
"Saya sudah menemukan orangnya, Tuan." Alex baru saja datang dengan seseorang di belakangnya.
Mendengar itu, semua pandangan mengarah kepada Alex kecuali Rihan yang masih dalam posisi berdiri di sebelah ranjang Phiranita.
"Katakan!" Balas Rihan tanpa menatap Alex.
"Seorang pria, Tuan. Dia hanya dibayar untuk mengganggu nona Phi." Jelas Alex tenang.
"Panggil suster itu kemari." Rihan tetap tenang.
"Dia sudah di sini, Tuan." Alex sedikit bergeser memperlihatkan orang yang masuk bersamanya tadi.
"Katakan alasanmu melakukan ini!" Tanya Rihan datar lalu bersandar di meja samping ranjang Phiranita sambil melipat tangannya di dada.
"Alasan apa yang anda maksud, Presdir? Saya tidak mengerti maksud anda." Tanya Suster itu bingung.
"Alasan membuat pasien kambuh." Alex menjawab sambil menatap suster itu sengit.
Alex menjawab karena tahu jika majikannya ini tidak suka banyak bicara. Sedangkan keempat manusia yang sedari tadi menyaksikan apa yang terjadi, hanya diam di tempat mereka.
"Kenapa anda menuduh saya membuat pasien kambuh? Saya tidak tahu apa-apa." Tanya Suster itu tidak terima dengan tuduhan itu.
"Tidak ingin mengaku, heh..." Alex mencibir sambil menatap remeh suster itu.
"Tugas saya menjaga pasien bukan membuatnya kambuh. Saya adalah seorang perawat, tidak mungkin melakukan hal itu." Jelas Suster itu sedikit membentak.
"Anda memang seorang perawat yang bersumpah setia untuk membantu orang yang sakit. Anda yakin, sudah melakukan sumpah itu dengan baik?" Tanya Alex diakhir kalimatnya. Seringai lirik Alex tunjukan pada suster itu.
Deg.
Jantung suster itu tiba-tiba berdebar kencang mendengar penuturan itu.
"Sa...saya..." Perkataan suster itu segera dipotong oleh Rihan.
"Katakan alasanmu!" Ucap Rihan datar, sambil menatap tajam Suster itu.
"Maafkan saya, Presdir. Saya hanya tidak suka anda terlalu memperhatikan gadis itu. Dia hanyalah korban pelecehan seksual yang tidak pantas bersama anda." Jelas suster itu yang kini sudah berlutut memohon pengampunan dari Rihan sambil menangis.
"Saya dekat dengan siapapun itu bukan urusanmu! Saya menyukai dia pun, itu bukan urusanmu! Tugasmu hanya menjaga dan merawat yang seharusnya dirawat." Suara Rihan terdengar semakin dingin. Jangan lupa dengan tatapan tajamnya yang menusuk. Hanya alasan itu, Suster ini ingin mencelakai Phiranita? Rihan tentu sangat kesal.
"Maafkan saya, Presdir. Maafkan saya kali ini. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi," Suster itu berbicara sambil menggosok kedua tangannya memohon ampun.
"Han... Kenapa berisik sekali?" Tanya Phiranita yang baru saja membuka matanya karena masa kerja obat penenang sudah habis.
"Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan?" Tanya Rihan lembut pada sahabatnya itu. Rihan bersyukur, karena Phiranita tidak mengamuk setelah sadar.
"Aku baik-baik saja. Tapi, aku takut dengan pria tadi. Dia menyentuhku Han... hiks...hiks... Dia... Tolong aku Han... Dia menyentuhku." Phiranita menangis karena mengingat kejadian tadi. Phiranita kini sudah bangun dan berusaha menyembunyikan dirinya dibalik selimut.
"Tenanglah, aku disini!" Rihan lalu menarik pelan selimut yang membungkus tubuh Phiranita.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku, Han. Aku takut. Hiks...hiks..." Phiranita yang kini sudah memeluk erat Rihan.
"Sepertinya itu kekasihnya. *K**enapa aku tidak suka*?" Ucap David dalam hatinya sambil mengerutkan keningnya menatap Rihan yang sedang mengelus pelan kepala Phiranita.
"Aku di sini menjagamu, tenanglah." Rihan lalu melepas pelukannya.
Rihan kemudian membelai lembut pipi Phiranita guna menghapus air matanya yang semakin mengalir.
"Siapa mereka, Han?" Tanya Phiranita setelah berhenti menangis. Gadis itu juga baru sadar jika ada orang lain di sana.
"Mereka temanku di kampus." Jawab Rihan singkat. Rihan sedang malas menjelaskan proyek mereka.
"Lalu, ada apa dengan suster itu?" Tanya Phiranita heran karena melihat suster yang menjaganya sedang berlutut sambil menangis.
"Dia yang sudah membuat trauma nona kambuh." Alex menjawab ketika mendapat lirikan dari sang majikan.
"Menurutmu, hukuman apa yang cocok dengan orang seperti itu?" Tanya Rihan pada Phiranita yang mendongak kepalanya menatap Rihan.
"Aku tidak tahu, itu terserah padamu saja," Jawab Phiranita, maklumlah jika dia merupakan gadis yang lemah lembut dan tidak suka kekerasan.
"Hmm. Urus dia, Lex!" Rihan tahu Alex bisa melakukan semuanya tanpa dia katakan langsung.
