
"Maafkan saya Nyonya, Tuan besar, Tuan Muda. Ada seorang pria yang memaksa masuk ke mansion. Saya sudah mengatakan bahwa Tuan Muda melarang orang asing untuk masuk, tetapi pria itu bersikeras ingin masuk dan bertemu dengan Nyonya dan Tuan besar." Lapor seorang penjaga keamanan.
"Siapa?" Tanya Mommy Rosse penasaran.
"Aku yang akan bertemu dengannya, Mom." Balas Alex setelah berdiri bersiap keluar.
"Kamu tahu dia siapa?" Tanya Daddy Jhack mengerutkan kening.
"Dia hanya orang asing, jadi aku akan bertemu dengannya. Ini tidak akan lama, Dad." Jawab Alex dan beranjak pergi.
Sudah dua hari Alex tinggal di mansion utama Jhack Lesfingtone. Asisten Rihan itu sudah menjadi bagian dari keluarga itu, sehingga sang Nyonya Besar memaksanya untuk tinggal di sana. Alen juga dipaksa tinggal di sana.
Alex juga harus terbiasa memanggil mommy dan daddy pada orang tua kandung majikannya sendiri. Mau bagaimana lagi, semua ini keinginan Rihan. Kedua orang tua Rihan justru sangat senang bisa mempunyai anak laki-laki sehebat Alex.
Untuk Papa Jhon, Mama Shintia, dan Kak Avhin, ketiganya sudah kembali ke Prancis. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sini, karena anak kesayangan mereka sedang dirawat. Mereka hanya bisa berdoa semoga Princces mereka segera sembuh.
Sebelum pulang ke Prancis, Alex sudah berpesan pada orang tua angkat saudari kembarnya agar meminta ayah Neo menjemput sang istri, atau ibu Neo. Alex tidak ingin lagi berurusan dengan pria bodoh itu dan keluarganya.
Sudah cukup semua yang dilakukan sang majikan. Biarkan saja ibu Neo itu kembali ke tempat asalnya dan dijaga sendiri oleh suami dan anaknya.
Sampai di pintu gerbang, penjaga keamanan segera membuka pintu. Alex hanya menatap datar pria di depannya ini.
"Lex..." Panggil pria itu pelan.
"Apa kita saling mengenal?" Tanya Alex datar. Pria itu bersandar pada pagar beton dan menatap pria di depannya ini dengan tangan terlipat di dada.
"Aku... bisakah aku bertemu dengannya?" Pria itu berbicara dengan lirih.
"Sepertinya saya mengingat anda. Anda seorang pengusaha muda yang terkenal itu. Neondra Jacon Chixeon. Ada keperluan apa anda kemari?" Tanya Alex acuh.
"A...aku ... aku minta maaf, Lex." Ucap pria itu, yang tidak lain adalah Neo.
"Maaf untuk apa? Setahu saya anda tidak melakukan kesalahan apapun," Balas Alex santai.
"Maafkan aku, Lex. Bisakah aku bertemu dengannya? Tidak. Biarkan aku bertemu kedua orang tuanya. Aku ingin meminta maaf pada mereka. Aku benar-benar menyesal, Lex. Please..." Neo berbicara dengan nada memohon pada Alex.
"Sepertinya anda salah alamat, Tuan Neo. Kita hanya orang asing. Sebaiknya anda pulang." Alex menjawab dengan datar dan berbalik bersiap masuk ke dalam.
"Aku mohon... maafkan aku, Lex. Beri aku satu kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku. Aku menyesal, Lex. Aku... aku ingin bertemu dengannya. Aku... aku merindukannya." Ujar Neo setelah menahan lengan Alex agar tidak pergi.
"Kesempatan? Rindu?" Ulang Alex kemudian berbalik menatap tajam Neo.
Bugh
__ADS_1
Bugh
Bugh
Bugh
"Kesempatan untuk pria bodoh sepertimu? Kesempatan untuk kesalahan fatal yang kamu lakukan? Dan apa... rindu? Heh... kau merindukan orang yang sudah kau lukai. Tidak ada kesempatan untuk pria bodoh sepertimu!" Alex berbicara dengan emosi yang meluap. Jangan lupakan empat bogem gratis Alex berikan pada kedua pipi Neo hingga darah segar mengalir dari mulut pria itu.
