurangi sedikit kesakitannya. Sayangnya, Ariana sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Rihan juga tidak peduli. Rihan akan membiarkan Ariana menderita seperti itu, dan melihat kebahagiaannya dan Zant.


***


Chapter berikut, pernikahan couple kita.


Jadi, semuanya tolong siapkan kado pernikahan, ya.😁

__ADS_1


__ADS_2