Rihhane Of Story

Rihhane Of Story
Pencarian Rihan


__ADS_3

"Bagaimana ini, Kak! sudah 3 hari berlalu, tapi belum ada kabar keberadaan nona. Aku khawatir." Alen menatap Alex yang juga terlihat khawatir.


"Kakak juga khawatir, tapi kita hanya bisa berdoa semoga nona baik-baik saja."


"Bagaimana dengan jejak yang tertinggal di sana?" Tanya Alen kini terduduk lesuh.


"Sayangnya jejak nona hanya ada dalam gedung itu. Di luar gedung tidak ada jejak satupun. Karena hujan hari itu, kita kesulitan menemukan jejak nona di luar gedung." Jawab Alex lalu menghembuskan nafas gusar.


"Bagaimana ini, Kak? Apa terjadi sesuatu pada nona? Apa nona dibawa pergi oleh mereka? Apa nona..."


"Jangan memikirkan yang tidak perlu, Len. Kakak yakin nona pasti baik-baik saja," Alex berusaha berpikir positif.


"Tapi... tidak ada saksi mata yang melihat nona, Kak. Aku khawatir."


"Kakak tahu. Tapi percayalah, semua ada jalan keluarnya." Alex berusaha menenangkan sang adik.


"Pengawal terakhir yang bersama nona juga tidak tahu apapun. Dia hanya mengatakan bahwa sebelum dia pingsan, nona sedang melawan dua manusia buatan itu sekaligus. Aku hanya takut, nona..."


"Semua potongan tubuh manusia buatan ditambah satu orang pria berjubah hitam di gedung itu sesuai dengan apa yang dikatakan para pengawal. Nona pasti terluka parah sehingga jejak darah nona yang paling banyak di dalam gedung itu.


Kamu sudah melihat sendirikan, jejak darah nona yang paling banyak hingga pintu keluar gedung. Jadi, kakak rasa nona sudah keluar dari gedung itu. Sayangnya karena hujan membuat kita kesulitan menemukan jejak di sekitar tempat itu."


"Iya, Kak. Semoga saja ada orang baik yang membantu nona."


"Hm. Kita hanya perlu menunggu hasil penyelidikan ulang. Semoga kali ini hasilnya membawa titik terang keberadaan nona." Alex bersandar pada sofa ruang kerja Rihan. Kedua asisten pribadi Rihan itu begitu khawatir.


"Ingin sekali aku membunuh wanita itu, Kak. Semua ini karena dia. Jika saja nona tidak melarangku, sudah aku bunuh penyihir itu. Benar-benar ratu drama yang licik." Ucap Alen dengan kesal mengingat dalang dari semua ini.


"Pria bodoh itu juga. Kakak sangat tidak setuju dia bersama nona. Meski dia memiliki kekuasan sekalipun, tapi jika bodoh, apa gunanya?" Balas Alex ikut kesal.


"Benar juga. Tapi jika dia dan nona berjodoh, bagaimana?"


"Entahlah. Bukan saatnya memikirkan itu."


***


Di kamar Rihan, Neo saat ini terduduk di lantai kamar sambil bersandar pada tempat tidur. Pria itu sedang menatap ponselnya dengan ekspresi sedih. Dia sedang menatap fotonya bersama Rihan di taman Suropati waktu itu.

__ADS_1


Pria itu bahkan tidak makan selama dua hari. Sejak dia bangun dari pingsannya karena kelelahan, orang pertama yang dia cari adalah Rihan. Sayangnya, orang yang dia cari tidak tahu dimana keberadaannya. Neo tidak peduli dengan kondisi adiknya, maupun kekasihnya. Dia hanya melihat mereka sebentar.


Neo sangat khawatir, ketika mengingat luka di lengan Rihan karena samurai tajam itu. Neo jelas tahu itu sangat sakit. Apalagi luka sebesar itu, tetapi wajah tenang Rihan membuatnya semakin khawatir. Neo tahu Rihan kuat, tetapi dia juga manusia.