"Aku sudah menahan diri sejak dulu untuk tidak memukulmu karena Tuan Muda. Sejak awal, kau selalu bersikap seenaknya tanpa memikirkannya. Pernahkah sekali saja kamu memikirkannya? Pernahkah kamu berpikir apa saja yang sudah dia lewati?
Tubuhnya lemah, tetapi dia selalu memaksakan diri, berkorban untukmu. Tuan Muda tidak pernah memikirkan kondisinya sendiri. Setiap 6 bulan sekali, dia harus menerima suntikan untuk menjaga tubuhnya sendiri.
Sejak kehadiranmu dan keluargamu, kondisinya semakin lemah. Yang tadinya setiap 6 bulan, kini berubah menjadi 3 bulan. Dia selalu memaksakan diri dan tidak pernah menunjukan betapa sakitnya dia." Alex berbicara sambil mencengkram kuat kerah baju Neo. Asisten Rihan itu berbicara hingga tanpa sadar pipinya basah karena cairan bening yang jatuh dari matanya.
"Tubuhnya yang lemah, tidak seharusnya mendonorkan darah untuk orang lain, karena itu semakin memperburuk kondisinya. Tapi apa? Dia begitu baik pada orang lain. Begitu baik pada pria bodoh sepertimu. Entah sudah berapa banyak penderitaan yang dia tanggung sendiri. Tidak pernah sekalipun dia menunjukan betapa sakitnya dia."
Alex masih mengingat jelas kejadian beberapa bulan lalu, dimana dia yang melihat sendiri bagaimana tersiksanya sang majikan menahan sakit di dadanya karena kondisi tubuhnya. Ketika Alex masuk, Rihan segera berpura-pura baik-baik saja, padahal jelas sekali wajah pucat dan keringat dingin di wajahnya menunjukan betapa dia menahan sakit itu.
Bugh
"Dia hampir mati karena menyelamatkan adikmu dan kekasihmu yang tidak tahu diri itu. Seakan melupakan semua yang sudah dia lakukan, kamu bahkan mengatakan hal menyakitkan itu padanya. Cukup mengatakan kalimat pedas itu. Kenapa harus membunuhnya?"
Bugh
Alex kali ini meninju perut Neo hingga pria itu jatuh tersungkur.
"Izinkan aku bertemu dengannya sekali saja. Setelah itu, kamu ingin membunuhku, atau melakukan apapun padaku, aku rela, asalkan bertemu dengannya. Aku mohon, Lex." Ucap Neo ketika Alex akan masuk ke dalam.
Alex segera berhenti dan berbicara tanpa berbalik menatap Neo.
"Tuan Muda sudah tidak ada lagi di sini." Suara Alex semakin datar dan dingin.
"Ap... apa maksudmu?" Tanya Neo pelan.
"Luka di jantungnya membuatnya tidak bisa diselamatkan lagi. Seharusnya kamu senang mendengarnya. Niatmu ingin membunuhnya sudah tercapai. Jangan pernah lagi menunjukan dirimu di hadapanku. Aku tidak ingin hilang kendali dan membunuhmu.
Tutup gerbangnya! Jika pria itu datang lagi, bunuh saja!" Setelah mengatakan itu dan memberi perintah mutlak pada penjaga gerbang, Alex benar-benar pergi dari sana.
"Luka di jantungnya membuatnya tidak bisa diselamatkan lagi."
"Luka di jantungnya membuatnya tidak bisa diselamatkan lagi."
Kalimat itu terngiang-ngiang di kepala Neo. Pria itu menggeleng tidak percaya.
__ADS_1
"Tidak mungkin! Kamu pasti berbohong, Lex. Katakan padaku, jika semua itu tidak benar. ALEX! Tolong katakan padaku jika ini tidak benar. Hiks...hiks... apa yang sudah aku lakukan?"
Neo saat ini berlutut sambil menangis terisak. Pria itu memukul dadanya berkali-kali karena sakit yang dia rasakan. Apa yang Alex katakan membuat dadanya berdenyut sakit. Neo terus bergumam bahwa itu tidak benar.
"Rei... tolong maafkan aku! Aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh menyesal." Ujar Neo dalam hati.
