
Meletakkan handuk basah di dahi Neo, Rihan menoleh menatap jam digital di atas nakas samping tempat tidur, ternyata sudah pukul 5 pagi.
"Bisa-bisanya dia demam," Gumam Rihan menatap Neo yang terlelap. Sesekali pria itu akan bergumam tidak jelas.
"Haruskah aku sakit dulu, baru kamu melihatku?" Gumam Neo setelah beberapa menit Rihan meletakkan kompres padanya. Rihan hanya menatap Neo dengan sebelah alis terangkat.
"Kenapa menghindariku? Aku pasti melakukan kesalahan. Iya, kan?" Neo masih saja berbicara meski dipaksakan.
"Tidak." Balas Rihan datar lalu mengganti handuk lain untuk mengompres.
"Itu benar! Kamu bahkan tidak ingin berbicara lebih lama denganku. Kamu berubah, Rei. Aku yakin, aku pasti melakukan kesalahan," Suara Neo pelan dan menatap Rihan dengan pandangan sayu.
"Kita akan bicara jika kak Neo sudah sembuh. Istirahatlah!"
"Tidak! Aku ingin sekarang. Jika nanti, kamu pasti akan menghindariku lagi," Tolak Neo dan melepas kompres di dahinya dan berusaha bangun.
"Kak Neo bangun, maka jangan pernah berharap bicara denganku lagi!" Ancam Rihan.
"Baik. Ingat untuk menepati janjimu," Balas Neo dan kembali mengambil kompres tadi dan menaruhnya di dahi setelah pria itu berbaring.
"Ya."
"Sini, tidur di sampingku." Pintah Neo sambil menepuk tempat di sebelahnya.
"Kak Neo sedang sakit. Aku tidak ingin mengganggu," Tolak Rihan sambil menggeleng.
"Aku hanya ingin kamu tidur di sampingku. Aku yakin, beberapa jam ke depan, demam ini akan sembuh sendiri. Mau, ya."
"Aku menolak!"
"Sepertinya aku memang melakukan kesalahan. Baik. Aku tidak akan memaksamu lagi. Semoga saja, demam ini terus berlanjut agar kamu selalu di sampingku." Ucap Neo dan tersenyum tipis.
"Berhenti bicara omong kosong karena aku tidak akan menjagamu setiap saat." Rihan sedikit menaikan nada suaranya.
"Rei! Aku tidak tahu dimana letak kesalahanku, tapi aku benar-benar minta maaf. Please... jangan begini," Ucap Neo frustasi bercampur sakit, dan dengan pelan mengambil tangan kanan Rihan kemudian menggenggamnya erat.
"Kamu tahu, ini pertama kalinya aku merasa seperti ini. Aku merasa seperti ada yang hilang jika kamu terus menghindariku. Waktuku denganmu beberapa hari ini hanya di saat kita tidur. Itupun aku hanya bisa melihatmu sepanjang malam. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Jadi aku mohon... jangan menghindariku lagi, hm?" Neo memasang wajah memelas pada Rhiana.
"Sepertinya kak Neo sudah sembuh." Balas Rihan setelah melepas tangannya dari Neo dan mengambil kompres di dahi pria itu.
"Huh?"
"Bicaramu banyak sekali,"
"Eh... Aku hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini." Balas Neo. Dalam hati dia berharap sakitnya bertahan lama.
"Tidurlah. Aku akan meminta pelayan membuatkan bubur untukmu,"
"Telepon saja mereka. Temani aku di sini," Neo menahan tangan Rihan yang ingin beranjak pergi.
"Sakitpun, masih seenaknya." Gumam Rihan dan menepis tangan Neo pelan kemudian mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada kepala pelayan. Neo hanya menatap Rihan dengan senyum tipis.
"Jangan menatapku seperti itu. Nanti kak Neo suka padaku." Rihan mendengus karena Neo sedari tadi menatapnya tanpa berkedip.
__ADS_1
"Aku memang menyukaimu. Tidak mungkin aku membencimu 'kan?" Balas Neo dan tersenyum.
"Terserah."
"Aku ingin ke toilet, temani aku!"
"Demam bukan berarti tidak bisa jalan," Cibir Rihan kesal.
"Dimana-mana orang sakit harus ditemani. Ayolah... Aku benar-benar tidak bisa pergi sendiri. Aku lemas. Aku tidak minta digendong, kamu hanya perlu memapahku ke sana, hm?" Neo semakin memelas.
"Merepotkan!" Kesal Rihan dan membantu Neo bangun kemudian memapahnya ke toilet.
"Wah... kamu benar-benar tidak ikhlas membantuku." Gumam Neo di saat Rihan memapahnya.
"Memang benar." Balas Rihan datar. Neo hanya terkekeh pelan. Neo tahu Rihan tidak serius mengatakannya.
"Sebaiknya kamu harus rajin berolahraga. Tubuhmu terlalu pendek sebagai seorang pria. Apa perlu aku sarankan obat tinggi?" Ejek Neo ketika Rihan membuka pintu toilet.
"Tinggiku termasuk rata-rata." Balas Rihan datar.
"Aku jadi ingin melihat punyamu di bawah sana, bagaimana ukurannya jika tubuhmu sekecil ini?" Neo masih saja berbicara ketika Rihan melepas tangannya dan membiarkan Neo untuk buang air kecil.
"Otakmu sepertinya bergeser ketika sakit," Balas Rihan datar dan memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak ingin melihat Neo.
"Ingin melihat punyaku?" Tawar Neo dan hendak berbalik.