Neo yakin, jika dia yang mendapat luka itu, dia tidak akan bertahan selama itu dan bahkan menghabisi semua manusia buatan itu. Berkali-kali pria itu menghela nafas dan menghembuskannya dengan kasar mengingat kejadian itu.


"Kamu di mana, Rei? Maaf karena selalu menyusahkanmu. Aku minta maaf... Aku..." Gumam Neo dalam hati sambil menatap foto wajah datar Rihan di ponselnya.


"Sebaiknya anda makan, Tuan. Sudah dua hari anda tidak makan. Itu tidak baik untuk kesehatan. Jika anda tidak ingin makan, konsumsilah suplemen milik Tuan Muda. Itu ada di laci nakas.


Saya sebenarnya tidak peduli anda hidup atau mati, saya hanya tidak ingin apa yang sudah dilakukan Tuan Muda selama ini pada anda sia-sia." Suara Alen yang baru masuk dan menuju brangkas milik Rihan untuk mengambil sesuatu di sana.


Neo hanya menatap apa yang Alen lakukan. Pria itu hanya diam tidak membalas.


"Satu hal yang harus anda tahu, Tuan Neo. Tidak semua orang bisa dipercaya. Termasuk pasangan anda sendiri. Apa yang kita lihat dengan mata kita sendiri, itu belum tentu benar. Seharusnya anda mengerti apa yang saya katakan," Alen berbicara lagi sebelum beranjak pergi dari sana.


Neo hanya mengerutkan kening tidak mengerti maksud perkataan Alen barusan. Pria itu hanya menghela nafas dan menghembuskannya pelan kemudian menatap kembali layar ponselnya.


"Sudah berulang kali aku mendengar perkataan seperti itu. Tapi... Aku tidak mengerti maksud mereka apa." Gumam Neo pelan.


...


"Belum. Jasad pria berjubah itu sudah diperiksa, tetapi tidak ada sesuatu yang mencurigakan padanya. Identitasnya juga tidak jelas. Sepertinya orang dibaliknya benar-benar kuat sehingga sulit menemukan identitas mereka," Jawab Logan setelah menyesap secangkir teh yang disediakan di sana.


"Begitu, ya." Balas Neo sambil mengangguk.


"Tapi aku ingin mendengar ceritamu tentang kronologi penculikan itu. Setahuku, Elle mengajakmu dan Ira untuk jalan-jalan. Kenapa mereka bisa diculik? Seharusnya kalian dalam pengawasan para pengawalmu."


"Aku juga bingung bagaimana caranya mereka diculik tanpa diketahui oleh para pengawal. Padahal aku hanya ke toilet sebentar, tetapi ketika kembali, Elle dan Ira sudah tidak ada. Para pengawal juga tidak tahu kemana mereka pergi, atau siapa yang menculik mereka." Jelas Neo sambil menopang kepalanya dengan tangan kanan.


"Bukankah ini aneh? Mereka adalah pengawal khusus yang terpilih untuk tugas ini. Tugas mereka adalah mengawasimu. Tapi, kenapa bisa kecolongan? Setelah aku memikirkannya, hanya ada satu kemungkinan." Perkataan Logan membuat Neo menatapnya serius.


"Penculik itu tahu ada pengawal yang selalu mengawasimu dari jauh, sehingga menggunakan berbagai cara agar bisa menculik Ira dan Elle." Sambung Logan. Neo hanya diam mencerna perkataan Logan.


"Dan juga, aku mencurigai Elle, karena dia yang mengajak kalian pergi. Setahuku, dia terlihat tidak menyukai Ira, jadi tidak mungkin dia mengajaknya pergi bersama. Belum lagi, Menurut saksi mata di mall itu, Ira dan Elle terlihat berjalan keluar dari toko tanpa Neo bersama mereka. Sayangnya, cctv hari itu di sabotase, sehingga aku tidak tahu kejadian sebenarnya." Gumam Logan dalam hati.


