Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pagi Pertama


__ADS_3

Tidur Rihan terusik karena merasakan seseorang terus mencium perutnya tanpa henti. Tanpa melihat, Rihan jelas tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan suami posesifnya.


"Itu geli, berhenti Kak." Gumam Rihan sambil menahan kepala Zant agar tidak mencium perutnya lagi.


"Sudah bangun?" Ujar Zant mendongak menatap istri kecilnya.


"Jangan lanjutkan lagi, Kak. Itu geli,"


"Ini sudah satu minggu, tamu bulananmu pasti sudah pergi, kan?" Tanya Zant yang kini sudah menindih Rihan.


Mendengar pertanyaan Zant, jantung Rihan berdegub kencang. Pipinya memerah bercampur gugup. Rihan menelan ludahnya takut, kemudian mengangguk pelan sambil membalas tatapan suami posesifnya. Senyum Zant melebar karena senang.


"Aku menginginkanmu sekarang, My Queen." Bisik Zant di telinga Rihan. Tidak lupa juga, pria itu sedikit menggigit kecil telinga istri kecilnya.


"Tapi, ini masih pagi, Kak."


"Tidak masalah." Hanya dua kata dengan suara berat, Zant beralih mencium leher Rihan dengan lembut.


"Kak..." Panggil Rihan pelan sambil meremas rambut Zant yang masih asik dengan bagian lehernya. Zant tidak menghiraukan sang istri. Pria itu sibuk memberi tanda kepemilikkannya.


Setelah lima menit memberi kissmerk di leher Rihan, Zant mengangkat kepalanya dan beralih mencium bibir menggoda Rihan. Keduanya saling m*****t cukup lama dengan tangan Zant yang aktif bergerak ke sana kemari membuat Rihan hanya bisa menggigit bibir menahan keanehan yang dirasakan.


15 menit kemudian, tanpa sadar pengantin baru itu sudah tidak lagi memakai pakaian apapun. Rihan yang menyadari tampilan keduanya malu setengah mati. Zant hanya terkekeh karena wajah malu istri kecilnya sangatlah menggemaskan.


"Aku akan pelan. Tahan, ya. Jika kamu merasa sakit." Ucap Zant setelah bersiap dengan penyatuan tubuh keduanya. Rihan sedikit takut, hanya mengangguk pelan. Zant kemudian bergerak penuh kelembutan hingga keduanya berhasil menyatuh.


"Terima kasih, My Queen. Aku sangat-sangat mencintaimu." Bisik Zant setelah mengecup kening Rihan lalu menghapus air mata istri kecilnya. Rihan tidak mengatakan apapun karena masih merasa sakit. Zant juga belum bergerak.


"Aku akan bergerak." Rihan hanya mengangguk membuat Zant mulai bergerak dengan lembut. Rihan hanya meremas seprei sambil membiarkan Zant terus bergerak di atasnya.


"Maafkan aku. Apa kita berhenti saja?" Tanya Zant yang tidak tegah melihat wajah kesakitan istri kecilnya.


"Tidak. Lanjutkan saja, Kak. Aku tidak apa-apa."


"Aku tidak ingin menyakitimu. Aku bisa menyelesaikan ini sendiri. Jangan merasa bersalah, hum?" Zant merapikan rambut Rihan yang menutupi wajah cantiknya.


"Aku tidak apa-apa, serius!" Rihan tidak mungkin berhenti di sini. Sudah cukup dia melihat suami posesifnya ini harus menyelesaikan sendiri kebutuhan biologisnya setiap tengah malam. Rihan merasa bersalah padanya.


"Sekali lagi aku minta maaf, My Queen."


Zant kemudian melanjutkan aksinya hingga satu jam kemudian, pria itu akhirnya mencapai pelepasannya. Suami Rihan itu sebenarnya ingin melanjutkannya lagi, tetapi dia tidak ingin istri kecilnya kelelahan di hari pertama mereka.


"Tidurlah!" Bisik Zant lembut setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Rihan tidak membalas. Dia hanya merapatkan dirinya pada dada Zant dan mulai memejamkan matanya.


...


"Tumben sekali pengantin baru itu bangun terlambat." Avhin membuka suara karena semua orang sudah duduk di meja makan dan hanya menunggu Rihan dan Zant.


"Mereka mungkin begadang semalam. Kita sarapan saja lebih dulu." Daddy Jhack seakan mengerti dan tersenyum tipis. Semua orang akhirnya menikmati sarapan pagi mereka.


Pukul 11 siang, Rihan membuka matanya. Rihan mengerutkan kening dan mulai bangun, kemudian bersandar pada kepala tempat tidur. Melirik ke samping, suami posesifnya sudah tidak ada lagi. Dia juga sudah memakai pakaiannya.

__ADS_1


Baru saja Rihan akan bergerak turun dari tempat tidur, Zant terlihat masuk ke kamar sambil membawa baki di tangannya. Rihan mengurungkan niatnya dan menunggu sang suami.


"Selamat siang, My Queen. Ayo sarapan dulu," Senyum Zant begitu cerah menatap istri kecilnya. Pria itu lalu duduk di sisi tempat tidur dengan baki di pangkuannya.


"Sepertinya ini bukan lagi sarapan." Gumam Rihan dan menggeleng. Zant hanya terkekeh.


"Tidak apa. Ayo, aku bantu sarapan. Buku mulutmu. Aaa..." Zant mulai menyodorkan sendok berisi nasi dan lauk.


"Aku bisa makan sendiri, Kak." Balas Rihan sebelum menerima suapan dari Zant.