"Kak Neo sepertinya sudah sembuh. Aku akan keluar." Rihan mengalihkan pembicaraan.
"Jangan begitu, tunggu aku! Aku tahu kamu pasti malu karena punyamu kecil," Neo membenarkan celananya dan menghampiri Rihan.
"Berhenti bicara yang aneh-aneh." Kesal Rihan dan memegang tangan Neo yang ada di bahunya.
"Baik! Aku akan berhenti." Balas Neo dan terkekeh pelan. Suasana hatinya sedang baik hari ini, tidak seperti beberapa hari lalu.
Inilah yang Neo inginkan. Selalu berbicara absurd dengan Rihan. Dan untuk pertama kalinya Neo seperti ini. Logan dan Brand saja yang sudah bersamanya bertahun-tahun, tetapi mereka tidak pernah membahas hal absurd seperti ini.
Setelah membantu Neo berbaring, Alex dan Alen muncul di kamar Rihan. Biasanya Rihan akan membuka pintu untuk mereka, tetapi setelah Neo bersih keras ingin tidur di kamarnya, sehingga Rihan meminta orang-orangnya membuat kartu akses keluar masuk kamarnya untuk Neo, Alex dan Alen. Alex dan Alen datang dengan Alen membawa bubur untuk Neo.
"Haruskah saya memanggil Dokter Galant?" Tanya Alex datar. Asisten Rihan itu tidak suka melihat Neo yang selalu merepotkan majikannya.
"Ya." Jawab Rihan sambil melihat Alen meletakkan baki berisi semangkuk bubur itu di atas nakas.
"Tidak perlu. Nanti sembuh sendiri," Balas Neo dan menggeleng pelan. Pria itu tidak ingin cepat sembuh.
"Anda akan merepotkan Tuan Muda jika anda masih sakit," Kesal Alex dan Neo tahu itu.
"Aku merepotkanmu, Rei?" Tanya Neo dengan nada menyedihkan.
"Memang! Ikuti saja keinginannya, Lex." Jawab Rihan menatap Alex sekilas. Neo tersenyum senang dan menatap Alex seakan menunjukan kemenangan.
"Baik, Tuan."
"Bangun dan makan dulu buburnya, Kak." Ucap Rihan pelan.
__ADS_1
"Suapi aku, ya." Pintah Neo dan bergegas bangun dan duduk bersandar pada kepala tempat tidur.
"Anda masih punya tangan. Lagipula, anda terlihat tidak selemah itu," Cibir Alex tidak senang. Selalu seenaknya, pikirnya.
"Aku meminta pada Rei, bukan kamu. Ck..." Kesal Neo.
"Suapi aku, ya." Ulang Neo semakin memelas.
"Apa yang di katakan Alex benar, Kak. Makan sendiri." Balas Rihan datar lalu mengambil baki dan meletakkannya di depan Neo setelah Alen menaikan sebuah papan seperti meja kecil yang dibuat khusus di samping tempat tidur. Neo lalu menatap Alex. Terlihat pria itu menyeringai pada Neo.
"Dia pikir aku akan menyerah?" Gumam Neo dalam hati dan menatap memicing pada Alex.
"Baik. Aku akan makan sendiri," Ucap Neo pelan dan mulai mengambil sendok.
"Lihat! tanganku gemetar. Bagaimana bisa aku makan sendiri?" Neo menatap tangannya yang baru saja menjatuhkan sendok.
Neo memang sengaja membuat dirinya lemah dan membuat tangannya gemetar sehingga tidak kuat mengangkat sendok untuk makan sendiri. Rihan menatap Neo dan mendengus kemudian mengambil sendok itu dan menyuapi Neo. Pria itu terus tersenyum selama Rihan menyuapinya.
Hanya butuh beberapa menit, bubur di mangkuk habis dimakan oleh Neo. Rihan kemudian mengambil segelas air di atas nakas dan membantu Neo meminumnya.
"Ini ada obat untuk Tuan Neo." Alen menghampiri ranjang, setelah mengambil dua buah botol kecil berisi kapsul dan memberikannya pada Rihan.
Rihan menumpahkan masing-masing sebutir kapsul ke atas sendok dan memberikan kembali dua botol itu pada Alen untuk disimpan. Setelah itu, Rihan membantu Neo meminumnya.
"Sudah. Waktunya istirahat." Ujar Rihan setelah Alen menurunkan kembali meja tempat Neo makan tadi.
"Temani aku, ya." Pintah Neo setelah berbaring.
"Hm."
"Maksudku, tidur di sampingku."
"Tidak!"
"His..."
"Aku akan duduk di sini sampai kak Neo tidur. Aku juga ada jadwal hari ini. Jadi, tidurlah!" Rihan lalu membenarkan selimut Neo.
"Baik."
20 menit kemudian, Neo terlihat mendengkur halus. Sepertinya pria itu sudah terlelap.
"Saya akan membantu anda bersiap, Tuan." Alen bergegas ke toilet menyiapkan air di bak mandi.
"Nona Rihan sudah baik-baik saja, Tuan. Tapi dia masih membutuhkan beberapa hari lagi untuk pemulihan sebelum kembali beraktifitas." Lapor Alex sambil menatap Rihan yang juga menatap Neo.
"Hmm."
"Apa nona... Apa yang aku pikirkan? itu pasti tidak mungkin," Monolog Alex dalam hati lalu menggeleng.
"Ada apa?" Tanya Rihan karena ekor matanya sempat menangkap Alex yang menggeleng.
"Tidak ada, Tuan."
__ADS_1
"Ya, sudah."