"Tiba-tiba aku memikirkan kejadian beberapa tahun lalu, dimana Brand yang yang tidak mengakui perbuatannya sendiri. Apa jangan-jangan... Tapi itu tidak mungkin! Apa aku sudah terlalu jauh menuduh gadis polos dan baik seperti Elle melakukan semua itu? Tidak untung baginya jika melakukan itu. Pikiranku sudah berkelana terlalu jauh." Sambung Logan dalam hati dan menggeleng tidak setuju dengan pemikirannya sendiri.

__ADS_1


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Neo dengan sebelah alis terangkat.


"Tidak ada. Apa ini karena lawan bisnismu juga?" Tanya Logan.


"Bisa iya dan bisa tidak."


...


Bukan hanya Alex dan Alen saja yang mencari Rihan, tetapi ada Neo bersama Logan, Brand bersama Dom, bahkan Max juga ikut mencari. Mereka semua khawatir pada Rihan. Jelas khawatir, karena jejak darah Rihan di gedung itu sangat banyak. Sayangnya, hujan membuat semua jejak di hari itu menghilang.


Alex sangat membenci dirinya sendiri karena tidak mengambil keputusan di saat genting seperti hari itu. Dia bahkan tidak bisa memikirkan bagaimana caranya mengirim bantuan pada sang majikan di saat situasi mansion sedang diserang para hacker, maupun para penyusup yang berniat menyerang langsung.


Untungnya Alex sudah diberi wewenang untuk memegang kendali Gledy, sehingga dia hanya perlu mengaktifkan sistem keamanan tingkat tinggi untuk keselamatan mereka semua. Sayangnya, karena sistem keamanan itu, mereka tidak bisa keluar dari mansion sembarangan. Belum lagi banyaknya musuh yang mengepung di luar mansion.


Alex hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan mengusap wajahnya frustasi memikirkan sang majikan yang entah dimana keberadaannya.


"Lihat saja! Aku akan memberimu pelajaran yang setimpal karena melakukan semua ini," Gumam Alex mengepalkan tangannya menahan marah.


Sedangkan di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Elle, wanita itu menyeringai senang ketika Logan sudah keluar dari ruang rawatnya. Pria itu datang berkunjung sekedar melihat kondisinya karena Neo sedang sibuk dan tidak bisa datang.


Elle sangat senang ketika mendengar bahwa Rihan belum ditemukan hingga sekarang. Dalam hati dia yakin Rihan sudah dibawa pergi untuk dijadikan kelinci percobaan teknologi sains yang baru.


"Rasakan itu, bajingan! Akhirnya satu serangga menghilang. Aku hanya perlu menjalankan rencanaku setelah keluar dari sini," Gumam Elle dan mengunyah dengan tenang buah apel yang sudah dipotong-potong untuknya.


"Untungnya pria itu begitu mudah dibodohi. Sayang sekali, wajah tampan dan kekuasaannya dibutakan karena cinta. Benar-benar naif," Sambung Elle lagi dan mendengus.


***


Di lain tempat, di salah satu kamar bernuansa hitam dan putih, seseorang terlihat terlelap dalam tidurnya di ranjang king zise dengan perban yang melingkar di lengan kanannya dan perban di telapak tangan kirinya. Dia terlelap tanpa memikirkan apakah saat ini dia ada di tempat lawan atau kawan.


Wajah tenangnya saat tidur tidak membuat orang bosan melihatnya. Bahkan pria yang saat ini duduk didekat ranjang sambil bersidekap dada, tidak mengalihkan pandangannya dari wajah tenang yang terlelap di ranjang itu.


"Aku pikir kamu sudah mati," Pria itu membuka suara dengan datar ketika melihat kerutan di dahi orang yang tidur itu, disusul dengan kelopak matanya yang terlihat bergerak pelan dan terbuka.


***


Mari menebak, siapa pria itu!

__ADS_1


__ADS_2