Neo berlutut dan menangis hampir 30 menit di depan gerbang kediaman Jhack Lesfingtone. Tubuhnya lemas dan tidak mampu lagi berdiri. Rasanya dia ingin mati saja. Kalimat Alex terus terngiang di kepalanya membuat air matanya tidak berhenti mengalir.
Cuaca yang tadinya cerah dengan terik matahari yang begitu menyengat kulit, tiba-tiba berubah mendung dan hujan lebatpun turun. Langit seakan mendukung kesedihan dan penyesalan seorang Neo saat ini.
Meski tubuhnya basah kuyup, Neo tidak bergeming dari tempatnya sama sekali. Tangisannya semakin keras seiring derasnya air hujan yang jatuh ke bumi.
"Sejak awal kak Neo memang tidak percaya padaku. Jika saja ada sedikit kepercayaan, kak Neo pasti akan mencari tahu segala sesuatu lebih dulu,"
"Aku hanya ingin mengakhiri pertarungan ini. Dan juga... luka ini akan menjadi penanda agar jantungku benar-benar berhenti berdebar untukmu,"
Perkataan Rihan waktu itu menghampiri kepala Neo. Tangan pria itu terkepal kuat. Dia kembali memukul dadanya yang semakin sakit.
"Maafkan aku. Maafkan aku, Rei! Maafkan semua kesalahanku. Maafkan pria bodoh ini," Gumam Neo dan berakhir jatuh tak sadarkan diri.
...
"Bawa dia ke rumah sakit! Jangan biarkan dia melakukan hal bodoh. Sakit yang dia terima sekarang bukan apa-apa," Perintah Alex pada orang di seberang telepon. Alex saat ini sedang menatap layar laptop yang menampilkan keadaan Neo yang pingsan di luar gerbang.
***
"Hei gadis kecil! Tidurmu sangat lelap, ya. Baru dua minggu, tapi rasanya sudah setahun. Kamu tahu, tiba-tiba aku merindukan wajah merajukmu dulu. Itu sangat menggemaskan. Cepatlah bangun! Aku janji, akan membuatmu kesal setiap hari. Wajahmu pasti sangat menggemaskan." Zant berbicara sendiri dan tersenyum tipis menatap wajah tenang Rihan dalam tabung es.
"Apa kamu masih ingat pertemuan pertama kita? Kamu mungkin melupakannya. Melupakan semua tentangku. Tapi aku tidak! Masih teringat jelas di pikiranku, bagaimana lucunya kita yang berdebat hanya karena sepotong roti yang merupakan roti kesukaan kita.
Padahal di toko sebelah menjual roti yang sama, tetapi karena itu toko langganan kita, sehingga kita berdebat dan berakhir dengan aku yang menang. Aku masih ingat jelas penampilanmu waktu itu yang sangat menggemaskan dengan pipi cubby, dan mata birumu yang indah. Tunggu... mata biru?" Zant tersadar akan sesuatu. Zant menoleh pada Dokter Galant yang sedang membaca buku kedokteran setebal 10 senti itu.
Dokter Galant sudah terbiasa dengan Zant yang selalu berbicara sendiri sambil menatap wajah Rihan. Kadang dokter pribadi Rihan itu tidak fokus karena penasaran dengan hubungan Zant dan majikannya.
Sayangnya, sebelum dia memasang telinga untuk mendengar perkataan Zant, apapun yang ada di sekitarnya akan melayang ke kepalanya lebih dulu. Tenang saja, hanya benda-benda ringan yang ketika mengenai kepala, rasanya tidak terlalu sakit menurut Zant, tapi tidak untuk Dokter Galant.
Akhirnya, setiap keduanya di Lab, Dokter Galant akan menyumbat telinganya dengan earphone agar tidak mendengar suara Zant.
"Matanya benar-benar biru?" Tanya Zant setelah memberi kode pada Dokter Galant untuk melepas earphone dan mendengarnya berbicara.
"Yang Tuan majikan pakai sekarang adalah lensa khusus." Balas Dokter Galant dan mengangguk.
"Tidak apa-apa dia memakainya dengan kondisi seperti ini?" Tanya Zant lagi.
__ADS_1
"Lensa itu sudah dibuat khusus dan tahan hingga 5 tahun. Jadi, tidak masalah. Tapi, jika kakak ingin melepasnya tidak masalah."
"Akan lebih bagus jika melepasnya,"