"Aku ingin menyuapimu, jadi nikmati saja. Aa..."


Rihan tidak lagi membantah dan terus menerima suapan dari sang suami hingga makanannya habis.


"Selesai. Minumnya, My Queen."


"Anak pintar. Waktunya mandi. Ayo..." Lanjut Zant setelah meletakkan baki di atas nakas dan berniat menggendong istri kecilnya.


"Eh... aku bisa mandi sendiri, Kak." Ucap Rihan yang kini sudah dalam posisi bride style di gendongan Zant.


"Aku ingin memanjakan istriku."


Rihan hanya menggeleng, lalu melingkarkan tangannya di leher suami posesifnya.


Tidak memakan banyak waktu, Zant sudah membawa keluar istrinya dan mendudukannya dengan lembut di tepi tempat tidur. Tubuh Rihan hanya berbalut handuk.


Rihan tetap tenang melihat apa yang dilakukan suami posesifnya. Meski awalnya dia malu karena dimandikan layaknya anak kecil, tetapi melihat wajah serius dan perlakuan lembut sang suami, rasa malunya berubah menjadi rasa senang dan membiarkan suami posesifnya itu memanjakannya.


Rihan tersenyum tipis melihat Zant yang datang dengan beberapa pakaiannya. Selanjutnya, Zant membantu Rihan memakai pakaiannya dengan telaten. Rihan terus menatap wajah suaminya yang tampan. Rihan kagum karena sedari tadi memandikannya hingga mengganti pakaiannya, suaminya itu tetap menahan dirinya.


Zant memberi kecupan di kening Rihan setelah pria itu selesai membantu istrinya berganti pakaian.


"Ingin melakukan sesuatu?" Tanya Zant yang kini berdiri sambil menunduk menatap lembut Rihan yang tetap dengan posisinya yaitu, duduk di tepi ranjang.


"Entahlah."


"Baiklah. Kalau begitu, ayo..."


"Kemana?" Tanya Rihan yang sudah berada di gendongan suaminya.


"Kemana-mana hatimu senang." Jawab Zant dan tersenyum lembut sembari berjalan keluar kamar. Rihan hanya mendengus, tetapi tidak bertanya lagi.


...


"Sejak kapan semua ini dibuat?" Tanya Rihan setelah Zant menurunkannya di sebuah gazebo di belakang mansion.


"Sejak beberapa hari lalu. Aku membuat ini untuk anak-anak kita bermain kelak. Agar mereka tidak usah mencari taman bermain lagi di luar sana.


Sebenarnya rencana awalnya, aku ingin membuat taman bermain ini di rumah kita sendiri, tetapi daddy dan mommy mertua tidak ingin kita pindah dari sini.


Mereka ingin hari tua mereka tetap bersama kita dan cucu-cucu mereka nanti. Mereka tidak ingin kita tinggal terpisah meski di satu kota. Jadi, aku membatalkan pembangunan rumah baru kita di sini." Zant berbicara setelah duduk di samping istrinya dan merangkulnya. Rihan hanya mengangguk setuju.

__ADS_1


"Ingin mencoba beberapa permainan?" Tanya Zant sambil mengelus lembut rambut istrinya.


"Secerah ini?"


"Hahaha... aku hanya bercanda. Bagaimana menurutmu tempat ini?"


"Indah. Aku menyukainya."


"Syukurlah,"


***


"My Queen," Panggil Zant lembut.


Keduanya saat ini ada di balkon kamar dengan berbaring di sofa santai sambil menatap langit malam yang penuh dengan bintang.


"Hm."


"Aku baru ingat kalau daddy dan mommy memberi kita tiket bulan madu ke Korea. Meski kita memiliki jet pribadi, tetapi kata mommy akan lebih romantis jika kita menggunakan penerbangan biasa. Aku juga setuju karena aku ingin orang-orang tahu, bahwa kamu hanya milikku seorang."


"Kapan penerbangannya?" Tanya Rihan memejamkan matanya karena sang suami terus memberi kecupan di pucuk kepalanya.


"Lusa. Bagaimana menurutmu?"


"Sudah lama aku ingin ke sana. Aku juga penasaran seperti apa orang-orang yang sudah mencampakkan kak Alex dan kak Alen. Aku ingin melihat wajah asli mereka."


"Baiklah. Lusa kita berangkat." Rihan hanya mengangguk setuju.


"Aku ingin kak Alex dan kak Alen ikut. Tidak apa-apa kan, Kak?"


"Tidak apa-apa, My Queen. Mereka juga bukan anak kecil yang akan mengganggu bulan madu kita. Selain itu, bukankah akan lebih bagus jika mereka terlibat langsung dalam pemusnahan orang-orang yang mencampakkan mereka?"


"Benar juga."


"Belum mengantuk?" Tanya Zant setelah melihat jam di ponselnya yang menunjukan pukul 9 malam.


"Belum."


"Baguslah. Kalau begitu, ikut aku." Zant bergerak bangun.


"Kemana?"


"Membuatmu kelelahan dan segera tidur." Zant mengatakan itu dan tanpa menunggu jawaban istri kecilnya, Zant langsung saja mengangkat Rihan dan masuk ke dalam kamar. Selanjutnya, terjadilah apa yang seharusnya terjadi.


.


.


.


Biasanya malam pertama, tapi karena suami posesif kita sudah tidak sabar, jadilah pagi pertama belah duren.😄

__ADS_1


Mau tulis chapter ini aja, aku harus cari referensi, baru nulis sambil merinding sendiri. Kwkwkwk...


Maklum, jomblo akut.


__ADS_2