"Baik, Tuan." Alex lalu membawa suster itu keluar dari ruangan dan berpapasan dengan Dokter Damar yang baru saja datang.
"Maaf Presdir, ada apa dengan suster Maya?" Tanya Dokter Damar penasaran karena melihat ekspresi wajah suster bernama Maya itu yang terlihat sehabis menangis.
"Istirahatlah! Kamu pasti lelah. Aku ada urusan dengan teman-temanku." Lanjut Rihan pada sang sahabat.
"Sebelumnya, tolong temani aku sampai tidur. Aku takut pria itu datang lagi, Han." Phiranita menggenggam erat ujung kemeja yang dipakai Rihan. Dia masih ketakutan.
"Hmm. Tidurlah!" Balas Rihan lalu menyelimuti Phiranita dan membelai lembut pucuk kepalanya. Rihan kemudian duduk di kursi yang biasanya dia duduki untuk menjaga sahabatnya itu.
"Tanganmu halus sekali, Han," Komentar Phiranita ketika menggenggam tangan Rihan yang begitu halus.
"Tidur." Balas Rihan membiarkan Phiranita menggenggam tangannya sepuasnya.
"Selamat tidur, Han. Aku menyayangimu." Gumam Phiranita pelan, kemudian menggenggam tangan kiri Rihan dengan kedua tangannya yang baru saja dia letakkan di atas perutnya.
"Hmm."
"Wah... Romantis sekali mereka." Gumam Albert dalam hatinya.
"Kenapa rasanya begitu sesak," Gumam Dian dalam hatinya sambil memegang dadanya yang terasa sesak ketika melihat Rihan begitu lembut pada Phiranita.
"Anda sudah membawah data milik pasien, Dok?" Tanya Albert memecah fokus semua orang yang sedang menatap Rihan dan Phiranita.
"Ini data lengkap pasien." Dokter Damar lalu memberikan berkas yang dibawanya tadi.
"Terima kasih, Dok." Sahut Albert setelah mengambil berkas tersebut.
__ADS_1
Albert kemudian membukanya dan memperlihatkan pada David dan Dian.
"Jadi alat vitalnya juga ada memar, Dok?" Tanya Dian ketika membaca bagian yang menyebutkan bahwa alat vital Phiranita terdapat memar.
"Ya. Sepertinya dia dilecehkan dengan sangat kasar sehingga meninggalkan memar. Tapi syukurlah tidak berakibat fatal, sehingga semua memar pada tubuhnya sudah sembuh. Hanya traumanya saja yang perlu ditangani dengan baik." Jelas Dokter Damar yang sedari tadi hanya berdiri menatap ketiga mahasiswa kedokteran di depannya ini.
"Bisa, ya. Ada orang seperti itu? Jahat sekali." Gumam Dian entah pada siapa. Dian sedang berpikir, seandainya dia di posisi Phiranita, entah apa yang akan terjadi padanya. Dian salut pada Phiranita yang memiliki mental yang cukup kuat. Jika itu dia, tentu saja dia pasti sudah bunuh diri. Dian bersyukur, dia selalu dilindungi oleh Tuhan.
"Dunia ini luas. Ada bermacam orang di dunia ini. Jadi, jangan heran jika ada orang sejahat itu." Balas Albert lalu terkekeh pelan, dan hanya dibalas dengusan malas dari Dian.
"Saya perhatikan dari tadi, nona ini hanya diam. Kenapa nona tidak bergabung bersama mereka?" Tanya Dokter Damar yang merasa aneh dengan Ariana yang sedari tadi hanya diam. Apalagi ketika dia memberikan data Phiranita, Ariana tidak ikut bergabung untuk melihatnya.
"Saya mengambil jurusan lain, Dok. Saya hanya mengikuti mereka datang kemari." Jawab Ariana cuek sambil melipat kedua tangan di atas perutnya.
"Saya sepertinya pernah melihat nona. Anda anak bungsu keluarga Samantha, 'kan?" Dokter Damar berusaha menebak, karena merasa asing dengan wajah Ariana.
"Tebakan anda benar, Dok. Saya anak bungsu Samuel Samantha." Jawab Ariana dengan bangga.
Flashback off.
"Dilihat dari perlakuan lembut tuan muda padanya, pasti itu kekasihnya. Tunggu dulu..." Gumam Ariana lalu berusaha mengingat sesuatu.
...Han... Kenapa berisik sekali?...
...Tolong aku, Han....
...Jangan tinggalkan aku, Han....
"Han... Honey? Jadi benar itu kekasih tuan muda. Ini tidak bisa dibiarkan. Bertambah lagi rivalku. Pertama si j****g Ayu. Kedua, si gembel siapa namanya itu aku lupa.
Dan yang terakhir, si penyakitan Piranha atau apalah... Butuh banyak rencana untuk menyingkirkan mereka satu persatu. Siapa yang lebih dulu aku singkirkan?" Monolog Ariana pada dirinya sendiri, dan diakhiri dengan pertanyaan.
"Aku tahu, siapa yang harus aku singkirkan terlebih dahulu." Ariana tersenyum sinis setelah memikirkanbtarget pertamanya.
***
Terima kasih sudah membaca ceritaku.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu, dengan menekan,
Like
Rite
Komen and
Vote.
See You.
__ADS_1